Menumpahkan es kopi ke baju Kenzo—si cowok genius anak pemilik yayasan—di hari pertama sekolah adalah awal dari bencana bagi Callista. Apalagi setelah mereka dipaksa jadi ketua dan sekretaris kelas. Perang dingin pun pecah, namun percikan benci perlahan berubah jadi cinta.
Sayangnya, realitas menghantam keras. Kenzo adalah seorang Kristen taat, sementara Callista beragama Buddha. Mereka sadar, sekuat apa pun perasaan itu, ada tembok keyakinan yang mustahil diseberangi.
Di saat hubungan itu mulai retak, ada Sean. Sahabat masa kecil Callista yang diam-diam memendam rasa, yang selalu menemaninya ke Vihara, dan memegang kunci dari doa yang sama di altar yang sama.
Ketika melangkah maju hanya menabrak dinding, akankah Callista tetap bertahan pada Kenzo, atau berbalik arah pada sahabat yang selama ini selalu berjalan seiringan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon canny***, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jam Istirahat dan Barikade Pintu Kelas
Bel istirahat pertama berbunyi nyaring, memicu sorak-sorai tertahan dari para murid kelas Sepuluh-Tiga yang sudah lelah dijejali materi pengenalan lingkungan sekolah. Bagi Callista, suara bel itu terdengar seperti lonceng kebebasan.
"Sean, buruan! Sebelum si kutub utara di belakang kita berulah lagi," bisik Callista setengah panik sambil menyambar dompet kecilnya dari dalam tas.
Sean yang baru saja menutup buku catatannya hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah sahabatnya.
"Santai kali, Cal. Kantin gak bakal pindah ke sekolah sebelah cuma karena lo telat semenit."
"Bukan kantinnya yang gue takuti, tapi titisan pemilik yayasan itu!" Callista melirik horor ke arah kursi belakangnya lewat sudut mata.
Beruntung bagi Callista, Kenzo saat ini sedang dikerubungi oleh tiga orang anak laki-laki barisan depan yang tampaknya sedang sok akrab menanyakan soal jadwal pelajaran.
Cowok itu terlihat merespons dengan anggukan-anggukan formal dan wajah datar andalannya. Mumpung perhatian sang ketua kelas teralih, Callista segera menarik lengan jaket Sean dan melesat menuju pintu kelas.
Satu langkah. Dua langkah. Callista sudah hampir menyentuh gagang pintu kelas yang terbuka setengah. Kebebasan sudah di depan mata.
"Sekretaris."
Sebuah suara berat, tenang, namun memiliki daya penetrasi yang kuat memotong langkah Callista seketika. Tubuh cewek itu menegang. Dia perlahan berbalik dan mendapati Kenzo sudah berdiri di tengah ruangan, memegang sebuah map plastik berwarna biru. Anak-anak yang mengerubunginya tadi sudah bubar.
"Kenapa? Mau kabur dari tanggung jawab?" tanya Kenzo datar, berjalan mendekati Callista dan Sean yang tertahan di ambang pintu.
Callista berkacak pinggang, mencoba membangun benteng pertahanan lewat ekspresi galak yang dibuat-buat.
"Siapa yang kabur? Ini jam istirahat, Kenzo. Hak asasi manusia buat makan batagor di kantin!"
"Hak lo buat makan dijamin oleh sekolah, tapi kewajiban lo buat menyerahkan daftar absensi sementara ke ruang piket sebelum jam istirahat selesai juga diatur oleh Bu Rita," balas Kenzo telak. Dia menyodorkan map biru itu tepat di depan wajah Callista.
"Ini data anak-anak yang tadi lo catat. Tolong dirapikan ke format resmi kelas, lalu antar ke meja piket di lantai satu. Sekarang."
"Hah? Kan bisa nanti pas pulang sekolah!" protes Callista, matanya melotot tidak terima. Perutnya sudah berbunyi minta diisi, dan sekarang dia malah diberi tugas administrasi yang membosankan.
