Sequel dari TERIKAT PERNIKAHAN DENGAN KAPTEN CANTIK❗
Kaluna Seraphina Wijaya adalah seorang anggota Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad) sekaligus dokter militer yang bercita-cita mengikuti jejak almarhum mamanya sebagai prajurit TNI.
Ia dijodohkan dengan putra dari sahabat orang tuanya, namun ia menolaknya hingga terjadi pertentangan dengan papanya.
Akhirnya, Kaluna menerima perjodohan itu dengan syarat, ia tetap diizinkan menjalankan tugas di Papua.
Di Papua, Kaluna bertemu dengan seorang Kapten bernama Kalvin Natha Wiratama. Di tengah tugas dan kerasnya medan penugasan, perasaan mulai tumbuh di antara mereka.
Namun, ketika Kaluna dihadapkan pada pilihan antara pria yang dijodohkan dengannya dan pria pilihan hatinya sendiri, mampukah ia tetap bertahan pada keputusan keluarga, atau justru memilih cinta yang benar-benar diinginkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari ulang tahun yang sama
“Sertu Tina, kita sudah sampai.”
Safira mengguncang bahu Tina yang duduk di depannya. Membuat wanita itu perlahan membuka mata.
“Akhh, kita sudah sampai ya?” akting Tina, karena sedari tadi ia tidak tertidur.
Semula Tina pikir Kalvin akan membangunkannya, namun nyatanya pria itu lebih dulu keluar begitu saja dan itu tidak sesuai dengan harapannya.
“Maaf saya membangunkan Sertu Tina,” ucap Safira segan.
“Tidak apa-apa,” jawab Tina singkat dengan sedikit kesal.
Kehadiran mereka nyatanya telah disambut oleh Letkol Hardi, Mayor Yandi dan seluruh anggota satuan.
Kaluna dan Safira mendapat pelukan dari rekan-rekannya, turut bahagia karena kedua wanita itu baik-baik saja.
Setelahnya Kaluna dan Safira memberi hormat kepada Letkol Hardi dan Mayor Yandi.
“Izin lapor Komandan, kami gagal dalam misi,” sesal Kaluna. Dengan lantang wanita itu mengakui kesalahannya. Bagaimanapun mereka memang gagal menyelesaikan misi sesuai rencana awal.
Letkol Hardi turut memberi hormat. Pria itu terkekeh lalu menepuk bahu Kaluna perlahan.
“Siapa bilang Letda Kaluna dan Letda Safira gagal? Kalian berhasil, kalian sangat luar biasa. Saya sangat berterima kasih. Kalian bahkan hampir mengorbankan masa depan kalian demi misi ini. Dan berkat kalian berdua, sindikat itu berhasil kita usut dan tangkap. Terima kasih sudah mau membantu, dan maaf karena kami sedikit terlambat memberikan pertolongan,” ucap Letkol Hardi dengan nada penuh penyesalan.
Tepuk tangan mengiringi pujian Letkol Hardi untuk Kaluna dan Safira. Demi misi, kedua wanita itu bahkan hampir kehilangan banyak hal dalam hidup mereka. Tentu pengorbanan itu tak sebanding dengan pujian tidak seberapa ini.
“Terima kasih atas apresiasinya, Komandan. Tentu semua ini tidak akan berjalan baik dan kami tidak akan selamat tanpa doa dari seluruh anggota yang ada di markas ini. Terutama pertolongan Kapten Kalvin dan Lettu Nakara. Kami sangat berterima kasih kepada mereka. Tidak tertinggal partner kami, Sertu Anton,” sahut Safira.
Sontak ucapan wanita itu membuat Anton tertegun, sedari tadi ia hanya diam saja, masih merasa bersalah dengan semua yang terjadi. Namun siapa sangka Safira turut memujinya tanpa menyalahkan dirinya.
Sungguh hal sepele itu membuatnya terharu, terutama saat Kaluna dan Safira tersenyum ke arahnya.
Kemarahan yang Anton dapatkan dari Kalvin dan Galang kemarin bahkan menghilang dari kepalanya setelah mendapat pujian itu.
Letkol Hardi dan Mayor Yandi mengulum senyum, seperti inilah sebuah tim, selalu bekerja kompak demi terjaganya soliditas anggota militer, terutama TNI-AD.
“Kalian semua hebat-hebat. Untuk merayakan keberhasilan kalian, malam nanti kita akan melakukan makan malam bersama. Kita manfaatkan hasil bumi dan hasil kebun yang ada, lalu kita nikmati bersama,” ucap Mayor Yandi.
Ucapan Mayor Yandi kembali mengundang tepuk tangan riuh dari seluruh anggota militer. Di balik ketegangan dan musibah yang dihadapi, pada akhirnya selalu ada sebuah keindahan dan kebaikan di dalamnya.
Jika semua orang senang, tidak demikian dengan Tina. Hatinya cemburu melihat pujian yang Kaluna dan Safira dapat, terutama saat Kalvin menatap Kaluna begitu dalam. Pria itu bahkan tak henti bertepuk tangan untuk dua wanita itu.
Dan hal itu membuat Tina tak suka. Jika tahu akan seperti ini, lebih baik ia yang kemarin menerima tawaran Letkol Hardi untuk melakukan misi itu.
“Makan malam nanti sekaligus untuk memperingati hari spesial seseorang. Karena ada dua anggota kita yang tengah merayakan pertambahan usia,” sambung Mayor Yandi.
Sontak ucapannya menimbulkan tanda tanya bagi semua orang. Tina yang sadar jika hari ini merupakan tanggal kelahiran Kalvin tersentak kaget. Ia bahkan lupa menyiapkan kado, karena masalah ini ia sampai tak ingat apa pun.
