NovelToon NovelToon
TO MARRY A REGEN

TO MARRY A REGEN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:688
Nilai: 5
Nama Author: byKaru

“Cinta bisa menjadi rumah yang nyaman, atau justru belenggu yang tak terlihat”

Arin sudah menikah dengan seorang pengusaha yang terkenal dan sangat sukses. Pernikahan yang diimpikan banyak orang. Dari Luar kehidupan Arin sangat sempurna, suami yang tampan, kekayaan yang melimpah, dan status sosial yang dihormati. Namun, hanya Arin yang tahu bahwa di balik kemewahan itu, ada sesuatu yang tidak boleh diketahui siapa pun.

Semua baik-baik saja, aku bisa mengatasinya, aku tidak butuh siapapun. Tekanan, trauma, stres, dan emosi yang sering ditahan oleh Arin perlahan menumpuk di dalam dirinya, dengan mengabaikan rasa sakit dan setiap trauma yang menghampirinya, tanpa sadar tubuh Arin mulai bereaksi terhadap setiap beban yang selama ini dia abaikan. di malam yang tenang tanpa kendali Arin mulai berjalan dalam tidurnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byKaru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: Di Balik Layar Kesuksesan

Sebulan berlalu sejak kepemimpinan Nathan di Regen Hotel. Dengan langkah yang berat Arin menjatuhkan dirinya ke tempat tidur. Tubuhnya yang sudah sangat lelah meminta untuk segera istirahat, matanya ingin segera terpejam. Namun, otaknya mengirimkan sinyal kebiasaannya, seharusnya ia membersihkan diri terlebih dahulu sebelum tidur. Sadar akan hal itu, Arin memaksakan dirinya untuk bangkit dan berjalan ke kamar mandi.

Setelah selesai, ia kembali ke tempat tidur, berbaring sambil memainkan ponselnya.

Namun saat memainkan ponselnya pikiran Arin tiba-tiba kembali ke rapat tadi siang, bagaimana Nathan melontarkan banyak komplain kepada setiap departemen. Rupanya, Nathan sudah sering datang ke hotel selama seminggu terakhir, sebelum ia menjabat sebagai CEO baru di Regen Hotel, tujuan ia datang hanya untuk memastikan semua departemen berjalan dengan baik, termasuk pelayanan mereka.

"Menakutkan." gumam Arin sebelum akhirnya ia memejamkan mata.

...*****...

Di siang hari yang cukup terik tidak membuat antrian di restoran mie yang baru buka ini berkurang, Orang-orang yang ingin makan siang terus berdatangan dan mengantre. Di dalam restoran, tepatnya di salah satu meja, Intan sudah duduk sambil sesekali melirik ke arah pintu masuk, menunggu kedatangan Arin.

"Sebelah sini." ucap Intan pelan, melambaikan tangan ke arah pintu masuk, saat ia melihat Arin.

melihat Intan, Arin segera menghampirinya

"Kau sudah pesan?" tanyanya, sambil melirik antrean panjang di restoran mie tersebut.

"Sudah. Pesanan kita masih dalam antrean." jawab Intan cepat.

"Bagaimana?" tanya Intan kembali, ia lalu menggerakkan alisnya ke atas sambil menopang dagunya dengan kedua tangannya.

Melihat reaksi Intan, Arin mengernyit bingung dengan pertanyaan temannya, pertanda ia tidak paham maksud ucapan Intan.

"Itu..Nathan Regen. Bukankah dia sudah menjadi CEO Regen Hotel?" bisik Intan penuh semangat.

Mendengar hal itu wajah Arin sedikit kesal "Jangan bahas dia denganku" keluhnya cepat.

"Kau tau, sebulan terakhir ini badanku sakit semua. Dan semua itu gara-gara peraturan baru yang dia buat, Dia hampir mengubah semua kebijakan di hotel, dan dia bahkan memecat beberapa seniorku" lanjut Arin dengan nada nada kesalnya.

"Tapi Regen Hotel semakin terkenal." sahut Intan, sambil menunjukkan sebuah artikel di ponselnya tentang hotel tersebut.

Arin melihat layar ponsel Intan sebentar, ia tidak bisa membantah. Memang benar, sejak kedatangan Nathan, banyak perubahan terjadi di Regen Hotel. Setiap keluhan pelanggan ditangani lebih cepat, bahkan General Manager yang biasanya jarang turun langsung ke lapangan kini lebih sering mengunjungi tiap departemen, meskipun hanya untuk sekedar melihat-lihat.

Intan kembali menggeser ponselnya ke arah Arin "Kau sudah lihat artikel ini?" tanya Intan.

