"Saya penasaran, Berapa lama lagi tuan akan mencintai saya."
Cerita ini berlatar belakang era kolonial di Hindia Belanda, mengisahkan Santi, seorang gadis pribumi muda yang awalnya bekerja sebagai buruh tembakau. Kini beralih menjadi seorang baboe (pembantu rumah tangga) di rumah seorang Belanda.
Semua berawal dari sebuah pertemuan tak terduga di dalam gerbong kereta kelas tiga yang padat. Santi, yang saat itu sedang dalam perjalanan pulang dari kota Surabaya, tanpa sengaja menolong seorang pria misterius yang tengannya terluka, Tuan Ludwig. Pria itu terus mengeluarkan suara menahan rasa sakitnya , Hingga Santi yang duduk di kursi dekat pria misterius itu memberanikan dirinya menawarkan sapu tangan untuk mengikatkan sapu tangan miliknya ke luka pria misterius itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PEACHESEEU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 32
"Goblok! Domme koe! Apa tanganmu itu terbuat dari lumpur, hah?!" teriak Melisa dengan wajah memerah padam.
Tanpa belas kasihan, Melisa menyambar ujung kain kebaya yang dikenakan baboe itu dan menariknya hingga gadis malang itu tersungkur. Melisa tidak berhenti di situ. Dengan tangan yang gemetar karena amarah yang meluap-luap, ia memukuli bahu dan kepala baboenya menggunakan kipas lipat cendana miliknya yang keras.
"Sudah berapa kali aku katakan kalau barang-barang ini lebih mahal dari nyawamu! Kau tahu berapa lama aku mengumpulkan porselen ini di Semarang?!" Plak! Plak! Melisa memukul kalap, mengabaikan isak tangis dan permohonan ampun yang keluar dari mulut pelayannya yang bersimpuh di lantai. “Maaf nyonya,”
“Aku akan membunuhmu jika kamu tidak bisa bekerja?!!’
“Bukannya kau sudah lama bekerja disini, kenapa kamu tidak paham apa pekerjaanmu. Dasar monyet hitam, Kenapa semua orang terus saja membuatku kesal hari ini. Dimana barangku!!!” Ia menunjuk-nunjuk dua perempuan pribumi yang tertunduk gemetar dengan jari yang dihiasi cincin permata.
“Permisi nyonya, Saya menemukannya.” Kata seorang baboe yang memberikan sebuah barang di tangannya.
Tangannya yang masih terangkat di udara perlahan turun. Napasnya masih menggebu-gebu, dadanya naik turun dengan kasar, menciptakan suara hembusan nafas yang berat di tengah keheningan yang menyakitkan. Tanpa berkata-kata, Melisa menyambar cermin tangan itu dari baki. Ia menatap pantulan wajahnya yang berantakan karena amarah, rambut yang sedikit keluar dari sanggul dan mata yang melotot tajam. Dengan gerakan yang tiba-tiba berubah menjadi sangat tenang namun dingin, ia membuka tutup lipstiknya.
Ia mulai memoleskan warna merah pekat itu ke bibirnya.
Satu sapuan. Dua sapuan. Ia melakukannya dengan sangat teliti, seolah-olah dunia di sekitarnya termasuk baboe yang masih menangis ketakutan di bawah kakinya sudah tidak ada lagi. Ini adalah ritualnya, kebiasaan yang selalu ia lakukan setiap kali rasa kesal dan amarah membakar dadanya hingga sesak. Warna merah itu menutupi bibirnya dengan sempurna, memberikan kesan kejam sekaligus berkuasa. Setelah selesai, Melisa menutup tabung lipstiknya dengan suara klik yang tajam. Clakkkk…
“Pergi sekarang,” perintah Melisa.
Segera baboe itu merangkak pergi meninggalkan tempatnya dengan gemetar di bantu oleh baboe yang membawa baki.
Kata-kata kasar dalam bahasa Belanda dan Melayu pasar bercampur aduk, keluar dari bibirnya yang dipoles merah menyala. Melisa tidak puas. Ia benci ventilasi rumah ini yang sempit, ia benci jarak yang jauh dari pusat keramaian, dan ia benci kenyataan bahwa ia kini tinggal di lingkungan para buruh pabrik gula. Berbeda dari bayangannya yang akan tinggal di pusat kota, padahal rumah itu walau tak besar. Tetapi memiliki halaman yang cukup luas dan berada di pinggir jalan beraspal.
