Hana Yasmin adalah lambang dari ketegaran wanita yang luar biasa. Enam tahun yang lalu terpaksa diusir dari rumah orang tuanya sendiri karena telah mengandung benih pria yang tidak dia kenal. Sebuah tragedi kelam merenggut paksa kesucianya. Trauma mendalam itu sempat meruntuhkan dunia Yasmin. Namun, takdir berkata lain. Bayi yang dititipkan dalam tahimnya lahir sepasang malaikat kecil laki-laki dan perempuan yang ia beri nama Fatir dan Fathia.
Yasmin berjuang sendiri membesarkan anak kembarnya itu hingga tumbuh menjadi anak yang cerdas, padahal masih usia 5 tahun dan sekolah TK. Yasmin yang bekerja di restoran bertemu Marco Bellini. Pria itu jatuh cinta kepadanya bahkan mengajak menikah dan berjanji untuk membesarkan si kembar, tapi rasa trauma membuat Yasmin tidak mudah untuk menerima.
"Yasmin, menikahlah denganku demi kamu dan anak-anak."
Apakah Yasmin akhirnya menerima Marco? Bagaimana kisah selanjutnya? Kita ikuti kelanjutannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Yasmin menarik napas panjang, anak-anak memang selalu jujur, padahal tidak ingin Marco tahu jika ia dan anak-anak pindah, tapi justru bercerita.
"Aku bantu pindahan ya, Yas," Marco menawarkan diri menyewa pick up untuk mengangkut barang-barang.
"Tidak usah, saya hanya akan membawa pakaian saja," Yasmin akan meninggalkan barang-barangnya karena di rumah yang baru sudah lengkap dengan fasilitas.
"Kalau gitu besok aku antar kalian ya, jam berapa berangkat?" Marco tidak mau kehilangan kesempatan lagi.
Yasmin tidak menjawab, begitu juga dengan Fatir dan Fathia, anak itu tentu saja tidak tahu jam berapa bundanya akan berangkat. Jika Yasmin sudah cerita tentu saja mereka akan berkata jujur.
"Besok aku jemput jam tujuh ya," Marco antusias.
"Nggak usah repot-repot," tegas Yasmin lagi-lagi menolak, pindah rumah cukup jalan kaki tidak perlu diantar pun bisa.
"Biar saja Bunda... Om Marco kan sudah janji sama Kakak, sama adik mau antar pindahan," Protes Fatir.
"Iya Bun, kami kan mau naik mobil Om Marco," lanjut Fathia.
Tidak ada pilihan bagi Yasmin kecuali mengangguk. Dia akhirnya melirik Marco di sebelahnya, kali ini sedikit lebih lama, pria itu tampak fokus ke depan. Di balik sikapnya yang dingin, Marco ternyata baik juga. Apa salahnya ia berpikir positif? Jika terus berburuk sangka dan ternyata pria itu tidak seperti yang ia pikirkan, dosa yang akan Yasmin terima.
"Di rumah yang baru nanti, kata Bunda, Fatir juga mau disunat Om, Om Marko dulu sunat umur berapa?" tanya Fatir polos.
Wajah Yasmin seketika memerah, tentu saja ia malu kepada pria di sebelahnya. Kepolosan anak-anaknya itu kadang membuatnya mati kutu.
Bukan hanya Yasmin, ekpresi wajah Marco pun tak kalah merah. Begitu kalimat sunat terucap, tiba-tiba laju kendaraan berhenti. Mobil terparkir di bahu jalan yang sepi, tanpa bunyi rem yang keras. Marco duduk mematung di kursi depan, kedua tangannya mencengkeram setir kuat-kuat. Wajahnya kini berubah pucat. Mana mungkin ia akan membuka rahasia yang ia simpan rapat selama 32 tahun, bahkan tak pernah ia akui pada dirinya sendiri bahwa ia tidak mengenal apa itu sunat.
"Om Marco? Kenapa berhenti di sini?” tanya Fatir bingung, menyadari perubahan sikap pria itu.
Marco berusaha menata suaranya kembali agar terdengar tenang. Ia menoleh sedikit, menyembunyikan kegelisahan di matanya.
