Selama lima tahun, Arka Pradana hidup sebagai suami miskin yang dianggap gagal. Ia bekerja siang malam demi membayar utang keluarga istrinya, Hana. Namun semuanya hancur ketika Arka menemukan kenyataan pahit: Hana dan selingkuhannya diam-diam meracuninya selama bertahun-tahun.
Saat pernikahannya runtuh, sebuah liontin tua justru membangkitkan Warisan Hantala dalam tubuh Arka. Ilmu pengobatan, feng shui, tenaga dalam, dan kemampuan melihat rahasia manusia mengalir ke dalam dirinya.
Dari pelayan klub malam yang diremehkan, Arka berubah menjadi pria berbahaya yang ditakuti dunia bawah Jakarta. Di sisinya muncul Maya Santoso, wanita matang pemilik klub malam; Bianca Lestari, CEO cantik yang dingin dan penuh rahasia; serta wanita-wanita lain yang terseret oleh kekuatan dan pesonanya.
Dulu ia diinjak. Sekarang, siapa pun yang berani mengkhianati, menghina, atau menyentuh orang-orangnya harus siap berlutut di hadapannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Bab 26
Jarum pertama turun.
Wajah pria tua yang semula ungu gelap berubah perlahan. Warna biru di bibirnya surut sedikit demi sedikit, napasnya yang tadi seperti tersangkut di tenggorokan tiba-tiba pecah menjadi tarikan panjang.
Dada pria tua itu naik turun keras.
Ia seperti orang yang baru ditarik dari dasar air. Setelah beberapa kali menghirup udara dengan susah payah, kelopak matanya bergetar dan akhirnya terbuka.
Ruang makan Dapur Lawas Kemang mendadak hening.
Detik berikutnya, kerumunan meledak.
"Bangun! Beneran bangun!"
"Cuma satu jarum? Ini sulap apa gimana?"
"Anak muda itu dokter?"
"Dokter apa? Tadi katanya sopir!"
Ayu masih berlutut di sisi kepala pria tua itu. Tangannya gemetar, tetapi ia tidak berani melepas sebelum Arka memberi isyarat. Pipi kirinya yang merah karena tamparan tampak makin jelas di bawah lampu ruang makan.
Arka mencabut jarum, menyekanya, lalu menyimpannya kembali.
Perempuan gemuk yang tadi paling keras memaki langsung menerobos maju.
"Bapak! Bapak sudah sadar?"
Beberapa anggota keluarga lain ikut mendekat. Mereka yang beberapa menit lalu sibuk menuduh restoran kini berwajah pucat dan kebingungan.
Arka berdiri.
"Beliau serangan jantung akut. Tidak ada hubungannya dengan makanan restoran." Ia menatap Leon. "Sebaiknya tetap dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan lengkap."
Perempuan gemuk itu langsung menoleh, seolah harga dirinya lebih penting daripada napas ayahnya.
"Kamu ngomong apa? Ayah saya sehat! Dia tidak pernah sakit jantung! Jangan asal tuduh untuk membela restoran ini!"
Orang-orang di sekitar langsung berbisik.
Leon menatap perempuan itu dengan wajah makin dingin.
Arka tidak marah. Ia sudah menduga reaksi seperti ini. Kalau ia menyembuhkan sampai tuntas, keluarga seperti itu mungkin akan berbalik berkata pria tua tersebut memang tidak apa-apa sejak awal.
Ia hanya memberi kesempatan hidup, bukan memberi alasan untuk orang buruk merasa paling benar.
Pria tua di lantai menarik ujung baju perempuan gemuk itu.
"Farida..."
Suara itu lemah, tetapi cukup membuat perempuan itu menunduk.
"Pak?"
"Anak muda itu benar." Pria tua itu menarik napas pelan. "Aku memang punya masalah jantung."
Wajah Farida berubah. "Sejak kapan?"
Pria tua itu menatapnya dengan mata lelah.
"Minggu lalu aku bilang dada sering sesak. Aku minta ditemani periksa. Kamu bilang sibuk arisan. Adikmu bilang ada meeting. Yang lain bilang nanti saja."