“Ini semua salahmu,”
Suaminya, sang Meneer berpangkat rendah itu, hanya duduk di kursi rotan di sudut beranda. Ia seolah telah kehilangan telinga, hanya meneruskan menghisap cerutunya. “...”
“Ik weet niet wat me bezielde om iemand zoals jij te accepteren en met me mee te gaan naar dit smerige land. (Entah apa isi kepalaku menerima orang sepertimu dan ikut pergi ke negeri kotor ini,)”
“Je keert je weer tegen andere mensen. (Lagi lagi kamu nyalakan orang lain,)”
“Wie moet ik nu nog de schuld geven? Die persoon staat nu recht voor me. (Lalu siapa lagi yang perlu aku salahkan sekarang?? Orang itu ada di depanku sekarang.)”
“.....”
Dengan tatapan yang terus terlempar ke arah kebun tebu di depan rumah, ia terus menghisap cerutunya dalam-dalam, membiarkan asap tebal menjadi tameng antara dirinya dan amukan sang istri.
Clara duduk tak jauh dari ibunya, mendekap sebuah buku bersampul kulit. Matanya berpura-pura menelusuri barisan kata, namun telinganya menangkap setiap desis amarah ibunya. Ia sejak dulu sudah terbiasa dengan ibunya memperlakukan pelayan seperti itu dan menurutnya lumrah, tapi di tempat baru ini kemarahan sang ibu terasa berkali-kali lipat lebih tajam.
“Huft.”
Akhirnya, Melisa kehabisan nafas. Setelah melempar sebuah lap kotor ke arah pelayannya, ia menghempaskan tubuhnya ke kursi di samping Clara. Napasnya memburu, dadanya naik turun dengan kasar.
“???”
Ia menyambar gelas berisi anggur yang sudah disiapkan di meja kecil, dan minum dengan rakus hingga menyisakan noda merah di sudut bibir. Melisa menyandarkan punggungnya, lalu menoleh ke arah Clara dengan tatapan yang tiba-tiba berubah menjadi penuh selidik.
"Clara," panggilnya, suaranya kini rendah namun menekan. "Over de trein… Vertel me eens wat uitgebreider. Wat heb je precies met meneer Ludwig besproken in de trein? Heb je gedaan wat ik je gezegd heb? Heb je zijn aandacht weten te trekken? (Soal di kereta… Ceritakan pada mama lebih detail. Apa saja yang benar-benar kau bahas dengan Tuan Ludwig di kereta tadi? Apa kau melakukan sesuai dengan apa yang mama perintahkan sebelumnya? Apa kau sudah berhasil untuk menarik perhatiannya?)”
“....”
Clara terdiam sesaat, Ia menutup bukunya perlahan. Ia teringat tatapan dingin Tuan Ludwig di kereta tadi. Sembari ia menandai halamannya dengan jari telunjuk jari nya yang lentik. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, menatap ibunya dengan ekspresi santai yang hampir terlihat seperti ejekan halus.
"Meneer Ludwig is een man van weinig woorden, Ma (Tuan Ludwig adalah seseorang yang tidak banyak bicara, Ma,") jawab Clara datar.
“Hanya itu??”
"Kami juga bicara tentang negeri ini, tentang betapa gersangnya tanah Jawa di musim kemarau, dan bagaimana pemerintah kolonial mengelola industri gula di sini. Dia tampak sangat tertarik pada detail-detail kecil yang orang lain abaikan." Clara menjeda kalimatnya, Ia sengaja menggantungkan informasi untuk melihat reaksi ibunya. “Dan... aku sempat berpikir menjalankan rencana Mama, tetapi sepertinya hal itu tidak bagus untuk nantinya. “
Melisa mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya berbinar karena ambisi. "Lalu? Apa kau menanyakan soal relasinya di Surabaya?"
“Tidak ma, Aku tidak akan bertanya secara blak-blakan seperti itu.”
