NovelToon NovelToon
Faristya

Faristya

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dijodohkan Orang Tua / Bad Boy
Popularitas:759
Nilai: 5
Nama Author: NdahDhani

Karena permintaan terakhir ibunya, Tyasabella Almeera terpaksa menerima kenyataan yang tidak pernah ia inginkan: menikah muda.

Dan lebih parahnya lagi, menikah dengan musuhnya sendiri, Faris Abimanyu Alzavian. Cowok tukang nyolot yang selalu berhasil membuat emosinya naik setiap hari.

"Kenapa harus lo sih?" kesal Tya.

Faris langsung mendelik. "Emangnya gue mau nikah sama lo?"

"Gue juga gak mau."

"Bagus. Berarti kita sepakat."

Tya mendengus. "Sepakat kalau ini ide paling buruk yang pernah ada."

Namun, takdir seolah tidak peduli dengan pendapat mereka. Di tengah kehilangan yang masih terasa, dua remaja keras kepala itu dipaksa menjalani sebuah pernikahan yang tidak pernah mereka pilih sendiri.

Masalahnya, bagaimana jika perlahan mereka mulai menemukan sesuatu yang tidak pernah mereka duga sebelumnya?

Karena terkadang, orang yang paling sering membuat kita kesal justru menjadi orang yang paling sulit dilupakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Sore di alun-alun

Sore itu, alun-alun kota dipenuhi oleh orang-orang yang datang untuk menikmati waktu senggang. Anak-anak berlarian mengejar gelembung sabun yang berterbangan, beberapa keluarga duduk santai di hamparan rumput, sementara para pedagang kaki lima sibuk melayani pembeli yang datang silih berganti.

Semilir angin sore berhembus pelan, membuat dedaunan di sepanjang taman bergoyang lembut. Langit yang perlahan mulai berubah jingga menambah suasana terasa hangat dan menenangkan.

Di antara keramaian itu, Tya dan dua sahabatnya berjalan berdampingan sambil sesekali tertawa kecil.

Tya kini tak lagi mengenakan seragam sekolahnya yang sempat kotor akibat drama piket sore tadi. Ia memakai kaus pastel milik Starla yang ukurannya pas di tubuh mungilnya, dipadukan dengan rok jeans selutut. Rambutnya dibiarkan tergerai, membuat penampilannya terlihat lebih santai.

Di sisi kanan dan kirinya, Starla dan Megan melangkah santai sambil menikmati suasana sore. Tak ada pembahasan tentang tugas sekolah ataupun keributan di kelas. Untuk sementara, mereka hanya ingin menikmati waktu bersama sebagai tiga sahabat.

Setelah hari-hari yang dipenuhi berbagai kekacauan, sore itu terasa seperti jeda yang begitu menenangkan bagi Tya. Senyum kecil perlahan kembali menghiasi wajahnya, sesuatu yang mulai jarang terlihat sejak kepergian sang ibu beberapa hari yang lalu.

Megan yang berjalan di sisi kiri Tya, merapikan ujung kaus yang dikenakannya lalu menoleh ke arah Starla. "Star," panggilnya. "Lusa gue balikin ya bajunya. Nanti gue cuci dulu."

Starla mengangguk santai, "Aman."

Tya ikut menimpali. "Iya, Star. Jadi gak enak gue pakai baju lo."

Starla terkekeh pelan. "Kalian gimana sih? Masa gak enakan gitu sama gue," ujarnya, lalu ia menatap Tya dan Megan bergantian. "Gak dibalikin juga gapapa, kok."

"Hah?" Tya dan Megan kompak menoleh.

"Serius," ujar Starla santai. "Lagian baju itu udah lama cuma numpuk di lemari. Adik gue juga gak mau pakai. Tau sendiri kan, Vina itu tomboi."

Megan langsung mengangguk. "Iya juga. Si Vina mah sukanya kaus sama celana pendek."

