Enam tahun pernikahan yang terlihat sempurna ternyata menyimpan luka yang tak pernah diketahui siapa pun.
Selama enam tahun, Alena dan suaminya, Rendra, terus berjuang untuk mendapatkan buah hati. Berbagai cara telah mereka lakukan, mulai dari pengobatan hingga program kehamilan yang menguras tenaga dan air mata.
Namun, hasilnya tetap sama tidak ada tangisan bayi yang hadir di tengah rumah tangga mereka.
Di saat Alena masih berusaha bertahan dan berharap, Rendra justru memilih jalan yang paling menyakitkan.
Ia berselingkuh dengan sekretaris pribadinya sendiri.
Pengkhianatan itu semakin menghancurkan ketika Alena mengetahui bahwa wanita tersebut sedang mengandung anak suaminya.
Dunia Alena seakan runtuh dalam sekejap. Pria yang selama ini dicintainya ternyata telah memberikan semua yang ia impikan kepada wanita lain.
Saat Alena memilih pergi dan membangun hidup baru, Rendra mengira dirinya akan bahagia bersama selingkuhannya. Namun, semakin jauh Alena melangkah, semakin ia menya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31_Menegangkan.
"Jangan biarkan dia lolos!" bentak Edgar dengan wajah menegang. Rahangnya mengeras, sementara sorot matanya dipenuhi kemarahan.
"Dengar baik-baik!" lanjutnya lantang sambil menggenggam ponsel erat. "Kunci seluruh akses keluar masuk perusahaan! Tidak seorang pun boleh meninggalkan gedung sebelum identitas penyusup itu diketahui!" perintahnya tegas.
"Baik, Pak Edgar!" jawab petugas keamanan dari seberang telepon dengan suara tergesa-gesa.
Edgar langsung memutus sambungan telepon. Ruangan yang semula dipenuhi tawa kini berubah sunyi.
Elvara memeluk kedua lengannya sendiri.
"Kak... apa mungkin orang itu benar-benar anak buah Arsenio?" tanyanya lirih. Wajahnya memucat, sementara jemarinya gemetar menahan rasa takut.
Nathan segera berdiri di samping Elvara.
"Vara, jangan takut." ucapnya lembut sambil menatap wanita itu penuh ketenangan. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu." lanjutnya dengan tatapan penuh keyakinan.
Elvara mengangguk pelan.
"Aku percaya padamu." bisiknya pelan. Bibirnya bergetar, tetapi sorot matanya mulai kembali tenang.
Di layar ponsel, Mommy terlihat sangat cemas.
"Edgar, apa yang sebenarnya terjadi?" tanyanya dengan wajah panik. Kedua alisnya bertaut erat.
Edgar mengembuskan napas panjang.
"Ada penyusup yang masuk ke perusahaan." jawabnya serius. "Sepertinya dia sedang mencari sesuatu di ruang arsip." lanjutnya sambil mengepalkan tangan.
Daddy langsung berubah serius.
"Ruang arsip?" ulangnya pelan. Tatapannya tajam.
Edgar mengangguk.
"Iya, Daddy." jawab Edgar tegas.
Daddy terdiam beberapa saat.
"Itu berarti target mereka bukan uang." ucapnya pelan dengan wajah penuh pemikiran.
Nathan menoleh cepat.
"Maksud Om?" tanyanya penasaran. Alisnya berkerut.
Daddy menarik napas panjang.
"Di ruang arsip perusahaan masih tersimpan banyak dokumen lama." jelasnya tenang.
"Termasuk berkas kerja sama, kepemilikan saham, hingga dokumen rahasia yang belum pernah dipublikasikan." lanjutnya dengan sorot mata serius.
Edgar langsung membelalak.
"Kalau begitu..." gumamnya pelan.
Nathan seolah memahami sesuatu.
"Mereka sedang mencari bukti." katanya pelan. Wajahnya berubah tegang.
"Tepat." jawab Daddy mantap. "Dan kemungkinan besar bukti itu berkaitan dengan orang yang selama ini bersembunyi di balik Arsenio."
Ucapan itu membuat bulu kuduk Elvara meremang.
"Jadi..." bisiknya lirih. "Arsenio hanya pion?" tanyanya dengan wajah tidak percaya.
Tak seorang pun langsung menjawab.
Suasana kembali diliputi keheningan.
Edgar segera mengambil jasnya.
"Nathan." panggilnya singkat. Tatapannya penuh keseriusan.
"Aku ikut." jawab Nathan tanpa ragu. Tatapannya sama tajamnya.
Elvara langsung berdiri.
