NovelToon NovelToon
Kebangkitan Naga Astral

Kebangkitan Naga Astral

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:19.9k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Seorang murid sekte luar yang dihina karena akar spiritualnya yang cacat secara tidak sengaja membangkitkan sebuah pusaka kuno di lembah terlarang. Pusaka tersebut tidak memberinya kekuatan instan, melainkan sebuah metode kultivasi purba yang memungkinkannya menyerap dan memurnikan Qi dari garis keturunan binatang buas mitologis. Untuk mencapai puncak, ia harus menempuh jalur yang penuh darah dan memburu eksistensi terkuat di langit dan bumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langkah Guntur dan Kemurkaan Penatua Agung

​Malam turun menyelimuti Puncak Dalam. Kabut spiritual yang mengalir dari jurang jembatan perlahan menebal, menutupi Paviliun Bambu Angin dengan selubung putih yang mistis.

​Di dalam ruang meditasi khusus yang berlantaikan batu giok, Lin Tian duduk bersila. Di telapak tangannya, gulungan giok ungu [Langkah Kilat Guntur Pembelah Kekosongan] melayang pelan, memancarkan percikan listrik statis kecil yang menyambar-nyambar di udara sekitarnya.

​"Memadatkan energi di titik akupunktur kaki hingga batas ledak," gumam Lin Tian, menganalisis isi teknik tersebut. "Syarat utamanya adalah elemen petir. Tapi karena aku tidak memiliki atribut petir murni, aku harus memodifikasinya."

​Di dunia kultivasi, memodifikasi teknik tingkat Bumi adalah tindakan bunuh diri bagi siapa pun di bawah ranah Earth (Bumi). Sebuah kesalahan kecil dalam rute meridian bisa mengakibatkan kelumpuhan permanen. Namun, Lin Tian bukanlah kultivator biasa. Garis keturunan Naga Astral di tubuhnya secara alami memahami hukum dasar pergerakan energi purba.

​Ia memejamkan mata. Alih-alih menyerap petir dari alam, Lin Tian mengompresi Qi ungu keemasannya yang telah bercampur dengan esensi panas Teratai Api Berdarah. Ia mengalirkan energi seberat air raksa itu ke bawah, menuju tiga puluh enam titik akupunktur mematikan di kedua kakinya.

​Dengan menggunakan tekanan brutal, ia memaksa Qi panas tersebut bergesekan satu sama lain di dalam titik-titik sempit meridian kakinya.

​BZZZT! KRAK!

​Gesekan ekstrem dari energi yang sangat padat itu mulai menghasilkan percikan listrik keemasan dari pori-pori kulit kaki Lin Tian. Otot betis dan pahanya kejang hebat. Pembuluh darahnya menonjol, menahan daya ledak yang mengerikan. Rasa sakitnya seolah kakinya sedang direndam di dalam lahar yang dialiri petir.

​"Tekan!" raung Lin Tian di dalam hati.

​Siluet naga hitam di dadanya menyala terang, mendistribusikan esensi penyembuhan dari tulang naga untuk merajut kembali setiap serat otot kaki yang robek akibat modifikasi liar tersebut.

​Berjam-jam berlalu. Cahaya dari batu giok di bawahnya perlahan meredup, energinya tersedot habis oleh kultivasi Lin Tian. Menjelang fajar, pemuda itu tiba-tiba membuka matanya yang kini memancarkan kilatan kilat ungu keemasan.

​Ia bangkit berdiri. Tanpa mengambil kuda-kuda, ia hanya menggeser kaki kanannya satu inci.

​JDARRR!

​Sebuah ledakan sonik memekakkan telinga bergema di dalam ruang meditasi. Lantai giok tebal di tempat Lin Tian berpijak hancur menjadi bubuk seketika.

​Dalam sekejap mata, tubuh Lin Tian lenyap dari pandangan, meninggalkan bayangan sisa (afterimage) yang perlahan memudar karena distorsi udara, lalu muncul kembali di sudut ruangan sejauh lima belas meter nyaris tanpa jeda waktu.

​Lin Tian menatap kedua kakinya yang kini diselimuti oleh busur-busur petir api ungu keemasan.

​"Langkah Kilat Guntur, Tahap Awal," senyum buas mengembang di wajahnya. "Ini bukan hanya sekadar kecepatan. Daya dorong dari ledakan ini bisa digabungkan dengan pukulan Tinju Runtuh. Bahkan seseorang di tingkat delapan atau sembilan akan kesulitan menangkap pergerakanku."

​Tiga puluh hari berlalu tanpa terasa di Puncak Dalam.