Sementara Kaluna dan Kalvin hanya bisa menundukkan kepala. Keduanya tidak menyadari jika hari ulang tahun mereka sama. Bahkan tidak ada kecurigaan apa pun dalam benak Kaluna maupun Kalvin.
“Astaga Vin, aku sampai lupa kalau kamu ulang tahun,” bisik Nakara lirih, namun Kalvin hanya diam dan tidak menanggapi.
Sedari pagi pun Kalvin tak melihat ponselnya, padahal biasanya sang Mommy akan mengucapkan kata-kata manis sebagai penghibur. Karena memang Kalvin sendiri lupa akan hari ini.
Sadar jika Safira pun melupakan hari penting Kaluna, membuat ia tak enak hati. Wanita itu menatap Kaluna yang tengah tersenyum ke arahnya.
Sontak hal itu membuat Safira semakin tak karuan. Padahal sebelum-sebelumnya ia selalu mengingat hari ulang tahun Kaluna.
Di ulang tahunnya tiga bulan lalu, Kaluna bahkan memberikan kado spesial untuknya. Dan kini, jangankan kado, ingat pun ia tidak.
Kaluna mengulum senyum. Ia tahu apa yang saat ini Safira pikirkan. Pastilah sahabatnya akan merengek minta maaf, padahal Kaluna sendiri tidak protes jika Safira lupa, apalagi di tengah kondisi mereka saat ini.
Ucapan Papa dan adiknya pagi tadi sudah menjadi mood booster bagi Kaluna untuk terus semangat. Itu sebabnya Kaluna tak sedih dan justru merasa sangat bahagia di hari ini.
Ditambah lagi Mayor Yandi mengetahui hari ulang tahunnya, sungguh itu salah satu hal yang membuatnya terharu.
“Wah, siapa nih yang ulang tahun Komandan?” tanya salah satu anggota militer.
“Kapten Kalvin, dan...” Mayor Yandi menggantungkan ucapannya, menatap seluruh anggota militer yang sedang menunggu kelanjutannya.
“Letda Kaluna...” sambung Mayor Yandi antusias.
Suara riuh tepuk tangan menjadi penghibur di tengah peristiwa menegangkan yang baru mereka lewati dua hari lalu.
Kaluna dan Kalvin yang namanya baru saja disebut saling tatap. Mereka sama-sama kaget mengetahui kenyataan ini. Kalvin sendiri pernah melihat data diri Kaluna, namun saat itu ia tidak terlalu memperhatikannya.
Sorot mata kedua insan itu saling beradu, masih tidak menyangka jika mereka berulang tahun di tanggal yang sama. Bahkan sama-sama berusia dua puluh delapan tahun.
“Buset, kalau jodoh emang nggak ke mana, Komandan. Pepet terus,” ucap Nakara memberi semangat.
Kalvin tak mengindahkan. Pandangannya terus fokus memperhatikan Kaluna. Entah perasaan macam apa yang lagi-lagi ia rasakan. Degup jantungnya berdebar kencang hanya karena melihat Kaluna tersenyum bersama Safira.
Tidak ada yang bisa Tina katakan saat mengetahui kenyataan ini. Mengapa dunia harus sesempit ini? Mengapa Kalvin dan Kaluna harus merayakan ulang tahun di waktu bersamaan?
Pastilah hal ini akan menjadi momen tak terlupakan bagi Kaluna. Ia yakin Kaluna sangat senang, kentara dari senyum lepas yang ditampilkan wanita itu hari ini.
Ada rasa sesal dalam hati Tina saat dulu menceritakan bahwa Kalvin berasal dari keluarga kaya. Entah mengapa kini ia justru merasa Kaluna dan Kalvin semakin dekat.
“Ya ampun, Lun. Maaf, aku lupa banget. Bener-bener lupa tanggal,” sesal Safira seraya memeluk Kaluna sejenak.
“Happy birthday ya, Lun. Semua doa baik aku buat kamu. Kadonya kalau udah balik Semarang aja deh. Atau pas kamu tunangan nanti, inget, kamu udah punya calon suami,” goda Safira.
Sontak hal itu membuat Kaluna terkekeh. “Apaan sih, Fir. Tapi makasih ya doanya,” sahutnya.
“Ya aku cuma ngingetin, Lun. Soalnya dari tadi ada yang terus mandangin kamu tuh,” ujar Safira.
“Tapi boleh juga sih, Lun. Sebelum janur kuning melengkung, coba bikin momen manis buat kenang-kenangan. Mumpung si kutub mulai meleleh. Jangan serius-serius juga, nanti kamu baper,” sambung Safira.
“Astaga, Safira. Kamu sesat ih...” protes Kaluna sebal.
Namun pandangan Kaluna kini tertuju pada Kalvin. Ia berusaha mengelak, tetapi hati kecilnya justru ingin mencoba sesuatu yang belum pernah ia lakukan. Sungguh, perlahan ia sendiri mulai terbawa suasana.
Sadar jika semua itu tidak seharusnya terjadi, Kaluna berusaha menepis dan membuang jauh keinginan tak jelas tersebut.
Hingga lagi dan lagi tatapan mereka saling bertaut, menimbulkan debaran aneh dalam hatinya. Terutama saat Kalvin yang biasanya kaku justru melempar senyum tipis ke arahnya.
Astaga... kenapa dengan hatiku ini? batin Kaluna sambil memegangi dadanya. Ia segera berjalan menjauh, mengejar Safira yang sudah lebih dulu menuju mess tempat mereka tinggal.
kirain anaknya Ravela dan kaivan