Ye Xinyue, mahasiswa hukum tingkat akhir, meninggal karena kelelahan mengerjakan skripsi. Namun, bukannya masuk surga, ia justru terbangun sebagai Selir ke-20 Kaisar Tianyu dalam webtoon *** yang sering dibacanya. Mengetahui bahwa tokoh ini akan mati di tengah perebutan kekuasaan, Xinyue bertekad mengubah takdir. Ia memilih hidup tenang, menjauhi kaisar, politik istana, dan para selir. Sayangnya, rencananya gagal ketika Kaisar Tianyu mulai memperhatikannya. Lebih buruk lagi, alur cerita perlahan berubah: tokoh yang seharusnya mati masih hidup dan kejadian baru bermunculan. Kini Xinyue harus bertahan hidup sambil mencari alasan mengapa kedatangannya telah mengubah seluruh takdir Tianyu dan rahasia besar di balik semuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fresh Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Someone Is Trying to Kill Me
Bau harum sup akar lotus dan iga babi yang masih mengepul memenuhi meja makan Paviliun Bayangan Salju. Di sudut ruangan, lentera kertas bergetar halus ditiup angin malam yang berembus masuk dari celah jendela.
Setelah kepergian Zhao Fengting, Xinyue akhirnya memiliki waktu untuk merenggangkan otot-ototnya yang tegang. Ia meletakkan Segel Pengawas Hukum Kerajaan di atas meja perunggu berselimut kain sutra merah, lalu mendudukkan dirinya di depan hidangan malam.
"Nona Ye, sup ini disiapkan khusus oleh Dapur Utama Kerajaan atas perintah Kasim Gao," ujar Mingzhu seraya memiringkan teko tanah liat untuk menuangkan teh melati hangat ke dalam cangkir porselen Xinyue. "Bahkan bahan-bahannya diperiksa dua kali oleh pengawal bayangan."
Xinyue tersenyum tipis. "Keamanan di sekitar paviliun ini memang mengetat. Tapi justru karena itulah kita tidak boleh lengah."
Xinyue mengambil sendok perak yang disediakan di samping mangkuknya. Sebelum memasukkan suapan pertama ke dalam mulut, kebiasaan refleks seorang spesialis forensik mengambil alih. Ia memutar sendok perak itu pelan di dasar mangkuk, mengamati interaksi kimia dasar yang biasa terjadi pada racun-racun kuno berbahan dasar raksa atau arsenik.
Ujung sendok perak itu tetap berkilau tanpa ada perubahan warna menjadi kehitaman.
Bagus. Tidak ada arsenik biasa, batin Xinyue.
Namun, saat sendok itu terangkat dari kuah kental, mata tajam Xinyue menangkap seberkas kejanggalan mikro pada permukaan sup. Di antara bulir-bulir minyak iga yang mengapung, terdapat gumpalan busa halus berukuran amat kecil seperti gelembung sabun yang menolak untuk pecah.
Xinyue memicingkan matanya. Ia menyenggol sendoknya sedikit lagi, lalu mendekatkan hidungnya ke arah permukaan mangkuk.
Aroma gurih akar lotus dominan, tetapi di lapisan terbawah harum tersebut, ada semerbak bau manis yang sangat asing—serupa aroma bunga embun malam yang hanya tumbuh di rawa-rawa bagian selatan.
Bukan racun keras. Ini racun lambat berbasis neurotoksin organik, analisis otak forensik Xinyue bekerja kilat. Racun jenis ini tidak bereaksi dengan perak. Jika dikonsumsi selama tiga hari berturut-turut, racun ini akan memicu kelumpuhan saraf jantung yang tampak persis seperti serangan jantung mendadak.
Sesak napas tak kasatmata mendadak menghantam dada Xinyue bukan karena efek racun, melainkan karena memori masa lalunya. Serangan jantung. Penyakit yang membunuhku di kehidupan sebelumnya.
Senyum dingin dan tajam mengembang di bibir Xinyue. "Luar biasa. Seseorang di istana ini sangat kreatif."
"Nona? Ada apa?" tanya mingzu bingung saat melihat Xinyue tiba-tiba meletakkan sendoknya kembali ke meja.
"mingzhu, siapa yang mengantarkan makanan ini dari Dapur Utama?" suara Xinyue berubah menjadi sangat dingin dan datar, penuh tekanan profesional yang intimidatif.
mingzhu mendadak panik, matanya membelalak ketakutan. "I-itu... Kasim Xiao dari Dapur Utama yang menyerahkannya pada pengawal pintu depan, Nona! Hamba sendiri yang menerimanya dari pengawal! Ada apa dengan supnya, Nona?"
