NovelToon NovelToon
SHINIGAMI The Shadow Of Hero

SHINIGAMI The Shadow Of Hero

Status: sedang berlangsung
Genre:Akademi Sihir / Fantasi Isekai / Epik Petualangan
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ahmad Voltigern

Berlatar di sebuah dunia yang dihantui ramalan Invasi Volgath. Sebuah perang dahsyat ketiga dunia yakni melawan dunia atas, tengah, dan bawah ditakdirkan melawan makhluk asing dari luar dunia. Di tengah bayang-bayang kehancuran, muncul harapan dimana datangnya seorang pahlawan yang ditakdirkan untuk mencabut pedang legendaris dan menyatukan semua ras sebagai harapan terakhir dunia.

Di Benua Gradecya, benua sihir tempat mayoritas penduduknya adalah penyihir, hiduplah Ardius. Terlahir di keluarga penyihir Leonheart yang ternama. Kehadirannya dianggap sebagai aib dan produk gagal karena tak mampu menggunakan tongkat sihir.

Tak goyah oleh takdir yang melanda hidupnya, Ardius berjuang balik melawan takdir itu sambil diam-diam menyimpan rahasia bahwa ia adalah reinkarnasi dari dunia lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad Voltigern, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad Voltigern, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34 : Twin Tigers, Tsunami Salju dan Undead Misterius

Sebuah lingkaran sihir muncul di tengah padang salju, membawa dua orang yang baru saja berpindah dari tempat sebelumnya.

Matahari senja yang baru mereka lihat beberapa detik yang lalu digantikan dengan pemandangan langit kelam yang memuntahkan butiran-butiran salju. Tanah yang barusan mereka pijak bukan lagi tanah yang sama beberapa detik yang lalu.

Baru tiba di area ketiga, Ardius dan Lucas langsung disambut oleh badai salju yang menerpa. Dingin menyelimuti, melapisi setiap titik tubuh mereka. Tak ada waktu untuk berdiam, mereka harus bergerak jika tak ingin gugur secara konyol.

Ardius mencabut Kagerou dari sarungnya. Sambil terus berjalan, mana dalam tubuhnya mengalir mulus ke katana tersebut.

"Kagerou Amaterasu!"

Memanfaatkan mode api yang dia kuasai, Kagerou Amaterasu menjadi solusi untuk menghangatkan tubuh disaat-saat krusial. Lucas tak banyak komentar, bagaimana juga satu-satunya yang dapat menyelamatkannya dari dingin ini adalah api Ardius.

Kelompok Twin Tiger adalah kelompok terakhir yang tiba di area ketiga. Saat para peserta lain berbondong-bondong pergi, Ardius dan Lucas mencari petunjuk soal kelompok aneh itu. Rumah ke rumah sampai tak terasa waktu terus berlalu cepat.

Tak banyak dengan apa yang mereka temukan. Setelah menjelajah dari rumah ke rumah, mereka mendapatkan beberapa catatan yang ditinggalkan oleh penduduk desa tersebut sebelum menjadi Undead. Rupanya tak hanya gadis kecil itu saja yang selamat, ada beberapa orang yang berhasil selamat dari insiden kedatangan kelompok orang-orang berjubah aneh itu. Meski begitu, nasib mereka tak beda jauh—mati dan menjadi Undead.

Dalam dua catatan yang mereka temukan, orang-orang berjubah aneh itu berasal dari sebuah kultus misterius bernama Moon Skeleton. Dikatakan kultus itu menyembah entitas misterius dan berencana menyebarkan ajarannya untuk membangun sebuah pasukan demi tujuan memunculkan entitas yang mereka sembah agar muncul di dunia ini.

Dua catatan tersebut tak memberikan informasi lebih lanjut. Catatan berakhir tanpa ada kepastian mengenai sosok kultus Moon Skeleton tersebut.