Tya menunduk sebentar, memperhatikan kaus yang sedang dikenakannya. Jemarinya merapikan sedikit bagian bawah kaus itu sebelum akhirnya menatap Starla lagi.

"Gue suka sih sama baju ini," ujar Tya jujur sambil tersenyum kecil. "Tapi gue gak enak. Ini kan baju lo."

Starla langsung mengibaskan tangannya. "Ya ampun, Tya... Segitunya banget."

"Lah, ya iyalah," sahut Tya.

"Kalau gue udah bilang gapapa, ya gapapa," ujar Starla dengan senyum hangat. "Daripada cuma jadi penghuni lemari, mending dipakai sama orang yang emang suka."

Tya masih tampak ragu, "Nanti kalau lo berubah pikiran, bilang aja."

Starla terkekeh kecil. "Gak bakal. Udah, anggap aja hadiah kecil dari gue."

Tya akhirnya tersenyum lebih lebar. "Ya udah deh, kalau lo maksa. Thanks, ya."

"Nah, gitu dong." Starla menyenggol pelan bahu Tya. "Cocok kok di badan lo."

Megan yang melihat interaksi keduanya ikut tersenyum. "Emang ya, kalau udah sama Starla barang di lemari bisa pindah kepemilikan dengan santai." Ujarnya, lalu melirik sekilas pakaian yang dikenakannya. "Btw... Makasih ya, Star."

"Ah, santai. Jangan makasih mulu," ujar Starla.

Mereka bertiga pun tertawa kecil, melanjutkan langkah menyusuri alun-alun dengan suasana yang semakin akrab.

Tya mengedarkan pandangannya ke sekeliling alun-alun. Tak jauh dari mereka, tampak sebuah bangku taman yang berada di bawah rindangnya pohon ketapang. Tempat itu terlihat cukup teduh, sementara dari sana mereka bisa melihat hamparan rumput dan keramaian alun-alun dengan jelas.

Tya mengangkat telunjuknya ke arah bangku itu. "Duduk di sana, yuk."

Starla dan Megan mengikuti arah pandang Tya. "Boleh, tuh," sahut Megan sambil mengangguk.

"Iya, sekalian istirahat. Dari tadi jalan terus," timpal Starla.

Tanpa membuang waktu, mereka bertiga melangkah menuju bangku tersebut. Tiba di sana, mereka langsung duduk berdampingan. Semilir angin sore kembali menyapa, menggoyangkan beberapa helai rambut mereka.

Kruukkkk...

Belum sampai lima menit mereka duduk, tiba-tiba terdengar suara pelan dari perut Starla. Gadis itu refleks memegang perutnya sendiri. Ia nyengir malu sambil menoleh ke arah dua sahabatnya. "Hehe, gue laper," ujarnya. "Kalian gak laper apa?"

"Lapar juga sih," ujar Tya dengan anggukan kecil.

"Iya, dari pulang sekolah belum makan apa-apa." Timpal Megan. Ia menyapu pandangannya ke deretan pedagang kaki lima yang berjajar di sekitar alun-alun. "Enaknya makan apa, ya?"

Tya berpikir sejenak sebelum akhirnya mengusulkan. "Pecel aja gimana?"

Starla dan Megan langsung menoleh. Keduanya mengangguk setuju. "Boleh," ujar mereka serempak.

Namun, sedetik kemudian Starla mengangkat satu jari telunjuknya. "Tapi, jangan pakai tauge, ya."

Tya langsung menghela nafas pelan, sementara Megan hanya menutup mulutnya menahan tawa. "Kami udah hafal, Star," ujar Megan.

"Iya," timpal Tya sambil menggeleng kecil. "Lo sama tauge emang musuhan dari lahir."

Starla langsung bergidik sambil meremas kedua tangannya sendiri. "Ih..." Wajahnya berubah seperti orang jijik. "Bentuknya tuh, kayak belatung."

Megan spontan menepuk dahi, "Ya ampun, Star." Ujarnya sambil terkekeh.

