Karena wasiat yang ditinggalkan oleh sang Kakek, Wisnu Wardana diminta menikahi wanita pilihan dari sang Kakek, jika ingin mendapatkan warisan perusahaan besar yang bergerak di bidang perbankan.
Sayangnya wanita yang ingin dijodohkan dengannya adalah seorang gadis desa bernama Annisa Salsabila, jauh dari tipe wanita idamannya. Belum lagi ia juga mempunyai kekasih yang tidak mungkin ia tinggalkan begitu saja hanya karena harus menikahi Annisa.
Selain diminta menikahi Annisa, ia juga diminta untuk tinggal selama setengah tahun di desa tempat tinggal Annisa untuk beradaptasi dengan kampung halaman asal leluhurnya terdahulu.
Apakah Wisnu akan menerima wasiat dari sang kakek, demi harta warisan milik kakeknya itu? Karena jika ia menolak, bukan tidak mungkin perusahaan perbankan yang ia incar akan jatuh pada sepupunya yang juga menginginkan warisan milik kakek mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 - Maaf
Wisnu
Saat tiba-tiba merasakan badanku tak nyaman, bahkan hawa panas seketika menyerang tubuhku. Aku curiga, Bayu memasukkan benda l4knat ke dalam tubuhku.
Awalnya aku curiga jika Bayu meracuniku? Aku sendiri tidak tahu. Tapi aku tetap bisa bertahan, tak jatuh ke lantai atau mengeluarkan busa dari mulutku. Aku mulai menyadari, tak mungkin Bayu sampai sejahat itu ingin membunuhku.
Namun perasaan gelisah dan tak nyaman seakan terus merayapi tubuhku. Hawa panas pun tak henti menyerang tubuhku.
Aku tak perduli apa yang dibicarakan Annisa dan Bayu. Aku memilih menanggalkan pakaianku untuk segera mendinginkan hawa panas di tubuhku dengan menggunakan air shower.
Saat Annisa mendekat. Aku menyuruhnya pergi agar tidak menjadi korbanku. Namun entah mengapa, Annisa justru terus mendekat. Hingga akhirnya aku tak kuasa menahan gair4h yang kini menguasaiku.
Aku menarik tubuh Annisa hingga berada dalam pelukanku dan mencumbunya penuh hasr4t. Hingga aku membawa Annisa ke atas tempat tidur dan melepas semua penutup di tubuh wanita yang sudah sah menjadi istriku itu.
Menatap tubuh putih, mulus dan indah milik Annisa, gair4hku semakin meningkat. Apalagi pengaruh obat membuatku ingin melepaskan sesuatu agar bisa tersalurkan.
Aku mendekatkan pusakaku ke tepi g0a milik Annisa yang mulai lembab karena sentuhan-sentuhanku sebelumnya. Dan memasukkan pusakaku untuk bertapa di dalam g0a yang masih terasa sulit aku tembus, hingga terus kupaksa masuk ke dalam.
"Aa4kkkhh, Mas ...! Sakit ...!" Annisa merintih, tentu saja karena ada pertahanan yang berhasil aku tembus.
Aku bergerak dalam inti Annisa, tak perdulikan rintihannya yang terus mengeluh sakit. Malah aku mengungkung tubuhnya, dan mencium bibir, wajah dan lehernya. Sesekali bibir dan ujung lidahku memainkan dan memilin daerah puncak.
"Aa4kkkhh, Mas ... sakiiiittt ...!" Bahkan kini Annisa menangis. Mencengkram punggungku, karena aku mempercepat gerakanku. Aku sudah tidak sabar untuk mengeluarkan sesuatu dari pusakaku.
Beberapa menit kemudian aku mencapai pelepasan, mengalirkan cairan hangat di rahim Annisa. Aku tak langsung mengeluarkan pusakaku dari inti Annisa. Sepertinya pusaka itu betah bertapa di sana. Hingga aku kembali bergerak untuk mendapatkan pelepasan untuk yang kedua dan ketiga kalinya.
Annisa benar-benar kubuat tak berdaya hingga terkulai lemas. Begitu juga denganku. Rasa lelah dan kepuasan yang telah aku dapatkan membuatku tertidur tanpa sempat membersihkan bekas percintaan kami.
Keesokkan paginya, aku terjaga. Kepalaku terasa berat, namun tubuhku terasa ringan hingga aku bangkit. Aku terkejut saat melihat tubuhku bertelanj4ng dada. Sontak kubuka selimut yang menutupi bagian bawah tubuhku. Aku terbelalak melihat ku tak berpakaian.
Pandanganku langsung menoleh ke arah samping. Kulihat Annisa tidur telungkup dengan punggung terbuka, lalu mengintip selimut yang menutupi tubuh Annisa. Ternyata Annisa pun sama sepertiku, tak berpakaian.
Netraku kini mengarah pada bercak darah di sprei berwarna putih. Aku tahu itu adalah darah peraw4n Annisa yang berhasil aku koyak.
"Astaga!" Aku mengusap kasar wajahku dan memijat pelipisku.
