NovelToon NovelToon
Bad Boy X Good Girl (Musuh Jadi Cinta)

Bad Boy X Good Girl (Musuh Jadi Cinta)

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Scrpn

Bagi Aura, mahasiswa tingkat akhir penerima beasiswa penuh, hidup ini sederhana: belajar keras, lulus cepat, dan dapat kerja bagus demi menyembuhkan ibunya yang sakit. Dunia Aura diatur oleh jadwal kuliah yang ketat dan nilai IPK yang sempurna. Ia menjauhi segala bentuk masalah, termasuk Devan, mahasiswa jurusan hukum yang terkenal arogan, kerap bolos, dan selalu dikelilingi aura berbahaya. Devan adalah definisi nyata dari bad boy kampus yang harus dihindari.

Permusuhan mereka dimulai dari hal sepele—rebutan buku referensi langka di perpustakaan dan insiden kopi tumpah yang membuat Devan bersumpah akan membuat hidup Aura di kampus seperti neraka. Aura menganggap Devan tak lebih dari berandalan kaya yang manja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Tiga tahun telah berlalu sejak tangisan pertama Gavinandra bergema di Menara Bratadikara. Waktu telah mengubah banyak hal di kota Jakarta. Distrik Utara yang dulunya penuh dengan ketegangan selundupan kini telah menjelma menjadi kawasan percontohan logistik hijau terintegrasi, sebuah pencapaian yang sering kali dikutip dalam jurnal-jurnal hukum internasional sebagai keberhasilan reformasi korporasi paling radikal di abad ini.

Namun, di lantai lima puluh lima Menara Bratadikara, hukum tertinggi yang berlaku sore ini tidak ada hubungannya dengan traktat maritim atau draf konsolidasi saham.

"Ayo, jagoan! Tangkap bolanya!"

Suara tawa melengking khas anak kecil berusia tiga tahun bergema di sepanjang koridor berkarpet tebal. Gavinandra kecil—yang kini tumbuh menjadi balita tampan berkulit bersih dengan mata cokelat jernih warisan ibunya dan garis rahang tegas milik ayahnya—sedang berlari kencang mengejar sebuah bola sepak busa berlogo timbangan hukum kecil.

Di belakangnya, Kenzo rela merangkak di atas karpet dengan tablet canggihnya yang beralih fungsi menjadi pemutar musik anak-anak. "Gavin, tunggu dulu! Paman Kenzo belum mengaktifkan mode radar di bola itu!"

Aura berdiri di ambang pintu ruang kerja utamanya, bersandar pada kusen pintu sambil melipat kedua tangannya di dada. Sebuah senyuman kebahagiaan yang murni mengembang di wajah cantiknya. Di usianya yang kini menginjak dua puluh lima tahun, Aura memancarkan keanggunan seorang ibu muda sekaligus kematangan seorang General Counsel yang disegani di seluruh Asia Tenggara. Gaun linen kasual berwarna krem yang dipakainya sore ini memberikan kesan hangat, jauh dari citra kaku seorang pengacara papan atas.

"Kenzo, jangan mengajari anakku cara meretas sistem bola mainan sejak dini," tegur Aura dengan nada jenaka yang sarat akan otoritas keibuan.

Kenzo langsung duduk tegak, membetulkan letak kacamatanya sambil meringis. "Aura, ini bukan peretasan. Ini namanya pengenalan teknologi taktis tingkat dini untuk penerus klan. Lagipula, anak ini jenius sekali. Kemarin dia berhasil mengunci layar ponsel Devan hanya dengan menebak pola enkripsi acak."

Tepat pada saat itu, langkah kaki yang berat namun teratur terdengar dari arah lift privat. Sosok Devanandra melangkah masuk ke dalam koridor. Sore ini, ia baru saja kembali dari peninjauan dermaga baru di pulau seberang. Jas hitamnya disampirkan di lengan kiri, sementara kemeja hitamnya yang pas di tubuh memperlihatkan siluet atletisnya. Wajahnya yang semula tampak lelah karena perjalanan laut seketika berubah menjadi sangat lembut begitu melihat pemandangan di depannya.

"Ayah!" seru Gavin kecil dengan riang, langsung berbalik arah dan berlari menuju Devan dengan langkah kakinya yang masih sedikit tidak stabil.

