NovelToon NovelToon
Cinta Yang Datang Terlambat

Cinta Yang Datang Terlambat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Perjodohan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: M. Aipp

Follow IG @samsularipin_101

"Beberapa hati baru disadari berharga justru setelah mereka memutuskan untuk menyerah".

Alana Gabriela Indira selalu tahu bahwa hidupnya tidak sepenuhnya milik dirinya sendiri. Sebagai putri dari pengusaha sukses, Raden Wijaya dan Retno Indira, ada harga mahal yang harus ia bayar, termasuk menyetujui perjodohan bisnis dengan Jevandra Pratama, CEO muda dari Pratama Group. Alana menerima pernikahan ini dengan hati terbuka, siap belajar mencintai pria yang dipilihkan orang tuanya.

Namun, bagi Jevandra, pernikahan ini adalah sebuah penjara. Hatinya sudah terkunci rapat untuk Silvia Anita, kekasih yang sudah menemaninya selama bertahun-tahun. Terpaksa tunduk di bawah tekanan sang ayah, Bimo Pratama, dan ibunya, Diana Prameswari, Jevandra melimpahkan seluruh rasa frustrasinya kepada Alana. Ia bersumpah tidak akan pernah memberikan ruang bagi Alana di hidupnya.

Di bawah satu atap, Alana bertahan dalam keheningan dan penolakan yang dingin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. Aipp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Batas Kesabaran yang Tandas

Tiga minggu berlalu sejak malam badai di balkon apartemen mereka. Hubungan antara Jevandra dan Alana kini telah mencapai titik yang paling ekstrem: total estrangement. Mereka berada di bawah satu atap yang sama, namun hidup layaknya dua orang asing yang kebetulan menyewa kamar di penginapan yang sama. Tidak ada sapaan di pagi hari, tidak ada lagi tatapan mata yang beradu, bahkan ketika mereka berpapasan di lorong apartemen sekalipun.

Alana menenggelamkan dirinya dalam berbagai aktivitas sosial dan membantu mengawasi beberapa proyek kecil milik yayasan ibunya. Ia menolak untuk membiarkan pikirannya membusuk di dalam apartemen yang sepi itu. Sementara itu, Jevandra semakin jarang pulang. Pria itu tampaknya memilih untuk menghabiskan sebagian besar waktunya di kantor atau di tempat lain—sebuah tempat yang Alana sudah tidak sudi lagi untuk sebut namanya dalam hati.

Namun, ketenangan yang rapuh itu kembali diuji ketika sebuah panggilan telepon dari Retno Indira masuk ke ponsel Alana pada suatu Jumat siang. Suara ibunya terdengar begitu panik dan penuh isak tangis, membuat jantung Alana langsung berdegup kencang dengan firasat buruk.

"Alana... kamu di mana, Nak? Bisa ke rumah sakit sekarang?" tanya Retno di sela tangisnya yang pecah.

"Ibu? Ada apa? Siapa yang sakit?!" Alana langsung berdiri dari kursi kerjanya, menyambar tas tangannya dengan panik.

"Papamu, Alana... Papa mendadak pingsan di kantor tadi setelah rapat dengan tim audit. Sekarang Papa di ICU Rumah Sakit Medika. Dokter bilang... jantung Papamu tidak kuat menahan stres yang terlalu besar."

Mendengar kata 'stres yang terlalu besar', Alana merasa seluruh persendiannya mendadak lemas. Tanpa berpikir panjang, ia langsung berlari menuju area parkir dan mengemudikan mobilnya sendiri menuju rumah sakit dengan kecepatan tinggi, mengabaikan seluruh aturan lalu lintas yang ada di kepalanya.

Di depan ruang ICU, Retno Indira duduk bersandar pada tumpal Raden Wijaya, ayah Alana yang saat ini tampak begitu lemah di atas kursi roda dengan selang oksigen yang terpasang di hidungnya setelah sempat sadar dari pingsannya. Wajah ayahnya terlihat sangat pucat, dengan gurat-gurat kelelahan dan beban pikiran yang begitu mendalam yang selama ini coba disembunyikannya dari sang putri.

"Papa... Ibu..." Alana langsung berlutut di depan kursi roda ayahnya, menggenggam tangan pria paruh baya itu yang terasa sangat dingin. "Papa kenapa bisa seperti ini? Apa yang terjadi di kantor?"

