Rubellite Valtia hanyalah seorang "Putri Palsu" yang haus akan kasih sayang Kaisar. Namun, kesetiaannya dibalas dengan hukuman mati di tangan ayahnya sendiri.
Kembali ke masa lalu saat ia masih berusia delapan tahun, Rubellite bersumpah tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Namun, setiap kali ia berusaha menjauh, bayang-bayang masa lalu dan pertanyaan yang belum terjawab terus menghantuinya: Mengapa Ayah begitu membenciku?
Di tengah konspirasi istana dan trauma yang mendalam, Rubellite harus memilih: Benar-benar pergi, atau sekali lagi mencoba menembus hati sang Kaisar yang sedingin es meski risikonya adalah kematian kedua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ChikoGin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29: Rahasia Rubellite
Di tengah kegelapan tak berujung yang pekat dan hampa, sebuah tangan hangat tiba-tiba menyentuh pundak Rubellite.
"Kakak, apakah kamu baik-baik saja?" suara lembut itu memecah sunyi.
Rubellite menoleh, air matanya tumpah seketika. "Maafkan aku... Maafkan aku..." bisiknya dengan suara bergetar penuh penyesalan. "Jika saja aku mengetahui semua ini lebih awal, maka kamu tidak akan pernah tersiksa seperti ini."
Shiera menggeleng pelan, menatap kakaknya dengan tatapan teduh. "Ini bukan salah kakak. Lagipula, kakak juga tidak mengetahui bahwa aku ada."
"Tidak! Ini semua salahku, Shiera!" bantah Rubellite histeris, mencengkeram kepalanya sendiri. "Aku tidak menyadarinya... meski aku telah hidup sekali!"
Senyum tipis namun tulus terukir di bibir Shiera. "Tapi aku senang, Kak. Karena dengan begini, diriku tidak akan bisa menyakiti kakak lagi. Jadi... kakak harus berbahagia."
KRAK!
Tiba-tiba, ruang kegelapan tak berujung di sekeliling mereka mulai memunculkan retakan besar, seolah-olah dimensi hampa itu terbuat dari kaca yang rapuh. Retakan itu kian melebar, meruntuhkan dinding-dinding kegelapan, dan dari balik runtuhan tersebut, sebuah lubang cahaya yang sangat terang menyala memancarkan sinarnya.
Shiera tersenyum menatap kakak tercintanya untuk terakhir kali. Tanpa ragu, ia mendorong tubuh Rubellite dengan kuat, membuatnya terjatuh tepat ke dalam lubang cahaya yang memutus pembatas ruang kegelapan tersebut.
"Pergilah, Kak," ucap Shiera lirih. "Kakak tidak seharusnya berada di sini. Aku harap... kakak tidak melupakan aku."
Tubuh Shiera perlahan mulai menghilang, ditelan oleh kegelapan yang runtuh sepenuhnya. Dari kejauhan yang kian menjauh di dalam lubang cahaya, Rubellite melihat gerakan bibir Shiera untuk terakhir kalinya.
Aku menyayangimu, Kak.
"Shieraa...!!!" jerit Rubellite, menggapai kehampaan.
Ah.
Semuanya begini kembali. Aku gagal sekali lagi.
Pandangan Rubellite perlahan memudar seiring tubuhnya yang terus terjatuh semakin dalam ke dalam cahaya terang yang menyilaukan.
SPLASH!
Rubellite terjatuh ke dalam sebuah danau suci yang sangat luas dan dingin. Di dalam air yang jernih namun mistis itu, tubuhnya perlahan tenggelam, terhanyut jauh di antara batas tipis antara hidup dan mati.
"Apakah aku akan mati kembali?" bisiknya parau, menyuarakan keputusasaan yang terendam di dalam air.
Seketika itu juga, kepalanya perlahan mendengung kencang. Suara dengungan itu kian memekakkan telinga hingga kepalanya terasa akan pecah karena tumpukan ingatan dari sembilan kehidupan sebelumnya yang selama ini terkunci, mendadak berputar dan menghantam otaknya secara paksa. Kilasan takdir yang kejam merangsek masuk satu demi satu ke dalam benaknya.
Pada kehidupan pertama, ia melihat bayangan dirinya yang masih kecil, berlari ketakutan mengendap-endap kabur dari panti asuhan saat malam hari yang pekat. Namun, pelarian itu berakhir tragis di tengah hutan karena ia dikepung dan tewas diserang oleh gerombolan serigala kelaparan.
Masuk ke kehidupan kedua, akibat trauma psikologis mendalam dari serangan serigala di kehidupan sebelumnya, mentalnya terguncang hebat. Ia terkena gangguan mental, ketakutan sepanjang waktu, jarang makan, dan sering dianiaya oleh orang-orang di sekitarnya hingga akhirnya tubuh ringkih itu tiada dalam kesendirian.