​Bulan ini merupakan bulan yang paling sunyi sekaligus paling mencekam bagi faksi Zhao. Mereka tidak mengirimkan satu pun murid untuk membalas dendam kepada Lin Tian. Bahkan para murid biasa secara sadar menghindari area sekitar Paviliun Bambu Angin, takut terseret dalam badai yang akan segera tiba. Semua orang tahu, faksi Zhao tidak menyerah. Mereka hanya sedang menunggu sang raksasa terbangun.

​Selama sebulan itu, Lin Tian tidak melangkah keluar dari paviliunnya sama sekali.

​Ia menghabiskan waktunya untuk memadatkan fondasi tingkat limanya dan melatih Langkah Kilat Guntur hingga mencapai batas kesempurnaan tahap menengah. Hutan bambu di halaman belakang paviliun menjadi korban; ratusan batang bambu sekeras baja hancur lebur hanya karena terhempas angin dari pergerakannya.

​Di bawah bimbingan dan pasokan sumber daya yang melimpah, Lin Chen juga menunjukkan perkembangan pesat. Pemuda itu berhasil menembus tingkat empat ranah Mortal, luka-lukanya telah sembuh total, dan ia mulai memancarkan aura seorang pedang elit.

​Hingga pada pagi hari di hari ke-31...

​BOOOOOOOOOOM!

​Sebuah pilar cahaya berwarna emas kusam tiba-tiba meledak dari Puncak Tetua yang terletak di pusat Sekte Dalam. Pilar energi raksasa itu menembus awan tebal di langit Sekte Pedang Langit, menyapu awan-awan itu hingga membentuk pusaran badai yang mengerikan.

​Seluruh burung buas dan hewan tunggangan di sekte seketika jatuh ke tanah, bergetar ketakutan.

​Tekanan spiritual yang luar biasa berat menyapu seluruh Puncak Dalam dan Puncak Luar layaknya gelombang pasang lautan. Tekanan ini sepenuhnya berbeda dengan ranah Mortal. Ini adalah tekanan yang menyatu dengan hukum gravitasi bumi itu sendiri!

​"Ranah Earth tingkat menengah..." Di paviliun pribadinya, Mu Qingxue yang sedang bermeditasi membuka mata birunya, ekspresinya menjadi sangat serius. "Penatua Agung Zhao berhasil menerobos."

​Di seluruh penjuru sekte, ribuan murid keluar dari kediaman mereka, memandang ke arah pilar cahaya itu dengan wajah pucat.

​Tidak lama setelah pilar cahaya itu muncul, sebuah auman murka yang diperkuat dengan Qi bergema menembus langit, menggetarkan setiap jendela kaca di Puncak Dalam.

​"SIAPA YANG BERANI MENGHANCURKAN MERIDIAN CUCUKU?! LIN TIAN!!! KELUAR KAU, BINATANG KECIL!"

​Suara itu membawa gelombang kejut yang membuat murid-murid di bawah tingkat enam langsung jatuh berlutut memuntahkan darah. Amarah seorang ahli ranah Earth adalah sebuah bencana alam.

​Di dalam Paviliun Bambu Angin, Lin Chen yang sedang berlatih pedang langsung tersungkur ke lantai. Tekanan yang datang dari langit membuatnya tidak bisa mengangkat kepalanya sama sekali, seolah ada gunung batu tak kasatmata yang menindih punggungnya.

​"Kakak Tian..." Lin Chen menggertakkan giginya, darah menetes dari sudut bibirnya.

​Lin Tian berjalan keluar dari ruang meditasi dengan langkah santai, sama sekali tidak terpengaruh oleh tekanan gravitasi tersebut. Ia mengangkat tangan kanannya, mengalirkan Qi ungu keemasan ke tubuh adiknya untuk menetralkan tekanan luar, membuat Lin Chen akhirnya bisa bernapas kembali.

​"Tetap di sini, Chen'er," ucap Lin Tian datar, wajahnya setenang permukaan danau. Ia merapikan lipatan jubah putihnya perlahan. "Tamu kita sudah datang."

​Lin Tian melangkah keluar ke halaman depan paviliun tepat saat langit di atasnya menggelap.

​Seorang lelaki tua berambut putih panjang melayang di udara tanpa bantuan senjata terbang apa pun—ciri khas absolut dari kultivator ranah Earth. Jubah emas mewahnya berkibar liar tertiup badai Qi yang ia ciptakan sendiri. Matanya merah menyala karena amarah yang mematikan, menatap ke bawah ke arah paviliun Lin Tian layaknya dewa kematian yang menjatuhkan vonis.

