NovelToon NovelToon
Office Crush

Office Crush

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:241.4k
Nilai: 4.9
Nama Author: Scarlettema

Zidan Arkan, seorang CFO muda yang selama ini selalu mendapatkan perhatian dari banyak orang terutama kaum hawa, merasa harga dirinya terluka saat ada satu orang perempuan yang selalu mengabaikannya sejak hari pertama pertemuan mereka. Zidan berencana untuk membuat perempuan itu jatuh ke dalam pelukannya. Tapi Lalita, nama perempuan itu, baru saja bercerai dari mantan suaminya dan sedang tak ingin membuka hatinya untuk laki-laki lain yang kemungkinan besar akan menyakitinya sama seperti mantan suaminya. Berhasilkah rencana Zidan? Akankah Lalita jatuh ke dalam pelukan Zidan? Atau malah Zidan yang bertekuk lutut dihadapan Lalita?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scarlettema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 34

"Pagi, Dina." Zidan menyapa Dina saat tiba di kantornya jam delapan pagi, dia berhenti di depan meja Dina sambil tersenyum lebar.

"Pagi, Pak Zidan. Sepertinya lagi bahagia nih, Pak. Ceria amat pagi ini."

"Iya, berkat masukan dari kamu kemarin." Zidan masih belum berhenti tersenyum.

"Syukurlah kalau masukan dari saya bisa membantu Bapak." Dina memancing Zidan untuk mengelak, tapi ternyata laki-laki yang dimabuk cinta itu malah tersenyum terus. Dina jadi semakin yakin seratus persen kalau yang kemarin menjadi bahan diskusi itu sebenarnya adalah dirinya sendiri bukan temannya.

"Btw, yang bikin Bapak tersenyum terus sudah ada di dalam tuh."

"Hah? Siapa?" Zidan bingung, senyumnya menghilang. Lalita? Apakah Dina tahu kalau dia mencintai Lalita?

"Siapa lagi? Jangan pikir saya tidak tahu ya, Pak. Bapak so sweet juga ya ternyata." Dina semakin menggoda Zidan.

Hm, sepertinya Dina memang tahu. Mungkin dia pernah mendengar pembicaraanku dengan Mario, atau pernah menangkap vibe yang terlihat saat dia sedang bersama Lalita. 

Tapi tadi Lalita kan ada di apartemennya waktu dia berangkat ke kantor?

Hm, jangan-jangan Lalita mau kasih surprise nih ke aku. Makanya tadi dia minta tolong padaku untuk pergi ke apartemennya sebentar dan memanaskan mesin mobilnya yang selama ini terparkir manis di tempat parkir basement apartemennya. Sebelumnya Zidan berpikir Lalita ini perempuan yang peduli untuk merawat mesin mobilnya, ternyata ada maksud lain dibaliknya. Ah, dia memang benar-benar manis. Senyumnya kembali mengembang.

"Ssttt... Jangan bilang siapa-siapa ya, ini rahasia." Zidan langsung meninggalkan Dina dan berjalan menuju ke dalam ruangannya. "Dan jangan ada yang masuk sampai dia keluar."

Dina hanya bisa terdiam, mau menjawab kalau itu sudah bukan lagi rahasia, tapi Zidan sudah keburu masuk ke dalam ruangannya dan menutup rapat pintunya. Dina tak bisa berbuat apa-apa atas hal ini.

"Selamat pagi, sayang. Sepertinya kamu sudah merindukanku," ucap Zidan dengan semangat saat memasuki ruangannya, dilihatnya kursi kebesarannya membelakangi pintu, sepertinya ada orang yang duduk di atas kursi tersebut dan sedang mengamati pemandangan di luar jendela, atau sebenarnya hanya ingin menambah kesan dramatis dalam surprisenya pagi ini.

"Pagi, sayang. Kamu semangat sekali pagi ini, sepertinya bukan aku saja yang tidak sabar ingin segera bertemu denganmu. Dan kamu benar, aku memang sudah merindukanmu." Perempuan yang duduk di atas kursi Zidan memutar balik kursinya menghadap ke Zidan saat ini.

Glek. Zidan menelan ludah saat melihat perempuan itu.

"Clara. Apa yang kamu lakukan di sini sepagi ini?" Zidan sambil berusaha mengontrol nada bicaranya.

Clara bangkit dari kursi lalu berjalan mendekati Zidan. "Aku senang ternyata perasaanku tidak bertepuk sebelah tangan. Sejak semalam aku tidak bisa tidur, kepikiran kamu terus. Makanya pagi ini buru-buru ke sini untuk bertemu kamu lagi." Clara mendekat dan kemudian memeluk Zidan.

