“Hidup memang harus berani, berani pergi dari sesuatu yang tak pantas untuk di tinggali”
Ana wanita paruh baya yang terpaksa menjadi tenaga kerja wanita(TKW) demi masa depan Anak-anaknya dan juga perjuangannya terlepas dari suami patriarki.
Ana yang selalu gagal dalam rumah tangga merasa dirinya tak layak dicintai sampai dia bertemu dengan laki-laki bernama Huang Lhi—majikan tempatnya bekerja.
Namun, kisah cinta Ana dan Huang Lhi tak semulus drama perbedaan kasta menjadi penghalang utama. Bisakah Ana mendapatkan cinta sejati? Kemana Akhir akan membawa kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Pertemuan Biasa
Matahari masih tinggi saat Ana sudah begitu sibuk di dapur, beberapa menu tambahan Ayi berikan, sebab ada akan ada tamu malam ini.
Beberapa menu andalan Ana siapkan, ikan saus asam, daging cincang dan asparagus, beberapa sayuran dan sop sudah Ana tambahkan dalam daftar menu.
Ia dibantu Tika di dapur, sedang Citra sibuk membersihkan ruangan yang akan digunakan untuk pertemuan.
“Kak An, ini paprika nya semua?” Tika mengambil paprika tiga warna, terbungkus plastik bening.
“Iya,” sahut Ana, ia tengah sibuk dengan daging kaki babi, akan direbus bersama potongan jahe dan kecap asin.
“An, jangan lupa bikin kuahnya dua jenis, tamu kita alergi seafood katanya,” Ayi menimpali, wanita sepuh itu tengah sibuk menyiapkan kudapan dan buah untuk hidangan penutup.
“Baik Ayi,” sahut Ana, ia lalu menoleh ke arah Tika. “Tika, maaf boleh bantu ambilkan baskom satu lagi? Buat tempat iga, ini kurang besar,” imbuhnya, saking banyaknya menu yang harus disiapkan, sampai salah membawa wadah.
Tika bergegas mengambil baskom, mengangkat tinggi bermaksud menunjukkan ukuran yang harus diambilnya. “Yang ini cukup nggak, Kak?”
“Cukup,” jawab Ana singkat.
“Kita masaknya ugal-ugalan bener, kaya mau ada tamu spesial, ya Kak?” Ia menoleh ke arah Ayi Ling. “Memang siapa sih tamunya, Ayi?” lanjutnya, bertanya sebab rasa penasaran semakin menggebu di dada.
“Ayi juga tak tau, Tik.” Wanita sepuh itu menyahut sambil memasukkan potongan buah ke dalam lemari pendingin.
Ia kemudian menarik napas berat, menutupi gurat cemas di wajah keriputnya. Ayi Ling bukan tak tau perihal siapa tamu yang akan datang dan apa tujuannya, ia memilih bungkam takut mengecewakan hati Ana dan dua rekannya.
Dari tangga lantai dua Citra datang dengan langkah tergopoh-gopoh.
“Gawat!” serunya dengan napas tersengal, keringat mengucur di pelipis. “Tu-tuan gunung es ma-mau di … dijodohkan.” lanjutnya setengah terbata-bata.
Tika terbelalak, Ana menghentikan kegiatannya.
“Jangan bikin hoax kamu, Cit?!” protes Tika, berjalan mendekat pada Citra.
“Betulan, ternyata ini bukan pertemuan biasa. Aku baru denger Tuan Lhi sama Ny, Huang debat di ruang kerja lantai 2. Jadi, tamu kita malam ini calon istri Tuan Lhi sama keluarganya,” jelas Citra, napasnya masih tersengal.
Ana menelan ludah, dadanya seketika sesak, ia memejamkan mata sejenak, kemudian menggeleng samar, berusaha mengusir perasaan aneh di hatinya dan kembali fokus bekerja.
Tika dan Citra menoleh ke arah Ana, menangkap jelas raut pias di wajah wanita paruh baya itu.
“Kak An, are you ok?” lirih Citra.
“Kak….” Tika tak sanggup menyelesaikan kalimatnya.
Menyadari tatapan aneh kedua rekan kerjanya, Ana memaksakan senyum di bibirnya, tapi tak sampai mata. “Oke, kalian yang kenapa, kok langsung lemes begitu?”
“Kak … bener itu?” Tika melanjutkan ucapannya dengan suara lemah.
“Mau bener mau tidak itu bukan urusan kita, Tik. Yang penting pekerjaan kita beres, gajian lancar sudah, to,” sahut Ana, mencoba terlihat santai.
Tika dan Citra tak lagi berbicara, memilih kembali fokus pada pekerjaan masing-masing.