​Di belakang lelaki tua itu, di kejauhan, puluhan Penatua sekte lainnya dan murid-murid elit melayang menggunakan pedang terbang mereka, namun tidak ada satu pun yang berani mendekat atau ikut campur. Bahkan Kepala Sekte sedang dalam masa kultivasi tertutup, membuat Penatua Agung Zhao menjadi penguasa mutlak sekte saat ini.

​"Kau tikus got dari pelataran luar yang melumpuhkan Zhao Lie?!" suara Penatua Agung Zhao menggelegar dari langit, menciptakan riak yang mendistorsi udara.

​"Koreksi, Penatua," jawab Lin Tian dari bawah, suaranya diinfusi oleh energi naga hingga menembus badai angin dan terdengar jelas di telinga semua orang. "Aku melumpuhkan dua orang dari faksi Zhao. Zhao Kuang dan Zhao Lie. Jika kau di sini untuk meminta ganti rugi, aku takut aku hanya bisa membayarmu dengan cara mengirimmu menyusul mereka."

​Mendengar kalimat yang luar biasa arogan itu, para Penatua di kejauhan tersirap darahnya. Mengancam seorang tetua ranah Earth? Bocah itu pasti sudah bosan hidup!

​"AROGAN! MATI KAU!"

​Penatua Agung Zhao kehilangan seluruh kesabarannya. Ia tidak peduli pada aturan sekte tentang larangan membunuh sesama murid. Di matanya, pemuda tingkat lima di bawah sana hanyalah semut yang pantas diinjak hingga hancur.

​Lelaki tua itu mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Energi elemen tanah yang pekat dari radius beberapa mil berkumpul di telapak tangannya dalam sekejap mata, membentuk sebuah telapak tangan raksasa berwarna cokelat keemasan yang terbuat dari Qi bumi padat. Ukurannya setara dengan setengah paviliun.

​Telapak Tangan Pemusnah Gunung!

​Ini bukan teknik tingkat Fana, melainkan teknik tingkat Bumi Menengah!

​Telapak tangan raksasa itu meluncur turun dari langit, membawa daya hancur yang cukup untuk meratakan seluruh Paviliun Bambu Angin beserta bukit di bawahnya menjadi debu. Udara di bawah telapak tangan itu menjadi sangat padat hingga mengunci ruang, membuat kultivator ranah Mortal mana pun mustahil untuk lari.

​"Ini buruk!" gumam Mu Qingxue dari kejauhan, siap-siap memanggil pedang esnya meski ia tahu ia tidak akan bisa menahan serangan itu.

​Namun, di tengah bayangan maut yang turun dari langit, Lin Tian mendongak ke atas. Ia tersenyum—sebuah senyum predator yang menemukan mangsa yang akhirnya layak untuk dirobek.

​ZZZT!

​Busur petir ungu keemasan meledak dari kedua kakinya. Lin Tian tidak berniat untuk bertahan. Ia sedikit menekuk lututnya, dan dalam sepersekian detik, tanah di bawahnya hancur menciptakan kawah sedalam tiga meter.

​Langkah Kilat Guntur Pembelah Kekosongan!

​JDARRR!

​Sebuah ledakan sonik merobek udara. Alih-alih lari menjauh, sosok Lin Tian melesat lurus ke atas, menentang gravitasi, melesat bagaikan kilatan petir naga yang menyongsong telapak tangan raksasa pemusnah bumi tersebut!

1
Didi h Suawa
💪
Didi h Suawa
mantap
Didi h Suawa
simpel ,🙏
Didi h Suawa
awal yg baik,
Aman Wijaya
jooooz kotos kotos pooolll Thor lanjut terus semangat semangat semangat terus dalam berkarya
Aman Wijaya
saatnya pembantaian dimulai Lin Tian klan Lei telah menunggu kalian berdua.babat habis semua dan ambil kekayaan di gudangnya klan Lei
Heri Victor Purba
gas terus 👍
Aman Wijaya
sebentar lagi Lei jue terkencing kencing melihat aksi Lin Tian
Aman Wijaya
mantull Thor lanjut
Aman Wijaya
lanjut terus Thor
Aman Wijaya
jooooz jiiizz Thor 🔥🔥🔥
Aman Wijaya
gaaas terus sampai njeduk pooolll Thor 💪💪💪
Aman Wijaya
jooooz jiiizz Thor semangat semangat terus
Aman Wijaya
lanjutkan aksimu Lin Tian 🔥🔥🔥🔥🔥
Aman Wijaya
mantab Thor lanjut terus
Heri Victor Purba
💪
Heri Victor Purba
👍
Dewa Naga 🐲🐉
mantap...💪
Jojo Shua
🫰✅️
Jojo Shua
🫰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!