Kenzo menaikkan sebelah alisnya, menatap Callista dengan tatapan meremehkan yang paling dibenci cewek itu.
"Nanti sore ada rapat pengurus OSIS sementara, dan data ini harus sudah masuk sistem komputer sekolah jam satu siang ini. Kalau lo gak bisa kerja cepat seperti yang gue bilang ke Bu Rita tadi, mending lo mundur dari jabatan sekretaris sekarang juga. Biar gue cari orang yang lebih kompeten."
Kata-kata Kenzo barusan rasanya seperti menyiramkan bensin ke dalam api ego Callista. Mundur? Enak saja! Kalau dia mundur sekarang, itu sama saja mengakui kekalahannya di depan cowok sombong ini.
"Siapa bilang gue gak bisa?!" bentak Callista, merebut map biru dari tangan Kenzo dengan sentakan kasar hingga kertas di dalamnya berkerisik.
"Cuma mindahin data doang kecil! Gak usah sok memerintah ya, Pak Ketua!"
Kenzo tidak membalas dengan amarah. Dia hanya menyunggingkan senyum tipis—sangat tipis hingga hampir tak terlihat—lalu melangkah melewati Callista begitu saja untuk keluar kelas.
"Gue tunggu di ruang piket sepuluh menit lagi. Jangan telat."
"Ih!!! Bener-bener ya itu orang!" Callista menghentakkan kakinya ke lantai koridor, membuat beberapa anak kelas lain yang lewat sempat menengok kaget.
"Sean, lo lihat kan? Dia sengaja banget ngerjain gue!"
Sean, yang sedari tadi hanya menyimak drama komedi gratis di depannya, menghela napas panjang lalu menepuk pucuk kepala Callista dengan santai.
"Makanya, jangan gampang kepancing emosi, Cal. Si Kenzo itu tipikal cowok yang makin lo lawan makin seneng ngerjain lo. Udah, sini mapnya, biar gue bantuin salin setengahnya biar cepet."
Callista menatap Sean dengan mata berbinar-binar penuh haru.
"Serius, Sean? Lo emang sahabat terbaik gue sedunia akhirat! Nanti malam pas kita ke Vihara, gue bakal doain lo biar dapet rezeki nomplok!"
"Gak usah nunggu nanti malam di Vihara, sekarang aja lo traktir gue es teh manis dua gelas di kantin sebagai imbalan," canda Sean sambil merebut pulpen dari saku seragam Callista dan mulai membantu menyalin data siswa di salah satu meja kosong terdekat.
Callista terkekeh, rasa kesalnya sedikit mereda. Di sela-sela kekacauan yang dibuat oleh Kenzo, kehadiran Sean selalu menjadi penawar yang instan. Mereka berdua duduk berdampingan, dengan cekatan menyalin nama demi nama murid kelas Sepuluh-Tiga ke lembar format resmi. Sean menulis dengan rapi, sementara Callista sesekali mengomeli nama-nama anak yang ejaannya terlalu rumit.
"Sean, lo ngerasa aneh gak sih sama si Kenzo?" tanya Callista tiba-tiba, tangannya masih sibuk menulis.
"Aneh kenapa? Selain fakta kalau dia anak pemilik yayasan yang mukanya mirip idol Korea tapi kelakuannya mirip monster es?" sahut Sean tanpa mengalihkan pandangan dari kertas.
"Bukan itu. Tadi pas dia ngomong soal rapat OSIS dan aturan sekolah, gayanya tuh... kaku banget. Kayak gak ada santai-santainya hidup dia. Beda banget sama anak SMA baru pada umumnya yang masih mikirin main game atau nongkrong," gumam Callista, mengingat sorot mata Kenzo yang selalu terlihat menuntut kesempurnaan.
Sean menghentikan pulpennya sejenak, lalu menatap Callista dengan ekspresi sedikit lebih serius.
