Riven Daylon Chamron adalah pria yang memiliki segalanya. Terlahir sebagai putra sulung Thomas Chamron dan Hellary Chamron, ia tumbuh di tengah kemewahan, kekuasaan, dan lingkaran pergaulan elit yang membuat namanya dikenal di banyak kalangan.
Namun, ada satu hal yang tidak pernah diajarkan oleh dunia bisnis, kekuasaan, ataupun pendidikan terbaik yang pernah ia terima: cinta.
Angelina Angie, seorang gadis yang terlihat polos dan pekerja keras demi mencapai impiannya mampu meluluhkan hati Riven.
Namun, saat perasaannya semakin dalam, Riven mulai menyadari bahwa wanita yang dicintainya mungkin tidak mencintainya dengan alasan yang sama.
Angelina Angie yang tak memiliki apapun tak membawa apapun hingga akhirnya menjadi Ratu Instagram berkat Riven, ternyata memiliki kehidupan yang penuh kontroversi. Di balik senyumnya yang memikat, tersimpan ambisi, drama, intrik, serta rahasia yang tak di ketahui.
Sebuah kisah tentang cinta, pengkhianatan, ambisi, dan harga yang harus dibayar ketika seorang pewaris konglomerat jatuh hati pada wanita yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Newbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 21
Suara pekikan kesal langsung menyalak dari seberang sambungan.
Angie menjauhkan speaker itu beberapa senti dari telinganya. “Ada apa?”
“Ada apa, katamu?!” Nada suara pria itu kian meninggi, sarat akan kepanikan. “Aku sudah berhasil mengamankan setelan jas dengan ukuran presisi yang kau minta kemarin! Bukankah aku sudah memperingatkanmu agar pakaian itu kembali tepat waktu?”
Angie memijat pelipisnya, mengembuskan napas pendek. “Aku mengerti. Besok pagi-pagi sekali, barang itu akan ada di tanganmu.”
“Jangan sampai cacat atau terlambat!”
“Aku janji, Zhengki.” Angie menjeda kalimatnya, beralih pada sebuah rasa penasaran yang mengganjal. “Tapi... Bagaimana bisa kau mendapatkan setelan jas semahal itu?”
Di seberang sana, dengus napas Zhengki terdengar mereda, digantikan bisikan konspiratif. “Oh, itu... Kebetulan ada pelanggan konglomerat yang baru membeli jas baru. Dia tipe orang kaya yang cerewet, tidak mau memakainya sebelum kainnya didekontaminasi dan dicuci ulang di laundry kami. Tepat saat aku sedang mengurus manifes laundry itu, kau menghubungiku. Aku langsung teringat permintaanmu, dari pada aku susah-susah mencari di butik ibuku.”
Angie menyunggingkan senyum tipis yang sarat arti. “Jadi, kau menyelundupkannya untukku?”
“Ya, begitulah. Toh, jas itu sudah selesai diproses dan disetrika uap. Masalahnya, besok sore pakaian itu harus sudah tergantung rapi di ruang kerja pemiliknya. Jadi tolong, Angie, jangan hancurkan reputasi usaha laundry ku.”
“Tenanglah. Kau bisa memegang kata-kataku,” sahut Angie, suara tawanya terdengar renyah namun dingin.
“Bagus.”
Sambungan pun terputus. Angie meletakkan ponselnya di atas meja nakas dengan ketukan pelan. Lalu ka bangkit, mengayun langkah menuju kamar mandi pribadi di dalam kamar.
Begitu melangkah masuk, tatapannya langsung terpaku pada kecanggihan interior di dalamnya.
Deretan tombol digital dan fitur-fitur sanitasi modern yang belum pernah ia lihat seumur hidupnya terpampang di dinding. Jari-jarinya menyentuh permukaan panel tersebut, mengagumi fungsionalitas teknologi kelas atas, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk membersihkan diri.
Angie menggunakan air hangat yang membasuh kulitnya, membantu mengendurkan otot-ototnya yang kaku akibat hari yang brutal.
Beberapa saat kemudian, Angie keluar dengan uap hangat yang mengekor di belakangnya. Karena tidak membawa pakaian pengganti, seperti yang Riven katakan sebelumnya bahwa ia diperbolehkan mengenakan piyama yang dipinjamkan oleh Riven.
Busana satin itu jelas tidak dirancang untuk proporsi tubuhnya yang mungil. Lengan bajunya menjuntai jauh melewati pergelangan tangan, sementara bagian bahunya merosot rendah, memperlihatkan garis tulang selangkangnya yang tegas.
Meski begitu, kelembutan kainnya memberikan kehangatan yang protektif.
Angie berdiri di depan cermin besar, menatap bayangan dirinya sendiri selama beberapa saat.
Lengkungan senyum tipis, misterius, dan penuh rahasia terukir di bibirnya yang kini tak lagi pucat.
Setidaknya untuk malam ini, ia berhasil melarikan diri dari neraka yang ia sebut rumah.
————
Pukul 10 malam, Angie keluar dari kamar dan hanya mengenakan atasan piyama milik Riven yang kebesaran, hingga ujungnya jatuh di pertengahan paha.
Gadis itu keluar dari kamar menuju dapur. Ia membuka pintu kulkas, lalu termangu menatap isinya. Alih-alih mencari camilan malam, Angie justru mengambil sebutir telur ayam. Perlahan, ia menggulirkan permukaan telur yang dingin itu ke pipinya yang masih terasa nyeri.
