NovelToon NovelToon
KULTIVASI RAHASIA SANG TUKANG SAPU: SISTEM CHECK IN

KULTIVASI RAHASIA SANG TUKANG SAPU: SISTEM CHECK IN

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: HINDRA10

"Dilahirkan dengan Tulang Roh yang Layu, Lin Chen dianggap sebagai aib terbesar bagi Kekaisaran Shenghuang. Setelah dijebak oleh saudara-saudaranya dan dibuang oleh ayahnya sang Kaisar, ia diasingkan ke Sekte Pedang Taixuan—sebuah sekte kuno yang hampir punah—dan hanya diberi pekerjaan sebagai murid tukang sapu.

Dunia mengira hidupnya telah hancur. Namun, mereka tidak tahu bahwa di hari pertamanya memegang sapu, sebuah Sistem Absensi Jejak Kuno bangkit di dalam jiwanya!

【Ding! Anda berhasil melakukan check-in di Gerbang Batas Taixuan. Hadiah: Tubuh Pedang Kekacauan Primitif!】
【Ding! Anda berhasil melakukan check-in di Makam Pedang Leluhur. Hadiah: Mata Dewa Kekacauan!】

Aturannya ketat: Hanya bisa check-in satu bulan sekali! Namun, setiap tempat yang pernah disinggahi para dewa kuno akan memberinya hadiah tingkat mitologi.

Ketika sekte-sekte besar mencoba menghancurkan tempatnya menumpang, dan Kekaisaran Shenghuang datang untuk menindasnya lagi, pangeran yang dianggap sampah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HINDRA10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2

Tiga minggu setelah check-in pertamanya, rutinitas Lin Chen tidak berubah sama sekali.

Bangun pagi. Ambil sapu. Bersihkan sekte.

Tapi di balik gerakan yang membosankan itu, sebuah samudra kekuatan sedang diam-diam mengolah dirinya sendiri setiap detik.

Tidak ada yang tahu. Tidak ada yang curiga.

Sempurna.

Pagi itu, kabut tipis masih menyelimuti halaman luar Paviliun Kitab Suci ketika Lin Chen tiba di sana dengan sapu bambunya. Di tengah halaman, sebatang pohon kuno berdaun merah berdiri megah—satu-satunya hal di sekte ini yang tampak masih penuh vitalitas.

Di depannya, sebuah dinding batu besar. Permukaannya dipenuhi coretan-coretan pedang peninggalan leluhur, ribuan tahun usianya, sudah retak di beberapa tempat.

Lin Chen mulai menyapu.

Srak... srak...

Daun-daun merah jatuh berguguran, ditiup angin gunung yang dingin.

Kemudian, terdengar langkah kaki.

Sosok itu muncul dari balik kabut seperti dewi yang turun dari lukisan.

Jubah putih salju. Rambut hitam yang diikat rapi. Wajah yang terlalu sempurna untuk terlihat nyata—kulitnya seputih giok, matanya jernih namun dingin seperti telaga yang membeku di tengah musim salju.

Su Qingxue. Murid Utama Sekte Pedang Taixuan. Holy Maiden yang namanya bahkan disegani sekte-sekte tetangga.

Lin Chen meliriknya sekilas, lalu kembali fokus menyapu.

Cantik memang. Tapi bukan urusanku.

Saat mereka berpapasan di jalan setapak, Lin Chen langsung menepi. Kepala menunduk, kedua tangan memegang sapu dengan hormat.

"Pelayan Lin Chen, memberi hormat kepada Kakak Senior Utama."

Su Qingxue menghentikan langkahnya. Matanya melirik sekilas ke pemuda abu-abu di depannya—pangeran terbuang yang cacat kultivasi, kini bekerja sebagai tukang sapu. Ada sedikit sesuatu yang lewat di matanya. Simpati, mungkin. Atau sekadar pengakuan bahwa dia ada.

Dia mengangguk pelan, lalu melanjutkan langkahnya menuju dinding batu di tengah halaman.

Lin Chen kembali menyapu.

Srak... srak...

Beberapa saat berlalu dalam keheningan.

Lin Chen tidak menatapnya secara langsung, tapi telinganya yang kini setajam kultivator Ranah Fondasi menangkap segalanya—helaan napas berat yang berulang, hentakan kaki kecil yang frustrasi, desis pelan yang tertahan.

Dia dalam tekanan besar.

Lin Chen sudah tahu situasinya. Kabar di sekte menyebar cepat, bahkan sampai ke telinga tukang sapu. Bulan depan, Sekte Harimau Ganas akan datang menantang. Jika Taixuan kalah, sekte ini akan dibubarkan dan wilayahnya diambil alih. Sebagai murid terkuat, semua beban itu jatuh ke pundak Su Qingxue.

Dan sekarang dia mencoba memahami Niat Pedang Taixuan yang terukir di dinding batu ini—teknik puncak yang bahkan para tetua gagal tafsirkan sepenuhnya.

Lin Chen menyapu pelan, matanya mencuri pandang ke dinding batu itu.

Hmm.

Sebenarnya... dia sudah melihat jawabannya sejak hari pertama dia menyapu halaman ini.

"Tapi bukan urusanku," batinnya. "Biarkan saja—"

Lalu pikirannya sendiri memotong.

...Kalau sekte ini bubar bulan depan, aku kehilangan wilayah check-in.

Paviliun Kitab Suci lantai tiga. Makam Pedang Leluhur. Ruang Meditasi Patriark. Semua akan jatuh ke tangan sekte lain.

Lin Chen menghentikan sapunya sebentar.

