NovelToon NovelToon
Balas Dendam

Balas Dendam

Status: tamat
Genre:Misteri / Horor / Roh Supernatural / Hantu / Dendam Kesumat / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:63.2k
Nilai: 5
Nama Author: cucu@suliani

Sulastri tak menyangka kalau dia akan jadi korban pemerkosaan oleh pria yang tak dia kenal, dia sampai hamil dan dihakimi oleh warga karena merasa kalau Sulastri merupakan wanita pembawa sial. Sulastri meninggal dunia dan menjadi kuntilanak.

Wanita yang menjadi kuntilanak itu datang kembali untuk membalas dendam kepada orang-orang yang dulu membunuhnya, dia juga terus gentayangan karena mencari siapa yang sudah merenggut kesuciannya.

Jangan lupa follow Mak Othor biar gak ketinggalan up-nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BD Bab 34

Karmila terhenyak saat Dea tiba-tiba memohon dengan suara gemetar untuk menguburkan Sulastri dengan layak. Hatinya bergejolak penuh kebingungan yang mengikat dada. 

Bagaimana mungkin Dea tahu di mana makam Sulastri, padahal selama ini Dea bahkan jarang bertemu wanita itu? 

Tak ada yang tahu bagaimana Sulastri setelah meninggal, dia seolah lenyap tanpa jejak dan tak seorang pun pernah mengungkap di mana dia dikuburkan. Karena waktu itu mereka begitu menggila dalam menghilangkan nyawa Sulastri.

 Tatkala permintaan putrinya itu menggantung di udara, Karmila merasakan badai emosi, antara takut, penasaran, dan haru membelalak di matanya yang mulai basah. Apa ada rahasia gelap yang selama ini tersembunyi di balik meninggalnya Sulatri?

"Tunggu sebentar, maksudnya bagaimana ya?"

Dea menarik tangan ibunya dengan begitu lembut menuju ruang keluarga, dia mengajak ibunya untuk duduk dan menggenggam kedua tangan ibunya itu dengan erat.

Karmila mengerutkan dahinya, dia sungguh merasa heran dengan tingkah dari putrinya itu. Dea bersikap tidak seperti biasanya, seperti seseorang yang ingin mengungkapkan rahasia tanpa ingin diketahui oleh orang lain.

"Jadi gini, Bun. Dea ingat kenapa bisa ada di gudang terbengkalai, Dea ketemu Lastri, Bun."

Karmila benar-benar bingung dengan apa yang dikatakan oleh putrinya itu, dia mengira kalau putrinya itu masih linglung dan mungkin besok dia harus mengajak putrinya itu untuk menemui ustadz agar tidak linglung lagi.

Karmila bahkan menempelkan telapak tangannya pada jidat putrinya itu, tapi dia merasa kalau putrinya itu baik-baik saja. Mungkin benar hanya linglung atau putrinya itu sedang mengigau.

"Sayang! Lastri itu sudah meninggal loh, emang bisa kamu ketemu sama orang yang sudah meninggal? Jangan suka mengada-ada, nanti kalau didengar orang jadi hal yang tidak baik loh."

Dea merasa kesal juga terhadap ibunya, karena bisa-bisanya Karmila tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Dea. Padahal apa yang dia katakan sungguh benar adanya, dia bertemu dengan arwah Sulastri.

"Bisa, Bun. Buktinya Dea bertemu dengan Lastri beberapa kali, bahkan yang kemarin Lastri minta tolong kepada Dea untuk dikuburkan secara layak. Dia tersiksa Bun," ujar Dea memelas.

Walaupun Karmila belum percaya sepenuhnya dengan apa yang dikatakan oleh putrinya, tetapi tetap dia memberikan kesempatan kepada putrinya untuk berbicara. Karena walau bagaimanapun juga dia harus menjadi Ibu yang bijak.

"Coba ceritakan bagaimana kejadiannya," pinta Karmila.

Dea akhirnya menceritakan bagaimana kejadian yang sebenarnya, dia menceritakan apa yang dia alami. Dea juga menceritakan bagaimana Sulastri meminta pertolongan kepada dirinya.