“Sedang apa?”
“Ah!” Angie tersentak. Telur mentah di genggamannya terlepas dan hancur di lantai, tepat di dekat kaki jenjangnya.
Riven berjalan mendekat. Awalnya, tubuh Angie terhalang oleh meja bar kecil yang memisahkan dapur dan ruang keluarga. Namun begitu jarak mereka mengikis, langkah Riven mendadak tertahan. Ia tertegun menyadari Angie hanya mengenakan kemeja piyamanya yang longgar.
Pria itu segera membuang muka, lalu menelan ludah dengan susah payah.
“Aku mengejutkanmu,” ujar Riven, kini mengalihkan fokus pada kekacauan di lantai.
“Kupikir kau sudah tidur. Bukankah tadi katanya mau istirahat?”
“Aku sudah tidur beberapa jam, dan itu sudah cukup.”
Riven menarik beberapa lembar tisu dapur lalu berjongkok. “Kau mau memasak telur?” tanyanya sembari memunguti pecahan cangkang.
“Tidak. Aku hanya ingin meredakan nyeri di pipi. Katanya, memutar telur mentah bisa mengurangi bengkak.”
Riven mendongak sesaat, menatap Angie dengan tatapan yang sulit diartikan, sebelum akhirnya membuang tisu kotor itu ke tempat sampah dan mencuci tangannya di wastafel.
Pria itu kembali membuka kulkas. Ia mengambil beberapa bongkah es batu, membungkusnya dengan serbet bersih, lalu berbalik.
“Ikut aku.”
Angie mengangguk patuh.
Tak lama, mereka sudah duduk berhadapan di sofa ruang keluarga. Riven dengan telaten menempelkan buntalan es itu ke pipi Angie yang memerah.
Angie sedikit meringis, refleks menjauhkan wajahnya.
“Terlalu kuat?” tanya Riven, langsung melonggarkan tekanannya.
“Tidak,” bisik Angie pelan. “Dingin.”
Riven mengangguk, lalu kembali mengompres pipi gadis itu dengan gerakan yang sangat berhati-hati, seolah takut menyakitinya lebih jauh.
“Maaf, hanya serbet ini yang paling bersih. Di sini tidak ada ice bag atau gel pack.”
“Tidak apa-apa.”
Setelah itu, keheningan melingkupi mereka. Hanya ada dengung samar dari pendingin ruangan yang memecah sepi, menemani jemari Riven yang bergerak telaten mengompres pipi Angie dengan penuh kesabaran.
Sesekali, mata Riven mencuri pandang ke arah Angie. Ia mulai bertanya-tanya, apakah gadis di hadapannya ini memang ceroboh, atau justru terlalu lugu hingga tidak menyadari pesonanya sendiri.
Angie duduk menyilangkan kaki di atas sofa dengan santai. Mereka saling berhadapan. Atasan piyama kebesaran yang membungkus tubuhnya justru membuat penampilannya terlihat kasual, tanpa beban, sekaligus, berbahaya bagi fokus Riven.
Pria itu berulang kali memaksa dirinya untuk tetap memandang kompresan es, bukan wajah Angie.
Gadis ini memang cantik. Bahkan, jauh lebih menawan ketimbang perempuan dari kalangan borjuis yang biasa Riven temui di pesta-pesta kelas atas.
“Ehm…” Riven berdeham pelan, berusaha mengusir pikiran liarnya. “Apa kau seorang influencer terkenal?”
“Bukan.”
Jawaban instan itu membuat Riven langsung menatap matanya. Setidaknya, gadis ini tidak bermulut besar.
“Biasanya, endorsement barang mewah hanya diberikan kepada influencer dengan ratusan ribu pengikut.”
“Ya, aku tahu. Pengikutku bahkan belum sampai seribu orang,” sahut Angie santai. “Tapi aku memang beberapa kali mendapat produk untuk diunggah. Sebagian dipinjamkan oleh teman-temanku. Kebetulan aku punya beberapa teman dari kalangan atas yang cukup baik padaku. Kau tahu maksudku, kan?”
Riven mengangguk pelan, menyimak.
“Salah satunya Genie. Kau pasti tahu dia, kan? Anak pemilik perusahaan fashion besar itu. Dia yang mengizinkanku meminjam beberapa barang mewah miliknya. Selain itu, ada juga pasangan kaya yang memberiku barang-barang branded secara cuma-cuma.”
“Siapa?” tanya Riven, nadanya mendadak berubah datar. “Laki-laki?”
“Emm… ya.”
Gerakan tangan Riven yang sedang mengompres pipi Angie seketika terhenti.
Menyadari perubahan atmosfer di antara mereka, Angie bergegas merogoh dan membuka ponselnya.
“Dia yang memberiku sebagian barang-barang mewah.” Angie menyodorkan layar ponselnya ke depan wajah Riven.
Riven menerimanya. Pelipis pria itu berkedut samar saat membaca profil pria yang ditunjukkan Angie.
“Dia sudah punya istri,” ujar Riven, suaranya terdengar menginterogasi. Jempolnya bergerak cepat menelusuri beberapa foto dan unggahan.
Bersambung
act service riven bnr² bkin meleyott wkw
btw angie mau k rumah tmn yg mana yaa ??
nah kan ditnyain kmu kenapa blum ke kantor