Tya sampai menahan tawa melihat ekspresi sahabatnya itu. "Lo ada-ada aja. Bisa-bisanya kepikiran gitu."

"Ya emang mirip!" Bela Starla penuh keyakinan, masih terlihat merinding. "Begitu lihat tauge, selera makan gue langsung hilang."

Tya tersenyum sambil menggeleng singkat. "Udah, nanti gue pesenin tanpa tauge."

Seketika, wajah Starla kembali berubah cerah. "Nah, gitu dong."

Megan hanya bisa terkekeh kecil sambil menggelengkan kepala. "Ribet juga ya, selera makan lo."

Starla ikut terkekeh menanggapi ucapan Megan. Sementara Tya mengedarkan pandangannya ke arah para pedagang kaki lima yang berjejer di tepi alun-alun. Tatapannya langsung tertuju pada sebuah gerobak pecel yang cukup ramai didatangi pembeli.

"Nah," ujar Tya sambil menunjuk ke arah pedagang itu. "Ke sana, yuk."

"Boleh," sahut Megan.

"Ayo!" Timpal Starla.

Ketiganya pun bangkit dari bangku taman, berjalan berdampingan menuju pedagang pecel yang ditunjuk Tya. Aroma bumbu kacang yang baru diulek perlahan tercium, seolah semakin mengingatkan mereka bahwa perut yang sejak tadi protes memang sudah waktunya diisi.

Tiba di depan gerobak, mereka berhenti di hadapan seorang penjual yang sibuk mengulek bumbu kacang.

"Tiga porsi pecel ya, bang," ujar Tya. "Semuanya tanpa tauge, ya."

Penjual itu mengangguk sambil mulai menyiapkan piring. "Pedesnya gimana?"

"Yang satu pedes sedang, dua lagi pedes biasa," jawab Tya.

Tak butuh waktu lama, tiga porsi pecel pun selesai disiapkan. Tya membawa dua piring pecel di tangannya, seporsi lainnya dibawakan oleh Megan. Sementara Starla tiga botol air mineral yang baru saja dibelinya.

Mereka kembali duduk berdampingan seperti sebelumnya. Masing-masing mengambil satu piring pecel. Starla menatap piring di tangannya beberapa saat, lalu ia mengernyit.

"Lho," ujar Starla spontan.

Tya dan Megan yang baru hendak menyuap makanan langsung menoleh. "Kenapa?" Tanya Megan.

Starla menunjuk piring pecel di hadapan mereka. "Kok semuanya gak pakai tauge?"

Tya menahan senyum, "Iya, gue sengaja."

"Kenapa?" Tanya Starla heran.

Tya mengangkat bahu santai. "Biar lo gak diam-diam ngelirik piring gue sama Megan."

Megan langsung tertawa kecil, "Iya, nanti liat tauge dikit selera makan lo langsung hilang."

Starla terdiam sesaat, lalu tersenyum lebar. "Pengertian banget sih, sahabat gue."

Tya hanya tersenyum tipis sambil mulai menyendok pecelnya. "Udah. Makan aja."

Ketiganya pun mulai menikmati pecel mereka sambil sesekali mengobrol ringan. Di tengah ramainya suasana alun-alun, tawa kecil mereka kembali terdengar, membuat sore itu terasa semakin hangat.

Sementara itu, deru beberapa motor terdengar memasuki area parkiran yang sore itu mulai dipenuhi kendaraan para pengunjung. Satu per satu motor berhenti di salah satu sisi parkiran.

Dhyo mematikan mesin motornya, sementara Faris yang sejak tadi duduk di jok belakang langsung turun dengan santai. Tak jauh dari mereka, Andre dan Lex juga baru saja memarkir motornya masing-masing.

Andre melepas helmnya, lalu mengacak rambutnya yang sedikit berantakan karena perjalanan. "Ramai juga," gumamnya sambil menyapu pandangan ke arah keramaian alun-alun.