"Aku juga ikut." ucapnya mantap. Wajahnya dipenuhi tekad.
"Tidak!" seru Edgar spontan. Tatapannya berubah tegas.
Elvara menatap kakaknya.
"Itu perusahaanku." balasnya dengan nada yang tak kalah tegas. "Aku tidak akan terus bersembunyi setiap kali ada ancaman." lanjutnya sambil mengangkat dagunya.
Nathan memandang Elvara beberapa saat.
"Aku akan menjagamu." ucapnya pelan. Senyumnya tipis namun penuh keyakinan.
Edgar menghela napas panjang.
"Baik." katanya akhirnya. "Tapi jangan jauh dariku."
Elvara mengangguk mantap.
Beberapa menit kemudian...
Mobil hitam milik Edgar melaju membelah jalanan malam.
Hujan rintik mulai turun, membuat suasana terasa semakin mencekam. Tak ada satu pun dari mereka yang berbicara. Masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Sesampainya di gedung perusahaan...
Lampu-lampu lobi masih menyala terang.
Puluhan petugas keamanan berjaga di setiap sudut.
"Pak Edgar!" panggil kepala keamanan sambil berlari menghampiri. Napasnya terengah-engah.
"Bagaimana situasinya?" tanya Edgar cepat.
"Kami sudah menyisir seluruh gedung." jawabnya serius. "Tapi penyusup itu menghilang begitu saja."
Nathan mengamati sekitar.
"Perlihatkan rekaman CCTV." pintanya tenang.
Mereka segera menuju ruang kontrol.
Layar monitor menampilkan rekaman beberapa menit sebelumnya. Terlihat seorang pria bertubuh tinggi mengenakan hoodie hitam, masker, dan sarung tangan. Ia berjalan tanpa tergesa. Seolah sudah sangat mengenal setiap sudut gedung.
Nathan menyipitkan mata.
"Perbesar bagian wajahnya." pintanya.
Petugas segera memperbesar gambar. Namun wajah pria itu tetap tak terlihat jelas.
Tiba-tiba...
Pria misterius itu berhenti tepat di depan kamera. Perlahan... Ia mengangkat kepalanya.
Lalu....
Dengan sengaja mengangkat tangan kanannya.
Ia membentuk isyarat dua jari. Kemudian menunjuk lurus ke arah kamera. Seolah mengetahui bahwa seseorang sedang memperhatikannya.
Elvara menahan napas.
"Dia... sengaja melakukan itu." bisiknya pelan. Wajahnya memucat.
Belum sempat siapa pun berbicara... Pria itu mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari dalam jaketnya.
Ia meletakkannya tepat di depan pintu ruang arsip. Lalu berjalan pergi tanpa sedikit pun menoleh ke belakang. Rekaman berakhir.
Nathan langsung berdiri.
"Amplop itu!" serunya cepat. Wajahnya berubah serius
.
"Kami menemukannya, Pak." jawab kepala keamanan sambil menyerahkan sebuah amplop yang masih tersegel.
Edgar membuka amplop itu dengan hati-hati.
Di dalamnya...
Hanya ada selembar foto. Saat foto itu dibalik... Wajah Elvara langsung kehilangan warna.
"Itu..." ucapnya terbata-bata. Matanya membelalak penuh syok.
Nathan segera mengambil foto tersebut.
Di dalam foto itu tampak Arsenio sedang berjabat tangan dengan seorang pria berjas yang wajahnya sengaja disobek hingga tidak terlihat.
Namun, di bagian belakang foto tertulis sebuah kalimat dengan tinta merah yang menyerupai darah.
"Kalian menangkap orang yang salah. Dalang sesungguhnya akan segera kembali... dan kali ini, Elvara akan kehilangan semua orang yang dicintainya."
Seketika udara di ruangan itu terasa membeku.
Edgar mengepalkan kedua tangannya hingga urat di lehernya menonjol. Sedangkan Nathan tanpa sadar berdiri lebih dekat di depan Elvara, seolah menjadi tameng hidup untuk melindunginya.
Sementara Elvara hanya mampu menatap foto itu dengan tubuh yang gemetar.
Tanpa mereka sadari... Di seberang gedung perusahaan...
Seorang pria misterius berdiri di atas atap bangunan sambil tersenyum tipis.
"Waktunya telah tiba..." gumamnya pelan. Senyumnya dingin, sementara kedua matanya memancarkan kebencian yang mengerikan.
Lalu ia berbalik dan menghilang di balik gelapnya malam, meninggalkan pertanda bahwa mimpi buruk Elvara ternyata baru saja dimulai.
nunggu karma pelakor celline gimana karma nya.