"Menurutmu bagaimana? Apa kultus itu ada hubungannya dengan ramalan akhir dunia?" tanya Lucas tanpa menoleh. Pandangannya fokus ke depan.

"Tidak tahu. Kita tidak boleh mengambil kesimpulan lebih awal. Bisa jadi mereka hanyalah segelintir organisasi kriminal yang fanatik," jawab Ardius. Langkahnya terus maju di atas lapisan salju padat sambil memegangi Kagerou yang dilapisi oleh api.

Dua pemuda dari tim Twin Tigers itu masuk ke dalam sebuah hutan. Untuk saat ini, berburu monster-monster untuk mendapatkan poin lebih penting sebelum malam tiba.

Pindah ke kelompok yang diisi oleh lima orang. Sebelumnya, mereka berisi empat anggota namun Eric yang mengkhianati kelompok-kelompok sekutunya saat malam hari di area sebelumnya berhasil merebut seorang anggota dari kelompok lain dan menjadikannya budak—bukan anggota yang diakui.

Empat anggota lain berjalan dengan posisi mengelilingi Eric dari tengah. Bukan tanpa sebab, namun formasi tersebut memberikan kehangatan sekaligus perlindungan untuknya. Orang yang maju di paling depan adalah peserta yang dia rebut dari kelompok lain.

Meski sudah dikelilingi anggota kelompoknya, suhu dingin yang liar biasa gila tetap menusuk ke kulit-kulit Eric walaupun dilapisi dengan jaket bulu tebal.

"Sialan... ada apa dengan wilayah ini?" gerutunya dengan mata fokus ke sekitar.

Seorang anggota timnya menjelaskan, "Menurut legenda, dulu tempat ini adalah wilayah kekuasaan seorang penyihir es yang sangat kuat. Tapi karena suatu penyakit, dia mati dalam keadaan mengerikan. Mayatnya membawa kutukan ke wilayah ini dan membuatnya dilanda badai salju abadi."

Eric menoleh dengan tatapan buas dan licik. "Siapa yang memberimu izin bicara? Sampah rendahan! Kau pikir aku tak tahu dengan omong kosong si penyihir jalang itu?"

Anggotanya tersebut menelan ludah sendiri. Tatapan dari pemimpin kelompoknya membuat dirinya ciut dalam sekali tatap.

Beberapa langkah berlalu, kelompok tersebut berhenti saat sekumpulan monster serangga bermunculan. Ada yang berbentuk lebah dengan mulut-mulut yang menampilkan gigi menyerupai gergaji, belalang sembah berukuran sebanding dengan manusia, dan kecoa-kecpa besar.

Kelompok Black Moon mengambil posisi bertarung. Eric meraih Staff dari saku jaket. Tangannya terangkat ke atas, menciptakan lingkungan sihir.

"Flame Summon : Hellhound, Volcano Eagle!”

Dua buah titik api keluar dari lingkaran sihir. Perlahan, mulai menjadi besar dan membentuk sebuah tubuh. Anjing dan elang api muncul di sekeliling Eric. Tubuh mereka, jelas sekali terbuat dari api. Tak memiliki jiwa, perasaan, atau badan asli. Mereka hanyalah segumpalan mana yang dikendalikan oleh perintah dari sang pemilik.

Teknik Elemental Summon adalah sebuah teknik sihir dari keluarga Argentum. Sama hal dengan Leonheart, keluarga besar Argentum adalah sebuah keluarga penyihir ternama. Meski keluarga tersebut selalu menghasilkan generasi kurang ajar, licik, dan tak jarang tak memiliki moral, namun kehebatan mereka dapat dikatakan setara dengan keluarga Leonheart.

Salah satu sihir kebanggaan keluarga Argentum adalah teknik sihir Elemental Summon, sebuah teknik memanggil makhluk summon berbasis elemental seperti api, air, aingin, dan petir. Makhluk-makhluk summon yang dipanggil dapat dipelajari lewat sebuah kitab sihir atau dipelajari langsung dari generasi-generasi sebelumnya di keluarga Argentum.

