cerita yang mengisahkan tentang suami yang harus bersandiwara dan berakting demi menjalankan sebuah misi. sehingga menimbulkan kesalahpahaman, antara dirinya dan sang istri.
lalu apa yang terjadi dengan mereka?mampukah mereka mempertahankan rumah tangganya ditengah belenggu masalalunya yang datang tanpa diundang, dan tanpa bisa dihindarinya?
Bagaimana kisah mereka selanjutnya?
penasaran???
mari kita ikuti kisahnya yuk...cekidot
Tolong baca per bab ya guys,
jangan lompat bab
karena dukungan kalian sangat berarti buat author
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙼𝚎𝚗𝚝𝚊𝚛𝚒𝚂𝚎𝚗𝚓𝚊, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
Resah
Selamat membaca⬇️
***
Meski weekend dan dirinya tidak pergi ke kantor, namun Barra tetap terbangun di pagi hari. Samar-samar adzan subuh merdu berkumandang, tertangkap oleh pendengarannya. Dia pun bergegas menuju kamar mandi, setelah meregangkan otot tubuhnya.
Selesai dengan ritual di kamar mandi, dengan segera ia menunaikan kewajibannya.
Pagi ini Barra berniat untuk jogging, di sekitar komplek tempatnya tinggal, sembari mengamati dan mengenal tempat tersebut.
Dengan mengenakan celana training panjang, sweeter hoodie dan sepatu kets, pria itu pun siap memulai aktivitas paginya. Tak lupa ia mengunci pintu rumahnya terlebih dahulu. Meskipun tinggal di sebuah cluster yang dijaga oleh sekuriti, namun tidak ada salahnya untuk selalu waspada. Sebab Kejahatan terjadi bukan karena ada niat, tetapi karena ada kesempatan.
Barra bergabung dengan para pejalan kaki lainnya. Kadang ia juga berlari-lari kecil. Hingga seseorang menghampirinya dan menepuk bahunya. Maka secara reflek dirinya pun menoleh.
"Eh, loe Man. Sendirian saja, mana anak bini loe? Tidak ikut?" Barra memberondong dengan pertanyaan.
"Satu-satu kenapa kalau nanya." Arman lalu terkekeh. Mau tak mau Barra pun ikut terkekeh.
Barra kemudian menghampiri tukang penjual minuman, dan membeli dua botol air mineral. Lalu memberikan satu pada Arman. Mereka duduk di pinggir jalan, sambil meminum air mineral yang baru saja dibelinya.
"Loe, tinggal di sini, Bar? Jadi.... ?" Arman tidak melanjutkan ucapannya.
"Tidak seperti yang loe pikirkan, Man. Gue sama Rissa baik-baik saja kok. Semua hanya salah paham. Mereka mengerjai gue habis habisan. Bahkan salah satu dari mereka bilang, kalau Rissa sudah menggugat gue. Hampir saja gue putus asa, takut banget gue kalau sampai Rissa benar-benar pergi dari gue, Man. Tapi nyatanya semua itu, hanyalah akal-akalan mereka saja. Terus terang gue sangat kecewa dan marah sama mereka." Barra menjelaskan dengan pandangan mata menerawang jauh.
"Memangnya siapa mereka? Genk loe Lima Sekawan?" tanya Arman.
"Ya... Jena sama Andre," jawab Barra
"Kadang itu bocah tingkahnya memang suka absurd." Arman terkekeh.
"Ambil sisi positifnya saja Bar. Semoga dengan adanya kejadian ini, makin menguatkan cinta kalian." Arman berkata dengan bijak seraya menepuk bahu Barra.
"Iya, Rissa juga berpikir begitu. Tapi entahlah rasanya belum rela saja," sahut Barra.
"Loe masih mau jalan, apa mau pulang saja nih, Bar?" tanya Arman
"Ya sudah ayo kita pulang," ajak Barra.
