Handi harus meregang nyawa akibat kecelakaan, meninggalkan Lisa dan kedua anak mereka.
Haris yang hidupnya diselamatkan Handi dan menyaksikan kematian Handi secara tragis mengalami trauma dan hampir gila. Dia menutup diri selama 1 tahun sejak kepergian sahabatnya.
Dini dan Bu Nani sudah kehilangan akal untuk memaksa Haris mendapatkan perawatan. Hingga akhirnya, Dokter Van Heerdt memberikan ide kepada Dini untuk mendekatkan Lisa dan anak-anaknya kepada Haris.
Di sela-sela usaha Lisa membantu Haris mendapatkan pengobatan atas traumanya, Arga hadir dengan menjanjikan cinta tulus kepada Lisa dan anak-anaknya. Saat itulah Haris menyadari bahwa dia jatuh hati kepada Lisa.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka?
Akankah usaha Lisa membantu Haris berhasil?
Apakah Haris tega mengkhianati Dini dan beralih hati kepada Lisa?
Baca sampai tamat ya 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
FIRASAT BURUK
Sesuai keinginan Haris, Lisa telah mengirimkan semua foto-foto Lisa dan anak-anaknya mulai dari kelahiran Hana sampai dengan hari ini. Mungkin ada seratus foto yang sudah dikirimkan Lisa. Haris sedang berbaring di tempat tidurnya memilah foto-foto itu satu per satu sesuai dengan tanggalnya. Dimulai foto Lisa menggendong Hana yang baru saja lahir. Foto itu adalah swafoto yang diambil Handi sebab wajah Handi dekat sekali dengan kamera, Lisa tampak menggendong bayi Hana dalam bedong berwarna kuning. Lisa memperlihatkan wajah putri mereka ke kamera. Lisa dan Handi tersenyum sangat bahagia saat itu. Banyak sekali foto tentang tumbuh kembang Hana selama tiga tahun dan tahun berikutnya Lisa mengandung Hamza. Lisa berdiri dengan perut membesar di samping Hana di bawah germerlap lampu. Foto ini diambil ketika mereka semua rekreasi dan Haris yang mengambil foto itu. Dia ingat. Mereka piknik berlima : Haris, Dini, Handi, Lisa dan Hana. Haris menghirup napas dalam-dalam. Dia sudah mau menangis, tapi dia berusaha menahannya.
Haris melanjutkan kegiatannya memilah foto. Dia menemukan sebuah foto dimana dirinya ikut berswafoto bersama Handi dan Lisa saat kelahiran Hamza. Yang mengambil foto adalah dirinya, Handi menggendong Hana sedangkan Lisa menggendong bayi Hamza. Hamza lahir saat Handi dan Haris sedang perjalanan dinas ke luar kota. Sepulangnya, Haris dan Handi langsung menuju Rumah Sakit dan mendapati Lisa telah melahirkan. Handi sampai jatuh berlutut di depan Lisa karena dia terlambat datang dan Lisa harus melahirkan sendirian. Haris kembali menghirup napas dalam-dalam mengingat peristiwa itu. Dimasukkannya oksigen banyak-banyak ke paru-parunya agar emosinya teratasi. Lebih banyak foto tentang Hamza daripada Hana. Kualitas gambar juga lebih bagus pada foto-foto Hamza daripada foto Hana.
Akhirnya Haris menemukan foto terakhir yang diambil Handi sebelum kematiannya. Lebih tepatnya foto Handi bersama anak-anaknya. Di foto itu Handi berenang bersama anak-anaknya. Dia bertelanjang dada dan rambutnya basah. Hana memakai baju renang berwarna pink mirabella sedangkan Hamza memakai baju renang berwarna merah dan hitam. Mereka duduk di pinggir gasebo. Mereka berenang di rumah ibu Haris dan Haris yang mengambil foto mereka, tepat seminggu sebelum Handi meninggal.
Cukup sudah! Pertahanan Haris untuk tidak menangis telah runtuh. Perlahan tapi pasti air mata jatuh berderai tak tertahankan. Haris menangis tanpa suara. Dia tidak ingin Lisa dan anak-anak mendengarnya menangis. Dia menggigit bantal kuat-kuat hingga tubuhnya terguncang. Entah sudah ke berapa kalinya, Haris menangis seperti ini. Dia tidak pernah kuat menahan gejolak emosinya ketika dia mengingat semua kenangannya bersama Handi, sekecil apa pun itu.
Sebuah ingatan berkelebat di otak Haris sekarang. Kala itu sore hari di lokasi kawasan PLTU tempat mereka akan memasang pipa baja. Layaknya PLTU di semua wilayah di Indonesia, PLTU ini juga terletak di pinggir laut. Haris duduk bercengkerama di tepi bangunan yang sedang dibangun sambil memandangi lautan. Haris membiarkan kakinya bebas dan dia menggoyangkannya seperti anak kecil yang duduk di ayunan. Dia sedang melamun ketika sebuah tangan tiba-tiba menyodorkan segelas kopi kepadanya. Dia mendongak. Rupanya itu tangan Handi.
