Kaelen—seorang pendekar dengan pedang besi berkarat yang menyimpan misteri dimensi lain—bersama Lyra, seorang alkemis cerdas berdarah dingin, nekat menerobos reruntuhan kuil kuno peninggalan Mazhab Pedang Purba.
Diintai oleh bayangan mematikan dari Faksi Tengkorak Darah dan desakan ancaman dari pengkhianat faksi lokal bernama Vance, perjalanan mereka bukan sekadar pelarian, melainkan perburuan berbahaya demi menemukan Jiwa Artefak Reruntuhan Langit. Menghadapi entitas Qi gelap, formasi penjara kuno, dan bisikan purba yang menguji jiwa, Kaelen dan Lyra harus mempertaruhkan nyawa untuk mengungkap kebenaran di balik masa lalu yang terkubur, sebelum perangkap pengkhianatan merenggut nyawa mereka di ujung lorong yang sunyi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liam Harrison, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Misteri Lembaran Kuno
Udara di dalam ruangan itu begitu pekat, sarat aroma debu purba dan perkamen yang lapuk dimakan zaman. Kaelen menyipitkan mata, sementara cahaya obor yang ia genggam menari-nari di atas ukiran-ukiran yang nyaris tak terbaca di dinding batu, mengungkapkan siluet samar makhluk mitos dan formasi energi yang rumit. Di hadapannya, di atas altar batu yang retak dan berlumut, tergeletak tumpukan lembaran kulit yang menguning, rapuh seolah bisa hancur hanya dengan sentuhan napas.
"Ini pasti tempatnya, Kaelen," bisik Lyra. Suaranya terdengar merdu namun penuh ketegangan, dan matanya yang sebiru safir memancarkan kilau aneh saat menyapu seisi ruangan. Rambut peraknya jatuh lembut di bahu, diterpa cahaya obor yang menciptakan aura misterius di tengah kesunyian pekat. Jari-jemarinya yang ramping dan lentik dengan hati-hati meraih salah satu lembaran, seolah takut mengganggu tidur panjang relik kuno tersebut.
Kaelen mengangguk, mengamati pedang besi berkarat yang tergantung di pinggang, seolah mencari konfirmasi dari entitas tak kasat mata di dalamnya. Permukaan pedang itu, meski usang, kadang memancarkan denyutan energi yang hanya bisa dirasakan olehnya. "Lembaran Kuno... mereka seharusnya berisi petunjuk tentang Jiwa Artefak Reruntuhan Langit," gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Lyra. "Namun, tak kubayangkan tempat ini akan begitu tersembunyi dan terlupakan."
Lyra membentangkan lembaran pertama di atas altar, membiarkan cahaya obor menari di atas tulisan-tulisan kuno yang asing, terukir dalam aksara yang nyaris punah. Namun, tak butuh waktu lama bagi Lyra untuk menunjukkan keahliannya. Alisnya yang halus berkerut dalam konsentrasi, sementara bibirnya bergerak samar membaca bisikan aksara yang hanya ia pahami. "Ini... bukan sekadar catatan sejarah biasa, Kaelen," ujarnya, nadanya berubah serius dan menyiratkan penemuan yang jauh lebih mendalam. "Ini adalah peta bintang sekaligus mantra. Dan di sini... ada simbol Faksi Sekte Kuno yang telah lama hilang." Jemarinya menunjuk sebuah skema rumit yang tergambar di sudut lembaran, sebuah trisula terbalik yang dikelilingi oleh ular melingkar—lambang yang jarang terlihat namun menyimpan sejarah kelam.
Kaelen mendekat, matanya mengikuti arah telunjuk Lyra. Simbol itu memang familiar dari cerita-cerita kuno tentang pengkhianatan yang mengguncang dunia kultivasi ribuan tahun silam. Faksi Sekte Kuno adalah sebuah nama yang dulunya diagungkan, namun kemudian dicoret dari lembaran sejarah karena kekejaman dan ambisi tak terbatas mereka. "Faksi Sekte Kuno... jadi mereka benar-benar terlibat. Tapi bagaimana ini berhubungan dengan Jiwa Artefak? Mengapa mereka menyembunyikannya di sini?" Kaelen merasa kepingan-kepingan teka-teki mulai menyatu, namun gambaran keseluruhannya masih buram dan mengancam.