Mendengarkan Dea yang menceritakan tentang Sulastri dengan sangat meyakinkan, Karmila menjadi yakin kalau apa yang dikatakan oleh putrinya itu benar adanya. Lagi pula putrinya itu tidak akan bohong, tidak ada untungnya juga wanita itu berbohong.

"Ya Allah, kasihan sekali dia. Nanti kita makamkan Lastri dengan layak, kalau para warga keberatan jika kita memakamkan Lastri di TPU, kita makamkan dia di pemakaman pribadi saja."

Meskipun terasa sulit dipercaya, tiba-tiba saja Karmila merasakan sesuatu yang berbeda saat bayangan itu muncul di pojok ruangan. Sosok Sulastri, entah benar nyata atau hanya ilusi tampak menatapnya dengan mata penuh permohonan. Dea terdiam, napasnya tercekat, seolah ada energi tak kasat mata yang membelit. 

Arwah wanita itu belum tenang, masih bergulat dengan keinginan terakhirnya untuk dimakamkan dengan layak, seperti yang selalu diungkapkan sang anak. Gelisah itu mengendap dalam dada Karmila, membuatnya takut sekaligus terpanggil untuk mengerti.

"Boleh, Bun. Dea setuju," ujar Dea senang.

Bangga sekali pada ibunya karena wanita itu mau membantu Sulastri, walaupun memang pada awalnya Karmila terlihat tidak percaya kepada dirinya.

"Tapi, ayah lagi pergi keluar kota untuk beberapa hari. Ada temennya yang ngajak join buka pabrik frozen food."

"Yah," ujar Dea kecewa.

Padahal dia ingin sekali secepatnya menguburkan Sulastri dengan layak, tetapi ternyata keinginannya itu tidak bisa langsung diwujudkan. Melihat putrinya yang begitu kecewa, Karmila dengan cepat mengusap punggung putrinya itu dengan penuh kelembutan.

"Jangan sedih dan juga kecewa. Kita tunggu ayah pulang dari luar kota."

"Ok," jawab Dea setuju.

Toh hanya beberapa hari saja, paling lama juga satu minggu. Dea masih bisa sabar menunggu, karena tidak mungkin dia yang langsung datang ke rumah pak RT untuk mengumpulkan warga tentang pemakaman Sulastri.

**

Syahdan kini sudah dipindahkan ke lapas khusus untuk para lelaki, pria itu dijatuhi hukuman penjara selama dua puluh tahun. Bi Midah dijatuhi hukuman lebih lama karena ternyata wanita itu merupakan dalang dari meninggalnya ibunda Salman.

Wanita itu juga sudah dipindahkan ke lapas khusus untuk perempuan, wanita itu mendapatkan hukuman penjara seumur hidup.

Syahdan kini sedang merebahkan tubuhnya di atas tikar, dia satu lapas dengan dua orang pria yang tidak dia kenal. Tubuh keduanya terlihat begitu kekar, tetapi Syahdan tak tau kesalahan apa yang mereka perbuat sampai dipenjara seperti dirinya.

Mungkin saja mereka merupakan preman pasar, atau mungkin juga mereka ditangkap karena ketahuan mencuri atau merampok. Karena dilihat dari bentuk badannya, keduanya seperti perampok yang mampu menyakiti orang yang dirampoknya.

Duar!

Petir menyambar dengan begitu kencang, hujan tiba-tiba saja turun dengan begitu derasnya. Syahdan yang kaget langsung bangun dan duduk di pojok ruangan itu, kedua pria yang sejak tadi bersama dengan Syahdan langsung tertawa.

Syahdan terlihat begitu tampan dan juga macho, tapi ternyata mendengar suara petir saja langsung ketakutan. Persis seperti anak kecil.

"Cemen banget sih! Katanya orang dari kota, tapi sama geluduk aja takut."

"Iya, tampangnya aja keren. Taunya hatinya selembut anak meong, lemah dan ingin dimanja."