"Clara, sudah kubilang jangan seperti ini di kantor. Nanti kalau ada yang melihat bagaimana?" Zidan berusaha melepaskan pelukan Clara dengan sopan.

"Tapi kamu menutup pintunya agar kita bisa melakukan hal seperti ini, kan?" Clara kembali mengeratkan pelukannya.

Kacau. Bagaimana ini? Aku sama sekali tak menduga kedatangan Clara. Kupikir tadi Lalita. Dan apa katanya tadi? Perasaannya nggak bertepuk sebelah tangan? Apa dia menyukaiku? Dari gelagatnya sih sepertinya begitu. Tapi, apa dia berpikir kalau aku juga menyukainya? No. This is not happening, not after the sweet confession this morning.

"Bukan, tadi tidak sengaja tertutup, aku tidak berniat menutup pintunya. Akan kubuka lagi." Zidan berusaha melepaskan dirinya lagi dari pelukan Clara.

"Jangan," Clara mendongakkan kepalanya hingga kini wajahnya cukup dekat dengan wajah Zidan.

"Aku senang kamu memanggilku 'sayang'." Clara sedikit berjinjit dan berusaha mencium bibir Zidan.

"Maaf, aku tadi salah bicara. Kupikir orang lain." Zidan mundur dan menjauh dari Clara, lalu membuka pintu ruangannya.

"Bukankah kamu masih single?"

"Aku baru saja mulai menjalin hubungan dengan seseorang." Zidan berusaha menahan senyumnya. Lalita tadi sudah mengatakan kalau dia juga mencintaiku, kan? Apa itu berarti hari ini aku sudah jadian dengan Lalita? Zidan tersenyum sendiri hanya dengan memikirkannya saja.

"Kamu senyum-senyum sendiri seperti orang gila," ucapan Clara merusak bayangan indah Lalita di otak Zidan.

"Kamu orang kedua yang mengatakan aku gila pagi ini." Tuh kan, aku jadi teringat Lalita lagi. Tadi pagi dia juga mengataiku gila.

"Baiklah kalau begitu aku akan pergi." Clara yang merasa kecewa karena penolakan Zidan mengambil tasnya, tas milik Lalita yang dibawanya kemarin, lalu pergi meninggalkan ruangan Zidan tanpa melihat ke arah Zidan sama sekali.

Siangnya Zidan dipanggil Mr. Jarvis ke ruangannya. Dia sudah berpikir buruk, jangan-jangan ada hubungannya dengan penolakannya terhadap Clara tadi pagi. Tapi ternyata tidak. Mr. Jarvis memanggilnya untuk mendiskusikan tentang financial budget tahun depan. Dan dari pembicaraannya, sepertinya Clara tidak menceritakan apapun kepada papanya, kecuali kalau Mr. Jarvis memang sangat profesional sehingga tidak merasa perlu untuk membahas masalah itu di kantor.

"Zidan, akhir bulan ini ada gathering perusahaan. Apa kamu sudah punya pasangan untuk dikenalkan pada kami?" Mr. Jarvis bertanya setelah selesai berdiskusi dengan Zidan.

"Ehm, tidak ada, Pak. Saya terlalu sibuk bekerja. Bagaimana mungkin saya bisa mendapatkan pasangan kalau waktu untuk mencarinya saja tidak ada." Zidan menjawabnya santai sambil membereskan dokumen-dokumen yang digunakannya sebagai referensi diskusi dengan Mr. Jarvis sebelumnya.

Zidan tidak akan mau mengekspos hubungannya dengan Lalita di kantor. Hal itu tidak akan baik untuk hubungan mereka, terutama untuk Lalita. Kalau Zidan sih bakalan cuek saja dengan berita apapun yang menerpanya. Tapi dia memikirkan Lalita, menurutnya perempuan itu sebenarnya cukup rapuh walau casing luarnya sangat keras.

***

"Hei, Sayang, masak apa?" 

Lalita terkejut karena tiba-tiba saja Zidan sudah berada dibelakangnya dan memeluknya dengan erat. Dengan santai dia meletakkan kepalanya di atas bahu kanan Lalita.

"Bikin kaget aja, sih." Untung saja Lalita tidak melemparkan spatula bergagang panjang yang sedang digunakan untuk memasak daging steak.

"Kamu asyik banget masaknya, sampai tidak mendengar kedatanganku. Lagi mikirin apa, sih?" Zidan menghirup dan menikmati aroma tubuh Lalita dilehernya.

"Tidak ada."

"Jangan bohong. Aku sudah datang dari tadi dan melihatmu masak sambil melamun."

Lalita mematikan kompornya lalu memutar badannya menghadap Zidan.