Devan menjatuhkan jasnya begitu saja ke atas kursi koridor, lalu berlutut di lantai dengan kedua tangan terbuka lebar. Ia menangkap tubuh mungil Gavinandra dalam satu gerakan mantap, mengangkat putranya tinggi-tinggi ke udara hingga anak itu tertawa histeris, sebelum mendekapnya erat di dada bidangnya.

"Gimana hari ini, Jagoan? Kamu gak bikin Ibu pusing dengan draf aturan main barumu, kan?" tanya Devan, suaranya yang berat bergetar penuh kehangatan khas seorang ayah.

Gavin menggelengkan kepalanya kuat-kuat, menunjuk ke arah Kenzo. "Paman Ken yang nakal, Ayah. Bola Gavin mau dikasih komputer."

Devan melirik Kenzo dengan sepasang mata elangnya yang langsung menyipit tajam secara dramatis. "Kenzo, kembali ke ruang kendali sekarang sebelum gue memerintahkan Bram untuk mengunci seluruh akun akses server lo selama satu minggu."

"Siap, Bos Besar! Evakuasi taktis segera dilaksanakan!" Kenzo langsung menyambar tabletnya dan melesat pergi menuju lift dengan kecepatan penuh, membuat Aura tidak bisa menahan tawanya melihat tingkah asisten taktis suaminya itu.

Sore itu, mereka bertiga menghabiskan waktu di beranda taman gantung. Devan duduk di sofa rotan besar dengan Gavin yang sibuk menyusun balok-balok kayu membentuk sebuah miniatur dermaga di atas meja kopi, sementara Aura bersandar dengan nyaman di samping Devan, menikmati teh kamomil hangatnya.

Matahari senja Jakarta mulai turun, memancarkan semburat warna jingga, merah muda, dan keunguan yang saling bertabrakan dengan sangat indah di atas garis cakrawala laut utara. Angin laut bertiup lembut, membawa aroma asin yang familier—aroma yang dulu pernah menjadi latar belakang malam-malam penuh pelarian dan negosiasi maut mereka.

"Bram baru saja memberikan laporan tahunan Aura Kirana Foundation untuk Distrik Timur, Ra," kata Devan pelan, tangan kirinya bergerak mengusap lembut bahu Aura, menarik istrinya untuk merapat dalam pelukannya. "Angkatan pertama mahasiswa beasiswa hukum yang lo rintis tiga tahun lalu, bulan depan akan resmi lulus. Dua puluh di antaranya mendaftarkan diri untuk magang di divisi legal kita."

Aura menoleh, menatap suaminya dengan mata yang berbinar cerah. "Benarkah, Dev? Itu berita luar biasa. Dengan begitu, kita bisa memastikan bahwa seluruh lini bisnis Bratadikara di masa depan akan dikawal oleh generasi baru yang memiliki integritas hukum murni. Kita benar-benar memotong rantai lama."

"Semua ini karena visi lo, Good Girl," Devan menunduk, mendaratkan sebuah kecupan hangat di kening Aura. "Dulu, bokap gue mendirikan klan ini dengan kekuatan senjata untuk bertahan hidup dari kejamnya pelabuhan. Tapi lo... lo mengubah fondasi itu menjadi sesuatu yang dihormati karena keadilan. Gue gak pernah bosan bilang kalau lo adalah mahakarya terbaik dalam hidup gue."

"Kita melakukannya bersama, Devanandra," bisik Aura tulus, menggenggam jemari tangan Devan yang bertato sulur hitam—tato yang kini tidak lagi melambangkan kegelapan yang menakutkan, melainkan simbol komitmen mutlak untuk melindungi keluarga.

Malam harinya, setelah jamuan makan malam keluarga yang dihadiri oleh Nyonya Rahma dan Tari yang membawa bertumpuk-tumpuk hadiah mainan baru untuk Gavin, griya tawang kembali masuk ke dalam kesunyian malam yang damai. Gavin kecil telah tertidur lelap di kamar tidurnya, menyisakan Devan dan Aura yang kini berdiri berdua di balkon rahasia lantai teratas, menatap gemerlap lampu kota Distrik Pusat yang membentang luas bagai permadani cahaya.