Si4l! Ini ulah si Bayu. Apa maksud dia melakukan hal ini padaku? Aku masih belum paham dengan tujuan dan rencana Bayu. Waktu aku menyadari Bayu memasukkan obat itu pada minumanku, tadinya aku pikir dia akan menjebakku dengan wanita lain, ternyata dengan istriku sendiri.
Saat ini jam sudah menunjukkan pu kul lima pagi. Aku tahu Annisa belum sholat shubuh, sehingga aku mencoba membangunkannya.
"Nis ..." Aku menepuk lemah pundak Annisa.
"Sudah, Mas. Aku tidak mau lagi. Sakiiittt ..." lirik Annisa, menganggap aku ingin melakukannya lagi hal semalam.
Seketika rasa bersalah menyelimuti hatiku. Karena membuat Annisa lemas tak berdaya seperti saat ini.
"Ini sudah jam lima, Nissa. Kamu mau sholat shubuh, kan?" Aku menjelaskan jika membangunkannya bukan karena ingin melakukan seperti semalam.
"Badanku sakit, Mas." Annisa bergerak perlahan mencoba untuk duduk.
Aku berniat membantunya ke kamar mandi. Dan menarik selimut untuk menutupi tubuh bagian bawahku. Namun, Annisa juga menggunakan selimut untuk menutupi tubuhnya, hingga kami saling berebut selimut.
Terpaksa aku mengalah dan mengambil celana boxerku yang masih tersimpan di koper.
"Sssshhh ..." Annisa yang berniat banhkuy, kembali terduduk. Sepertinya dia menahan sakit di daerah sekitar intinya.
Aku lantas mendekat dan mengangkat tubuh Annisa, membawanya ke kamar mandi. Tubuhnya aku dudukan di kloset, sementara aku mengisi bathtub dengan air hangat untuk mandi dan berendam Annisa.
"Kamu mandi dulu. Kalau sudah selesai, panggil saya." Aku meninggalkan Annisa di kamar mandi. Aku tak ingin berlama-lama di sana menemani Annisa, sebab aku takut akan tergoda untuk mengulang seperti semalam.
Setelah selesai mandi, aku membawa kembali Annisa ke kamar dan membantunya berpakaian. Aku melihat beberapa tanda merah di leher dan dada Annisa. Itu semua hasil karyaku. Dan aku baru menyadari jika diriku sebuas itu tadi malam.
"Maaf ..." ucapku.
Annisa menoleh ke arahku, tak mengerti aku minta maaf karena apa.
"Karena semalam saya memaksamu," jawabku.
"Apa Mas menyesal kita melakukannya semalam?"
Pertanyaan Annisa membuatku tertegun. Meskipun ia mengeluh sakit, dia bahkan tidak menyalahkanku padahal semalam aku sudah membuatnya tak berdaya.
***
Sementara itu di Rumah Faisal jam 08.30 menit. Terjadi perbincangan antara Faisal, Kartika dan Bayu. Bayu baru tiba di rumah itu sekitar lima belas menit yang lalu karena permintaan Kartika.
"Bagimana, Bayu? Apa berhasil? " tanya Kartika penasaran dengan tugas yang diberikan pada keponakannya itu.
"Semua beres, Tante. Mereka berdua pasti sudah menikmati malam pengantin mereka yang sempat tertunda," jawab Bayu terkekeh, mengatakan tugasnya berjalan lancar.
Sejak Bayu menyebut nama Monica saat Annisa dan Wisnu menginap di hotel seminggu lalu. Kartika menyuruh Bayu untuk menyelidiki nasib hubungan putranya dengan Monica. Hingga akhirnya mereka berencana untuk membuat Wisnu tidak bisa lepas dari Annisa, termasuk menggunakan obat perangs4ng agar Wisnu dan Annisa segera melakukan hubungan int!m dan mempunyai keturunan. Termasuk mengarang cerita soal saham Royal Bank jika Wisnu sampai menceraikan Annisa.
"Tapi, Bayu. Apa obat itu aman?" Faisal khawatir akan efek obat yang diberikan pada Wisnu.
"Tenang saja, Om. Aku pilih yang paling aman. Lagipula, Wisnu tidak akan sering mengkonsumsi itu, Tante." Bayu mencoba meyakinkan Faisal, jika pengaruh obat itu pada Wisnu tidak akan berlangsung lama.
"Syukurlah, kalau begitu." Faisal menarik nafas lega.
"Jadi, kapan aku bisa mengambil mobilnya, Tante?" Bayu menyeringai. Sebab Kartika sudah menjanjikan sebuah mobil sport mewah jika Bayu mau membantunya menjauhkan Wisnu dengan Monica.
"Gimana, Pa?" tanya Kartika pada Faisal.
"Kamu langsung saja ke dealernya, Bayu. Pilih saja yang kamu mau," jawab Faisal.
"Terima kasih, Om." Bayu menyeringai. Karena mendapatkan imbalan mobil seharga lima miliar atas jasanya memisahkan Wisnu dengan Monica.
*
*
*
Bersambung ...
lanjut kak