NovelToon NovelToon
Cinta Di Tapal Batas

Cinta Di Tapal Batas

Status: tamat
Genre:Idola sekolah / Romansa pedesaan / Diam-Diam Cinta / Cintamanis / Tamat
Popularitas:57.6k
Nilai: 5
Nama Author: Buna Seta

Dini Kirana yang masih kelas dua SMA dijual oleh ayah tirinya kepada pria kaya yang sudah banyak istri untuk melunasi hutang. Dini memilih kabur dari rumah dan akhirnya kesasar ke salah satu Desa. Di tempat itu, Dini bertemu Aksa yang sudah berusia 28 tahun.

"Mas, boleh ya saya tidur di rumah kamu? Tolong Mas, saya butuh tempat tinggal."

"Kamu bukan siapa-siapa saya Dini, saya tidak mau digerebek warga Desa."

Bagaimana kisah selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

"Kamu mau kemana Dini?" Tanya Aksa ketika berpapasan dengan wanita yang masih ia cintai itu, tampak Dini menyimpan kemarahan yang dalam.

"Lihat ini, Bapak sekarang puas, kan?" Dini memperlihatkan kertas tidak pakai basa basi, langsung saja menyindir kemakan kata-kata Lusi di kelas tadi. Padahal belum tahu kebenarannya apakah Aksa terlibat atau tidak.

Aksa ambil kertas ulangan tersebut kemudian meneliti dengan seksama. Ia angkat kepala menatap mata Dini yang berkabut. "Ada masalah apa kamu, Dini? Kenapa hasil ulangan kamu merosot tajam?" Aksa menatap nanar wajah Dini, ia yakin Dini menyalahkan dirinya karena masalah mereka akhir-akhir ini hingga tidak konsentrasi belajar.

Dini tidak menjawab, tangannya menarik kertas dari tangan Aksa, melirik wajah Aksa sebentar lalu berpaling kasar.

"Dini, sebelum nilai kamu masuk raport sebaiknya remedial" Saran Aksa karena memang dia tidak tahu jika nilainya seperti itu karena ulah Lusi.

"Ini bukan hasil otak saya, tapi Pak Aksa dan Bu Lusi bekerja sama merubah nilai untuk menghancurkan saya, bukan?" Dini ambil kertas tersebut lalu berpaling kasar, melanjutkan perjalanan ke ruang kepala sekolah.

"Dini... tunggu dulu, apa maksudnya saya bersekongkol dengan Bu Lusi?" Aksa memastikan, ia membungkuk memandangi wajah Dini yang menyimpan rasa kecewa.

"Tidak usah bertanya lagi, seharusnya Pak Aksa sudah bisa menyimpulkan sendiri apa yang saya katakan," Dini menyentak kaki pergi dari hadapan Aksa.

"Dini, kamu mau ke mana?" Aksa mengikuti Dini. "Aku tidak tahu apa-apa tentang nilai kamu," Aksa berusaha meluruskan. Mana mungkin ia melakukan itu, berpikir pun tidak pernah.

"Ke ruang kepala sekolah mencari keadilan," tegas Dini sambil berjalan cepat menggangguk sopan ketika melewati bapak dan ibu guru yang sedang beristirahat di ruang guru. Begitu tiba di depan pintu kayu jati, ia menarik napas panjang memantapkan hati untuk tidak ragu lagi mencari keadilan.

"Dini, tidak usah lapor kepala sekolah, masalah ini kita selesaikan antara kamu dan Bu Lusi saja," Aksa yang berdiri di belakang Dini mencegahnya.

Namun, Dini tidak ada keraguan lagi untuk mengetuk pintu, biar saja Aksa membela Lusi Dini tidak peduli, karena hatinya sudah terlalu kecewa.

"Masuk" terdengar suara berat pak Arman sang kepala sekolah dari dalam.

"Permisi, Pak" Dini masuk ruangan pak Arman dengan wajah sedih dan tertekan.

"Dini, kamu ada masalah?" Pak Arman rupanya bisa membaca raut wajah Dini. Lalu beralih ke wajah Aksa yang masuk belakangan.

"Pak, saya ingin melaporkan ketidak adilan yang dilakukan Bu Lusi."

"Tunggu Dini, kita selesaikan baik-baik," Aksa memotong, tidak mau masalah ini berkepanjangan.