Anjing dan elang api itu mulai melakukan perlawanan. Dengan gerakan halnya hewan sungguhan, keduanya memburu setiap monster-monster yang menghalangi.

Eric sedikit menjauh dari rombongan. Dia membiarkan beberapa monster lepas, membuat mereka menuju anggota-anggotanya yang lain.

"Tuan Eric! Apa yang Anda lakukan?" tanya seorang anggota.

"Kalian para sampah pikir pantas mendapatkan bantuan dariku? Yang benar saja. Ketahuilah posisi kalian, dasar rendahan!"

Kesal dan marah menyelimuti orang tersebut, membuatnya tak menyadari jika seekor monster belalang sembah telah tiba di belakang dan menyerangnya. Darah menyembur dari belakang tubuhnya, ia ambruk seketika.

Para anggota yang lain terpaksa harus melakukan perlawanan meski saat ini mereka kedinginan dan ketakutan.

Elang api Eric melibas semua monster lebah dalam sekali lewat. Sayapnya membakar para monster itu hingga hangus dalam beberapa detik. Sementara itu, anjing api menargetkan buruan yang ada di darat. Ia berlari, mencakar, menggigit, bahkan menerkam kepala monster kemudian membuat mereka juga terbakar menjadi abu.

Sungguh sebuah teknik yang mematikan. Terlebih lagi, makhluk summon yang dipanggil tak dapat diserang atau dilukai secara fisik karena terbuat dari kumpulan mana. Tak hanya itu, Eric juga memiliki potensi dan perkembangannya juga cepat.

Ditengah pertempuran itu, dari kejauhan, Eric mendengar suara aneh. Sebuah suara rantai besi yang diseret di atas salju dengan bunyi-bunyi sedikit berderit. Mendengar suara itu, para monster yang tersisa kocar-kacir pergi meninggalkan lokasi mereka seperti ketakutan.

"Apa itu?"

Dari arah jam 7, seseorang datang dengan salah satu kaki terjerat oleh rantai besi panjang. Muka dan tubuhnya tak terlalu terlihat karena terselimuti jubah dan penutup kepala putih, membuatnya berkamuflase dengan lingkungan bersalju.

"Hey kau brengsek! Katakan siapa dirimu jika tak ingin mati!" ancam Eric sambil mengarahkan Staff miliknya.

Beberapa meter di belakangnya, satu anggota berteriak, "Tuan Eric cepat lari!"

Eric menoleh ke belakang. Anggotanya tersebut menambahkan jika orang berjubah putih itu bukanlah manusia. Awalnya Eric tak menggubris, namun saat ia menoleh kembali ke depan, matanya seketika melebar karena terkejut.

Orang berjubah mengarahkan tangannya ke depan. Kini terlihat jelas, tangannya bukanlah tangan orang yang masih hidup melainkan tangan bangkai yang bisa bergerak. Dia adalah Undead.

"Sn-Snow... Dispa—... ir!"

Suaranya tak normal. Benar-benar tak wajar. Terdengar seperti suara benda kasar yang bergesekan yang mencoba dipaksakan untuk mengucap suatu kata.

Salju di belakang orang berjubah putih itu bergerak. Perlahan, semakin besar membentuk sebuah ombak salju. Sosoknya juga ikut tertelan oleh ombak salju itu.

Eric tak dapat berkata-kata. Wajahnya begitu tercengang dan ketakutan melihat gelombang ombak sebesar 20 meter di depan. Dia hendak melarikan diri, namun kakinya ditarik oleh salah satu anggotanya yang terluka.

"Jangan tinggalkan saya!"