"Aku bosan di apartemen terus. Aku akan masuk kerja besok."

"Besok ada hal yang harus kamu kerjakan. Kamu masuk kerja lusa saja, sesuai dengan surat keterangan sakit dari dokter yang sudah aku berikan ke HRD."

"Memangnya apa yang harus aku kerjakan besok?"

"Nanti kuberi tahu, setelah makan malam." Zidan tersenyum misterius.

"Baiklah, kamu mandi dulu. Aku akan segera menyiapkan makan malamnya." 

Zidan mencuri ciuman kilat dari bibir Lalita sebelum akhirnya masuk ke dalam kamarnya untuk mandi.

Setelah makan malam, Zidan memasangkan sebuah dasi untuk menutup mata Lalita.

"Ini apaan, sih? Pakai tutup mata segala." Lalita mengeluh, dia tidak menyukai kegelapan yang dihasilkan dasi tersebut setelah menutup matanya.

"Calm down, dear. I have a surprise for you." Zidan mengeratkan ikat dasi yang menutup mata Lalita.

Zidan lalu menggandeng tangan Lalita dan menuntunnya keluar dari apartemen.

"Eh, kok pakai keluar dari apartemen. Kita mau kemana?"

"Sudahlah, kamu percaya saja sama aku. Sebentar lagi kita sampai." Zidan berusaha menenangkan Lalita.

Tidak lama kemudian terdengar suara pintu lainnya terbuka.

"Are you ready?" tanya Zidan, dia sudah berhenti menuntun langkah Lalita, dan kini membetulkan posisi berdiri Lalita agar tepat menghadap ke surprise yang sudah dia siapkan sebelumnya.

Lalita mengangguk, lalu Zidan melepaskan dasi yang menutup kedua matanya. Setelah matanya terbuka, Lalita melihat kalau dia berada di sebuah ruangan apartemen. Dengan sekilas pandang Lalita bisa melihat bahwa apartemen ini mirip dengan apartemen Zidan, tapi dengan interior yang berbeda. Lalita melihat di sisi kanan ada pintu untuk ke kamar utama, kalau terus ke belakang ada ruang tengah, ruang makan dan dapur, dari sana kalau ke arah kiri akan ada dua ruang tidur tamu dan satu kamar mandi. Persis dengan apartemen Zidan hanya saja apartemen yang ini tampak lebih soft interiornya.

"Apa maksudnya ini?" Lalita sudah berputar dan melihat ke seisi ruangan tapi tak menemukan surprise apa yang dimaksud Zidan.

"Aku menyewa apartemen ini untukmu. Mulai sekarang, kamu tinggal di sini." Zidan berdiri bersandar di pintu apartemen dengan tulisan 702 yang saat ini terbuka dan dari bahunya Lalita bisa melihat pintu apartemen Zidan dengan tulisan 701 yang saat ini tertutup, yang menunjukkan bahwa apartemen ini berada tepat di depan apartemen Zidan.

"WHAT?!"

1
Jhonson Tjahyadi
Mr Zudan gentle and brave,,it's oke,,,
Dewie Qii
Luar biasa
Sri Widayati
😓😭
Sri Widayati
Luar biasa
Adji Purwanto
bagus ceritanya...
Ali Amril
kalau ada masalah baiknya dibicarakan dengan baik"jangan ambil kesimpulan seadidi belum tentu yg dilihat dan yg didengar sesuai kenyataan yg terjadi
Lusyana Dewi
upnya lamaaa niyy...ayoo author...semangat
Del
Tim Zidan Lalita fix❤️🤭😂
Nurus Saada Smti
aku lebih suka Lalita bersama Andrew...
Nur Hasmalawati
Aku juga lebih suka zidan sama lalita, ga tau knp, klo sama andrew kaya kurang greget gtu .. 😂😂😂
qiqiel
aku tim zidan 😁
Vina Aryaduta
akhirnya...
semangat Thor,,aku selalu nunggu updatean mu
Vie Triean Liee
ampun deh, direbutin 3 cowok itu gmnaaaaa
Del
please Zidan dong yg sama Lalita, mereka kan belum ada kata putus
yu sisca
mumet, mumet dah lalita
qiqiel
aku memilih zidan 😁
vetty christiandi
wow...wow..wow....

Lalitaaa apa rasanya diperhatiin 3 cowok gitu ? tell me please
vetty christiandi
thor aku maunya lalita sm zidan.

andrew cariin cwk lain yg baik yaaa yaa yaaa
yu sisca
berharap lalita sama zidan tapi kok kasian sama andrew
Novie Juliandini
ayo thor semangat lanjutkan...aq selalu menanti karyamu...😘
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!