“Emmm… tidak apa-apa. Tadi terasa ada sedikit gangguan pada roda," jawab Marco asal, lalu melanjutkan perjalanan, Marco mendadak tidak banyak bicara. Berharap Fatir tidak bertanya tentang sunat lagi. Bahkan ketika tiba di gang, kali ini Marco tidak punya keberanian untuk mampir dulu. Begitu Yasmin dan anak-anak turun, ia segera melanjutkan perjalanan ke markas.
Dalam perjalanan, Marco berpikir dan berhayal. Seandainya suatu saat nanti Yasmin menerima dirinya untuk menjadi pasangan, itu artinya harus sunat seperti yang ia dengar dan lihat dari beberapa kenalan. Mereka menjalankan sunat sebelum menikah dengan orang Indonesia. Ia juga pernah bertanya untuk apa sunat? Menurut mereka, sunat sebagai tanggung jawab terhadap kesehatan diri sendiri dan pasangan dan juga anjuran agama yang sangat kuat.
"Selamat malam Tuan..."
"Selamat malam Tuan..." ucap beberapa penjaga markas membungkuk hormat.
Namun, tidak ada jawaban dari pria itu, ia terus saja berjalan ke arah ruangan yang sunyi dan beraroma kayu tua, pintu besi berat tertutup rapat di belakang punggungnya. Marco melempar jasnya ke kursi dengan kasar, raut wajahnya yang tadi berusaha tenang di depan Yasmin dan anak-anak kini berubah menjadi angker.
Sisi kejam yang sering ia tunjukkan kepada lawan, kini mulai tampak dan siap melampiaskan kepada siapapun yang berada di tempat itu. Marco menekan tombol di meja, dan tak lama kemudian dua sosok berbadan tegap masuk dengan langkah hati-hati. Onta yang berbadan besar dan Gagak yang tatapannya tajam penuh kewaspadaan itu pun mengangguk hormat di depan bos.
"Bos memanggil kami?" Tanya Onta dengan wajah tegang.
“Panggil dokter pribadi saya sekarang. Dan cari tahu segala hal soal sunat," perintahnya tanpa basa-basi. Nadanya berat seolah membebani udara di ruangan itu. Kakinya berjalan mondar-mandir, di balik ketegasan itu terselip kekhawatiran tentang wanita yang ia cintai. Takut di tolak jika tahu ia tidak sunat.
Onta mengernyit bingung. "Sunat, Bos? Maksudnya untuk persiapan Fatir?" Tanyanya setelah menyusun keberanian.
Marco balik badan, matanya menyala tajam menatap mereka berdua. "Pergi sekarang, tidak usah banyak tanya! Saya ingin tahu prosedurnya, berapa lama penyembuhannya, di mana bisa dilakukan dengan cepat dan terjaga rahasianya tanpa ada yang tahu. Dan pastikan berita ini tidak bocor keluar markas. Kalau sampai terdengar ke mana pun, kalian tahu konsekuensinya. Saya penggal kepala kalian!" ucapnya penuh ancaman.
Kedua anak buahnya seketika membungkuk hormat, menyadari bahwa ini bukan sekadar urusan biasa. Wajah Bos mereka begitu gelap dan penuh kemarahan. Tidak mau asbak di hadapan Bos itu melesat ke kepala mereka, dua pria itu bergegas melaksanakan perintah tanpa bertanya lebih jauh.
Sementara Marco kembali duduk, menarik map di atas meja, ia pastikan laporan yang di kirim anak buahnya yang bertugas di lapangan tidak mengecewakan. Namun, kali ini ia tidak bisa fokus, pikirannya melayang jauh, membayangkan dirinya yang sudah seusia ini mengenakan sarung setelah khitan.
Tepat pukul sembilan malam, muncul tiga orang pria dan berdiri di belakang Marco.
"Selamat malam..."
...~Bersambung~...
sbar dong Marco dia itu GK mudah percaya ma orang tau yass itu orang nya hati2 percaya ma orang..
hadeh siapa tuh cewe jangan jangan yang nyari marco lagi😌
entah lah hanya emak yg tau