Ayahnya menatap Alana dengan mata yang berkaca-kaca penuh rasa bersalah. Ia mengusap kepala putrinya dengan tangan yang bergetar halus. "Maafkan Papa, Alana... Papa tidak bisa menjaga perusahaan kita dengan baik. Kemarin... tim dari Pratama Group secara sepihak menunda pencairan dana pasokan bahan baku untuk divisi utama kita. Mereka bilang... ada instruksi langsung dari Jevandra untuk meninjau ulang seluruh klausul kerja sama kita karena alasan performa."

Kata-kata ayahnya seperti petir yang menyambar di siang bolong, membakar seluruh sisa-sisa kesabaran dan kemanusiaan yang ada di dalam diri Alana.

Jevandra. Pria itu benar-benar melakukannya. Pria itu benar-benar menggunakan kekuasaan bisnisnya untuk menghancurkan keluarganya hanya karena Alana berani menentangnya malam itu di balkon. Pria itu tidak hanya seorang pengecut, tetapi juga seorang monster yang tidak memiliki hati nurani sedikit pun.

"Papa jangan pikirkan itu dulu, ya? Yang penting Papa sehat dulu," Alana berusaha menenangkan ayahnya, menahan sekuat tenaga agar air matanya tidak jatuh di depan orang tuanya yang sedang rapuh. "Urusan kantor biar Alana yang urus. Alana akan bicara dengan Jevandra. Pasti ada salah paham di sini."

Setelah memastikan kondisi ayahnya stabil dan ditemani oleh ibunya di ruang perawatan khusus, Alana berdiri dari kursinya. Seluruh rasa sedih dan takutnya kini telah menguap sepenuhnya, digantikan oleh amarah yang begitu murni, pekat, dan membakar. Matanya berkilat penuh tekad yang berbahaya. Ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi nomor Jevandra.

Panggilan itu tidak diangkat pada percobaan pertama, begitu pula pada percobaan kedua. Pada percobaan ketiga, sebuah suara wanita yang sangat familiar menjawab panggilan tersebut dengan nada yang sengaja dibuat manja.

"Halo? Jevandra-nya lagi mandi, ada perlu apa ya?" suara Silvia Anita terdengar di seberang telepon.

Alana mengepalkan tangannya begitu kuat hingga kuku-kukunya memutih. "Katakan pada Jevandra, jika dalam waktu tiga puluh menit dia tidak menemui saya di apartemen, saya bersumpah akan mengirimkan seluruh rekaman video dan bukti foto kebersamaan kalian selama tiga bulan terakhir langsung ke meja kerja Bimo Pratama dan ke seluruh media infotaiment Jakarta."

Tanpa menunggu jawaban dari wanita itu, Alana langsung mematikan sambungan telepon. Ia melangkah keluar dari rumah sakit dengan langkah yang begitu mantap, menuju apartemen mereka dengan satu tujuan yang mutlak: menyelesaikan semua kegilaan ini malam ini juga.

...****************...

Pukul delapan malam, pintu utama apartemen megah itu terbuka dengan bantingan keras. Jevandra melangkah masuk dengan wajah yang merah padam karena amarah yang meluap-luap. Ia baru saja berkendara seperti orang gila dari apartemen Silvia setelah wanita itu menangis histeris menceritakan ancaman Alana di telepon.

"Alana! Apa-apaan ancamanmu itu?!" bentak Jevandra begitu melihat Alana sedang duduk dengan tenang di sofa ruang tengah, menyilangkan kakinya dengan anggun sambil memegang seberkas dokumen di tangannya. "Kamu sudah benar-benar kehilangan akal sehatmu, ya? Kamu berani mengancam saya dan Silvia?!"

Alana tidak langsung menjawab. Ia meletakkan dokumen itu di atas meja kaca di depannya, lalu mendongak, menatap Jevandra dengan tatapan yang sangat kosong, tanpa ada satu pun riak emosi atau ketakutan di dalamnya.

"Yang kehilangan akal sehat itu kamu, Jevandra," ucap Alana, suaranya terdengar begitu rendah namun sangat menusuk hingga ke tulang. "Kamu mengirimkan tim auditmu untuk menunda dana pasokan perusahaan ayah saya? Kamu membuat ayah saya terkena serangan jantung hingga harus masuk ICU hari ini karena stres memikirkan kelangsungan hidup karyawannya? Kamu benar-benar monster yang menjijikkan."

Jevandra sedikit tersentak mendengar kabar bahwa ayah Alana masuk ICU. Ada riak keterkejutan dan rasa bersalah yang melintas cepat di matanya, namun ia segera menutupinya dengan sikap defensifnya yang angkuh. "Saya... saya tidak berniat membuat ayahmu sakit. Saya hanya memberikan pelajaran kepadamu agar kamu tahu posisi dan batasanmu di rumah ini! Kamu tidak berhak mengatur hidup saya atau mengancam orang-orang yang saya sayangi!"