Eric menginjak kepalanya dengan hina ditambah dengan tatapan jijik. Tanpa memikirkan orang itu, dia bergegas berlari sekuat tenaga—menjauh dari tsunami salju. Eric berhasil menyusul anggota kelompoknya yang lain. Dengan sekuat tenaga, mereka semua terus memacu kecepatan.

Salah seorang anggota menunjuk ke depan. Tepat beberapa puluh meter di depan, berdiri sebuah bangunan tua misterius. Tanpa menunggu perintah, tak lain tujuan mereka adalah rumah aneh tersebut.

Menoleh ke arah lain, rupanya ada kelompok lain yang juga berlari menuju rumah tersebut dengan susah payah. Tsunami salju benar-benar sangat gila.

Langkah demi langkah terasa sangat menegangkan dan mendebarkan. Eric yang memiliki ambisi yang melampaui batas, tak sudi jika dia harus kalah dalam permainan konyol ini. Dia memaksa tubuhnya meski rasa lelah menggerayangi.

Satu orang tersandung namun Eric tak peduli. Walaupun sudah meminta tolong, teriakannya hanya sebatas angin lalu yang menyintas. Sebelum sempat berteriak lagi, tsunami salju menelannya.

Bencana tersebut semakin cepat seiring berjalan. Namun untungnya dia berhasil mencapai pintu rumah dan hendak masuk. Sebuah tangan mencengkeram bahunya diikuti suara pria dari belakang yang memaksa supaya dia dan kelompoknya untuk masuk.

Geram, jengkel, dan ego yang muncul, Eric berbalik dan menghantarkan sebuah tinju ke wajahnya, membuat pria itu tersungkur.

"Anjing kotor seperti kalian tidak pantas satu kandang dengan manusia yang lebih suci. Anjing kotor seperti kalian hanya cocok untuk tempat kotor." Eric menutup pintu dan menguncinya rapat-rapat.

Suara gedoran terdengar keras dari luar. Jeritan memohon terdengar jelas meski menutup telinga. Deru gemuruh tiba, menggantikan teriakan yang berisik itu dengan suara tsunami salju yang berjalan dan terus berjalan.

"Apa kita selamat?" tanya salah satu anggota yang berhasil bertahan. Dia adalah anggota kelompok lain yang dipaksa ikut.

"Tuan Eric! Apa rencana Anda selanjutnya?"

Eric berpikir sejenak. Setelah berpikir, akan berbahaya jika keluar sekarang dari rumah ini. Terlebih orang berjubah tadi itu juga sesosok Undead yang mustahil dikalahkan tanpa sihir cahaya.

"Kita akan bersembunyi di tempat ini sampai pagi!"

Sementara itu, kelompok Singa Elf Darat yang berjarak cukup jauh dari lokasi tsunami salju mendengar adanya suara gemuruh dari arah timur.

Angin kencang membawa salju turun lebih cepat. Mereka mengenakan jubah hitam, namun hampir tertutup oleh lapisan salju. Dengan segera mereka melirik ke arah timur.

Axel menyipitkan mata. "Apa itu?"

"Longsor salju?" tanya Arlena penasaran dengan salju yang bergerak itu.

Luna memperhatikan dalam diam. Badai gila ini mengakibatkan pandangan menjadi terbatas. Luna mencoba terus fokus sekuat mungkin.

"Ada apa, Luna?"

"Kita sekarang ada di dataran tinggi, kan?" tanya balik Luna untuk memastikan.

Axel dan Arlena mengangguk kompak.

"Dan longsor salju itu ada di dataran yang lebih rendah dari posisi kita saat ini,"

"Jadi?" Arlena dan Axel kembali kompak membalas.

"Jadi... kenapa longsor itu seperti sedang naik ke arah kita?"

Aneh. Itulah hal pertama yang dipikirkan oleh Arlena dan Axel. Saat mereka mencoba untuk melihat ke bawah jurang, benar saja salju itu sedang naik ke arahnya.

