NovelToon NovelToon
Batas Dimensi Takdir

Batas Dimensi Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Time Travel / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:963
Nilai: 5
Nama Author: R251Aje

Setiap malam, Alena selalu memimpikan seorang pria. Seorang raja tampan yang kejam kepada semua orang, tetapi mencintainya dengan gila-gilaan.

Dalam mimpi itu, Alena adalah tunangannya. Mereka tinggal di sebuah kerajaan yang tidak pernah ia kenal. Sang raja selalu memeluknya, mencium keningnya, bahkan berjanji akan menjadikannya permaisuri.

Alena selalu mengira semua itu hanya mimpi. Sampai suatu pagi, setelah sang raja menciumnya dalam mimpinya, ia menemukan bekas kemerahan di lehernya.

Bekas itu nyata. Sejak saat itu, Alena mulai bertanya-tanya... Apakah ia benar-benar sedang bermimpi?

Sampai seorang pria baru datang ke tempat kerjanya sebagai bos baru. Begitu melihat wajahnya, Alena langsung membeku. Pria itu memiliki wajah yang sama persis dengan raja dalam mimpinya.

Namun sebelum Alena sempat melarikan diri, pria itu justru menghampirinya dan memeluknya erat.

“Kau... masih hidup?”

Alena panik dan segera mendorongnya. “Maaf, Pak. Apa kita pernah bertemu?”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R251Aje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 Bos Yang Posesif

“Bagus saja mereka melihat,” potong Raka. Suaranya rendah, tapi ada ketegasan di dalamnya. Ia membuka sabuk pengaman, lalu menatap Alena dalam-dalam. “Aku lelah pura-pura.”

Alena menggeleng. “Jangan. Aku tidak mau ada salah paham. Aku karyawanmu. Kalau mereka mengira kita… seperti itu, reputasiku—”

Raka mengulurkan tangan, menahan dagu Alena pelan agar gadis itu menatapnya.

“Aku ingin mereka tahu,” bisiknya. “Bahwa kau di bawah perlindunganku. Bahwa siapa pun yang berani mendekatimu harus berpikir dua kali. Dan… bahwa kau milikku.”

Alena terdiam. Jantungnya berdegup kencang.

“Aku bukan milikmu,” jawabnya pelan, tapi suaranya goyah.

Raka tersenyum kecil. Ibu jarinya mengusap pelan bibir bawah Alena.

“Belum,” katanya. “Tapi aku sedang berusaha.”

Sebelum Alena sempat membalas, Raka sudah membuka pintu mobil dan turun. Ia mengelilingi mobil, lalu membuka pintu di sisi Alena.

“Ayo,” katanya, mengulurkan tangan.

Alena menatap tangan itu, lalu menatap wajah Raka. Di mata pria itu ada keteguhan yang membuatnya sulit menolak. Akhirnya, dengan hati yang campur aduk, Alena menerima tangan Raka dan turun dari mobil.

Mereka berjalan berdampingan menuju lift. Beberapa karyawan yang baru datang sudah mulai melirik. Bisik-bisik pelan terdengar. Alena menunduk, merasa telinga panas. Sementara Raka berjalan dengan tenang, seolah tidak peduli sama sekali dengan tatapan orang-orang.

Saat lift terbuka dan mereka masuk berdua, Raka menekan tombol lantai direktur. Pintu menutup. Di dalam lift yang sepi, Raka menoleh ke Alena. “Maaf,” katanya tiba-tiba, suaranya lebih lembut. “Aku memang agak… posesif. Tapi aku tidak tahan melihatmu terus takut dan bersembunyi.”

Alena menghela napas. “Aku mengerti. Tapi… tolong jangan buat orang-orang salah paham. Aku masih harus bekerja di sini.”

Raka mengangguk pelan. “Baik. Aku akan berusaha… menahan diri. Tapi hanya di depan mereka.” Ia mendekat sedikit, suaranya turun menjadi bisikan. “Kalau sudah berdua… aku tidak janji akan menahan diri.”

Alena menatapnya, pipinya semakin merah. Lift terus naik, dan detak jantungnya ikut naik bersama. Saat pintu lift terbuka di lantai mereka, Raka sudah kembali bersikap formal. Ia berjalan lebih dulu keluar, seolah tidak terjadi apa-apa.

Alena baru saja meletakkan tas di meja kerjanya ketika Mira datang dengan langkah cepat. Wajah gadis itu terlihat cemas, hampir panik. “Alena,” bisik Mira, menarik kursi di sebelahnya dan duduk. “Kau sudah buka grup kantor?”

Alena mengerutkan dahi. “Belum. Kenapa?”

Mira menggigit bibir, lalu mengeluarkan ponselnya. “Lihat ini.”

Layar ponsel diperlihatkan. Di grup WhatsApp kantor, sebuah foto sedang ramai dibahas. Foto itu menampilkan Alena berdiri di samping seorang pria berjas mahal di depan restoran mewah. Pria itu tersenyum, sementara Alena terlihat sedang berbicara dengannya. Waktu unggahan menunjukkan foto itu dikirim sekitar tiga puluh menit yang lalu oleh akun anonim.

Komentar-komentar di bawahnya membuat Alena membeku. “Kemarin pergi bareng bos, sekarang ganti sama cowok lain yang lebih kaya?”