Pukul 18.00 semua persiapan telah selesai, menu masakan sudah tersusun rapi, tiga pembantu utama telah berdandan cantik—siap melayani tamu malam ini.
Tak selang berapa lama, keluarga Zhang tiba. Ana, Tika, dan Citra terperangah saat melihat gadis cantik dengan kulit seputih susu turun dari mobil. Rambut sebahu dengan warna burgundy dibiarkan tergerai, berpadu gaun selutut dengan potongan A-line bercorak ungu tua.
“Itu manusia apa bidadari, cantik pake banget,” seru Tika, tak menyadari Ana di sebelahnya.
“Cantik juga belum tentu Tuan Lhi mau. Laki-laki kan kadang yang dicari kenyamanan hati bukan paras wajah.” Citra menyahut sambil menoleh ke arah Ana. “Bener nggak, Kak?”
“Mungkin, Kak An juga kurang ngerti perihal percintaan,” jawab Ana, tetap mencoba terlihat santai.
Makan malam pun dimulai, Huang Lhi duduk bersebelahan dengan Lucyana, nampak serasi sebab laki-laki itu mengenakan kemeja berwarna abu-abu, kontras dengan gaun yang dikenakan Lucyana.
Obrolan bergulir ringan, sesekali disertai candaan. Sampai tiba Tuan Zhang menyampaikan niat mereka tentang perjodohan.
“Jadi, bagaimana Ny. Huang, apakah putra mu bersedia menikahi putri ku?”
“Memangnya ada yang bisa menolak gadis secantik ini?” kelakar Ny. Huang, disambut tawa semua yang ada di meja, kecuali Huang Lhi.
Laki-laki itu duduk tanpa ekspresi seolah pikirannya sedang tidak berada di tempatnya. Tatapannya kosong, tangan sibuk menggeser layar ponsel, berharap ada satu balasan pesan dari puluhan yang terkirim.
Lucyana melirik sekilas, ingin tau apa gerangan yang membuat laki-laki berwajah dingin itu lebih tertarik pada ponselnya tinimbang wajah cantik yang sengaja ia make up di salon ternama.
Hatinya mencelos saat tak sengaja menangkap gambar di layar ponsel Huang Lhi, seorang wanita berhijab meski tak nampak wajahnya, namun ia meyakini foto itu spesial, sebab disertai stiker hati.
Ia lalu berdehem kecil. “Ehm, Papi aku sangat lelah, bolehkah aku pulang lebih dulu?”
“Apa kau kurang enak badan, Sayang?” Ny. Huang langsung memberi perhatian.
Lucyana menunduk sekilas, menyelipkan rambut ke telinga. “Tidak Tante, hanya saja aku terlalu senang sebab akan bertemu tante, jadi bangun pagi-pagi untuk mempersiapkan diri hingga sore hari.”
“Apa yang kau persiapkan, jika wajah alami mu saja sudah cantik begini?” Puji Ny. Huang.
Lucyana tersipu malu, sorot matanya penuh harap ke semua keluarga.
“Kalau boleh, aku ingin Huang Lhi mengantarku, sebab kami belum sempat mengobrol secara pribadi,” ucapnya jujur sesuai kata hati.
Huang Lhi tersentak, air mukanya berubah tajam. “Kenapa harus aku, kau kan punya supir pribadi.”
Ia menolak mentah-mentang keinginan Lucyana.
“Karena aku ingin bicara denganmu!” sahut Lucyana tanpa ragu, ia memang terbiasa terbuka dan apa adanya saat bicara.
Sontak interaksi dua anak muda berbeda perasaan itu mengundang gelak tawa, para orang tua terlihat gemas dengan keduanya.
“Lihat lah … belum menikah saja mereka sudah seperti pasangan, yang satu suka merajuk, satu lagi tak perhatian,” celetuk Ny. Zhang.
“Begitulah Huang Lhi, sok jual mahal, sama persis seperti mendiang Papanya,” Ny. Huang turut menimpali.
“Sudah, Lhi, antarkan Lucyana, dia sepertinya sudah sangat lelah atau bawa dia ke atas, suruh istirahat di kamarmu,” imbuh wanita itu.
Huang Lhi memicingkan mata seolah tak percaya ucapan sang mama. Laki-laki itu paling tidak suka kamarnya dimasuki orang asing. Ia kemudian beranjak dari duduknya, berjalan keluar tanpa mengucapkan sepatah kata, Lucyana mengikuti di belakangnya.
Dari jendela paviliun Ana menyaksikan dengan hati sesak, bibirnya bergumam pelan.
“Inikah yang Anda maksud ingin memberikan kejutan?”
Bersambung
awas 👊🏻
semangat thor untuk selalu berkarya. sehat selalu
klu yg kecil pasti anak'a roy kan?