" Paling enak melamun itu sambil minum kopi," kelakar Handi. Dia nyengir kepada Haris.
" Hahaha....kamu tahu aku sedang membayangkan apa?," tanya Haris.
" Kamu membayangkan jadi bajak laut kan?," tebak Handi, dia ikut duduk di sebelah Haris.
Haris membelalakkan matanya dan mulutnya menganga lebar. " Kok kamu bisa tahu?"
" Dari wajahmu sudah kelihatan, tahu," jawab Handi sambil menyeruput kopinya.
" Hahaha....baiklah. Memang cuma kamu yang paling mengerti aku," kata Haris.
Handi mengeluarkan ekspresi jijik. " Haish....tolong jangan katakan itu lagi! Orang bisa mengira kita homo."
Baik Handi maupun Haris tertawa terbahak-bahak, lalu mereka menyesap kopi mereka pelan-pelan.
" Melihat laut seperti ini, hatiku jadi damai," kata Haris.
" Sampai membayangkan diri menjadi bajak laut? Sedamai itu kah?," goda Handi.
" Hahahaha....yah, daripada membayangkanmu menjadi putri duyung?," timpal Haris.
" Loh...aku kan seksi," seru Handi. Handi menggoyangkan bahunya dan berekspresi nakal.
Haris tak bisa menahan tawanya melihat Handi bertingkah seperti itu.
" Ris, sampai kapan kamu akan melajang?," tanya Handi tiba-tiba.
Haris terkejut. " Kenapa tiba-tiba...?"
" Ris, usiamu sudah cukup, kenapa kamu masih menunda menikah? Aku saja sudah punya dua anak, sedangkan kamu? Jangankan menikah, mungkin mencium Dini pun kamu ngga pernah," kata Handi.
" Wah...wah....tentu saja pernah. Kamu meragukan kejantananku ya," seru Haris.
" Lebih tepatnya meragukan perasaanmu kepada Dini. Aku ragu kamu suka pada perempuan."
Haris memukul lengan Handi. " Haish...menjijikkan!“
Handi malah tertawa meringis. Dia memegangi lengannya yang dipukul Haris tadi.
" Hah....," Haris mendesah. " Pernikahan bukan sesuatu yang mudah. Aku harus memikirkannya masak-masak."
" Pernikahan itu bukan hal simpel. Tapi dia akan menjadi simpel bila pemikiranmu juga simpel. Selama ini kamu terlalu takut."
" Kamu mau mengataiku pengecut?," pekik Haris.
" Bukan," bantah Handi,“ Pengecut berbeda dengan takut. Pahami kata-kataku dong!"
Haris malah menyesap kopinya yang sudah mulai dingin terkena angin laut.
" Kalau kamu menikah, kira-kira kamu mau punya berapa anak?," tanya Handi.
" Karena aku dan Dini sama-sama anak tunggal, sepertinya menyenangkan kalau kami punya anak lebih dari dua," jawab Haris sembari tersenyum.
" Betul," sahut Handi sambil meminum kopinya," Paling ngga kamu harus punya empat anak."
Haris berpura-pura tersedak. " Empat anak? Kamu kira aku peternakan manusia atau apa!"
" Hahaha....kalau kamu punya anak perempuan, kita bisa besanan," kata Handi.
" Wah....benar juga ya..."
" Tapi bagaimana mungkin aku menjodohkan anakku dengan anakmu?," wajah Handi tampak serius saat mengatakannya," Anakmu kan anakku juga, demikian juga sebaliknya. Anakku kan anakmu juga."
Haris menatap wajah Handi yang tiba-tiba berubah sedih, namun berubah lagi ketika Handi menambahkan," Tapi istriku bukan istrimu ya."
Haris menampakkan ekspresi kesal. " Cih...," katanya.
Handi tertawa terbahak-bahak, diikuti Haris kemudian. Suasana agak hening beberapa menit. Baik Haris maupun Handi memandangi matahari yang sedang tenggelam di ujung lautan.
" Bila terjadi sesuatu yang buruk kepadaku, maukah kamu berjanji untuk menjaga Lisa, Hana dan Hamza untukku?," kata Handi.
Haris langsung menyahut," Leluconmu ngga lucu sama sekali."
Handi mendengus tertawa. " Hei...," dia meninju bahu Haris hingga Haris terdorong ke samping," Aku serius."
" Jangan suka bicara yang ngga-ngga!," kata Haris cemberut.
" Entahlah. Aku punya firasat buruk," lanjut Handi.
" Ini sudah ke tiga puluh lima kalinya kamu bilang kamu punya firasat buruk dalam bulan ini. Kamu punya ilnu dukun ya?," kata Haris sengit.
" Sebanyak itu kah?," tanya Haris nyengir.
" Aku ngga suka kamu bercanda tentang hal-hal yang buruk," tambah Haris. Dahinya berkerut dalam sekali. Matanya sampai menyipit.
Handi memandangi wajah Haris, lama sekali sampai Haris memalingkan wajahnya sendiri.
" Haris, aku serius! Bisakah kamu berjanji padaku?," kata Handi.