Arman dan Barra berjalan berdampingan. Keduanya mengobrol sepanjang jalan, menuju ke rumah mereka.
"Penghuni di gang ini, orangnya baik-baik kok, loe tidak perlu khawatir," beritahu Arman ketika mereka udah sampai di depan gang rumahnya.
"Benarkah?" tanya Barra.
"Iya, kita semua selalu kompak, jika ada sesuatu yang menimpa salah satu penghuni gang ini. Kebetulan nanti malam ada perkumpulan. Dan loe wajib ikut untuk memperkenalkan diri. Yah walaupun mungkin loe tinggal di sini tidak lama," kata Arman memberitahu, sekaligus menyarankan
"Baiklah, nanti malam gue usahakan," sahut Barra
"Eh, Mas Barra. Jadi to ngontrak di sini?" tanya Winda.
"Iya, Mbak jadi," jawab Barra disertai senyuman.
"Mari mampir sini, Mas. Bang ajak sini itu temannya," titah Winda.
"Terimakasih, Mbak. Sebaiknya saya pulang saja. Soalnya, Rissa sama Vino bilang mau datang." Barra menolak dengan sopan
"Memangnya, kamu tinggal di sini tidak sama mereka, Bar?" tanya Arman.
"Tidak, Man. Gue sendirian," jawab Barra.
"Ya sudah, gue pulang dulu ya, Man. Mari Mbak saya duluan," pamit Barra.
"Oh, iya Bar. Kapan-kapan gue main ke tempat loe deh," ucap Arman.
"Siiip... Gue tunggu." Barra mengacungkan jempol tangannya
"Oh, iya. Monggo Mas," ucap Winda.
Barra bergegas menuju rumah kontrakannya setelah berpamitan. Dia berharap istri dan anaknya, sudah datang.
"Kok mereka belum datang, katanya pagi-pagi mau ke sini," gumam Barra sedikit kecewa, begitu sampai di depan rumah, dan belum mendapati mobil istrinya.
"Ya sudahlah. Lebih baik gue mandi dulu," gumamnya lagi.
Namun hingga dirinya selesai mandi, dan menunggu beberapa saat, tetapi orang yang ditunggunya belum juga muncul. Dia pun merasa resah dibuatnya.
***
Sementara di rumah Andre.
Anita menceritakan semua yang dia tahu, tanpa ada sedikit pun yang ia tutupi. Dirinya sudah mantap membeberkan semua kejahatan yang dilakukan oleh papanya maupun mantan suaminya. Namun karena pak Kuncoro telah divonis hukuman, maka itu sudah tidak berlaku lagi.
Keempat orang dewasa berbeda gender itu pun masih tercengang. Mereka saling berpandangan satu sama lain dalam diam.
"Saya mohon, tolong identitas saya disembunyikan. Dan jangan meminta saya untuk menjadi saksi. Karena saya tidak mau terlibat apapun dengan mantan suami saya!" pinta Anita. Pandangannya tertuju pada Jena.
"Kenapa?" tanya Jena
"Dia menceraikan saya, di saat saya sedang terpuruk. Dan sekarang saya sedang mengandung benih yang dia tinggalkan di rahim saya. Memang sengaja saya tidak memberitahu, kalau saya mengandung. Lebih baik anak ini tidak tahu siapa bapak kandungnya," ungkap Anita.
"Karena itu kamu menjebak Barra? Dengan begitu seolah bayi dalam kandunganmu adalah anak Barra, Begitu?" cecar Jena.
"Saya menyesal, Kak. Sungguh! Melihat sikap dan perhatian Mbak Rissa yang begitu baik pada saya, membuat saya sadar dari kesalahan saya. Mohon maafkan saya." Anita mengatupkan kedua telapak tangannya.
"Lalu, apa yang membuatmu menceritakan semua ini? Kamu tidak mencoba untuk menjebak kami, kan?" tanya Jena. Matanya menatap tajam ke arah Anita.