Arin pun meraih ponsel Intan dan mulai membaca artikel di dalamnya, artikel itu memberitakan bahwa Andre Regen akan segera menikah dengan Niken, salah satu putri dari pebisnis kaya dan terkenal.

"Mereka cocok" ucap Arin sambil mengangguk pelan, lalu memberikan kembali ponsel Intan .

"Tentu saja, Putra orang kaya dan putri orang kaya, kombinasi yang luar biasa." ujar Intan cepat. Tepat pada saat itu, seorang pelayan datang membawa mie pesanan mereka lalu meletakkannya di atas meja.

...*****...

Enam bulan telah berlalu. Regen Hotel semakin ramai, jumlah pengunjung meningkat drastis. Dalam satu minggu, pertunjukan teater bisa diadakan dua kali di hotel ini. Bahkan, seminggu yang lalu, seorang pianis terkenal menggelar orkestra di salah satu aula. Acara pernikahan pun semakin sering digelar, dalam satu bulan, bisa mencapai lima kali, bahkan pernah menyentuh angka delapan kali dalam sebulan terakhir.

Sebagai Hotel Manager bagian Food & Beverage (F&B) Manager, kesibukan Arin semakin tidak terkendali. Ia hampir tidak memiliki waktu untuk memikirkan apa pun selain pekerjaannya selama enam bulan terakhir.

Prang!!!

Suara piring pecah menggema di seluruh ruangan restoran, membuat semua orang terdiam dan menoleh ke arah yang sama.

Arin segera melihat seorang anak kecil yang baru saja menabrak seorang pelayan yang tengah membawa pesanan makanan.

Tanpa ragu, Arin segera menghampiri mereka. Ia membantu pelayan itu, menenangkan anak kecil yang menangis, lalu dengan hati-hati mengarahkan anak kecil itu menjauh dari serpihan kaca yang berserakan di lantai. Tak lama, seorang wanita, ibu dari anak tersebut, datang dan segera meminta maaf.

Arin hanya tersenyum, memberi isyarat bahwa semuanya baik-baik saja. Setelah memastikan anak itu aman, sang ibu segera pergi membawanya. Arin kemudian meminta seseorang untuk segera membersihkan pecahan piring di lantai sebelum terjadi hal yang lebih buruk.

"Lehermu bisa patah jika terus melihatnya," ujar Nathan dengan senyum kecil, memperhatikan temannya yang terus mengikuti gerak-gerik Arin kemanapun dia pergi.

"Kenapa kau tidak memberitahuku kalau hotelmu punya manajer secantik itu?" tanya Aldo, masih menatap ke arah Arin.

Nathan mengalihkan pandangannya ke arah Arin yang tengah berbicara dengan salah satu pengunjung.

"Benarkah? Menurutku, dia biasa saja." sahutnya santai lalu kembali menatap Aldo.

"Kecuali dia" lanjut Nathan, kini dengan senyum tipis yang muncul di wajahnya.

Aldo mengernyit sebelum akhirnya menoleh ke belakang, mengikuti arah pandangan Nathan. Begitu melihat siapa yang datang, senyumnya langsung melebar.

"Hai sayang." sambut Aldo cepat, ia segera mencium pipi tunangannya yang baru saja datang.

"Kalian sedang membicarakan apa?" tanya Luna, sambil meletakkan tasnya di kursi.

"Bukan apa-apa, hanya membahas jadwal kunjungannya ke rumah sakit." jawab Aldo, sambil menarik kursi untuk mempersilahkan Luna duduk.

"Ah, benar. Sebulan terakhir ini kau tidak datang menemuiku. Apa jadwal tidurmu sudah membaik?" tanya Luna, kini menatap Nathan dengan penuh perhatian.

Di sisi lain Nathan masih tertawa kecil melihat ekspresi Aldo yang masih tampak gugup.

"Aku sibuk, jadwal tidurku masih sama." jawabnya Nathan santai.

Aldo dan Luna bukan hanya teman dekat Nathan, tetapi juga dokter yang menangani kesehatannya. Aldo adalah dokter ortopedi sekaligus spesialis rehabilitasi medis, sementara Luna adalah psikiater dan spesialis gangguan tidur.

Di usia sembilan belas tahun, Nathan pernah mengalami kecelakaan serius yang menyebabkan patah tulang parah. Meskipun secara fisik kakinya terlihat sudah sembuh, rasa nyeri masih sering kambuh, itulah sebabnya ia tetap menjalani pengobatan hingga sekarang.

Bisa dibilang, Aldo dan Luna adalah dua orang yang paling dekat dengan Nathan, bukan hanya sebagai dokter, tetapi juga sebagai sahabat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!