Zara — gadis sederhana, polos, dan hidup dalam keterbatasan, namun tetap memancarkan keanggunan yang tak dimiliki siapa pun. Dipermainkan takdir, ia dipersatukan dengan Adrian Romanov, pria dingin, berkuasa, dan menjadi sumber segala penderitaannya. Dituduh, disakiti, dan dikucilkan, Zara harus menelan semua kepahitan sendirian. Namun ketika sebutir nyawa tumbuh di dalam rahimnya, semangatnya bangkit kembali. Demi bayi yang dikandungnya, ia berjanji akan bertahan, melewati badai, dan membuktikan bahwa ketabahan akan mengalahkan segala kepalsuan. Akankah takdir berubah, atau justru luka yang semakin dalam menantinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejadian Semalam Yang Tak Terucapkan
Zara perlahan terbangun dari tidurnya, tenggorokannya terasa kering dan haus sekali. Mata masih setengah terpejam, masih diselimuti rasa kantuk yang berat, dia menggeser tubuh turun dari tempat tidur, lalu menyelipkan kakinya ke dalam sandal empuk berbalut kain. Melangkah pelan-pelan, dia turun menuju dapur, mengambil gelas dan menuangkan air, lalu meminumnya sampai habis sambil berdiri bersandar sedikit ke meja.
Setelah rasa haus hilang, dia berbalik hendak kembali ke kamar untuk melanjutkan tidur. Tapi baru beberapa langkah, telinganya menangkap suara keras benda pecah yang memekakkan telinga, disusul suara isak tangis dan permohonan yang terdengar putus asa — jelas sekali datang dari arah ruang kerja Adrian, dan suara itu adalah suara Kak Fara. Seketika rasa kantuknya lenyap total, diganti detak jantung yang berpacu kencang. Dia berjalan makin cepat, panik merasakan ada sesuatu yang tidak beres, lalu mengetuk pintu dengan suara sedikit bergetar:
“Kak Fara? Ini aku, Zara… aku masuk ya!”
Begitu pintu terbuka sedikit dan dia melangkah masuk, seluruh tubuhnya membeku di tempat. Dia tertegun tak percaya melihat pemandangan di depannya: Fara terjatuh tersungkur di lantai, bahunya terguncang hebat sambil menangis tersedu-sedu, wajahnya pucat penuh ketakutan. Sedangkan Adrian duduk tenang di kursinya, tetap memancarkan aura dingin yang biasa dia kenal — tapi kali ini jauh lebih tajam dan menakutkan, kemejanya terbuka sedikit memperlihatkan lekukan dada yang padat, membuat suasana terasa makin berat menekan dada.
Aku hanya berdiri terpaku, bingung dan syok berat. Mataku beralih menatap Fara dari ujung kepala sampai kaki, dan tanpa sadar di dalam hatiku berbisik kaget: “Kak Fara… kenapa dia begini? Tunggu — baju apa yang dia pakai ini? Talinya sangat tipis, bagian atas terbuka lebar, sampai terlihat lekukan tubuhnya dengan jelas… itu baju yang sangat terbuka sekali!”
Seketika pipiku terasa panas merona merah, aku buru-buru memalingkan wajah dan menatap lurus ke tembok di samping agar tak terlihat menatap berlebihan. Suaraku pun keluar terbata-bata, nyaris tak terdengar: “Aku… aku cuma lewat… tadi haus saja…”
Belum sempat aku melanjutkan kata-kataku, Fara tiba-tiba berusaha menahan sakitnya, mengangkat tubuhnya dengan tangan gemetar, lalu melesat berlari keluar melewati sisiku secepat kilat. Aku langsung terkejut, lalu segera berbalik mengikuti langkahnya, tapi Fara sudah lebih dulu sampai di depan pintu kamarnya dan menutupnya rapat tepat di depan wajahku. Aku mengetuk pelan dengan suara khawatir:
“Kak Fara? Kamu kenapa? Ada apa?”
Dari balik pintu terdengar jawabannya, suaranya mulai meninggi dan bergetar: “Zara… pergilah saja!”
Hatiku makin cemas, aku mencoba bertanya lagi lembut: “Tapi Kak, biar aku bantu saja…”
Belum selesai, suara teriakan meledak dari dalam: “ZARAAA… PERGILAH!”
Aku terlonjak kaget, lalu hanya bisa menunduk diam, mataku berkaca-kaca bingung. Aku melangkah mundur sedikit, melirik ke arah pintu itu berkali-kali dengan hati yang gelisah, sebelum akhirnya berbalik dan kembali masuk ke kamarku sendiri dengan langkah yang terasa berat.
Di balik pintu kamarnya, Fara masih bersandar di kayu pintu itu dengan seluruh tenaganya habis. Dia menekan mulutnya rapat dengan telapak tangan agar tangisnya tidak terdengar lagi, matanya terpejam erat sambil mencoba menahan rasa sakit yang menusuk di hatinya — campuran rasa malu luar biasa, harga diri yang terinjak-injak, ketakutan, dan kecewa yang mendalam sampai tulang. Dia merosot perlahan turun sampai duduk bersila di lantai, air matanya mengalir deras tak terbendung. Dalam hatinya dia berbisik lirih: “Ingin rasanya mengemas semuanya, pergi jauh dari sini… tapi nyatanya aku tak punya keberanian sedikit pun.”