Tanpa berlama-lama, Arlena menarik kengan kedua rekannya untuk segera pergi. mereka bertiga berlari diikuti oleh tsunami salju yang seperti hidup. Itu bukan fenomena alam.

"Itu... itu bukan longsor salju!" teriak Arlena panik.

"Dia seperti hidup. Dia menganggap kita seperti mangsa kecil," tambah Axel berlari paling depan.

"Jika Ard ada di sini, dia pasti sudah terpikirkan sesuatu," kata Luna yang berlari paling belakang.

Sementara itu di tempat yang berbeda, Ardius dan Lucas juga tengah berlari dari kejaran tsunami salju. Keduanya berlari sekuat tenaga dengan susah payah namun tepat beberapa meter di belakang, tsunami salju sudah hampir menyusul.

"Apa kau punya rencana?" teriak Lucas.

"Maaf mengecewakanmu tapi saat ini tidak. Tapi jika kau bisa membuat iglo dengan cepat maka aku punya."

"Aku bisa," teriak Lucas kembali.

Ardius berlari lebih dekat ke Lucas. Tangannya meraih kerah seragamnya lalu melemparnya sejauh 30 meter ke depan. Lucas mendarat dengan mulus. Waktu yang dia miliki untuk membuat sebuah iglo adalah sekitar 6 detik sebelum tsunami itu menerjang.

Langkah Ardius terus silih berganti tanpa jeda. Suhu dingin menusuk bak jarum-jarum tak terlihat. Uap napas terasa jelas menghantam wajah. Di lain sisi, Lucas memanfaatkan waktu singkat yang diberikan untuk membuat sebuah iglo dari sihir es miliknya meski bentuknya tampak asal.

1 detik sebelum tsunami salju melahap, Ardius melompat masuk ke dalam sebuah lubang untuk jalan masuk. Lubang tertutup tepat waktu saat salju-salju itu menerjang.

Ruangan itu cukup sempit, dan gelap tentunya. Ardius menayalakan Kagerou dengan api. Kini, penerangan di dalam iglo es itu sudah terpenuhi sekaligus mendapatkan penghangat untuk mengusir dingin yang melahap tubuh.

Lucas dan Ardius menghembus napas lega. Kini, keduanya dapat bersantai untuk sekarang.

"Kau melihat orang berjubah putih itu, kan?" tanya Ardius sambil tiduran.

"Ya. Tak salah lagi, dia Undead,"

"Apa Undead bisa menggunakan sihir?"

Lucas berpikir dengan ekspresi serius. Berdasarkan apa yang pernah dia baca dalam sebuah buku, ada sebuah fenomena langka yang sangat jarang terjadi dimana jika seorang penyihir mati dengan kematian yang tak wajar di lingkungan yang dipenuhi mana negatif, maka kemungkinan besarnya dia akan menjadi Undead biasa. Namun karena ada emosi negatif dalam jumlah besar yang terkubur dalam dirinya, membuat emosi negatif tersebut menjadi sebuah jiwa cacat yang merasuki mayatnya yang telah menjadi Undead sehingga dia dapat mampu sedikit mengendalikan diri dan menyerang menggunakan sihir.

Entah apa yang dimaksud jiwa cacat itu. Entah itu jiwa murni yang berubah menjadi cacat akibat emosi negatif, atau memang jiwa tersendiri yang mengendalikan saat jiwa yang asli sudah pergi.

Ardius terus berbaring sambil menatap langit-langit iglo. "Besok kita harus mencari monster-monster buruan. Kita belum sama sekali mendapatkan poin, tapi jangan sampai kita melawan Undead itu."

1
Erna Wati
Kereen
Tuxedo Mask
Seru banget deh!
Ahmad Voltigern: Makasih udah baca novel saya kak🙏🥰
total 1 replies
ella ellie
Banyak air mata terbuang untuk cerita ini, tapi worth it!
Ahmad Voltigern: makasih udah baca cerita ini!
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!