"Tapi aku melakukan hal yang lebih baik dari itu, Ma," ucap Clara sambil tersenyum tipis. "Aku mengundangnya untuk datang ke pesta debutku nanti. “
Melisa menahan napas. "Dan apa jawabannya? Dia setuju, kan? Dia harus setuju!"
“Entahlah,” Clara mengangkat bahunya sedikit, mempermainkan rasa penasaran ibunya yang sudah berada di ubun-ubun. "Dat was het probleem. Hij had geen tijd om te antwoorden. Voordat er een woord over zijn stijve lippen kon komen, vertraagde de trein. Hij stond onmiddellijk op, trok zijn jas recht en vertrok. (Itulah masalahnya. Dia belum sempat menjawab. Belum sempat sepatah kata pun keluar dari bibirnya yang kaku itu, kereta melambat. Dia langsung berdiri, merapihkan mantelnya, dan pergi begitu saja saat kereta hampir sampai di stasiun.)"
"Maksudmu?"
"Hij is vroeg uitgestapt, mam. Op station Blora. (Dia turun lebih awal, Ma. Di Stasiun Blora,)" jelas Clara. "Hij knikte beleefd, glimlachte flauwtjes en vertrok toen de trein stopte. Hij zei geen 'ja' of 'nee'. Hij liep gewoon weg, dus ik weet niet wat er gebeurd is. (Dia hanya mengangguk sopan, memberikan senyum tipis lalu pergi begitu saja saat kereta itu berhenti. Dia tidak memberikan jawaban 'ya' atau 'tidak'. Dia hanya pergi begitu saja, Jadi aku tidak tahu pasti.)"
“Cih!!” Melisa menghempaskan punggungnya ke kursi, tampak kecewa sekaligus geram. “Kamu saja yang tidak becus untuk menjerat seorang pria, Lain kali lakukan hal lebih baik. Semakin cepat semakin baik juga, dan semakin cepat kamu bisa meneruskan pendidikanmu nantinya.”
“.....”
“Jika aku tidak becus, Lalu bagaimana caranya untuk mendapatkan hati tuan itu. Dia saja seperti tidak tertarik denganku, Kenapa ibu selalu menyebut tentang pendidikanku.”
“Sudahlah, Oh iya. Ku dengar ibu tuan Ludwig yang mengurus sekolahmu saat masih di Belanda, Apa kamu pernah bertemu dengannya.”
“Pernah, Dia yang menawarkan bantuan untuk masuk ke universitas. Kenapa ibu bertanya,”
“Tidak ada, mama hanya ingin tahu. Ku dengar dia akan datang ke negeri ini,”
..._ _ _...
Uap panas memenuhi kamar mandi kecil yang lembab itu, mengaburkan pandangan. Di bawah kucuran air, Santi menggosok tangannya dengan sabun hingga memerah, seolah-olah ia ingin menguliti dirinya sendiri. Gerakannya cepat, kasar, dan penuh keputusasaan. Setiap kali ia memejamkan mata, ia bisa merasakan jemari Mandor Parjo yang kasar dan berbau tembakau busuk meraba bahunya, menjalar ke lehernya. “Kenapa ini tidak hilang juga!!” Bisiknya.
“....”
“Apakah ini yang selama ini dirasakan Rima???”
Santi tidak berteriak, tidak pula menangis kencang. Hanya suara nafasnya yang menderu dan bunyi srak-sruk kain waslap yang beradu dengan kulitnya yang menciptakan irama ganjil di ruangan itu. Ia seolah ingin menghapus jejak tangan Parjo yang masih terasa membekas seperti jelaga yang lengket.
Tiba-tiba, matanya tertuju pada sebuah jas pria yang tergantung rapi di balik pintu kamar mandi. ‘Itu jas milik Tuan Ludwig.’
‘Kalau tidak ada tuan, Pasti nasibku sudah seperti Rima sekarang. Tapi bagaimana tuan bisa muncul di sana dan menemukanku??...Sudahlah, Mungkin tuhan mengabulkan permohonanku dan mengirim tuan.’
Santi terpaku. Ia masih tidak habis pikir bagaimana Tuannya bisa muncul di saat yang tepat di kegelapan hutan tadi, tepat sebelum Parjo benar-benar menghancurkan dirinya seperti Rima. Tuan Ludwig muncul seperti seorang malaikat maut yang tenang, menyelamatkannya dari cengkeraman binatang buas bernama Parjo.