Lyra menghela napas panjang, matanya kini memancarkan kesedihan dan sedikit kemarahan yang tersembunyi. "Lembaran ini menyebutkan bahwa Jiwa Artefak Reruntuhan Langit bukanlah sekadar alat, Kaelen. Ia adalah entitas hidup, sebuah esensi kosmik yang terperangkap dalam bentuk artefak. Dan Faksi Kuno... mereka adalah dalang di balik perangkap itu. Mereka tidak mencari kekuatannya; mereka ingin menguasai kesadarannya dan menjadikannya senjata pamungkas untuk menguasai seluruh alam serta membentuk kembali realitas sesuai kehendak mereka."
Sebuah kebekuan menjalari tulang punggung Kaelen. Jika Jiwa Artefak adalah entitas hidup, maka merebutnya akan jauh lebih rumit dan berbahaya daripada yang ia bayangkan. Itu bukan lagi sekadar mencari harta karun, melainkan membebaskan atau memperbudak sebuah keberadaan. "Dan Liliyana? Apakah dia juga mencari entitas itu? Atau ia bagian dari Faksi Kuno?" Kaelen bertanya, mengingat pemburu jiwa artefak yang kejam itu, yang aura kegelapannya masih membekas di ingatan.
Lyra menggeleng perlahan. "Tidak persis. Lembaran ini mengindikasikan bahwa Faksi Kuno menciptakan 'kunci' untuk mengendalikan Jiwa Artefak, sebuah fragmen yang dapat digunakan untuk memanipulasi kehendak artefak. Kunci itu disebut 'Jantung Bayangan'. Liliyana... dia mencari 'Jantung Bayangan' ini. Dia tidak peduli dengan penguasaan Jiwa Artefak secara utuh; dia hanya menginginkan kekuatan fragmentasi dari Jantung Bayangan untuk dirinya sendiri—kekuatan yang akan memungkinkannya mengendalikan sebagian kecil dari esensi artefak dan mengubahnya menjadi sumber energi gelap tanpa batas." Suaranya bergetar. "Dan dia akan menghancurkan siapa pun yang menghalangi jalannya, termasuk kita, Kaelen. Dia menganggap Jantung Bayangan sebagai takdirnya, sebuah warisan gelap yang pantas ia miliki."
Kaelen mengepalkan tinjunya. Karat di gagang pedangnya terasa dingin di telapak tangan, seolah pedang itu sendiri merasakan ancaman yang membayangi. "Jadi, kita tidak hanya harus menemukan Jiwa Artefak, tetapi juga menghentikan Liliyana agar tidak mendapatkan 'Jantung Bayangan' itu, dan mungkin juga harus menghadapi sisa-sisa Faksi Sekte Kuno yang mungkin masih bersembunyi di bayang-bayang." Senyuman tipis penuh tekad terukir di bibirnya. Tantangan ini, meski mematikan, justru membangkitkan semangat juang dalam dirinya. "Lembaran ini... apakah ada petunjuk tentang lokasi Jantung Bayangan atau cara untuk menghancurkan perangkap Jiwa Artefak?"
Lyra kembali menunduk pada lembaran kuno, jari-jarinya menelusuri tulisan-tulisan yang samar sementara matanya bergerak cepat di antara simbol dan diagram. "Ada... sebuah lokasi yang disebut 'Pusaran Kabut Abadi'. Di sana Jantung Bayangan dikatakan bersemayam. Namun, ada peringatan keras, Kaelen. Tempat itu dilindungi oleh kabut ilusi yang mematikan dan penjaga-penjaga bayangan yang tak terhitung jumlahnya—sisa-sisa entitas yang terkorupsi oleh kekuatan Jantung Bayangan itu sendiri. Dan waktu kita tidak banyak. Konstelasi tertentu akan sejajar dalam tiga purnama; saat itulah Jantung Bayangan akan mencapai puncaknya, kekuatannya akan meluap, dan siap untuk dipanen. Jika Liliyana berhasil mendapatkannya saat itu, kekuatannya akan menjadi tak terbayangkan."
Kaelen merasakan denyutan energi dari pedangnya, sebuah respons diam-diam terhadap informasi yang baru saja ia terima. "Pusaran Kabut Abadi," ulangnya, membiarkan nama itu bergaung di benak. "Baiklah, Lyra. Kita punya tujuan baru. Kita akan pergi ke Pusaran Kabut Abadi, menghentikan Liliyana, dan membebaskan Jiwa Artefak Reruntuhan Langit dari belenggu purba ini." Tekadnya terpancar jelas; matanya menyala dengan api yang tak tergoyahkan, siap menghadapi takdir yang telah menunggu di tengah kabut ilusi dan bahaya tak terduga.