"Pak Aksa, saya mohon. Biarkan saya berbicara dengan Pak Arman dulu," Dini menatap Aksa datar. Sebenarnya ia marah tapi masih berbicara sopan, tidak mau menjatuhkan wibawa Aksa di hadapan kepala sekolah.

"Duduk dulu Dini, Pak Aksa. Ada apa ini?" Sela Pak Arman minta keduanya duduk dan berbicara apa masalahnya.

"Bu Lusi sengaja mengubah nilai ujian semester saya menjadi rendah, Pak. Padahal saya mengerjakan soal dengan mudah, tentu saja yakin semua jawaban saya benar. Bukan hanya itu saja, ketika saya mengajukan remedial, Bu Lusi tidak mengizinkan dengan alasan yang tidak saya mengerti. Tolong bantu saya, Pak. Jika saya diam saja khawatir tidak lulus UKM," papar Dini panjang lebar, semakin lirih hingga tidak terdengar. Tubuhnya gemetar tangisnya pecah.

Aksa sebenarnya ingin menghibur Dini, tapi hanya di angan-angan karena ada pak Arman.

Pak Arman mengerutkan kening, tidak percaya jika bu Lusi seperti itu. "Dini, tuduhan kamu terhadap Bu Lusi telah mengubah nilai telah melanggar integritas yang serius bagi semua guru," Pak Arman melepas kaca matanya menatap Dini saksama. "Jika kamu yakin yang kamu tuduhkan benar, mana buktinya?" Pak Arman tidak mau percaya begitu saja.

"Saya ada buktinya, Pak," Dini meletakkan kertas yang sudah kusut karena ia remas ketika di kelas tadi di atas meja pak Arman.

Pak Arman memeriksa kertas tersebut, sorot matanya yang tajam tertuju kepada Dini. "Kertas lusuh begini kamu jadikan bukti," Pak Arman masih tidak percaya.

"Maaf, saya sudah mengganggu waktu Pak Arman, tapi saya akan tetap mencari keadilan dengan cara saya sendiri," Dini berdiri meninggalkan tetes air mata yang jatuh ke atas meja.

"Tunggu Dini, tetaplah di tempat duduk kamu," Pak Arman sebagai pemimpin yang bijak harus mendengar dari dua belah pihak. Pak Arman menekan tombol telepon bu Lusi namun tidak ada jawaban.

"Sebagai wali kelas Dini, saya yang akan menjelaskan, Pak," Aksa yang hanya diam seribu bahasa akhirnya angkat bicara.

"Baik Pak Aksa, tapi sebaiknya harus ada Bu Lusi."

"Baik, Pak, biar saya panggilkan," Aksa pun meninggalkan ruang pak Arman memanggil bu Lusi. Tidak lama kemudian Lusi masuk dengan wajah pucat diikuti Aksa.

...~Bersambung~...

1
momiie
karyamu bagus thor, cerita nya singkat ga harus banyak bab tapi alurnya jelas... saya sudah membaca semua karya mu dan tidak mengecewakan, sangat puas... 👍👍👍
Erina Munir
mendusin tuh si lusi
Erina Munir
untuung sja bpk biologisnya.muncuul
Erina Munir
aksa nih yg berkorban ginjalnya datu buat lusi
Erina Munir
aksaa hati luuh kelembekaan...udh ga usah mohon2 lgi sm dini...luh udh susah d bilangin
Erina Munir
jngn mau turun dini biarin aja d bengong situ... suruh urusin s ludi aja sonooh
Erina Munir
adaaa ajaahh
Erina Munir
mampoos looh lusi preeet
Erina Munir
mending begitu dini
..dri pd nskan hati tiap hari
Erina Munir
waduuh tambah mpreet deh dini denger guru ngomong gitu
Erina Munir
😟😟
Erina Munir
waduuhh main dor doran niih
Erina Munir
waddiuuhh hebooh dunia perkampungan..😄😄😄
Erina Munir
mewek luh marini...makanya jngn somboong
Erina Munir
waduuh marini jngn sombong dulu.klo luh kalah yg malu siapaa
Erina Munir
ya ampuun aksaa pada ngantri ternyata yaa😄😄😄😄
Erina Munir
hadeeh lusii...luh cuma manfaatin aksa doang..
buat anyer k sono k sini...nyr juga klonudh bosrn d gepak aksanya
Erina Munir
hayyo dini...ngakuu sja....buat kesalah
Bariah Bariah
jangan jangan,Aksa dan Lusi kakak adik ini
satu ayah lain ibu
Reni Setia
makasih untuk novelnya ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!