“Wah, jago banget main di dua kaki.”

“Tidak heran penampilannya selalu rapi. Pasti ada yang biayain.”

“Dasar pencari status. Kasihan Pak Raka.”

“Kemarin masih kelihatan deket banget sama direktur, sekarang sudah pindah lagi.”

Alena merasakan darahnya naik ke kepala. Tangannya gemetar saat menggulir komentar demi komentar. Hampir semuanya negatif. Beberapa bahkan menuduhnya memanfaatkan Raka. “Siapa yang mengirim foto ini?” tanya Alena pelan, suaranya serak.

Mira menggeleng. “Tidak tahu. Akunnya baru saja dibuat, terus langsung keluar grup setelah mengirim. Tapi semuanya sudah melihat. Bahkan di lantai lain juga sudah pada bahas.”

Alena menutup layar ponsel Mira dengan cepat. Jantungnya berdegup kencang. Foto itu… ia ingat. Itu diambil dua minggu lalu, saat ia bertemu dengan seseorang dari masa lalunya yang tiba-tiba muncul. Bukan kencan. Bukan hubungan. Tapi sekarang foto itu disebarkan seolah ia sedang bermain-main dengan pria lain. Dan yang lebih buruk… orang-orang mengaitkannya dengan Raka.

“Mereka bilang aku ganti-ganti pria,” gumam Alena, lebih pada dirinya sendiri. “Kemarin dengan Pak Raka, sekarang dengan orang itu…”

Mira menatapnya prihatin. “Aku tahu itu tidak benar. Tapi orang-orang di sini suka banget menggosip. Apalagi setelah kemarin kamu masuk ke kantor pak Raka.”

Alena menunduk, memijat pelipisnya. Ia merasa semua pandangan di ruangan sedang mengarah padanya, meskipun sebenarnya banyak yang pura-pura sibuk.

Tidak lama kemudian, seorang karyawan perempuan dari divisi lain lewat di depan mejanya sambil berbisik pada temannya, cukup keras untuk didengar. “Sama saja. Kemarin bos, hari ini yang lebih kaya. Pintar sekali.”

Alena mengatupkan rahang. Ia ingin membela diri, tapi tahu itu hanya akan membuat keadaan lebih buruk. Mira meraih tangannya. “Kau mau aku bantu bilang sesuatu di grup? Atau—”

“Jangan,” potong Alena cepat. “Nanti semakin rumit.”

Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Tapi pikirannya kacau. Siapa yang menyebarkan foto itu? Apakah ini terkait dengan orang-orang yang mengejarnya? Atau ada seseorang di kantor yang memang ingin menjatuhkannya? Dan yang paling membuatnya takut… Bagaimana reaksi Raka jika ia melihat foto dan komentar-komentar itu?

Seolah menjawab pikirannya, ponsel Alena bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang ia hafal di luar kepala. "Ke ruanganku. Sekarang."

Alena menatap layar, merasa tenggorokannya kering. Mira yang ikut melihat pesan itu langsung bergidik. “Dia sudah tahu, ya…”

Alena mengangguk pelan. Ia berdiri, merapikan roknya yang sebenarnya tidak berantakan, lalu berjalan menuju ruang Raka dengan langkah berat. Di belakangnya, bisik-bisik semakin kencang. Dan di depan, pintu ruang direktur sudah terbuka, seolah sedang menunggunya.

Alena mengetuk pintu ruang Raka pelan, lalu masuk setelah mendengar suara singkat, “Masuk.”

Pintu tertutup di belakangnya. Raka duduk di belakang meja, jasnya sudah dilepas, lengan kemeja digulung hingga siku. Di layar laptopnya, jelas terlihat cuplikan grup kantor yang sedang ramai. Foto Alena bersama pria berjas mahal itu terpampang besar. Komentar-komentar buruk terus berdatangan, semakin kasar dan tidak senonoh.

Ruangan sunyi. Hanya detak jam dinding yang terdengar. Raka mengangkat pandangan. Matanya gelap, tajam, dan sangat dingin.

“Duduk,” katanya pelan.

Alena menurut, duduk di kursi di depan meja. Tangannya saling menggenggam di pangkuan, berusaha tetap tenang.

Raka menutup laptop pelan, seolah menahan diri agar tidak membantingnya. Ia menatap Alena lama sekali sebelum berbicara.

“Siapa pria itu?”

Suara Raka rendah, hampir tanpa emosi. Tapi justru itu yang membuat Alena semakin tegang.

“Bukan siapa-siapa,” jawabnya cepat. “Dia… seseorang dari masa lalu. Kami bertemu tidak sengaja dua minggu lalu. Hanya bicara sebentar. Tidak lebih.”

Raka tidak langsung percaya. Ia menyandarkan punggung ke kursi, jari-jari mengetuk meja pelan. “Dua minggu lalu,” ulangnya. “Lalu hari ini fotonya tiba-tiba muncul di grup kantor. Tepat setelah kita datang bareng pagi ini.”

Alena menggigit bibir. “Aku juga tidak mengerti. Siapa pun yang mengirimnya… dia ingin menjatuhkanku.”

Raka terdiam. Rahangnya mengeras.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!