Terbangun di kamar hotel, Fela syok setengah mati saat membaca KTP yang terjatuh dari dompet pria di sampingnya. Dia masih anak SMA!
Fela langsung kabur ketakutan demi menyelamatkan reputasinya.
Namun dunia Fela berantakan saat Kenzo, si anak SMA itu tiba-tiba masuk ke kantor periklanannya sebagai anak magang baru.
Di depan rekan kerja, Kenzo adalah asisten yang sopan. Tapi di balik pintu ruang rapat, dia adalah berondong posesif yang siap menjerat Fela kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 10 Kopi
"Sialan. Dia sengaja terus-menerus menyerangku," umpat Fela pelan. Dia keluar dari ruang rapat dengan helaan napas berat.
Baru saja ia memikirkan betapa menyebalkannya bertemu lagi dengan Dion, pria itu justru muncul.
Di ujung lorong, pria itu baru saja keluar dari toilet umum khusus tamu. Dion. Pria itu sedang mengancingkan jam tangan formalnya tanpa tahu keberadaannya.
Fela memilih meneruskan langkah.
"Kamu ternyata," tegur Dion seakan juga kesal bertemu lagi dengan Fela.
Terpaksa Fela berhenti dan mengangguk sopan sebagai bentuk hormat. Apapun yang terjadi di masa lalu, Dion sekarang adalah kliennya. Klien VIP.
"Kebetulan yang bagus," ujar Dion, suaranya tidak lagi menggunakan nada formal seperti di depan Rico tadi.
Suasana lorong yang sepi membuat keheningan di antara mereka terasa mencekam. Dion menurunkan tangannya, lalu seulas senyum miring yang sangat Fela kenal perlahan terbit di wajahnya. Senyuman angkuh yang penuh dengan rasa percaya diri yang tinggi.
Fela tidak menyangka pernah mencintai pria ini.
Langkah kakinya bergerak maju. Mengikis jarak di antara mereka dengan santai. "Aku tidak tahu kita akhirnya bisa bertemu dalam keadaan seperti ini," ujar Dion.
Fela memundurkan kaki selangkah. Dia refleks mengambil jarak aman. "Dunia ini memang sempit, Direktur."
"Ya. Aku memang direktur sekarang," kekeh Dion sinis. "Kamu masih setia dengan kantor ini ya?"
"Ya. Kantor ini cukup baik untuk saya." Fela akui tempat ini adalah separuh hidupnya setelah orangtuanya. Ia menjaga tetap bersikap formal.
Dion mendengus. "Betul. Untung saja kita tidak jadi menikah. Kamu masih tetap kaku seperti itu."
Mata Fela menatap pria ini lurus. Gemuruh amarah menderanya. Tahan Fela. Dia klien.
Dion melangkah satu kaki lebih dekat, mempersempit ruang gerak Fela di lorong itu. Sepasang matanya menatap Fela dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan yang amat kentara.
"Bayangkan kalau kita sampai menikah," lanjut Dion. Suaranya merendah tapi dibuat untuk sengaja ingin memancing reaksi emosional dari wanita di depannya. "Aku pasti akan sangat bosan punya istri yang hidupnya cuma habis di dalam ruang kantor sekecil ini. Pilihan hidupmu memang tidak pernah maju, Fela."
Fela mengepalkan jemarinya di balik lipatan tangan. Dadanya berdenyut nyeri, bukan karena dia masih mencintai Dion, melainkan karena harga dirinya terus-menerus diinjak oleh pria yang jelas-jelas bersalah di masa lalu.
Namun, rahang Fela tetap terkatup rapat. Dia menolak memberikan Dion kepuasan dengan melihatnya menangis atau mengamuk. Menahan diri adalah yang terbaik dilakukan sekarang.
"Terima kasih atas penilaian Anda, Pak Dion," balas Fela. Suaranya terdengar sangat dingin namun stabil. "Saya rasa keputusan kita untuk jalan masing-masing memang hal terbaik yang pernah terjadi. Sekarang, jika tidak ada urusan pekerjaan lagi yang perlu dibahas, saya permisi."
Dion mendengus geli. Merasa gertakan halusnya tidak mempan.
"Kamu boleh berlagak tangguh sekarang, Fela. Tapi ingat, aku adalah penentu nasib proyek miliaran yang sedang kamu kerjakan setengah mati ini. Aku pegang kendali penuh di W-Corp. Jadi, bersiaplah untuk sering-sering melihatku di sini."
Brengsek pria ini.
"Permisi, Manajer Fela." Sebuah suara datar memotong keheningan lorong dari arah belakang Fela.