"Sup ini dicampuri ektrak racun Serangga Jiwa Biru," jawab Xinyue santai namun menohok. "Racun yang tidak meninggalkan jejak di sendok perak, tidak berbau tajam, dan baru akan membunuh korbannya setelah beberapa hari tanpa meninggalkan bukti autopsi kasatmata bagi tabib biasa."
mingzhu menjerit kecil, refleks menutup mulutnya dengan kedua tangan, wajahnya pucat bagaikan mayat. "A-apa?! Siapa... siapa yang berani menaruh racun di Paviliun Bayangan Salju?!"
Xinyue berdiri perlahan, merapikan lengan gaunnya yang lebar. "Klan Liang sudah jatuh. Selir Liang sedang dikurung. Jadi racun ini bukan berasal dari sisa-sisa faksi barat yang sudah sekarat. Seseorang yang baru sedang bergerak dari balik bayangan."
Xinyue melangkah ke sudut ruangan tempat Segel Pengawas Hukum Kerajaan tergeletak. Ia mengambil segel giok dingin itu, memegangnya erat di jemari.
"Mereka tahu aku baru saja memegang kekuasaan audit hukum," gumam Xinyue seraya menatap pantulan dirinya di cermin perunggu. "Mereka tahu jika aku mulai memeriksa buku kas kementerian lain, kejahatan faksi mereka akan terbongkar seperti klan Liang. Jadi... mereka memilih untuk membunuh sang pengawas sebelum investigasi dimulai."
"Nona! Hamba akan memanggil pengawal dan melaporkan ini pada Yang Mulia Kaisar sekarang juga!" teriak mingzhu histeris, bersiap berlari ke luar pintu.
"Tahan langkahmu, mingzhu," cegah Xinyue tegas.
mingzhu terhenti seketika, menoleh dengan napas memburu. "Tapi Nona! Seseorang mencoba membunuh Anda!"
"Jika kita berteriak sekarang dan memanggil pengawal, pelakunya akan membuang sisa ekstrak racun dan membakar bukti di Dapur Utama," papar Xinyue dengan logika hukum yang terstruktur rapi. "Kita akan kehilangan rantai bukti. Di dalam hukum, tanpa bukti fisik yang tidak terputus, tuduhan apapun hanyalah angin lalu."
Xinyue berbalik, menunjuk mangkuk sup akar lotus yang masih utuh di atas meja.
"Ambil wadah porselen tertutup," perintah Xinyue. "Ambil sampel kuah ini, amankan di dalam peti obatku. Lalu simpan sisa sup ini seolah-olah aku telah meminumnya sampai habis."
mingzhu mengangguk gemetar, dengan cepat menjalankan instruksi Xinyue.
Xinyue melangkah menuju jendela Paviliun Bayangan Salju yang terbuka, menatap kegelapan malam Istana Dalam yang membendung banyak rahasia berdarah. Di luar sana, di antara puluhan kediaman selir dan aula menteri, ada musuh baru yang sedang tersenyum merayakan keberhasilan rencana racun mereka.
Mereka mengira Ye Xinyue hanyalah seorang wanita muda beruntung yang menjadi kesayangan sementara sang Kaisar. Mereka tidak tahu bahwa wanita yang sedang mereka incar adalah seorang praktisi hukum dan pemburu kejahatan lintas waktu.
"Kau ingin bermain racun denganku?" bisik Xinyue pelan, bibirnya melengkung membentuk cengiran berani. "Sangat disayangkan... kau baru saja memberikan sampel bukti kejahatanmu langsung ke tanganku."
Pintu kamar belakang terkuak perlahan. Bayangan sesosok pengawal bayangan berpakaian hitam mendarat tanpa suara di belakang Xinyue.
"Pengawas Ye," ujar pengawal bayangan itu seraya berlutut. "Yang Mulia Kaisar meminta laporan harian Anda."
Xinyue tidak berbalik. Ia tetap menatap lurus ke arah kegelapan malam, menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Sampaikan pada Yang Mulia," tutur Xinyue dengan nada suara yang begitu dingin hingga sanggup membekukan malam, "ada yang mencoba membunuhku malam ini. Dan besok pagi... aku akan menyeret pelakunya ke depan Balai Agung Kerajaan menggunakan hukum baruku."