Pada kehidupan ketiga, nasibnya berubah menjadi komoditas. Ia dibeli oleh seorang bangsawan licik yang mengetahui rahasia besar bahwa Rubellite adalah keturunan murni dari darah kaisar. Bangsawan itu menjadikannya kelinci percobaan karena darah kaisar memiliki kekuatan sihir yang sangat besar. Karena tubuhnya terus-menerus disayat dan diuji coba dalam eksperimen kejam, ia akhirnya tiada di atas meja laboratorium.
Lalu pada kehidupan kelima, keenam, ketujuh, kedelapan, hingga kesembilan, ingatan yang kembali terasa jauh lebih menyiksa jiwa. Pola kematiannya di lima kehidupan itu selalu sama. Ia selalu berakhir mati karena tertuduh dan difitnah oleh Shiera atas kejahatan yang tidak pernah ia lakukan.
Di tengah kepasrahan saat tubuhnya terus tenggelam ke dasar danau, air mata Rubellite menyatu dengan air danau suci. Kesedihan dan kesepian dari sembilan kehidupan membubung tinggi di dalam dadanya.
"Selama ini aku telah berjuang sendiri," bisik Rubellite di dalam hati, menatap riak air di atasnya yang kian menjauh. "Aku selalu berjalan sendiri tanpa ada satu tangan pun yang diulurkan untuk menolongku."
Pandangan Rubellite perlahan mulai mengabur seiring dengan kesadarannya yang kian menipis. Cahaya di permukaan danau tampak meredup di matanya. Namun, tepat sebelum matanya terpejam sepenuhnya, ia melihat siluet gerakan air yang terbelah.
Dari balik bias cahaya yang samar, seorang pria tampak berenang dengan cepat ke arahnya, mengulurkan tangan demi menyelamatkan Rubellite yang nyaris kehilangan nyawa.
"Rubellite!!!"
Suara teriakan seorang pria terdengar begitu sedih, menggema memanggil namanya di tengah kesunyian tepi danau yang mencekam.
"Ughh... ughh!"
Rubellite terbatuk keras, memuntahkan air danau yang menyumbat tenggorokannya. Dadanya naik-turun dengan rakus meraup oksigen. Kesadarannya perlahan kembali, meski seluruh tubuhnya masih terasa sangat lemas dan gemetar di atas tanah tepi danau yang basah.
"Va... Valerius..." bisik Rubellite parau. Suaranya terdengar sangat lemas, nyaris habis.
Pria di hadapannya mencengkeram kedua pundak Rubellite dengan erat. Napas pria itu memburu, wajahnya pucat pasi bercampur amarah dan rasa takut yang mendalam.
"Rubellite! Rubellite, ke... kenapa kamu datang kesini?!" sentak Valerius. Suaranya meninggi, bergetar menahan luapan emosi yang campur aduk.
Valerius menatapnya dengan pandangan murka sekaligus frustrasi. Ia merasa sangat kesal karena Rubellite justru nekat datang ke tempat ini, padahal Valerius dengan sengaja memilih untuk mengorbankan dirinya sendiri demi menyelamatkan wanita itu.
Rubellite perlahan bangun hingga dalam posisi duduk. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, ia mencengkeram dan menarik kuat kerah pakaian Valerius, memaksa pria itu untuk menatapnya dari jarak dekat.
"Aku tidak memintamu untuk menyelamatkanku!" seru Rubellite dengan suara bergetar menahan tangis dan amarah yang meluap. "Kenapa? Kenapa kamu malah mengorbankan dirimu sendiri, dasar bodoh!"
Mendengar makian itu, rahang Valerius mengencang. Sorot matanya memancarkan rasa bersalah yang amat pekat, berbaur dengan kemarahan yang tertahan. Kenangan kelam saat dirinya kehilangan kendali akibat sihir dan hampir merenggut nyawa Rubellite di masa lalu kembali menghantam benaknya, menimbulkan rasa sesal yang menyiksa jiwanya.
"Lalu aku harus bagaimana, Rubellite?!" balas Valerius dengan suara tertahan, menepis pelan tangan Rubellite dari kerah bajunya. "Aku sudah hampir membunuhmu! Tanganku ini sudah hampir menumpahkan darahmu hingga kamu menderita! Kamu pikir bagaimana caraku bisa hidup tenang dengan bayang-bayang rasa bersalah itu?!"
Napas Valerius memburu, air mata penyesalan mulai menggenang di sudut matanya yang merah. Kemarahannya murni lahir dari rasa takut kehilangan wanita yang sebenarnya masih teramat sangat ia sayangi.
"Mengorbankan diriku adalah satu-satunya cara bagiku untuk menebus dosa kepadamu," lanjut Valerius, suaranya mendadak melunak, dipenuhi keputusasaan saat menatap wajah pucat Rubellite. "Aku melakukan ini agar kamu bisa hidup, Rubellite... karena aku masih sangat menyayangimu. Jadi kenapa kamu harus datang ke tempat berbahaya ini lagi?"
Rubellite tertegun di tepi danau yang dingin. Cengkeraman tangannya yang terlepas kini terasa hampa, menyadari betapa hancurnya perasaan pria di hadapannya akibat dosa masa lalu yang hampir menghancurkan mereka berdua.