Takdir adalah segala sesuatu yang telah ditetapkan oleh Sang Maha Kuasa kepada kita. Baik itu kematian, jodoh, musibah, kaya atau miskin dan lain sebagainya.
Namun dalam kehidupan seorang pengusaha muda yang sukses dan berlimpah harta, sebut saja namanya Ricky Aditya Grisham. Baginya menjalani hidup adalah menentukan sebuah pilihan. Takdir hanyalah hasil akhir dari kecermatan saat menentukan pilihan.
Ia pernah menyalahkan takdir yang tidak mewujudkan keinginannya. Ia lebih memilih untuk mewujudkannya sendiri dari pada harus menunggu.
Namun ia tersadar saat ia mulai bisa membuka hatinya dan perlahan hatinya mencair saat tanpa sadar ia telah jatuh cinta kepada seorang gadis konyol yang dijodohkan oleh kakeknya.
Bertemu dengannya adalah sebuah takdir. Menjadi temannya adalah pilihan, tapi jatuh cinta dengannya itu diluar kendalinya.
Arabella Azalea Malik adalah gadis cantik dengan kehidupan yang sangat sederhana yang telah mampu meluluhkan hati seorang Ricky Aditya Grisham.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon intanpermata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34 Kopi Yang Tertukar
Ricky menceritakan semuanya kepada Leo tentang kejadian saat Bella kabur sampai Bella hampir dibawa oleh beberapa brandalan dan harus dirawat dirumah sakit.
"Puff..bhahaha!" Leo pun tak bisa menahan tawanya dan ia tertawa terbahak-bahak setelah mendengar cerita dari Ricky.
Ricky berdecak kesal dan melirik sinis kearah Leo.
Bella tiba-tiba keluar dari kamar dan melihat ke arah suara yang terdengar berisik hingga mmebuatnya terbangun dari tidurnya.
"Eh, ada Tuan Leo, kapan datang?" Tanya Bella menyapa Leo yang sudah terlihat duduk disofa bersama Ricky.
Leo dan Ricky menoleh bersama dan melihat Bella. Leo bangkit dan berdiri membalas sapaan Bella.
"Hai nona manis! aku datang sudah lebih dari setengah jam yang lalu! maaf kalau suaraku terlalu berisik dan membuatmu terbangun!" Ucap Leo sambil tersenyum manis kepada Bella.
Leo tiba dibandara tadi kurang lebih jam sembilan malam. Jadi saat ia sampai diapartemen Ricky, Bella sudah tertidur dan tidak tau kalau Leo akan datang, karena Ricky memang tidak pernah memberitahunya.
"Oh tidak masalah dan tidak perlu meminta maaf! apa mau minum sesuatu? biar aku buatkan!" Tanya Bella dengan ramah.
"Wah, kebetulan sekali..aku mau kopi!" Jawab Leo dengan cepat.
"Dasar!! tunangannya sendiri saja tidak pernah ditawari dan dibuatkan minum!!" Gerutu Ricky dengan pelan.
"Puff..buahahaha! ada yang merasa jealous rupanya." Leo pun kembali menertawakan Ricky.
Bella hanya diam memperhatikan dua pria tampan yang satu begitu humoris dan yang satunya lagi begitu dingin seperti gunung es.
Bella masih berdiri diam melihat dua pria didepannya yang sedang becanda seperti anak kecil.
"Tertawalah sepuasmu, setelah ini keluar dari sini!!" Ucap Ricky dengan menatap geram Leo membuat Leo seketika menghentikan tawanya.
"Ricky, jangan kejam kepadaku seperti ini! aku jauh-jauh menyusulmu kesini atas perintahmu dan sekarang kamu ingin mengusirku begitu saja?" Ucap Leo sambil menoleh kearah Ricky dengan wajah pilu.
"Emm..maaf, apa kopinya jadi?" Tanya Bella sedikit berteriak karena ia berdiri didepan kamarnya.