Ia teringat betapa lembut suara Tuan Ludwig saat menyampirkan jas ini ke bahunya yang gemetar. ‘Tuan selalu baik, Tuan selalu ada saat aku kesulitan.’ selalu berbicara dengan nada yang halus, sangat berbeda dengan pria-pria lain yang menatapnya.
Namun, ketenangan itu seketika pecah oleh sebuah kesadaran yang menusuk.
Santi melihat ke arah kakinya yang telanjang dan memar. Ia tersentak. Sepatu itu. Sepatu kulit cantik yang diberikan oleh Tuan Ludwig beberapa hari lalu, sepatu yang ia kenakan sudah tidak ada.
“Ah, Kakiku rasanya kosong. Aku baru menyadarinya,” Santi diam, Ia mencoba mengingat kembali dimana ia berlari kencang menghindari kejaran mandor Parjo, Sepatu itu terlepas dan tertinggal di tengah semak berduri saat ia berlari sekuat tenaga menghindari kejaran Parjo tadi.
"Hilang..." bisiknya parau.
Rasa takut baru menjalar di dadanya. Itu bukan sekadar sepatu, itu adalah pemberian dari Tuan Ludwig. Bagaimana jika Tuannya marah? Bagaimana jika Tuan Ludwig menganggapnya tidak menghargai pemberian itu?
“Sudahlah, Cari saja besok pagi. Pasti tertinggal disana,”
Santi kembali menggosok tubuhnya, kali ini lebih lambat namun dengan tangan yang gemetar hebat. Santi keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah terlilit handuk lusuh. Aroma sabun murahan setidaknya berhasil sedikit menyamarkan bau amis hutan yang tadi sempat menyesakkan dadanya. Ia segera mengenakan pakaian bersih, meski tangannya masih sedikit gemetar saat mengancingkan kebayanya.
Di ruang tengah yang remang oleh cahaya lampu tempel, adiknya Dinda sedang menata dua piring nasi hangat dengan lauk tempe goreng dan sambal korek. Bau nasi baru matang itu biasanya sangat menggugah selera, tapi malam ini, perut Santi terasa kaku.
"Mbak Santi, ayo makan." Panggil Dinda sambil menarik kursi kayu untuk kakaknya.
Santi mendekat, lalu duduk perlahan. Pandangannya langsung tertuju pada seorang wanita paruh baya yang sedang duduk bersandar di bale-bale bambu tak jauh dari meja makan.
"Ibu kelihatannya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya" batin Santi, mencoba mengulas senyum di balik rasa lelah yang amat sangat.
“Kenapa Santi,”
“Ibu bagaimana?? Apakah masih ada yang sakit,”
“Ibu udah baik baik aja nduk, Ini berkat kamu. Jerih payahmu mencari obat untuk ibu, Sekarang ibu sudah sembuh. Memang kenapa nduk?”
“....” Santi menelan ludah. Ia tahu obat mahal itu dibeli dengan uang pemberian Tuan Ludwig. Mengingat nama tuannya, ia teringat pada jas yang tadi ia sampirkan dan kenyataan bahwa ia harus segera pergi dari desa ini. "Bu... Dinda..." Santi memulai pembicaraan, suaranya terdengar lebih berat dari biasanya. "Sebenarnya jas itu milik tuan Ludwig, dia majikan Santi. Waktu pulang tadi Santi bertemu dengan tuan, Santi juga kaget waktu tuan ada disini. Tuan memberitahu Santi, Kalau besok siang Santi harus kembali ke Surabaya."
Dinda menghentikan kunyahannya. "Lho, cepat sekali, Mbak? Bukannya jatah libur Mbak masih dua hari lagi?"
Santi menggeleng, jarinya memainkan pinggiran piring tanpa minat untuk mulai makan. "Tadi Santi bertemu dengan Tuan dan yang mengantar Santi dengan mobil juga tuan, Kalau Tuan sudah kembali ke rumah besar, berarti Santi juga harus sudah ada di sana untuk bekerja. Bu Warti juga udah nungguin Santi di Surabaya,"