Lex ikut menoleh ke sana. "Ya iyalah. Sore-sore gini memang mulai banyak yang datang."

Dhyo mengaitkan helmnya di spion motor, sebelum akhirnya menoleh ke arah Faris yang berdiri dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana.

"Jadi, kemana dulu kita ketua?" Ujar Dhyo dengan senyum jahil.

Faris mengangkat bahu santai, "Terserah."

"Ketua macam apa jawabannya terserah?" Celetuk Lex.

Andre ikut mengangguk sok serius. "Iya. Ketua yang baik itu harus punya visi."

Faris mendengus pelan. "Visi apaan?"

"Visi mencari makanan gratis," jawab Dhyo tanpa dosa. "Lumayan kan, tanpa ngeluarin modal."

Andre dan Lex langsung tertawa, sementara Faris langsung berdecak pelan. "Ck, minta ditraktir aja banyak bacot!"

Dhyo langsung nyengir lebar. "Nah, tau aja lo bos!"

"Buset dah..." Faris menggeleng sambil mengusap wajahnya sekilas. "Makin hari dompet gue makin menipis gara-gara kalian."

Lex langsung tertawa. "Lah, kan ketua harus dermawan."

"Iya," sahut Andre santai. "Pemimpin yang baik itu mengayomi anggotanya."

Faris langsung mendelik. "Mengayomi apaan?! Kalian mah nguras dompet gue."

Dhyo langsung merangkul bahu Faris sambil tertawa. "Tenang, Ris. Rezeki gak kemana."

"Yoi," timpal Lex tanpa rasa bersalah. "Paling larinya ke perut."

Ketiga sahabatnya langsung tertawa. Semangat Faris hanya bisa menghela nafas panjang menghadapi teman-temannya.

"Dasar benalu," gumam Faris.

Mendengar julukan itu, ketiga sahabatnya justru tertawa semakin keras, seolah menganggap Omelan Faris sebagai hiburan gratis sore itu.

Tanpa memperpanjang perdebatan yang tak akan ada ujungnya, Faris dan ketiga sahabatnya pun mulai berjalan menuju deretan pedagang kaki lima. Meski berasal dari keluarga berkecukupan, tak sedikit pun terlihat gengsi dari langkah mereka. Bagi mereka, tempat seperti ini kerap menjadi tujuan mereka untuk berkumpul sepulang sekolah.

Seragam SMA yang masih mereka kenakan membuat keberadaan mereka cukup mencolok di tengah keramaian. Dasi yang sudah longgar, lengan kemeja yang digulung asal, serta cara berjalan dengan tangan dimasukkan ke saku membuat aura badboy mereka begitu terasa.

Beberapa pengunjung sempat melirik sekilas saat mereka melintas. Namun, keempatnya sama sekali tidak memedulikan tatapan itu. Mereka terus berjalan santai sambil sesekali saling melempar celetukan.

Tak lama kemudian, langkah mereka berhenti di depan sebuah gerobak cilok yang dipenuhi aroma bumbu kacang dan saus pedas yang menggugah selera.

Faris melangkah sedikit mendekati gerobak. "Bang," ujarnya santai. "Empat porsi cilok, ya."

"Siap, dek," jawab penjual itu sambil mulai memasukkan cilok ke dalam mangkuk.

Sembari menunggu pesanan cilok disiapkan, tatapan Faris menyapu alun-alun tanpa tujuan. Hingga tanpa sengaja, matanya menangkap tiga sosok gadis yang sedang duduk di salah satu bangku taman. Terutama pada sosok mungil yang menarik perhatiannya.

Faris memicingkan mata sejenak, lalu melangkah sedikit ke depan. "Woi, anak SMP nyasar!" Serunya tiba-tiba dengan suara yang cukup keras, membuat beberapa orang refleks menoleh.