Haris menoleh lagi dengan sebal. " Ngga disuruh pun aku pasti menjaga mereka bila ada sesuatu yang terjadi padamu. Katamu Hana dan Hamza adalah anak-anakku, dan Lisa adalah sahabatku. Sejak kapan aku ngga setia kawan. Kamu jatuh saja, aku yang merasa sakit kok," gerutu Haris.
" Aku menganggapmu mengatakan iya." Muka Handi tampak senang. Dia menghabiskan sisa kopi di gelasnya. Haris meliriknya, merasa sebal sekaligus geli.
" Ini pasti karena takhayul kan?," tanya Haris.
" Takhayul apa?," kata Handi.
" Aku tahu kamu kan percaya sekali dengan takhayul yang disampaikan orang tua jaman dahulu. Apa yang membuatmu merasa kamu punya firasat buruk? Coba katakan padaku!"
" Aku sering kejatuhan cicak," jawab Handi dengan santai.
" Whatttt?!," Haris benar-benar berteriak. Semua orang di sekitar mereka menoleh kepadanya. Haris terpaksa tersenyum bersalah dan menganggukkan kepala kepada semua orang yang melihat ke arahnya dan Handi.
Haris kembali kepada Handi. Tidak diragukan lagi dia benar-benar marah kepada Handi, sementara Handi justru menampilkan wajah tanpa dosa. Dia berdecak kesal. " Bagaimana.....," katanya, Haris memijat ujung dahinya sambil memejamkan mata, menahan amarahnya," Bagaimana mungkin kamu menghubungkan kejatuhan cicak dengan firasat buruk dan sampai membuatku berjanji untuk menjaga istri dan anakmu? Hah?!"
Handi tersenyum melihat ujung bibir Haris berkedut. Handi tahu bahwa Haris sedang marah. " Hei, itu sungguhan. Kejatuhan cicak itu pertanda buruk. Aku mengalaminya beberapa kali dalam seminggu ini."
Haris memejamkan matanya sekejab dan mengerucutkan bibirnya. Dia lalu melanjutkan, berusaha agar suaranya terdengar tenang," Handi, kamu ini hidup di jaman apa? Ini sudah jaman modern, memangnya kamu hidup di jaman purba. Itu takhayul. Itu hanya takhayul. Ya Tuhanku,....."
" Berhentilah mempercayai takhayul yang tidak jelas asal usulnya! Kejatuhan cicak? Bahkan sekarang cicak sudah langka!," tambah Haris sambil mendelik.
" Nah, itu dia! Aku bahkan kejatuhan cicak di kantor dua hari yang lalu. Padahal biasanya tidak pernah ada cicak," timpal Handi.
" Haish.....!!!," Haris kembali berteriak. Dia berdiri. Dia murka. Handi sampai terkejut dibuatnya, dia terbelalak mengetahui reaksi Haris. Haris menuding Handi dengan telunjuknya. " Sekali lagi kamu bilang kamu punya firasat buruk...atau menyuruhku berjanji untuk menjaga keluargamu...atau membahas tentang cicak lagi.... KU BUNUH KAMU!!!"
Haris lalu berjalan meninggalkan Handi yang masih melongo dengan langkah cepat dan panjang.
Handi justru tertawa melihat Haris yang marah kepadanya. Dia ikut berdiri kemudian mengejar Haris. " Hei, Haris....tunggu aku!"
" PERGI SANA! Dasar Flinston! Hidup saja sana di gua batu bersama cicak!," teriak Haris.
" Hei....," Handi pun berlari setengah tertawa mengejar Haris. Dia berhasil menangkap Haris dan mengalungkan tangannya di bahu kanan Haris.
Matahari sudah benar-benar tenggelam. Langit perlahan-lahan menghitam. Haris dan Handi berjalan meninggalkan tempat mereka mengobrol sambil berangkulan. Haris masih saja mengomel kepada Handi, sedangkan Handi hanya menanggapinya dengan tertawa-tawa. Gelas kopi sisa mereka minum tergeletak begitu saja, menjadi saksi cerita terakhir dua sahabat itu. Siapa yang menyangka obrolan itu akan menjadi obrolan sore terakhir antara Haris dan Handi. Siapa yang tahu bahwa kala itu Haris menyesali kemarahannya kepada Handi.
" Handiiiiiii......," Haris menjerit diam-diam dibalik bantal yang dia gigit. Betapa dia menyesal karena tidak memahami maksud ucapan Handi. Dia sungguh menyesali apa pun. Dia tak bisa mengucapkan kata maaf dengan benar. Dia sungguh tak pantas berkata bahwa dia menyesal atau meminta maaf.
" Handiiiiiii.....," Haris terus menjerit sampai kepalanya sakit. Otaknya serasa berdenyut dalam kepalanya. Haris akhirnya pingsan. Handphonenya tergeletak di sampingnya dengan foto Handi dan kedua anaknya terbuka.
/Angry//Angry/
kadang kondisi kesehatan ga memungkinkan buat up tiap hari 😄
terimakasih sudah setia membaca 🥰