"Denger-denger dari anak-anak cowok yang tadi ngobrol sama dia, keluarganya Kenzo itu emang keras banget, Cal. Ayahnya kan tokoh besar, jadi dia dituntut buat selalu jadi nomor satu di mana pun. Termasuk di lingkungan keagamaan dan sekolah."
Callista terdiam. Ada rasa aneh yang menggelitik hatinya, namun dia segera menepisnya. Peduli amat sama latar belakangnya, yang jelas sekarang dia musuh gue, batin Callista membentengi diri.
Tepat menit kesembilan, tugas mereka selesai. Callista langsung menyambar map tersebut dan berlari menuju lantai satu, meninggalkan Sean yang berjanji akan menyusul ke kantin untuk memesan makanan terlebih dahulu.
Callista setengah berlari menuruni anak tangga, napasnya sedikit memburu saat sampai di depan ruang piket. Dari balik kaca jendela ruang piket, dia bisa melihat Kenzo sedang berdiri tegak sambil mengobrol formal dengan guru piket yang bertugas.
Callista mengetuk pintu, lalu melangkah masuk dengan dagu terangkat, mencoba menunjukkan bahwa dia berhasil menyelesaikan tugas tepat waktu.
"Ini daftarnya. Tepat sepuluh menit, gak kurang gak lebih," kata Callista sambil meletakkan map biru itu di atas meja guru dengan sedikit penekanan.
Guru piket tersenyum ramah, sementara Kenzo memeriksa isi map tersebut dengan teliti. Setelah memastikan semuanya rapi dan tidak ada kesalahan ejaan, Kenzo menutup map itu lalu menatap Callista. Untuk pertama kalinya hari ini, tidak ada nada sindiran dalam suaranya.
"Bagus. Kerja yang rapi," ucap Kenzo pendek.
Callista sempat terpaku selama setengah detik. Pujian singkat yang keluar dari bibir Kenzo barusan entah kenapa terdengar berbeda di telinganya. Namun, sebelum Callista sempat merespons, Kenzo sudah berbalik untuk pamit kepada guru piket dan berjalan keluar ruangan.
Callista mengerjapkan mata, buru-buru menyusul langkah lebar cowok itu ke koridor luar.
"Eh, Kenzo! Tunggu!"
Kenzo menghentikan langkahnya, menoleh dengan sebelah tangan di dalam saku celana abu-abunya.
"Apa lagi? Mau minta traktiran kopi?"
Callista mendengus, merapatkan dompetnya ke dada.
"Jangan geer ya! Gue cuma mau bilang... meskipun lo anak pemilik yayasan, jangan harap lo bisa semena-mena sama gue selama tiga tahun ke depan di sekolah ini. Gue bakal buktiin kalau gue bisa jadi sekretaris yang gak bakal bisa lo sepelekan!"
Kenzo menatap Callista lekat-lekat. Koridor lantai satu yang agak sepi membuat konfrontasi kecil mereka terasa lebih intens. Sudut bibir Kenzo bergerak, membentuk sebuah lengkungan tipis yang kali ini tidak terasa dingin, melainkan sebuah tantangan yang menarik.
"Gue pegang omongan lo, Callista. Jangan sampai di tengah jalan lo nangis dan minta tukar posisi," ujar Kenzo pelan, sebelum akhirnya berjalan menjauh menuju ruang OSIS.
Callista berdiri mematung di koridor, jantungnya tiba-tiba berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya. Bukan karena suka—tentu saja dia menyangkal hal itu—melainkan karena adrenalin kemarahan yang tersulut oleh tantangan Kenzo.
"Lihat aja nanti, Kenzo. Lo belum tahu siapa Callista," bisik cewek itu pada dirinya sendiri, sebelum akhirnya berbalik arah dengan tergesa-gesa menuju kantin, tempat di mana Sean pasti sudah menunggunya dengan segelas es teh manis penyejuk hati.