Yumna tiba-tiba saja diculik oleh seseorang yang ternyata adalah kakak dari sahabat baiknya sendiri. Yumna lantas dikurung di villa milik Zayn, kakak dari sahabat baik Yumna, Zunia, yang baru saja meninggal karena sebuah kecelakaan mobil. Dan kenyataan bahwa ternyata Zayn sudah resmi menikahi Yumna membuat Yumna sangat syok.
Apa yang sebenarnya sudah terjadi? Kenapa Zayn ( kakak Zunia ) sampai menculik dan mengurung Yumna, bahkan sampai menikahi Yumna secara paksa? Dan ada rahasia apa sebenarnya dibalik kecelakaan yang sudah menewaskan Zunia itu?
Bahkan rahasia dari identitas Yumna yang sesungguhnya pun akhirnya diungkap secara mengejutkan oleh Zayn. Bagaimana Yumna menjalani takdir hidupnya yang tiba-tiba berubah drastis ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iin Nuryati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Penculikan
Mobil milik Yusuf berhenti di dekat pintu area pemakaman saat ini. Yusuf dan Yumna pun kemudian turun dari mobil tersebut.
"Seriusan Dek kamu berani sendiri aja? Biar kakak temenin, ya?" bujuk Yusuf ketika sudah berdiri di sebelah Yumna.
"Nggak perlu, Kak. Aku berani kok. Lagian masih pagi gini juga, apa sih yang mau ditakutin," tolak Yumna.
"Hmh, iya juga sih. Tapi kenapa kamu nggak bareng sama Wanda sama Vio aja sih, Dek?" tanya Yusuf lagi, masih terdengar khawatir.
"Hehe, enggak Kak, lagi pengen sendirian aja. Tiba-tiba semalem aku mimpiin Nia, terus habis itu aku jadi kangen banget deh sama Nia. Kangen saat kita berdua sering curhat bareng seperti dulu. Makanya ini aku pengen ziarah ke sini sendirian aja, mumpung nggak ada kelas juga," jawab Yumna, menjelaskan.
"Hmh, ya udah deh kalau gitu. Kamu hati-hati, ya. Nanti pulang kalau udah sampai rumah jangan lupa kabarin kakak, oke," pesan Yusuf seraya mengusap kepala Yumna dengan lembut.
"Iya, Kak," balas Yumna dengan tersenyum.
"Kakak berangkat ke kantor sekarang, ya. Jangan lupa pesen kakak tadi," pamit Yusuf.
"Iya Kak, iya," balas Yumna lagi, menekankan.
Yusuf tertawa kecil. Yusuf kemudian mencubit pelan hidung Yumna.
"Habisnya kamu itu selalu bikin kakak khawatir sih," kata Yusuf.
"Khawatir kenapa coba? Aku kan udah gede loh Kak, udah bisa jaga diri sendiri," ucap Yumna.
"Hmm, iya deh, iya," balas Yusuf pada akhirnya.
Kembali Yusuf mengusap kepala Yumna dengan penuh sayang seraya tersenyum lembut.
"Kakak berangkat, ya. Assalamu'alaikum, Dek," salam Yusuf.
"Wa'alaikumsalam. Kakak juga hati-hati ya bawa mobilnya," jawab salam Yumna sekaligus berpesan kepada Yusuf juga.
"Pasti, Dek," balas Yusuf.
Yusuf kemudian kembali masuk ke dalam mobilnya. Dan ketika mobil Yusuf mulai berjalan meninggalkan area pintu pemakaman, Yumna pun lalu melambaikan tangannya kepada Yusuf seraya tersenyum kepada kakaknya itu.
Setelah mobil Yusuf pergi, Yumna kemudian berbalik dan melangkah masuk ke dalam area pemakaman, hendak berziarah ke makam sahabat baiknya, Zunia. Tidak lupa juga Yumna membawakan satu buket kecil bunga lily putih, bunga favorit Yumna dan juga almarhumah Zunia semasa hidupnya dulu.
Dan ternyata, tanpa sepengetahuan Yumna dan Yusuf, sedari tadi Zayn dan Dennis terus memperhatikan interaksi antara kedua kakak beradik itu dari dalam mobil Zayn yang saat ini sedang terparkir di seberang jalan dari pintu area pemakaman tersebut.
Entah sebuah kebetulan atau memang takdir, pagi ini tiba-tiba saja Zayn merasa sangat merindukan almarhumah adiknya, Zunia, dan hendak mampir berziarah ke makam Zunia sebelum dirinya berangkat ke kantor. Dan sebuah kebetulan yang tidak terduga, ketika Zayn dan Dennis tiba di dekat pintu area pemakaman, mereka berdua melihat Yusuf yang sedang berbicara dengan Yumna.
Kedua tangan Zayn terkepal erat melihat bagaimana Yusuf bisa tersenyum lembut kepada Yumna dan nampak begitu menyayangi gadis yang sekarang berstatus sebagai adiknya itu. Sangat berbanding terbalik dengan kesedihan yang dirasakan oleh adik perempuannya, Zunia, karena perbuatan tidak bertanggung jawab dan sikap pengecut dari Yusuf. Bahkan sampai akhirnya Zunia meninggal dunia karena mengalami kecelakaan mobil sesaat setelah bertemu berdua dengan Yusuf.