Dia sebenarnya tidak ingin membentak Zara — gadis itu tidak bersalah sama sekali. Hanya saja rasa malu yang membakar seluruh tubuhnya membuatnya tak sanggup melihat siapa pun lagi, seolah seluruh harga dirinya sudah hilang lenyap begitu saja, dan satu-satunya yang bisa dia lakukan hanyalah menangis dalam diam sendirian.
Pagi itu aku terbangun agak terlambat, semalaman rasanya sulit memejamkan mata dengan tenang — pikiranku terus saja berputar memikirkan kejadian semalam dan keadaan Kak Fara.
Saat berdiri di depan kompor menyiapkan sarapan, wajahku terlihat sedikit murung, pandangan mataku kosong melamun. Tangan bergerak seolah otomatis, tapi pikiranku melayang entah ke mana, hanya terus memikirkan apa yang terjadi pada Kak Fara. Baru saat tercium bau yang mulai agak gosong, aku tersentak kaget — buru-buru mematikan api kompor dengan jantung berdegup cepat, mengaduk masakan itu panik agar tak jadi rusak semuanya.
Ingat waktu sudah tergesa, aku tak bisa berlama-lama. Segera aku memasukkan makanan itu ke dalam kotak bekal, merapikannya seadanya tapi tetap rapi, lalu bergegas melangkah menuju pintu depan. Namun sebelum benar-benar pergi, mataku melirik lama ke arah pintu kamar Fara, dadaku terasa berat penuh rasa khawatir — ingin mengetuk tapi tak berani mengganggunya lagi.
Saat berbalik melangkah keluar, aku melihat sekilas Adrian sudah pergi, berjalan tegap keluar bersama sekretarisnya, meninggalkan rumah dalam keheningan pagi itu. Aku hanya menghela napas pendek, lalu mempercepat langkahku menuju tujuan, hati masih terasa gelisah tak tenang.
Bahkan saat di sekolah, sepanjang jam pelajaran aku hanya duduk terdiam, wajah murung dan pandangan kosong melamun ke depan. Pikiran entah ke mana, tak bisa fokus mendengar penjelasan guru sedikit pun. Begitu masuk waktu istirahat di kantin pun rasanya tak berubah — aku hanya duduk membisu, menatap makanan di atas piring tapi tak punya selera untuk menyentuhnya sekalipun.
Setelah itu kami pindah duduk di bawah pohon rindang dekat lapangan bola, bersama Sarah, Alina, dan Liora. Namun lagi-lagi aku masih terperangkap dalam kesunyian, bahu terasa berat, pikiran terus berputar tanpa henti: Apa yang sebenarnya terjadi semalam? Apakah Kak Fara baik-baik saja? Apakah dia masih menangis sendirian sampai sekarang? Rasa khawatir itu menusuk perlahan di dadaku.
Teman-temanku sudah menyadarinya sejak pagi, tapi mereka hanya saling bertukar pandang, melirik satu sama lain dengan tatapan bertanya, seolah berkomunikasi tanpa suara. Akhirnya Sarah memberanikan diri membuka mulut, suaranya lembut dan penuh perhatian: “Zara, ada apa denganmu? Kau terlihat sangat murung dan jauh sekali hari ini.”
Butuh beberapa detik sampai aku sadar dari lamunan, perlahan mengangkat pandangan lalu hanya menggelengkan kepala pelan — bibirku terasa kaku, tak sanggup menceritakan apa yang baru saja kulihat.
Belum lama berselang, terlihat Fernando datang berjalan mendekat. Badannya masih sedikit berkeringat setelah bermain basket, kemejanya sedikit longgar dan rambutnya berantakan kena angin. Biasanya dia selalu melihatku di tempat yang biasa, tapi hari ini tak kunjung bertemu, jadi dia berhenti bermain dan berjalan mencarinya sampai akhirnya menemukan aku duduk termenung di sini.
Dia mendekat lalu duduk perlahan di sampingku, suaranya turun lembut: “Zara, kau kenapa? Terlihat sedih sekali.”
Aku hanya melirik sekilas, lalu kembali menunduk dan menggeleng lagi, matanya mulai berkabut seolah ingin menahan air mata. Fernando kemudian melirik sekilas ke arah ketiga temanku, berharap mereka bisa menjelaskan, tapi mereka hanya mengangkat kedua tangan pelan sambil menggeleng, memberi isyarat bahwa mereka pun tak tahu penyebabnya.
Sejak itu suasana menjadi hening sejenak — angin berdesir pelan di antara daun pohon, dan mereka semua hanya duduk diam, membiarkanku tenggelam dalam pikiranku sendiri tanpa memaksaku bicara.