Dion spontan menghentikan gerakannya, sementara Fela langsung menoleh.
Kenzo berjalan keluar dari balik pilar dekat belokan lift. Langkah kakinya santai, wajahnya ramah seperti biasa. Namun, jika ada yang memperhatikan dengan teliti, sepasang mata cowok itu menatap Dion dengan sorot yang sangat dingin dan tidak bersahabat.
Kenzo? Mau apa dia di lorong ini? Fela terkejut dengan kedatangan anak ini.
Kenzo melangkah maju tanpa ragu, lalu berhenti tepat di samping Fela, sengaja memosisikan tubuh tingginya yang tegap sebagai pembatas antara mentornya dan pria asing dari W-Corp itu.
"Kamu siapa?" tanya Dion. Pria ini langsung mengerutkan kening tidak suka karena urusannya diganggu oleh anak muda asing.
"Selamat siang," sapa Kenzo sopan yang tiba-tiba muncul entah darimana. Menghentikan pembicaraan yang sempat memanas tadi.
"Saya anak magang dari agensi membawakan minuman untuk tamu dari W-corp. Silakan," ujar Kenzo menyodorkan nampan kertas yang berisi satu gelas cappucino.
Fela melihat bocah ini tidak mengerti, tapi berusaha mengikuti permainan.
Dion menoleh pada Fela. "Kalian benar-benar peduli pada W-corp ya," sindir Dion angkuh.
"Kami sangat menghormati klien agensi, Pak." Kenzo mengambil alih Fela untuk menjawab. Ia pun mengangguk hormat.
Dion merasa di atas angin karena penghormatan. "Aku akan menerimanya sebagai bukti menerima ketulusan anak magang yang cakap ini."
"Terima kasih." Kenzo tersenyum.
Dion mengambil gelas cappuccino itu dari atas nampan kertas dengan gerakan lambat dan angkuh. Sengaja ingin memamerkan kuasanya sekali lagi di hadapan Fela.
"Kerja bagus," ujar Dion. Tangannya menepuk bahu Kenzo dua kali dengan nada merendahkan yang dibungkus pujian palsu. "Setidaknya agensi ini masih punya staf yang tahu cara menjamu tamu dengan benar. Belajarlah dari anak magang ini, Fela."
"Justru saya belajar dari manajer Fela, Tuan," kata Kenzo.
Fela terkejut. Kenzo sungguh pandai bermain kata-kata.
Setelah melayangkan sindiran tajam itu, Dion menyesap kopinya sedikit, lalu berbalik pergi menuju lobi lift tanpa berkata apa-apa lagi.
Langkah kakinya yang tegap bergaung di sepanjang lorong sepi, meninggalkan kesan intimidasi yang perlahan memudar seiring menjauhnya punggung pria itu.
Setelah bayangan Dion benar-benar hilang di belokan koridor, atmosfer tegang mulai menipis.
Kenzo melirik. Bahu Fela yang sejak tadi tegang kini melorot. Wanita ini mengembuskan napas lega yang samar untuk menenangkan gemuruh di dadanya.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Fela dengan wajah serius.
Kenzo diam sejenak sambil menurunkan nampan kertasnya yang kini sudah kosong. Ekspresi wajahnya tampak tenang. Kembali ke mode acuh tak acuh yang biasa ia tunjukkan sehari-hari.
"Senior di ruangan minta buatkan kopi. Jadi aku datang ke pantry," jawab Kenzo.
Fela melirik. Pantry memang tidak jauh dari tempat ia berdiri. "Aku rasa pantry disini tidak punya nampan kertas seperti itu," tunjuk Fela pada nampan kertas yang sudah kosong.
"Ehh ... Ini punyaku." Kenzo memesan lewat online tadi. Dia kurang suka cappucino di pantry.
"Aku ganti."
"Tidak perlu. Aku hanya membayar setengah harga karena ada promo," kata Kenzo bangga.
"Tidak. Aku pasti ganti." Fela merasa tidak enak punya hutang. Apalagi dia merasa tertolong.
"Kalau begitu, traktir aku kopi lain hari."
Fela memutar tubuhnya. "Aku hanya mau mengganti kopi tadi, bukan sedang bertransaksi dengan mu."
"Kamu yang meminta untuk mengganti, Fela." Mendengar bocah ini menyebut namanya tanpa embel-embel sapaan hormat, Fela jadi ragu kalau dia masih SMA. Itu membuatnya diam sejenak. "Jadi sekarang aku yang memutuskan mau diganti kapan." Senyum jahilnya muncul.
Tidak. Dia memang bocah!