"Pelajaran?!" Alana berdiri dari sofanya, melangkah mendekati Jevandra hingga mereka kembali berhadapan dalam jarak dekat. Kali ini, tidak ada air mata di wajah Alana. Yang ada hanyalah keberanian yang mutlak dari seorang wanita yang sudah kehilangan segalanya untuk dipertaruhkan. "Kamu menggunakan nyawa dan kesehatan ayah saya sebagai alat untuk memberi pelajaran kepada saya? Kamu serendah itu, Jevandra?"

Alana menunjuk dokumen yang terletak di atas meja kaca dengan jarinya. "Dengar baik-baik, Jevandra. Di atas meja itu adalah draf surat perjanjian pemisahan aset dan pembatalan sepihak klausul merger properti yang sudah saya susun bersama pengacara keluarga saya sore ini. Saya tidak akan meminta cerai sekarang, karena saya tahu papamu akan menghancurkan perusahaan ayah saya jika kita berpisah saat ini juga."

Jevandra mengerutkan dahinya, bingung dengan arah pembicaraan Alana. "Lalu apa maumu?"

"Maunya saya adalah, mulai detik ini, kamu harus menandatangani pencairan dana pasokan untuk perusahaan ayah saya tanpa syarat apa pun, dan membiarkan operasional mereka berjalan mandiri tanpa campur tangan Pratama Group lagi," Alana mendikte dengan nada suara yang penuh otoritas yang tak terbantahkan. "Sebagai gantinya, saya akan tetap menjadi 'istri pajangan' yang sempurna di depan papamu, di depan mediamu, dan di depan seluruh relasi bisnismu. Saya akan tersenyum, saya akan memelukmu di depan kamera, dan saya akan memastikan reputasimu sebagai putra mahkota yang sempurna tidak akan pernah tercoreng sedikit pun."

Jevandra menatap Alana dengan pandangan tidak percaya. "Dan jika saya menolak?"

Alana tersenyum—sebuah senyuman yang sangat dingin, senyuman seorang wanita yang sudah siap untuk membakar seluruh isi rumah ini bersamanya jika diperlukan. "Jika kamu menolak, maka seperti yang saya katakan pada wanita simpananmu itu tadi siang, seluruh bukti perselingkuhanmu akan berada di meja papamu besok pagi pukul delapan. Kita lihat saja, siapa yang akan hancur lebih dulu. Perusahaan ayah saya yang memang sudah di ambang batas, atau dirimu yang akan kehilangan hak waris atas Pratama Group dan didepak dari kursi CEO oleh papamu sendiri karena telah mempermalukan nama besar keluarga."

Jevandra merasakan tenggorokannya mendadak kering. Ia menatap Alana, mencari celah keraguan atau gertakan di mata wanita itu, namun ia tidak menemukan apa-apa selain keseriusan yang mutlak. Alana tidak sedang menggertak; wanita ini benar-benar sudah berada di batas akhir kesabarannya, dan dia sudah siap untuk menghancurkan panggung sandiwara ini bersama dengan semua orang yang ada di atasnya jika Jevandra tidak mundur selangkah.

Untuk pertama kali dalam hidupnya, Jevandra Wijaya merasakan ketakutan yang nyata yang datang dari seorang wanita yang selama ini ia remehkan harganya. Ia menyadari bahwa ia telah membangunkan macan tidur yang kini siap mencabik-cabik seluruh ego dan masa depannya tanpa ampun.

Apartemen mewah di itu kembali diselimuti oleh keheningan yang mencekam, namun kali ini, keheningan itu bukan lagi milik Jevandra yang berdarah dingin, melainkan milik Alana yang telah berhasil membalikkan papan catur pernikahan mereka dengan kemenangan yang penuh dengan luka yang mulai berdarah.

1
fatmawati (pipit)
mungkin digaleri ini jevandra dijebak dari seseorang yg tidak menyukai dirinya dan bisa saja jevandra menghamili alana... setelah itu mungkin alana pergi jauh yg tidak diketahui oleh orang jevandra
fatmawati (pipit)
Alana terpaksa menikah dengan orang iblis bermuka manusia lalu silvia pintar cari muka dari jevandra
fatmawati (pipit)
kenapa alana masih bertahan, klau memang dia masih mencintai masa lalu lebih baik pergi dari kehidupan javier saja
fatmawati (pipit): klau nikah karna kerjasama lebih baik perusahaan bangkrut lalu pelan pelan bangkit memulai usaha sendiri tanpa ada suntikan dana dari perusahaan lain
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!