Farida membeku.
"Akhirnya aku periksa sendiri." Pria tua itu tersenyum pahit. "Dokter sudah bilang harus hati-hati. Aku belum sempat memberi tahu kalian lagi."
Ruang makan kembali hening, tetapi kali ini heningnya berbeda.
Beberapa pengunjung langsung memandang keluarga itu dengan sinis.
"Tadi galak sekali nyalahin restoran."
"Ternyata bapaknya sudah sakit."
"Anak sendiri tidak ngurus, orang lain yang ditampar."
Farida dan saudara-saudaranya menunduk. Wajah mereka merah, putih, lalu merah lagi.
Pria tua itu memandang Arka.
"Nak, terima kasih. Kalau bukan kamu, mungkin aku sudah pergi."
Arka menunjuk Ayu dan Pak Rafi, pemilik restoran yang masih berdiri gelisah di dekat meja kasir.
"Kalau mau berterima kasih, bereskan dulu urusan mereka. Anak Bapak tadi ditampar tanpa alasan, restorannya hampir difitnah."
Pria tua itu langsung menatap Farida.
"Minta maaf."
"Pak..."
"Minta maaf."
Suara pria tua itu masih lemah, tetapi ada wibawa yang membuat Farida tidak berani membantah. Ia berbalik pada Ayu dengan wajah kaku.
"Maaf."
Leon menyela dingin, "Yang benar."
Farida menggertakkan gigi.
Ia membungkuk sedikit. "Maaf. Saya panik dan salah menuduh."
Ayu memegang pipinya, lalu menggeleng pelan. "Tidak apa-apa. Yang penting Bapak selamat."
Pak Rafi menghela napas panjang. Bahunya yang sejak tadi tegang akhirnya turun.
"Sudah, sudah. Orang tua selamat, itu yang penting."
Tidak lama kemudian, sirene ambulans terdengar. Petugas medis masuk membawa tandu. Dengan bantuan Leon, pria tua itu segera dipindahkan. Farida dan keluarganya mengikuti dengan wajah tidak lagi segarang tadi.
Kerumunan bubar perlahan. Beberapa orang masih menatap Arka dengan kagum, sebagian lain sibuk mengirim video pendek ke grup keluarga.
Saat ruang makan kembali agak lengang, Leon menepuk bahu Arka keras-keras.
"Adik ipar, hari ini kamu menyelamatkan dua hal sekaligus. Nyawa orang dan tempat makan favoritku."
Arka meliriknya. "Pak Leon, panggilan itu sepertinya makin lancar."
"Lebih mudah daripada menjelaskan hubunganmu dengan Liana."
Ayu yang sedang merapikan kursi mendengar itu dan menoleh kecil. Matanya sempat bertemu Arka, lalu cepat-cepat turun. Pipi yang tadi merah karena tamparan kini bertambah warna lain.
Arka tersenyum pada Leon.
"Teman?"
Leon berdeham. "Ayu anak Pak Rafi. Aku sering makan di sini. Kami... teman."
"Oh, teman."
Nada Arka sengaja dipanjangkan.
Wajah Leon yang biasanya tegas mendadak aneh. "Apa maksudmu?"
"Tidak ada. Cuma tadi waktu dia ditampar, Pak Leon masuk lebih cepat daripada sirene polisi."
Pak Rafi yang mendengar dari belakang meja langsung tertawa kecil. Ayu menunduk makin dalam, pura-pura sibuk menyusun sendok.
Leon mengusap hidung.
"Kamu setelah jadi adik ipar jadi banyak bicara."
"Saya belajar dari Liana."
"Itu contoh buruk."
Mereka bertiga tertawa. Ketegangan yang sejak tadi menekan restoran akhirnya benar-benar cair.
Pak Rafi mendekat dan menggenggam tangan Arka dengan kedua tangannya.
"Mas Arka, saya tidak tahu harus bilang apa. Kalau tadi Bapak itu meninggal di sini, restoran kecil saya habis."
"Pak Rafi tidak perlu berlebihan."