Udara di dalam gua terasa memadat, membebani ketenangan remang yang menyelimuti mereka. Keputusan telah terukir, takdir telah menunjuk. Kaelen menggenggam gagang pedang berkarat di tangan, merasakan resonansi samar dari energi purba yang bersemayam di dalamnya, seolah artefak itu sendiri bersiap untuk pertempuran yang akan datang. Lyra menghela napas panjang; tatapannya menyapu lembaran kuno sekali lagi, dan jari-jarinya yang ramping menelusuri tulisan-tulisan yang nyaris pudar, seolah mencari celah atau petunjuk yang mungkin terlewat.
"Pusaran Kabut Abadi bukan hanya sekadar nama di peta, Kaelen," Lyra memulai, suaranya kini lebih serius dan penuh perhitungan, mengikis sisa-sisa kelegaan yang sempat ia rasakan. "Jalur menuju ke sana dipenuhi reruntuhan peradaban yang terlupakan dan jebakan-jebakan kuno yang dirancang oleh para kultivator purba untuk melindungi rahasia serta harta mereka. Kabut ilusi di sana... ia bukan kabut biasa. Ia merasuki pikiran, memutarbalikkan kenyataan, bahkan mampu menciptakan manifestasi dari ketakutan dan keraguan terdalam seseorang. Para penjaga bayangan yang disebutkan juga bukan sekadar monster. Mereka adalah sisa-sisa entitas yang terkorupsi, cangkang kosong yang didorong oleh keinginan Jantung Bayangan itu sendiri." Ia melipat lembaran itu dengan hati-hati, menyimpannya di balik jubah gelapnya. "Kita harus bersiap dan tidak bisa gegabah. Perbekalan, ramuan, dan mungkin juga peta yang lebih detail jika kita bisa menemukannya."
Kaelen mengangguk perlahan, matanya menatap jauh ke depan, seolah sudah melihat bayangan Pusaran Kabut Abadi di kejauhan—kabut kelabu yang berputar-putar dalam benaknya. "Kita pernah menghadapi hal-hal yang lebih buruk, Lyra. Ingat Hutan Bayangan Kematian yang penuh dengan arwah penasaran? Atau Sarang Naga Batu yang runtuh, tempat kita nyaris menjadi santapan Wyvern raksasa?" Senyum tipis kembali merekah di bibir, sebuah kilasan kenangan pahit manis dari petualangan mereka yang tak terhitung jumlahnya. Setiap luka menjadi cerita, setiap bahaya menjadi pelajaran. "Lagipula, aku punya Pedang Berkarat ini, dan kau punya ramuan-ramuan ajaibmu. Kita akan mencari tahu. Apa yang perlu kita siapkan terlebih dahulu?"
Lyra berpikir sejenak. Jari telunjuknya yang ramping mengetuk dagu, sementara matanya memancarkan cahaya perhitungan. "Pertama, kita butuh informasi lebih lanjut tentang jalur teraman dan tercepat. Lembaran ini menyebutkan 'Kota Kuno Lumina' sebagai titik transit yang mungkin. Kota itu, yang kini tinggal reruntuhan megah yang dihuni para pencari artefak dan pedagang gelap, mungkin menyimpan peta kuno atau panduan yang bisa membantu kita menghindari rute paling berbahaya. Kedua, aku perlu mengumpulkan beberapa bahan langka untuk meracik ramuan penangkal ilusi yang kuat. Beberapa di antaranya, seperti Lumina Sari Bunga Malam atau Akar Gema Hantu, hanya bisa ditemukan di Pasar Malam Bayangan—sebuah tempat yang... kurang bersahabat bagi orang asing dan penuh intrik."
"Pasar Malam Bayangan, eh?" Kaelen mengangkat alis, seringai tipis muncul di wajahnya. "Sepertinya petualangan kita akan membawa kita kembali ke tempat-tempat yang akrab dengan aroma pengkhianatan dan transaksi di balik bayangan. Baiklah, Lyra. Kita akan memulai dengan Kota Kuno Lumina. Kau cari informasi tentang jalur dan bahan-bahanmu, aku akan memastikan Pedang Berkarat ini siap untuk apa pun yang menanti kita di Pusaran Kabut Abadi."
Tekadnya mengeras; bayangan Liliyana dan Jantung Bayangan kini menjadi target yang jelas di cakrawala ambisi mereka. Mereka harus bergerak cepat, sebab waktu adalah esensi yang tak bisa ditawar—sebuah pedang bermata dua yang terus mengancam.