...Baiklah. Terpaksa.

Dia mulai menyapu perlahan ke arah area di belakang Su Qingxue. Tidak terlalu dekat—cukup sepuluh langkah. Cukup untuk didengar jika berbicara sangat pelan.

Su Qingxue tidak memperhatikannya. Gadis itu terlalu fokus mengalirkan energinya ke dinding batu, matanya setengah terpejam.

Angin gunung bertiup.

Selusin daun merah gugur dari pohon kuno, melayang dengan pola berputar ke kiri sebelum akhirnya jatuh ke tanah.

Lin Chen mengayunkan sapunya untuk mengumpulkan daun-daun itu, sambil menggumamkan sesuatu dengan suara yang nyaris tak terdengar—seolah berbicara pada dirinya sendiri, seolah mengeluhkan pekerjaannya.

"Aneh sekali... daun-daun ini selalu jatuh berputar ke kiri mengikuti angin. Tapi coretan ketiga di dinding itu justru mengarah ke kanan." Srak. "Kalau aliran energinya dibalik—dari bawah ke atas seperti daun yang terbawa pusaran angin naik—bukankah menyapunya jadi lebih mudah?"

Srak... srak...

Gumaman itu lenyap bersama suara sapu.

DEG.

Kata-kata itu menghantam kesadaran Su Qingxue seperti petir.

Dibalik. Dari bawah ke atas.

Matanya membuka lebar, menatap coretan ketiga di dinding batu. Selama berbulan-bulan, semua orang—termasuk dirinya, termasuk para tetua—selalu mengalirkan energi dari atas ke bawah mengikuti arah goresan.

Tapi bagaimana jika garis itu harus dibaca... terbalik?

Tanpa membuang waktu, Su Qingxue memejamkan matanya. Dia membalikkan aliran Qi di dalam meridiannya, perlahan, meniru pusaran daun merah yang naik diterpa angin—

BZZZZZT!

Gelombang niat pedang meledak di dalam kesadarannya.

Dinding batu yang selama ini terlihat dingin dan mati tiba-tiba hidup di dalam pikirannya—bayangan seorang tetua kuno menebarkan niat pedang yang maha dahsyat, menembus langit, merobek waktu.

Belenggu kultivasi yang macet selama satu tahun penuh...

Hancur berkeping-keping.

"AKU— aku berhasil!"

Su Qingxue membuka matanya. Ada sesuatu yang langka di wajah yang selalu dingin itu—senyuman sejati, penuh kegembiraan yang tak bisa disembunyikan. Energi di dalam tubuhnya melonjak hebat, menembus ke ranah yang lebih tinggi.

Ranah Inti Emas.

Setelah beberapa detik, dia tersadar. Tadi... seperti ada suara seseorang.

Su Qingxue berbalik cepat.

Halaman itu kosong.

Yang tersisa hanya tumpukan daun merah yang sudah disapu rapi di pojok halaman, dan angin gunung yang berhembus pelan.

Su Qingxue mengernyitkan alisnya, memandang sekeliling dengan bingung.

Ilusi? Atau... suara gaib dari leluhur sekte?

Setelah beberapa saat, dia menggeleng pelan dan menerima kesimpulan yang paling masuk akal baginya—ini adalah berkah dari langit untuk Sekte Taixuan.

Tidak ada yang lebih masuk akal dari itu.

Tentu saja tidak ada.

Di sebuah jalan setapak sunyi di kaki gunung, jauh dari Paviliun Kitab Suci, Lin Chen berjalan santai sambil memikul sapu di bahunya.

Wajahnya tenang. Langkahnya ringan.

[DING!] ⟨ Pengisian daya 30 hari telah selesai ⟩ ⟨ Fungsi 'Check-In Jejak Kuno' bulan kedua kini aktif ⟩

Lin Chen membaca notifikasi itu tanpa mengubah ekspresinya sedikit pun.

"Bagus," batinnya. "Sekte ini aman untuk sementara. Su Qingxue sudah punya jalannya."

Pandangannya bergeser ke arah gunung di belakang sekte—ke lembah berkabut yang bahkan jarang dimasuki para tetua.

"Sekarang, saatnya aku pergi ke sana."

Makam Pedang Leluhur.

Di ruang pertemuan para tetua malam itu, kabar tentang terobosan Su Qingxue menggemparkan sekte.

Tidak ada yang bertanya dari mana datangnya pencerahan itu.

Tidak ada yang mencurigai tukang sapu yang sudah pulang lebih awal.

1
Ihya Ilmi
Semangat thor
Ihya Ilmi
Lanjutkan thor, jangan kasih kendor, crazy UP thor👍👍
Hindra Hin: siap, masih di garap nihh 🙏👍👍👍
total 1 replies
Ihya Ilmi
Thor, 7 hari katanya tp knp MC nya bisa check in 2x?
Hindra Hin: terimakasih atas komentarnya, sangat membantu 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Ihya Ilmi
Koreksi thor, " Enam Bulan?" atau "30 hari?", soalnya di sinopsis sebulan sekali.
Hindra Hin: baik, Terimakasih atas koreksinya 🙏🙏🙏
total 1 replies
Pecinta Gratisan
hiatus gak nih thor cerita nya
Hindra Hin: update terus bang tiap hari aman. nantikan aja🙏🙏
total 1 replies
Hadi Hadi
semangat 👍👍
Hindra Hin: makasih bro👍👍
total 1 replies
Hadi Hadi
up up up 💪
Hindra Hin
Jangan lupa di komen Bro kalau ada kata yg salah kritik aja biar ada masukan🫵
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!