"Tidak. Ini harus saya balas." Pak Rafi menunjuk meja dekat jendela. "Kalian datang mau makan, kan? Duduk. Saya masakkan yang paling enak. Sop buntut, ayam bakar bumbu rujak, tumis bunga pepaya, semua saya keluarkan."
Leon langsung menyambut, "Nah, itu baru benar. Aku dan Arka memang belum sarapan."
Arka hendak mengikuti, tetapi matanya berhenti di dekat kasir.
Di sisi lemari kaca, ada selembar kertas putih dengan tulisan besar:
`DIJUAL / OVER KONTRAK USAHA`
Di bawahnya ada nomor telepon.
Arka menatap ruangan lebih cermat. Dapur Lawas Kemang sebenarnya punya lokasi bagus. Jalan di depannya ramai, dekat apartemen, dekat kantor kecil, dan suasananya punya rasa rumahan yang sulit dibuat restoran baru. Masalahnya, begitu masuk dari pintu, aliran udara terasa mentok. Meja kasir menghadap langsung ke pintu utama dan menahan rezeki seperti bendungan salah arah. Dapur di belakang juga menekan titik hidup restoran.
Pantas sepi.
"Pak Rafi," kata Arka, "restoran ini mau dilepas?"
Pak Rafi tersenyum pahit.
"Iya. Sudah beberapa bulan rugi. Biaya sewa Kemang tidak main-main. Saya dulu buka ini pakai tabungan dan pinjaman keluarga, niatnya biar Ayu punya pegangan. Tapi yang datang tidak stabil. Hari ramai, besok kosong. Lama-lama kami tidak kuat."
"Minta berapa?"
Pak Rafi tampak ragu. "Kalau over kontrak, peralatan, resep, dan sisa sewa, saya sebenarnya minta Rp450 juta. Tapi kalau ada yang serius dan cepat, Rp400 juta pun saya lepas."
Leon menatap Arka. "Kamu tertarik?"
Arka teringat Yulia yang menunggu di rumah, brosur lowongan kerja di meja, dan masakan sederhana yang membuatnya merasa punya tempat pulang.
"Saya ambil Rp550 juta."
Pak Rafi tertegun. "Mas?"
"Rp550 juta. Tapi ada syarat. Pak Rafi dan Ayu tetap bantu dua bulan. Saya bayar gaji. Setelah itu kalau mau lanjut, saya senang. Kalau mau benar-benar istirahat, silakan."
Ayu mengangkat wajah. "Mas Arka serius?"
"Serius. Saya punya seseorang yang akan mengelola tempat ini. Dia pandai masak, tapi belum pengalaman bisnis. Kalau Pak Rafi dan Ayu membantu transisi, restoran ini bisa hidup lagi."
Pak Rafi memegang ujung meja, seperti takut kabar baik itu akan membuat kakinya lemas.
"Mas, saya minta Rp400 juta saja sudah bersyukur. Kenapa malah lebih?"
"Karena saya tidak cuma membeli barang. Saya membeli pengalaman Pak Rafi, resep, dan dua bulan kepercayaan."
Leon tersenyum. Ia mulai mengerti kenapa Liana bisa tertarik pada laki-laki ini. Arka kadang tampak seenaknya, tetapi ketika mengambil keputusan, tangannya tidak setengah-setengah.
"Pak Rafi," kata Leon, "kalau aku jadi Bapak, aku setuju."
Ayu memandang ayahnya. Ada harap di matanya.
Pak Rafi akhirnya mengangguk, suaranya sedikit serak.
"Baik. Kalau begitu... mulai sekarang, Mas Arka resmi pemilik Dapur Lawas Kemang."
Arka tersenyum.
"Namanya nanti mungkin berubah."
"Terserah Mas."
"Tapi masakannya jangan berubah dulu. Saya lapar."
Pak Rafi tertawa lega, lalu masuk ke dapur dengan langkah jauh lebih ringan daripada sebelumnya.
Leon duduk di meja dekat jendela dan menatap Arka.
"Dari sopir, dokter, ahli feng shui, sekarang pemilik restoran. Adik ipar, hidupmu ramai sekali."
Arka duduk di depannya.
"Baru mulai."