Dhyo, Lex, dan Andre langsung menoleh dengan ekspresi bingung. "Hah?" Gumam Andre spontan.

Mengikuti arah pandang Faris, ketiganya pun langsung menyadari siapa yang sedang dimaksud. "Oh," gumam Lex sambil mengangguk-angguk.

"Emang, jodoh gak kemana," ujar Dhyo menahan senyum.

Sementara Tya yang sedang menikmati suapan pecelnya sontak menghentikan gerakan tangannya. Suara itu terasa begitu familiar di telinganya. Refleks, ia menoleh ke arah asal suara. Dan benar saja, Faris berdiri tak jauh dari sana dengan ketiga temannya. Starla dan Megan ikut menoleh, bergantian memandang Faris dan Tya.

"Bukannya pulang, malah keluyuran," lanjut Faris datar.

Dengan gerakan sedikit lebih keras dari seharusnya, Tya meletakkan piring pecelnya di atas bangku. Ia langsung berdiri, menatap Faris tanpa berkedip. "Siapa yang lo bilang anak SMP?!" Ujarnya tak terima. "Gue?!"

"Siapa lagi?" Balas Faris enteng. Ia mengangkat dagunya sedikit ke arah Tya. "Pulang sana." Ia kemudian mengibaskan tangannya asal, seolah sedang mengusir anak kecil. "Keluyuran mulu. Nanti nyasar."

Dhyo langsung menunduk, menggigit bibir bawahnya kuat-kuat agar tidak tertawa. Andre memalingkan wajah sambil menutup mulutnya dengan tangan, sedangkan bahu Lex sudah mulai bergetar.

Kesabaran Tya terasa mulai menipis. Ia bersedekap dada, menatap Faris dari ujung kepala sampai kaki. "Heh! Lo aja masih keluyuran pakai seragam sekolah!" Ia kemudian menunjuk Faris. "Harusnya lo tuh yang diusir! Bukannya pulang, malah nongkrong!"

Tya mendengus kesal. Ia memutar bola matanya malas sebelum akhirnya membalikkan badan. "Gak dimana-mana ketemu lo!" Gerutunya tanpa menoleh lagi. "Bikin gue muak!"

Tanpa menunggu balasan, Tya langsung meraih ranselnya yang tergeletak di atas bangku. Dengan langkah sedikit lebih cepat, ia meninggalkan tempat itu.

"Eh, Ty!" Panggil Starla sambil buru-buru berdiri.

Megan ikut mengangkat ranselnya. "Tunggu!"

Kedua sahabatnya segera menyusul Tya yang sudah berjalan lebih dulu, meninggalkan bangku taman dan piring pecel yang hampir habis.

Tak jauh dari sana, ketiga teman Faris akhirnya tidak bisa menahan tawa. Andre menggeleng kecil sambil terkekeh. Sementara Lex menepuk pelan bahu Faris.

"Eh, Ris," ujar Dhyo sambil tertawa. "Ribut mulu, padahal udah serumah. Kapan akurnya?" Bisiknya jahil.

"Akur pala lo," ujar Faris sambil melenggang pergi, mencari tempat untuk duduk.

^^^Bersambung...^^^

1
xuer jinghao
kak lanjut semangat terus kak 🤭🤭
Enz99
bagus banget
xuer jinghao
dan sehat selalu 💪💪
𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱 𝓻𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲: Terima kasih kak, semoga kakaknya juga sehat selalu😄
total 1 replies
xuer jinghao
kak lanjut semangat terus kak 😍😍
Shintara
Faris : Dari sekian banyak cewek di dunia ini, kenapa harus lo?
Tya : Karena lo gak mampu cari cewek kayak gue 🤣🤣🤣
𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱 𝓻𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲: Hehehe bener banget kak🤭
total 1 replies
Shintara
❤️❤️❤️
Shintara
lanjut kak..
jangan lupa mampir juga ya. ❤️
𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱 𝓻𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲: Siap kak, terima kasih sudah mampir 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!