Aku bertahan di rumah ini karena aku mencintaimu, Ardi. Tapi mulai malam ini, demi harga diriku, jangan harap aku akan diam saja saat keluargamu menginjak-injakku lagi."
Selama lima tahun, Sarah adalah menantu yang tak dianggap. Dia penurut, pendiam, dan selalu mengalah. Namun, ketika cinta dibalas dengan pengkhianatan ego, Sarah memutuskan untuk melawan. Ini bukan cerita tentang istri lemah yang menangis meratapi nasib, melainkan kisah Sarah yang mulai menuntut balik harga dirinya di dalam rumah tangga yang penuh tekanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irmayani Mursid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Retakan di Balik pintu
Malam baru saja turun ketika Ardi menghentikan mobilnya di pelataran rumah. Senyum puas masih terukir jelas di wajahnya. Hari ini melelahkan, namun sangat memuaskan. Bayangan tubuh Tyas yang menggelayut manja di apartemen baru mereka tadi sore membuat ego kelaki-lakiannya berada di puncak tertinggi.
Namun, begitu Ardi melangkah mendekati pintu depan, dahinya langsung berkerut. Alunan musik klasik yang biasa menyambut kepulangannya kini digantikan oleh suara pekikan melengking yang sangat dia kenali. Itu suara mamanya, Widya, dan kakak perempuannya, Rika.
Ardi mempercepat langkah dan mendorong pintu. Pemandangan di ruang tengah langsung menyambutnya. Di sana, Widya berdiri dengan berkacak pinggang, wajahnya merah padam menahan geram. Di sampingnya, Rika sibuk mengompori sambil melipat tangan di dada. Sementara Sarah berdiri beberapa langkah di depan mereka, menatap sang mertua dan kakak iparnya dengan ekspresi wajah yang teramat lempeng—dingin, tanpa rasa takut, dan tanpa beban.
Di atas meja makan, tidak ada tudung saji yang terisi. Semuanya kosong melongpong. Rumah pun tampak sedikit berdebu, tidak serapi biasanya.
"Ada apa ini? Kok malam-malam ribut begini?" tanya Ardi dengan nada jengkel, melepas jasnya kasar.
Widya langsung menoleh. Begitu melihat anak laki-laki kebanggaannya pulang, wanita paruh baya itu langsung menghampiri Ardi dan menarik lengannya, mengadu dengan suara histeris.
"Ardi! Kamu lihat kelakuan istri ini!" pekik Widya, telunjuknya mengarah tepat ke hidung Sarah. "Mama sama Rika dari siang belum makan, perut kami lapar. Tapi apa? Meja makan kosong! Satu butir nasi pun tidak ada di dapur! Rumah berantakan, baju kotor belum dicuci! Seharian dia cuma mendekam di kamar, mengabaikan semua pekerjaan rumah. Istri macam apa dia ini?!"
Rika ikut menimpali dengan nada sinis, "Iya, Di! Harusnya kamu itu didik istrimu dengan benar. Sudah untung dia dinikahi pria sukses kayak kamu, kok malah malas-malasan begini? Ditanya baik-baik malah jawabnya ketus!"Ardi langsung melemparkan tatapan tajam dan penuh tuntutan kepada Sarah. Kekesalannya yang sempat hilang kini kembali tersulut.
"Sarah! Apa-apaan ini? Benar yang dikatakan Mama dan Mbak Rika? Kenapa kamu malas-malasan begini? Tugasmu itu mengurus rumah dan melayani suami beserta keluarga, bukan tidur-tiduran!"
Sarah tidak langsung menjawab. Dia menatap Ardi, lalu beralih ke Widya dan Rika. Tidak ada lagi binar ketakutan atau rasa bersalah di matanya seperti hari-hari lalu.
Sarah justru menarik napas pendek dengan santai."Aku tidak tidur-tiduran, Mas. Aku hanya sedang lelah," jawab Sarah datar, suaranya terdengar sangat tenang namun sarat akan penekanan.
"Lelah? Lelah kenapa?!" semprot Widya tidak terima. "Kamu itu cuma diam di rumah! Tidak kerja kantoran seperti Ardi! Apa susahnya cuma masak dan bersih-bersih? Jangan manja jadi wanita!"Sarah tersenyum tipis sebuah senyuman sinis yang membuat Ardi mendadak merasa tidak nyaman. Ada aura yang berbeda dari istrinya malam ini.
"Iya, Ma, Mbak Rika... aku memang tidak bekerja kantoran seperti Mas Ardi," ucap Sarah, matanya mengunci pandangan Ardi yang mulai tampak salah tingkah.
"Tapi mengurus pikiran ternyata jauh lebih menguras energi daripada sekadar memasak semur daging."Sarah berjalan mendekat ke arah meja makan yang kosong, mengusap permukaannya dengan ujung jari. "Lagipula, Mas Ardi kan pria yang sangat sukses. Pengusaha hebat yang banyak uang. Membeli apartemen mewah di pusat kota saja perkara kecil, kan?"
Jantung Ardi rasanya seperti berhenti berdetak sedetik. Kalimat terakhir Sarah menghantam dadanya seperti palu godam. Apartemen mewah di pusat kota? Bagaimana Sarah bisa tahu? Apakah istrinya curiga? Ardi mulai berkeringat dingin, buru-buru memeriksa ekspresi wajah Sarah. Namun, wajah wanita itu kembali terlihat lempeng dan biasa saja.
"M-maksudmu apa membawa-bawa soal itu?" tanya Ardi gagap, berusaha keras menyembunyikan getaran di suaranya."Maksudku..."
Sarah menoleh, menatap Ardi, Widya, dan Rika bergantian dengan senyuman manis yang terasa sedingin es. "...pria sehebat Mas Ardi pasti punya banyak uang untuk menyewa koki bintang lima atau membeli restoran sekalian untuk memberi makan Mama dan Mbak Rika malam ini. Jadi, kenapa harus repot-repot meributkan dapur rumah yang kosong?"
"Kamu—" Widya hendak memaki lagi, namun Sarah langsung memotongnya dengan halus.
"Aku permisi ke kamar dulu. Kepalaku mendadak pusing," ucap Sarah tenang. Dia berbalik dan melangkah anggun menaiki tangga, meninggalkan Ardi yang terpaku di tempat dengan wajah pias, serta Widya dan Rika yang masih menggerutu tanpa tahu bahwa badai kehancuran finansial mereka sedang dihitung mundur oleh wanita dasteran yang baru saja mereka telantarkan.