"Saat ini saya merasa terancam, Kak. Beberapa hari yang lalu, saya mendapatkan pesan dari nomor tak dikenal. Dia meminta berkas bang Riko agar dikembalikan, tapi berkas itu telah hilang. Saya tidak tahu ke mana berkas itu. Tiba-tiba sudah tidak ada di lemari pakaian saya." Anita menarik nafas sebentar, kemudian melanjutkan perkataannya. "Berkas-berkas itu berisi sertifikat, dari semua bisnisnya. Termasuk pencucian uang yang dilakukan oleh Bang Riko, dan di simpan di mana uangnya. Untuk bisa mengakses ke sana ada kode khusus." Anita memberi tahu. Dia mengatakan sama persis yang telah diceritakannya pada Rissa.
"Siapa yang mengancam kamu?" tanya Ringgo.
"Saya tidak tahu, bisa jadi itu dari anak buahnya, atau rival bisnisnya. Atau mungkin istrinya yang lain."
"Kamu yakin?" tanya Ringgo
Anita mengangguk. "Bang Riko memiliki jaringan bawah tanah yang sangat kuat. Saya takut anaknya buahnya akan melakukan sesuatu pada saya," ucap Anita.
"Maksudnya?" tanya Ringgo
Kembali Anita menceritakan tentang sepak terjang mantan suaminya di dunia bawah.
"Semoga ini bisa membantu." Lalu dia menyerahkan sebuah flashdisk yang diambil dari dalam tasnya. Tak lupa juga ponselnya yang tertera kode kode rumit.
Andre yang sedari tadi diam mendengarkan, kini mengambil alih. Dia mulai serius dengan pekerjaannya. Matanya terfokus pada layar laptopnya. Jemari tangannya sangat lincah menari di atas keyboard.
"Mbak Rissa, jika sesuatu terjadi pada saya, tolong rawatlah anak saya nanti. Anggaplah dia seperti anak kalian sendiri. Saya tahu Mbak Rissa sama Kak Barra adalah orang yang baik," pinta Anita seperti orang yang tengah putus asa.
"Kamu tidak boleh bicara seperti itu. Kami akan berusaha melindungi kamu, semampu kami," ucap Ringgo memberi harapan.
Anita menatap Ringgo sesaat, lalu tertunduk. Bukan tanpa alasan, jika dia berkata seperti itu, karena akhir-akhir ini dirinya merasa seperti diteror dan diawasi oleh seseorang, yang entah siapa. Dia pun tidak tahu, sehingga membuat hatinya merasa resah.
Rissa mendekat pada Anita, dan merengkuh wanita itu. Mengusap bahunya lembut mencoba memberi kekuatan.
"Kamu tidak sendiri Nit, ada kami di sini. Jangan terlalu keras berfikir, nanti bisa berimbas pada bayimu. Kamu tidak mau kan terjadi sesuatu padanya?" Rissa memberikan petuahnya, untuk menenangkan wanita yang saat ini sedang resah dan rapuh itu.
"Sebentar..." Rissa mengambil sesuatu dari dalam tasnya, dan mengeluarkan tiga buah kamera kecil.
"Gue menemukan ini di apartemen, waktu membantu dia pindahan." Rissa memberikannya pada Andre.
"Yes... Saatnya pertarungan!" seru Andre. Sehingga membuat semua mata yang ada di dalam ruangan itu, menatap ke arahnya dengan rasa penasaran.
Stay tune terus untuk mengetahui kisah selanjutnya....
...----------------...
Mohon di baca per bab ya guys, jangan lompat bab, jangan pula boom like.
Dukungan kalian sangat berarti buat author
Jika suka dengan ceritanya jangan lupa tinggalkan jejaknya
Like
Komentar
Vote
Terimakasih dan salam sehat selalu
🙏🙏🙏😍😍😍