Bagi Raina, sekolah adalah tempat untuk belajar dan mengukir prestasi, bukan untuk berurusan dengan makhluk ajaib bernama Devan Adhitama. Devan adalah definisi hidup dari kata "NYEBELIN". Dia berisik, pamer, sering melanggar aturan, dan entah kenapa, selalu punya cara untuk mengacaukan hari Raina yang tertata rapi.
Raina bersumpah akan menjaga jarak radius satu kilometer dari Devan. Namun, takdir berkata lain ketika mereka dipaksa bekerja sama dalam proyek besar sekolah yang mempertaruhkan reputasi mereka berdua. Di antara prank konyol Devan, hukuman bersama di perpustakaan, dan rahasia-rahasia keluarga yang perlahan terkuak, Raina mulai melihat sisi lain dari si raja nyebelin.
Apakah Raina bisa mempertahankan hatinya, atau justru dia akan melakukan hal paling konyol sedunia: Jatuh cinta sama cowok yang paling ingin dia tenggelamkan ke laut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon silasepentin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: TEMAN TAPI MUSUH
"Gua udah minta maaf ya, dan gua tanggung jawab kok," balas Devan sambil melirik Raina dari sudut matanya. "Nanti sore gua antar dia ke optik buat ganti kacamata."
Raina langsung mendongak, matanya memicing dari balik kacamata tebalnya. "Aku gak pernah bilang setuju buat pergi sama kamu nanti sore."
"Tapi kamu juga gak bisa nolak, Raina. Kacamata kamu patah gara-gara gua, dan gua bukan cowok yang suka lari dari tanggung jawab," sahut Devan dengan nada bicara yang mendadak serius, menghilangkan kesan jenakanya sejenak.
Feby dan Rio saling pandang, menahan senyum geli melihat interaksi di depan mereka.
"Udah deh, Na, terima aja. Jarang-jarang Devan mau ke optik anterin cewek," timpal Feby memanas-manasi. "Lagian kasihan tuh kacamata cadangan kamu, bikin muka kamu kaku banget."
"Feby!" desis Raina menahan malu.
Devan terkekeh pelan melihat pipi Raina yang mulai merona merah karena kesal. Ia memajukan badannya ke arah meja, menatap Raina dengan cengiran khasnya. "Tuh, sahabat kamu aja setuju. Jadi, nanti selesai jam terakhir, tunggu gua di parkiran. Jangan coba-coba kabur, atau gua jemput ke ruang OSIS."
Raina mengepalkan jemarinya di bawah meja. Berada di lingkaran pertemanan yang sama dengan Devan adalah mimpi buruk yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Namun di balik rasa jengkelnya, ada sedikit getaran aneh saat menatap mata Devan yang kini serius menawarkannya tanggung jawab.
BAB 6: KARMA ITU NYATA
Suasana ruang kelas 11 IPA 2 pagi itu mendadak hening membeku. Pak Bambang, guru Fisika paling killer se-SMA Garuda, berdiri di depan kelas dengan tumpukan kertas hasil kuis mendadak minggu lalu. Wajahnya yang tegas terlipat amat dahi, menandakan badai akan segera datang.
"Nilai kuis Fisika kalian sangat memprihatinkan," ujar Pak Bambang dengan suara berat yang menggelegar. "Hanya tiga orang yang berhasil melewati KKM."
Raina duduk tegak di bangku depan, matanya tenang. Ketika Pak Bambang membagikan lembar jawaban, Raina tersenyum tipis melihat angka 98 tertera dengan tinta merah di pojok kanan atas kertasnya. Nilai tertinggi di kelas, seperti biasa.
Di sudut belakang, Devan sedang duduk bersandar santai sambil memutar-mutar pulpen di jarinya, seolah sama sekali tidak terbebani oleh ketegangan di dalam ruangan. Namun, santainya langsung menguap saat Pak Bambang melemparkan kertas jawabannya ke atas meja.
"Devan Adhitama," panggil Pak Bambang dengan nada dingin. "Nomor satu salah, nomor dua salah, dan sisanya bahkan tidak kamu isi. Nilai kamu nol."
Seisi kelas mendadak hening sebelum bisik-bisik geli mulai terdengar di sana-sini. Devan terbelalak menatap angka 0 besar bercat merah di kertasnya.
"Nol, Pak? Masa gak ada nilai kasihan buat garis marginnya?" protes Devan coba bercanda untuk menutupi rasa malunya.
"Tidak ada kasihan dalam Fisika, Devan," tegas Pak Bambang. "Jika nilai ulangan harianmu berikutnya masih seperti ini, saya tidak akan memberikan rekomendasi izin bertanding untukmu di kejuaraan basket antarsekolah bulan depan."
Mendengar ancaman itu, raut wajah Devan berubah drastis. Basket adalah segalanya baginya. Wajah santai yang biasanya menghiasi paras cowok itu lenyap seketika, berganti kepanikan murni.
Saat jam pelajaran usai dan Pak Bambang keluar dari kelas, beberapa teman Devan mulai mengerubunginya untuk memberikan simpati. Namun, perhatian Devan malah tertuju ke bangku barisan depan.