Syahdan tentunya marah dikatakan seperti itu, dia langsung berkacak pinggang sambil menatap kedua pria itu dengan penuh kekesalan. Selama ini biasanya dirinya yang berkuasa, dia yang mengatakan hal-hal yang menyakitkan untuk orang lain.

Namun, kali ini dirinya dianggap sebagai pria yang tidak punya kemampuan. Pria lemah yang gampang merasa ketakutan.

"Nggaklah! Ini cuma kaget aja," ujar Syahdan.

Pria itu malu juga kalau terus diledek seperti itu, pria itu pura-pura tidak takut walaupun dalam hatinya begitu takut sekali dengan suara geledek yang terus menggelegar.

"Nggak usah malu-malu, aku bisa membuat ketakutan kamu hilang."

Salah satu pria yang ada di sana mendekat ke arah Syahdan, dia bahkan menempelkan tubuhnya pada tubuh Syahdan. Lalu, pria itu merangkul pundak Syahdan.

"Hiih! Sana, jauh-jauh."

Syahdan merasa geli diperlakukan seperti itu oleh sesama pria, apalagi pria itu tiba-tiba saja mengusap kedua pahanya.

"Jangan malu-malu, aku bisa melindungi kamu dan juga menghangatkan kamu di saat dingin seperti ini."

"Maksudnya?" tanya Syahdan dengan dahinya yang mengerut dalam.

Kedua pria itu ternyata dipenjara karena merupakan pedofilia, mereka memerkosa banyak anak-anak tak bersalah. Keduanya bahkan sering melakukan hubungan sesama jenis, karena mereka merupakan pria yang menyimpang.

Sekarang mereka melihat pria muda yang dirasa bisa menjadi mainan untuk keduanya, tentu saja mereka sangat bersemangat.

"Maksudnya seperti ini," ujar pria itu yang langsung menelusup-kan tangannya untuk masuk ke dalam celana yang dipakai oleh Syahdan.

"Mau apa kamu?!" teriak Syahdan ketakutan sambil menepis tangan pria itu.

Ternyata didekati oleh dua pria menyimpang lebih menyeramkan daripada didekati oleh setan, karena kedua pria bertubuh tinggi besar itu bisa melakukan hal yang semena-mena kepada dirinya.

1
Buayi
Bagus mak ceritanya, menginspirasi
Cucu Suliani: Makasih Kakak 🥰
total 1 replies
Mimik Pribadi
Kirain pelaku yng rudapaksa Lastri adiknya juragan Soleh yng kurang ajar itu,lalu apaksh benar Syshdsn??,,
Sri Supeni
nah gini cerita itu nggak usah panjang2
Sri Supeni
semakin serem
Pandra Tour
ini masih flashback atau gimana ya. jadi bingung
estycatwoman
nice 💯👍😘
FiaNasa
neneknya yg bongkar itu
FiaNasa
mimpi kau syahdan
FiaNasa
ayo Salman gercep sebelum sesuatu terjadi Adamu & kluargamu..klau bisa ungsikan dulu istrimu ditempat aman yg sekiranya syahdan & ibunya tidak tahu,mungkin ditempat kluarga istrimu gitu
FiaNasa
baru ketahuan liciknya syahdan
Mega Arum
Luar biasa.. suka dg crta horor author
Cucu Suliani: Makasih Kakak🥰
total 1 replies
yulia ༺⬙⃟⛅
wah....udah tamat...
ditunggu yg baru kk
kaliaa🐈🐈‍⬛👯
horor horor horor horor horor #nada penuh seeemangat
kaliaa🐈🐈‍⬛👯
hayoloh nenek😭😭😭😭meninggal juga ya....
kaliaa🐈🐈‍⬛👯
hiihhh jahatnyaaa
Ayudya
bahagia lah kamu Lastri dan nenek sumira di sana.
Siti Yatmi
alur nya jelas .tidak bertele tele ...
Siti Yatmi
kasian nya sama lastri .,semoga tenang yah Lastri. terimakasih ya thor atas cerita mu..,.bikin lagi ka cerita yg lain ...siap membaca ...
Mar Yati
tunggu cerita selanjutnya thorrr semangat 💪💪💪
Ineke Susanti
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!