Di Kekaisaran Tianming, Pangeran Ke-14 bernama Mu Xuanyuan dikenal oleh seluruh penjuru istana sebagai pangeran yang "cacat": bodoh, tidak bisa bertarung, gila, dan selalu tersenyum ceria tanpa peduli situasi. Ia menjadi bahan tertawaan para pejabat dan target perundungan utama dari Pangeran Ke-3 (Lu Cangqiong) yang arogan. Dari 21 bersaudara (8 kakak laki-laki, 5 kakak perempuan, 4 adik laki-laki, dan 3 adik perempuan), hampir tidak ada yang menganggap Xuanyuan sebagai ancaman.
Namun, di balik topeng ceria dan tingkah konyolnya, Mu Xuanyuan adalah entitas paling berbahaya di seluruh benua. Ia secara rahasia telah mencapai ranah Immortal Emperor Puncak (Ranah Kaisar Abadi). Tak hanya itu, ia adalah pemilik sah dari Paviliun Lelang Xingzhou (balai lelang terbesar di benua) dan raja di balik Pasukan Bayaran Po Jun (tentara bayaran paling menakutkan). Ia juga memiliki Ruang Dimensi Portabel yang berisi ladang tanaman obat langka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fresh Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12: Flirting with an Immortal
Suara jeritan cempreng Mu Xuanyuan bergema di antara pepohonan purba Hutan Kabut Abadi. Dengan jubah yang sengaja dibuat agak kumal dan rambut yang sedikit diacak-acak, pangeran yang dianggap gila itu berlari-lari kecil seraya memeluk burung kayunya erat-erat.
"Aaaah! Monster! Monsternya punya gigi besar! Takut!" jerit Xuanyuan sambil sesekali melompati batu dengan gerakan konyol.
Di belakangnya, Feng Wuchen dan Gu Juechen berjalan dengan langkah santai yang sengaja disesuaikan. Mereka berdua memasang raut wajah panik buatan yang sangat tidak meyakinkan, tetapi cukup untuk mengelabui mata-mata kerajaan yang mungkin mengintai dari kejauhan.
Sementara itu, hanya dua mil di arah utara, suasana di wilayah perburuan utama Pangeran Ke-3 sama sekali tidak santai.
ROAARRR!
Sebuah raungan menggelegar menggetarkan pepohonan raksasa hingga membuat tanah bergetar hebat. Seekor Babi Hutan Zirah Besi, binatang buas tingkat lima yang setara dengan pakar ranah Pendekar Spirit Puncak, mendobrak rimbun semak-semak dengan mata merah menyala. Asap tipis membara keluar dari hidungnya yang besar.
"A-apa yang terjadi?!" teriak Lu Cangqiong dengan wajah pucat pasi. Ia berada di atas Kuda Spirituelle miliknya yang kini meringkik ketakutan dan hampir melempar tubuhnya ke tanah. "Mengapa ada monster tingkat lima di zona perburuan luar?! Di mana para pengawal?!"
"P-Pangeran Ke-3! Ada yang tidak beres!" seru kepala pengawalnya seraya mencabut pedang dengan tangan gemetar. "Bukan hanya satu! Lihat di belakang sana!"
ROAARRR!
Dari arah barat dan timur, dua ekor Serigala Bayangan Es berukuran sebesar kereta kuda melompat keluar, mengunci posisi Lu Cangqiong dan sepuluh pengawalnya di tengah-tengah.
Lu Cangqiong mandi keringat dingin. Ini tidak masuk akal! Harusnya di zona luar ini hanya ada binatang buas tingkat satu atau dua yang mudah dibantai untuk mengumpulkan poin. Mengapa tiga ekor monster tingkat tinggi mendadak mengepung mereka secara bersamaan?
Ia tidak pernah tahu bahwa beberapa menit lalu, sepuluh prajurit bayangan elit Pasukan Po Jun—atas perintah Mu Xuanyuan—secara khusus memancing dan menggiring tiga monster paling ganas dari kedalaman hutan menuju lokasinya.