"Oh iya jadi dong! tolong buatkan juga untuk calon suamimu ini ya nona manis! ingat ya, jangan kamu beri gula untuknya!" Jawab Leo dengan melebarkan senyum dan melirik kearah Ricky sekilas.
Bella menjawab dengan menganggukan kepalanya lalu berjalan kearah dapur. Ia memasak air dengan panci kecil, setelah mendidih ia menuangkannya kedalam dua cangkir yang sudah ia beri kopi. Yang satu ia beri gula dan yang satunya tidak ia beri gula.
"Apa enaknya kopi tanpa gula? pasti sangat pahit sekali kan?" Gumam Bella sambil mengaduk salah satu kopi yang telah ia beri gula.
Bella menaruh dua cangkir kopi itu diatas nampan. Ia juga menata tiga toples kecil berisi cemilan diatas nampan kemudian mengantarkan ke ruang tengah.
"Ini, silahkan Tuan Leo kopi anda, ini juga ada cemilan, dan ini untukmu kopi tanpa gula!" Ucap Bella dengan sopan sambil menaruh tiga toples berisi cemilan dan dua cangkir kopi secara bergantian diatas meja depan mereka.
"Terimakasih banyak nona manis, dan jangan memanggilku Tuan, aku bukanlah Tuan mu, mengerti!" Jawab Leo sambil tersenyum.
"Baiklah! kalau begitu aku kekamar dulu!" Ucap Bella dengan senyum manisnya kemudian beranjak masuk kekamarnya kembali.
Ricky sedang fokus dengan laptopnya sehingga tidak memperdulikan pembicaraan antara Bella dengan Leo.
"BUEHH!! pahit sekali kopi ini!!" Leo melepeh kopi yang baru saja ia cecap sambil menjulurkan lidahnya karena merasakan kopinya yang begitu pahit dilidahnya.
Sontak Ricky menoleh kearahnya. "Buff..bhahaha!" Ricky pun menertawakan Leo yang melet-melet karena merasakan kopinya yang pahit.
"Hah?? kamu tertawa??" Tanya Leo sambil melongo menatap Ricky yang menertawainya.
Ricky berdehem dan terdiam lalu kembali fokus dengan laptopnya, mengabaikan ucapan Leo.
"Ini moment yang sangat langka! aku melihat patung es tertawa! ini semua berkat nona manis itu!" Ucap Leo sambil menepuk-nepuk pundak Ricky dengan sumringah, namun Ricky tidak menghiraukannya. Pandangannya tetap fokus pada laptopnya.
Ricky memang tidak pernah tertawa seperti itu selama ini. Jangankan tertawa, untuk senyum saja ia begitu pelit menurut para sahabat dan semua teman-temannya yang dekat dengannya.
Ricky kemudian meraih cangkir kopi yang ada disebelah laptopnya dan mencecapnya.
Ia mengernyitkan keningnya saat mencecap kopinya itu lalu menyodorkan ke Leo.
"Kenapa?" Tanya Leo yang bingung disodori cangkir kopi oleh Ricky.
"Sepertinya ini kopi milikmu!" Jawab Ricky dengan santai.
Leo pun menerima kopi milik Ricky dan mencecapnya.
"Hmm..benar saja, ini baru kopi milikku!" Ucap Leo setelah mencecap kopi yang disodorkan oleh Ricky dan meminumnya sedikit demi sedikit hinga kopi itu habis.
"Kopinya sangat pas dan enak! dia memang pandai membuatnya, benar-benar calon istri idaman!" Lanjut Leo sambil menatap membuat mencebikan bibirnya Ricky dan melirik sinis kepadanya.
Hari semakin larut, Ricky masih saja berkutat dengan laptopnya. Leo merasa sangat mengantuk dan lelah karena belum beristirahat sejak berangkat menyusul Ricky.
Ia pun pamit untuk kekamarnya dilantai dua untuk beristirahat sambil membawa kopernya.