Aura mengenakan kardigan abu-abu tebal kesayangannya—kardigan yang sama yang ia kenakan bertahun-tahun lalu saat Devan pertama kali membawanya ke pulau seberang di bawah ancaman badai. Devan memeluk Aura dari belakang, menenggelamkan wajahnya di antara helai rambut wangi cendana istrinya yang dibiarkan tergerai ditiup angin malam.

"Gak terasa ya, Dev," ucap Aura lirih, menyandarkan punggungnya sepenuhnya pada dada bidang Devan, merasakan detak jantung pria itu yang selalu konstan memberikan rasa aman. "Perjalanan kita dimulai dari sebuah kecerobohan kecil di perpustakaan Ganesha. Insiden kopi tumpah yang mengubah seluruh draf hidupku."

"Gue masih ingat betapa tajamnya tatapan mata lo waktu itu, Ra," Devan terkekeh rendah, suara basnya terdengar sangat seksi di dekat telinga Aura. "Cewek beasiswa biasa yang berani mendebat pasal-pasal perjanjian Bratadikara di depan wajah gue tanpa gemetar sedikit pun. Detik itu juga, di dalam hati, gue tahu kalau gue gak akan pernah melepaskan lo."

"Oh ya? Tapi ingatan saya mengatakan kalau Tuan Muda Devan yang terhormat saat itu mengancam akan mencabut beasiswa saya dalam waktu dua puluh empat jam," goda Aura, membalikkan tubuhnya dalam dekapan Devan untuk menatap wajah tampan suaminya yang kini dihiasi senyuman miring khasnya.

"Itu namanya strategi penawaran awal, Permaisuri," balas Devan miring, menangkup kedua pipi Aura dengan telapak tangannya yang hangat. "Gue harus menggunakan metode ekstrem untuk memastikan lo masuk ke dalam garis pengawasan gue."

Devan menatap langsung ke dalam sepasang mata cokelat jernih Aura dengan intensitas emosi yang begitu dalam dan absolut. Di bawah siraman cahaya bulan purnama yang keperakan, seluruh karakter dingin sang penguasa klan mafia menguap, menyisakan seorang pria yang jiwanya telah sepenuhnya digenapi oleh cinta wanita di hadapannya.

"Terima kasih sudah merevisi hidup gue, Aura Kirana," bisik Devan, suaranya bergetar oleh ketulusan yang murni. "Terima kasih sudah menjadi perisai hukum, ibu dari anak gue, dan satu-satunya wanita yang memegang kendali penuh atas napas hidup gue."

Aura tersenyum, air mata kebahagiaan yang hangat menggenang di sudut matanya yang indah. Ia mengangkat kedua tangannya, menggenggam pergelangan tangan Devan yang berada di pipinya. "Dan terima kasih sudah menjadi ruang perlindungan terbaikku, Devanandra. Aturan main kita telah sempurna, dan klausul cinta ini tidak akan pernah memiliki masa kedaluwarsa hingga akhir waktu."

Di bawah saksi bisu hamparan langit malam Jakarta yang megah dan desau angin laut yang membawa kedamaian agung, Devan menundukkan wajahnya, mengunci bibir Aura dalam sebuah ciuman yang mendalam, penuh gairah, dan sarat akan sumpah setia yang telah bertransformasi menjadi sebuah keabadian. Kisah mereka yang dimulai dari lembaran kertas konflik di masa lalu, kini telah resmi menjelma menjadi sebuah mahakarya dinasti baru yang akan terus bersinar terang, membelah kegelapan dengan kekuatan cinta dan kecerdasan taktis seumur hidup mereka.

1
Ical Habib
lnjut thor
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
aaaa sosweet nyaa, ihh salting Mulu bacanya nihh aaa baguss kali ceritanya tapi kok gak rame ya.. padahal seru gini loh/Scowl/
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
owhhh ternyata udahh nikahh, kukira pacaran loh tapi bagus lah langsung nikahh, ahhh bagusss dan seruu tauu ceritanya.. semangat!/Determined/
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
aaaa akhirnya jadii pasangan benerann, ihhh salting Mulu Weh liatnyaa.. lanjut terus Ampe tamat ya thorr, semangatt!/Determined/
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
awww lucuu mereka berduuaa, sosweet ihh akhirnyaaa Devan sadar sama perasaan nyaa /Grin/
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
aaaa seruu banget ceritanya/Scream/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!