Amarah Zayn seketika langsung tersulut. Zayn benar-benar tidak bisa menerima perlakuan tidak adil yang diberikan oleh Yusuf kepada adik perempuannya, Zunia.
"Den, Lo turun dari mobil sekarang dan culik gadis itu," perintah Zayn tiba-tiba kepada Dennis.
"What???" kaget Dennis. "Zayn Lo bercanda kan?" tanya Dennis merasa terkejut dan tidak percaya.
"Lo tau gue nggak pernah bercanda, Den," jawab Zayn tegas.
"Tapi Zayn ---"
"Dennis, Lo turun dan culik gadis itu atau gue tembak kepala gadis itu sekarang juga," potong Zayn dengan emosi.
"Zayn," seru Dennis. "Hmh, iya deh, iya. Oke, gue turun sekarang," lanjut Dennis yang pada akhirnya mengalah pada keinginan sahabat baik sekaligus atasannya itu.
Dennis tau benar bagaimana sifat Zayn. Zayn selalu serius dengan apa yang sudah dia ucapkan. Dan Dennis juga tau pasti kalau di dalam mobilnya ini Zayn menyimpan sebuah pistol, untuk berjaga-jaga seandainya ada hal yang tidak diinginkan dan diluar dugaan terjadi sewaktu-waktu.
Membuang nafasnya kasar, Dennis pun kemudian mengeluarkan sapu tangannya. Dennis mengambil sebotol kecil obat dari dalam dashboard mobil lalu meneteskan beberapa tetes cairan obat tersebut ke atas sapu tangannya.
"Tinggalkan HP gadis itu di dekat makam Zunia," perintah Zayn lagi.
"For what?" tanya Dennis kebingungan.
"Biar laki-laki brengsek itu semakin merasa bersalah," jawab Zayn.
Kembali Dennis membuang nafasnya kasar.
"Hmh, oke," balas Dennis.
Dennis pun kemudian turun dari dalam mobil dan berjalan memasuki area pemakaman.
🌿🌿🌿
"Assalamu'alaikum, Nia," sapa Yumna begitu sampai di samping makam Zunia.
Yumna kemudian berjongkok di sebelah makam sahabat baiknya itu.
"Aku bawain bunga favorit kita berdua buat kamu, Nia. Bunga lily putih. Semoga kamu suka, ya," kata Yumna, seakan mengajak berbicara kepada Zunia.
Yumna meletakkan buket kecil bunga lily putih itu di depan nisan Zunia. Yumna juga mengusap dengan lembut nisan bertuliskan nama sahabat baiknya itu. Yumna kemudian menengadahkan kedua tangannya dan berdo'a untuk almarhumah Zunia. Beberapa saat kemudian, setelah Yumna selesai dengan do'anya, Yumna pun lalu mengusap wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya tersebut.
"Nia, kenapa kamu harus pergi secepat ini? Kenapa kamu meninggalkan kami semua seperti ini, Nia?" tanya Yumna, seolah-olah kembali mengajak berbicara Zunia.
Kedua mata indah Yumna sudah berkaca-kaca saat ini.
"Aku kangen banget sama kamu, Nia. Aku kangen bisa curhat dan berbagi cerita juga rahasia sama kamu kayak dulu lagi, hiks hiks," ucap Yumna dengan air mata yang sudah mengalir membasahi kedua pipinya.
"Kenapa kamu harus pergi secepat ini, Nia? Hiks, dan kenapa harus dengan cara seperti ini? Hiks hiks. Kenapa kamu ninggalin kami semua seperti ini, Nia," lanjut Yumna lagi, terdengar begitu pilu dan menyayat hati.
Yumna yang sedang menangis sesenggukan di samping makam Zunia itu tidak menyadari kehadiran seseorang di belakangnya. Ya, itu adalah Dennis.
Sempat merasa iba ketika mendengar semua perkataan dari Yumna tadi, tetapi akhirnya Dennis pun kemudian tetap melanjutkan tugas yang sudah diberikan oleh Zayn kepada dirinya. Secepat kilat Dennis membekap mulut Yumna dari belakang menggunakan sapu tangan yang sudah dia tetesi dengan obat bius tadi.
Yumna yang terkejut sempat memberontak kecil. Tetapi beberapa saat kemudian Yumna pun akhirnya melemah dan kehilangan kesadarannya.
"Maafin aku, Yumna," lirih Dennis.
Sesuai perintah dari Zayn tadi, Dennis lalu mengambil ponsel Yumna dari dalam tas selempangnya dan meletakkan ponsel milik Yumna tersebut di sebelah makam Zunia. Dennis pun kemudian mengangkat tubuh Yumna dan membawanya untuk kembali ke mobil milik Zayn yang saat ini masih terparkir di seberang jalan di depan pintu area pemakaman tersebut.