"Sialan! Bertahan dalam formasi!" raung Lu Cangqiong seraya mencabut pedang emasnya. Energi Qi berwarna merah menyala menyelimuti bilah pedangnya, tetapi tangannya tak bisa menyembunyikan getaran ketakutan.
Tepat saat Babi Hutan Zirah Besi itu menerjang maju hendak menyundul Lu Cangqiong, sebuah suara cempreng yang sangat tidak asing terdengar dari balik semak-semak.
"Wah! Ada babi gemuk! Kakak Ke-3 sedang main dengan babi besar!"
Gedebuk!
Mu Xuanyuan muncul dari balik pohon, melambaikan tangan dengan wajah polos berbinar-binar. "Kakak Ke-3! Lihat, aku membawa burung kayu! Apakah babimu mau berteman dengan burung kayuku?"
Melihat sosok Xuanyuan yang mendadak muncul tanpa dosa, darah di kepala Lu Cangqiong mendidih seketika.
"KAU... KAU IDIOT SIALAN!" jerit Lu Cangqiong murka, urat di lehernya menegang. "KENAPA KAU MALAH LARI KE SINI?! PERGI DARI SINI, SAMPAH!"
Namun Babi Hutan Zirah Besi itu tidak memedulikan teriakan Lu Cangqiong. Mengendus bau manusia baru, monster raksasa itu mengalihkan pandangannya dan menerjang lurus ke arah Xuanyuan dengan kecepatan dahsyat!
"Pangeran Ke-14! Awas!" teriak kepala pengawal Lu Cangqiong refleks.
Lu Cangqiong justru menyeringai jahat di balik ketakutannya. Bagus! Biarkan monster itu membantai si idiot ini! Ini kecelakaan yang sempurna!
Xuanyuan berdiri di jalur terjangan Babi Hutan Zirah Besi dengan wajah ketakutan yang dibuat-buat. "Aaaah! Babinya mau menciumku!"
Ia memejamkan mata dan berjongkok seraya mengangkat burung kayunya ke depan.
Di mata orang awam, itu adalah tindakan bunuh diri yang konyol. Namun saat moncong keras Babi Hutan Zirah Besi tinggal berjarak beberapa inci dari dada Xuanyuan, sekelumit kecil aura Immortal Emperor dilepaskan oleh Xuanyuan—khusus diarahkan hanya ke dalam benak sang monster.
Bagi manusia, aura itu tak terlihat. Namun bagi binatang buas yang mengandalkan insting murni, aura itu bagaikan kehadiran Nenek Moyang Dewa Binatang yang sanggup menghancurkan jiwa mereka dalam sekejap!
Ckiieeeeee-k!
Babi Hutan Zirah Besi yang tadi menerjang bagaikan meteorit mendadak menancapkan keempat kakinya ke tanah secara brutal, berusaha mengerem mendadak. Bola matanya yang merah menyala membelalak penuh horor. Matanya menatap Xuanyuan yang bersimpuh di tanah bagaikan melihat neraka paling mengerikan.
Gedebuk!
Babi raksasa itu bukannya menyerang, melainkan langsung berlutut, merebahkan kepalanya di tanah tepat di depan kaki Xuanyuan, dan gemetar hebat bagaikan anak anjing yang ketakutan!
Dua ekor Serigala Bayangan Es di belakangnya pun mengalami hal yang sama. Keduanya langsung melipat telinga mereka, melengking ketakutan, dan bersujud di atas rumput.
Keheningan yang sangat aneh mendadak melingkupi area hutan.
Lu Cangqiong mematung dengan mulut ternganga lebar. Pedang emas di tangannya hampir saja terlepas. Para pengawal kerajaan mengucek mata mereka berulang kali, merasa dunia baru saja gila.
