😊Harap berkomentar dengan sopan ya. Karena komentar anda juga mencerminkan karakter anda.
.
.
.
.
Yola, gadis yatim piatu yang menjadi Bridesmaid di pernikahan sahabatnya sendiri yaitu Lisa. Karena sang mempelai wanita kabur bersama pria lain, Yola terpaksa menggantikannya.
Mau tidak mau, dia menjadi istri dari seorang aktor pendatang baru, Alan. Hidup satu atap tanpa rasa cinta harus mereka lalui bersama dalam pernikahan kontrak.
Semakin lama benih cinta mulai tumbuh di hati Yola, tapi tidak untuk Alan yang masih dibayangi perasaan untuk Lisa. Lambat laun Alan mengetahui cinta Yola untuknya, namun dia ragu untuk membalasnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suryani's Yayaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teman Lama
"Buat apa? " tanya Yola.
Ergi tidak menjawab, "kata sandinya apa? " malah bertanya hal lain.
Nih, anak ngapain sih...
Yola bingung, lalu mengambil HP nya kemudian mengetikkan kata sandi.
Terserah deh mau lihat apaan. Di situ nggak ada apa-apa juga.
Lalu diberikannya lagi ke Ergi.
Ergi mengetikkan sesuatu. "Ini aku kasih nomor Ergi. Nanti kalau sewaktu-waktu kakak butuh Ergi, panggil aja." memberikan kembali HP itu kepada pemiliknya.
Yola tersenyum senang. Ergi seperti bukan anak yang berusia sepuluh tahun.
"Siap, bos. Kakak pergi dulu ya. Bye...kamu jaga diri." Yola berlalu dari hadapan Ergi.
"Bye...hati-hati." melambaikan tangan ke Yola.
Kemudian mereka berpisah, tujuannya pun berlawanan arah.
Baru beberapa langkah Ergi berpapasan dengan seseorang laki-laki.
"Eh, kakak."
"Mau kemana? " tanya laki-laki itu.
"Laper...Kakak nggak cepat pulang. Makanya Ergi turun cari makan. Bosen sama makanan di kulkas." jawab Ergi.
Sang laki-laki itu pun tersenyum. Kemudian mengacak rambut Ergi.
Ergi berontak "Ish...kakak tuh ya. Kalau rambut Ergi diacak sehari sekali nggak apa-apa. Ini udah tiga kali loh."
"Lah, hari ini kakak baru satu kali. Siapa yang berani ngacak-ngacak rambut adiknya kakak. Biar kakak kasih pelajaran."
"Jangan! " tolak Ergi sambil senyam senyum. "Soalnya kakak cantik yang ngacak-ngacak rambut Ergi. Hehe"
Laki-laki yang dipanggil Kakak tadi hanya tersenyum melihat tingkah adiknya. "Emang siapa? "
"Tuh..." tunjuk Ergi yang menunjuk punggung Yola. Kemudian hilang dibalik tembok. "Yah, udah pergi jauh ternyata."
Si Kakak tidak melihat orang yang dimaksud Ergi.
"Hmm...ya sudah. Ayo kita cari makanan enak. " ajak Sang Kakak.
"Ayo! " Ergi pun menyambut senang.
Mereka berdua pun pergi dari gedung itu.
.
.
.
Di sebuah cafe.
Yola sedang mencari sosok yang dikenalnya. Tepat di ujung cafe, tampak dua orang sedang bercanda ria.
Yola pun menghampiri mereka berdua. "Hai, Betty, Kak Riri! "
Sedang dua orang yang merasa namanya dipanggil pun menoleh.
Mereka terkejut dengan orang yang berdiri di hadapan mereka. Mencoba mencerna siapa sosok di hadapannya.
Yola tanpa aiueo langsung saja duduk tanpa dipersilahkan.
Karena sikapnya ini dua orang tadi langsung kaget dan serempak...
"Yola?"
Tidak percaya dengan gadis di hadapan mereka.
Yola pun tersenyum dan mengangguk.
"Gila...lu cakep banget sekarang! " teriak Riri masih kaget.
"Selain cantik, rambutnya sekarang panjang. Cepat banget! Emmm...pengen! " Betty memuji manja.
Dia yang dari dulu menyukai rambut panjang, memang harus menerima kenyataan bahwa saat ini rambut Yola lah yang paling bagus diantara mereka.
"Nah, loh. Dulu suka ngebully rambut aku yang cepak. Sekarang tau kan, bagusnya rambutku. Ini kalo casting iklan shampoo, pasti masuk." Yola mulai berbangga diri sambil mengibas-ngibaskan rambutnya.
Dua orang yang tadinya mengagumi penampilan Yola kini bersikap normal.
"Bener sih, Kak. Dia tampilannya berubah. Tapi ngeselinnya kayak masih sama aja kayak yang dulu." Betty berkata pada Riri, sengaja menyindir Yola.
"Bener banget! " Riri langsung menatap Yola.
"Eh... udah dong. Baru beberapa tahun nggak ketemu aja, aku di diskriminasi. Jahat kalian! "
"Eh, yang jahat itu kamu. Dulu habis lulus terus ngilang nggak ada kabar, nggak ada angin." Riri sewot.