"A-apa yang terjadi...?" gagap Lu Cangqiong, suaranya bergetar tak percaya. "Kenapa... kenapa binatang buas tingkat lima berlutut di depan si gila itu?!"
Xuanyuan membuka matanya pelan, berpura-pura bingung. Ia lalu mengelap hidung Babi Hutan Zirah Besi yang gemetar dengan telapak tangannya.
"Wah! Babinya penurut sekali! Babinya suka dipuk-puk!" kata Xuanyuan sambil menepuk-nepuk kepala monster raksasa itu dengan senyum paling polos di dunia. Babi hutan itu hanya bisa mendengkur pasrah, takut jika bernapas terlalu keras kepalanya akan hancur oleh aura gaib sang Immortal Emperor.
"K-kau... apa yang kau lakukan, Xuanyuan?!" raung Lu Cangqiong, matanya hampir melompat keluar dari kelopaknya.
Sebelum Xuanyuan sempat menjawab, aroma harum bunga peony dan melati kembali berembus lembut di antara kabut hutan.
Wusss...
Sesosok pria berbalut jubah sutra merah menyala hinggap di atas dahan pohon terdekat dengan gerakan luar biasa anggun. Kipas emasnya terkuak halus, menutupi senyuman flamboyan yang tiada tanding. Siapa lagi jika bukan Leng Yan.
"Oho~ Betapa mengagumkannya!" suara mendayu-dayu Leng Yan menggema merdu. Ia melompat turun dengan seringai memikat, menatap Xuanyuan dengan binar pemujaan yang amat pekat. "Bahkan monster ganas tingkat lima pun langsung bertekuk lutut dan memohon ampun di hadapan pesona serta keagungan Pangeranku yang tampan!"
Lu Cangqiong makin melotot. "Leng Yan?! Pemilik Paviliun Redup... untuk apa kau ada di Hutan Kerajaan?!"
Leng Yan tidak mengabaikan Pangeran Ke-3 begitu saja. Ia berjalan mendekati Xuanyuan yang masih berjongkok di dekat babi hutan, merendahkan tubuhnya, dan menatap Xuanyuan dengan pandangan penuh godaan puitis.
"Pangeran Xuanyuan yang manis..." bisik Leng Yan dengan suara berat yang menggetarkan. "Keberadaanmu yang sanggup menundukkan binatang buas tanpa menumpahkan darah sungguh membuat hatiku makin bergetar. Katakan padaku, apakah kau menundukkan monster ini demi melindungiku?"
Xuanyuan mengedipkan matanya polos, mengeluh dalam hati: Pria flamboyan ini benar-benar pandai memanfaatkan kesempatan untuk menggoda.
"Orang cantik baju merah!" seru Xuanyuan ceria sambil mengangkat burung kayunya. "Lihat! Babinya mau berteman! Kau mau cium babinya juga?"
"Puih!" Leng Yan terkekeh gembira, mengibaskan kipasnya. "Jika itu perintah dari Pangeranku yang tampan, jangankan mencium babi, melompati lautan api pun akan kulakukan!"
"Kalian berdua..." raung Lu Cangqiong, wajahnya memerah padam karena merasa diabaikan dan dipermalukan secara absurd di depan para pengawalnya. "APAKAH KALIAN SEMUA SUDAH GILA?!"
Tepat saat itu, sesosok bayangan berkelebat cepat dari arah atas pohon.
PLAK!
Sebuah lemparan batu berukuran sedang meluncur dari balik dahan dan mendarat telak di belakang kepala Leng Yan.
"KAKAK BODOH! BERHENTI MENGGODA PANGERAN DI DEPAN MONSTER DAN PANGERAN KE-3!" jerit suara Leng Shuang dari atas pohon dengan kemarahan yang membumbung tinggi.
Leng Yan mengelus kepalanya seraya meringis dramatis. "Shuang'er! Mengapa kau selalu merusak momen manisku bersama sang Immortal?!"