Walaupun dia lulus duluan dari kedua adik kelasnya. Tapi Riri setelah kuliah selalu menyempatkan diri ikut latihan bersama mereka.
"Iya. Aku sama Kak Riri jadi ngerasa dikhianati tahu." Betty ikutan sewot.
Yola kini menatap kedua orang yang dianggapnya masih sebagai sahabat itu, matanya berkaca-kaca.
"Maafin aku ya." air mata Yola menetes mengingat kejadian beberapa tahun lalu. Ia tertunduk sedih.
Riri dan Betty merasa bersalah. Mereka berniat bercanda. Namun ternyata membuka kenangan yang mungkin pahit bagi Yola.
"Eh, udah jangan nangis. Kita nggak marah kok. Cuma bercanda." Riri berusaha menenangkan Yola.
"Iya" sahut Bety yang juga khawatir melukai hati Yola.
"Jujur. Kalau aku jadi kamu, mungkin akan melakukan hal yang sama. Hah..." Riri menyesap kopi di cangkirnya.
"Aku kira kamu waktu itu pergi ke Jepang setelah kejadian itu." Betty menerawang masa lalu.
Yola sudah menghapus air mata. Kini dia berusaha untuk hidup bahagia. Jadi berusaha untuk tersenyum.
Melihat kedua sahabatnya yang masih mau menerimanya kembali adalah kebahagiaan. Dia harus menikmati hal ini.
Bahkan harus menjaga kepercayaan mereka.
"Maafin aku yang dulu ya. Sekarang aku janji. Jika ada masalah, aku nggak akan lari dari kalian. Aku akan datang ke kalian. Dan pokoknya harus menghiburku sampai aku ketawa bengek. Paham? " kata Yola yang kemudian menirukan logat Alan yang sering menekankan kata PAHAM.
Riri dan Betty mengangguk. Mereka bertiga berpelukan meluapkan rasa rindu pada sahabatnya yang baru kembali.
"Yups. Kita bestfriends forever!" teriak Betty.
Mendengar kata Bestfriend membuat hari Yola sedikit teriris.
Yola melepaskan pelukan mereka. "Udah jangan lama-lama, bisa sesak tahu. Lagian kita udah dewasa. Bestfriend boleh, tapi hilangkan kebiasaan katrok jaman dulu. Harus elegan gitu."
Riri dan Betty manggut-manggut. Mereka tidak menyangka Yola sudah tumbuh menjadi gadis yang berbeda. Dulu bar-bar, sekarang sudah bisa diajak kalem dan berfikir dewasa.
Andai saja mereka tahu kalau di rumah, Yola juga masih bersikap kadang sepeti anak remaja.
"Iya, aku juga sering lihat kakak aku sama teman-teman ceweknya. Elegan gitu,mmereka" Betty membayangkan kakaknya.
"Eh, ada info lowongan kerja nggak? " tanya Yola. "Aku lagi butuh kerjaan nih."
Betty dan Riri saling pandang. Mereka bingung. Bukankah Yola dari keluarga kaya, kenapa harus mencari kerja. Mungkin saja keluarga Yola bangkrut karena nggak ada yang bisa ngurus atau melanjutkan usaha orang tua Yola.
"Kuliah lo gimana? " tanya Betty.
Yola menggeleng "aku nggak kuliah"
Betty menggenggam tangan Riri. Airmatanya hampir saja keluar. Mengetahui kondisi sahabatnya.
Tapi mereka canggung untuk bertanya.
Yola pun menceritakan kejadian setelah dirinya menjadi yatim piatu.
Namun tidak menceritakan konfliknya dengan Lisa dan pernikahannya dengan Alan. Karena saat ini Yola belum bisa percaya pada siapapun.
Tangis Betty dan Riri tak terhenti mendengar kisah Yola. Padahal Yola ceritanya juga ngegas. Bukan mengharu biru.
Mereka tidak mengira Yola akan mengalami kejadian seperti itu. Bahkan harus putus kuliah.
Sedang Yola biasa saja. Tidak terlalu meratapi hidupnya saat ini. Malah dia berusaha untuk hidup bahagia dengan caranya.
Dan mereka pun saling bertukar cerita, Yola juga baru tahu saat ini Riri menjadi karyawan magang di sebuah perusahaan. Sedang Betty masuk tahap semester akhir.
Yola tidak ciut nyali jika berteman dengan orang yang bergelar Sarjana. Selama mereka bisa menempatkan diri. Yola tidak akan jaga jarak.
Semoga saja sahabatnya tetap seperti dulu. Saling kompak dan mendukung satu sama lain.
Yang disesali Yola adalah kenapa dulu lari dari mereka. Pergi tanpa memberi kabar apapun.
Yola senang masih diterima menjadi bagian dari persahabatan mereka yang dulu.
yola yola
mochi mochi
apa kabar
sialan bgt lo jd cowok...sini lo klo brani
bikin sambungan cerita ny donk
jgn berhenti belajar dan mencoba...😘😘😘