Cerita sedang Hiatus, tidak diperkenankan untuk dibaca.
Bagaimana jadinya ketika Anak baik-baik yang begitu tahu akan adab tiba-tiba berpindah ke tubuh gadis Antagonis?
Yup! Alvina memasuki tubuh seorang gadis yang terkenal dengan nama Bad Gueen, pembully yang sangat jahat di sekolah Antareksa. Begitu memasuki tubuh sang gadis antagonis, hidup Alvina berubah 100 derajat dari kehidupannya sebagai Alvina, gadis sopan dan tahu adab.
Lalu, apa yang akan dilakukan oleh Alvina? Yuk saksikan kelanjutannya!
SELAGI LAGI CERITA INI HANYA UNTUK BERSENANG-SENANG UNTUK MELEPAS BOSAN AUTHOR, SEKIAN DARI ZEN. TERIMA KASIH 🥂
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosalyn., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AUSTIN SADAR?
Sesampainya di rumah sakit, dalam keadaan darurat Shopia segera dibawa oleh perawat, sementara itu para anggota keluarga diharuskan untuk menunggu di luar.
Keadaan menjadi sangat tegang, bahkan mereka bertiga benar-benar berharap supaya Shopia selalu dalam lindungan Tuhan.
Klak....pintu ruangan terbuka dan memperlihatkan seorang Dokter yang baru saja menangani keadaan Shopia. Dengan cepat pula, Mega, Erlan dan Kelvin menghampiri Dokter dengan ekspresi penuh harap mereka.
"Dokter, bagaimana keadaan Anak saya" tanya Mega.
Dokter melihat mereka bertiga dengan tatapan yang sulit diartikan, dia menghela nafas berat sambil melepas sapu tangan miliknya.
"Sepertinya saat membawa pasien menuju ke rumah sakit tidak ada yang memberikan pasien pertolongan pertama, maka dari itu racun terlalu banyak menyebar dan menyebabkan kondisi pasien dalam kondisi kritis" jelas Dokter itu berbicara dengan berat hati sekaligus menyayangkan hal tersebut.
Mega, Erlan dan Kelvin langsung merasa terpukul mendengarnya. Mereka sangat sedih dan menyalahkan diri mereka sendiri atas ketidak tahuan mereka.
"Ja-jadi bagaimana, Dokter? Tolong sembuhin Adik saya, Dok. Saya mohon" ucap Kelvin memohon, seketika kakinya langsung lemas dan terduduk di kursi itu sambil menunduk dengan mata menggenang.
Reaksi pilu itu cukup dimaklumi oleh Dokter, dia hanya bisa memberikan semangat dan beberapa arahan pada mereka supaya lebih bersabar dan tabah menerima keadaan.
"Saya akan berusaha lebih keras lagi, sebisa mungkin akan saya usahakan supaya pasien bisa lolos dari kondisi kritisnya. Yang terpenting, kalian harus banyak berdoa dan selalu bersabar" pungkas Dokter dan kemudian pergi dari sana, meninggalkan 3 anggota keluarga yang sedang terpukul itu.
"Gue gak mau kehilangan lo, Pia. Lo harus cepat sadar, kita semua akan selalu menunggu lo sampai kapan pun itu" gumam Erlan, memandang keadaan Shopia di balik kaca pintu yang transparan itu.
...****************...
Beralih di tempat Mila saat ini, dia sedang menaiki sebuah taxi untuk menuju rumah sakit. Dia berniat untuk menyusul Austin yang meninggalkannya begitu saja.
Terlihat jelas sebuah kekesalan di ekspresi wajahnya. Tiada hentinya dia menggigiti kuku jari kelingking nya seolah-olah takut akan sesuatu.
"Gak-gak bisa! Gue gak mau perhatian Papa teralihkan. Gue gak mau itu terjadi. Gimana caranya perhatian Papa bisa balik lagi ke gue" gumamnya merasakan rasa takut akan kehilangan kasih sayang Austin untuknya.
"Pak lebih cepat lagi bisa gak sih?!" kesal Mila.
Atas desakan Mila, si Supir dengan terpaksa menambah laju mobilnya.
"Iya non, sabar dikit et dah..."
...****************...
Lain lagi yang terjadi di rumah sakit saat ini. Hanya ada suasana muram dan ketegangan. Kelvin dan Erlan tidak pernah berhenti mengintip proses penanganan Shopia dari kaca pintu yang transparan itu.
Sementara itu, Mega hanya bisa terduduk lemas di kursi tunggu sambil berdoa tanpa henti supaya sang putri tercinta selalu dalam lindungan Tuhan.
Semua mengharapkan hasil yang baik, namun sayangnya disaat mereka tengah membangun harapan itu tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara tapak kaki seseorang yang sedang berlari.
Ketiganya langsung menoleh pada arah suara dan mendapati keberadaan Austin yang datang dengan ekspresi khawatirnya.
Seketika darah Mega langsung mendidih saat melihat kehadiran Austin yang datang tanpa tahu malu untuk mengkhawatirkan Shopia yang selama ini dia abaikan. Mega berdiri, memandang Austin dengan marah.
"Mah, gimana keadaan Shopia?" pertanyaan itulah yang diberikan oleh Austin setelah dia sampai di sana.
"Ngapain kamu ke sini?" datar Mega sambil memberikan tatapan dingin pada sang suami.
"Mah, ini bukan waktunya untuk bertengkar. Shopia lagi dalam kondisi kritis, kita harus berpikir dengan jernih" ucap Austin.
"!!" Mega langsung menunduk begitu mendengar perkataan Austin.
Dia sudah melakukan hal yang sia-sia. Dengan melampiaskan amarah pada Austin, tidaklah membuat Shopia bisa sadar kembali dan melewati masa kritis dengan mudah.
Yang bisa dia lakukan saat ini hanya terus berdoa dan berdoa. Bagaimana pun dia harus memikirkan kondisi Shopia terlebih dahulu dibandingkan urusan lainnya.
Keadaan menjadi sangat canggung. Kelvin dan Erlan menyadari suasana canggung itu. Melihat kondisi Austin yang sedang diacuhkan oleh Mega, telah membuat Erlan sedikit simpatik. Lain lagi dengan Kelvin, dia bahkan tidak memiliki rasa simpati lagi pada Austin.
"Shopia dalam masa kritis, Pah. Kita doakan aja supaya masa kritisnya berlalu" ucap Erlan, menenangkan Austin yang sedang khawatir itu.
Mendengar penjelasan Erlan, membuat Austin semakin khawatir. Dia mendekati pintu ruangan dan kemudian mengintip pada kaca transparan itu.
"Papa sangat khawatir pada kamu Shopia," gumam Austin pelan namun cukup terdengar oleh Kelvin yang kala itu berdekatan dengannya.
"Baru sekarang Papa khawatir sama Shopia," ucap Kelvin ketus pada sang Papa, sambil memberikan tatapan jengkelnya.
Seketika Austin terdiam. Nampaknya dia juga menyadari perbuatannya atas perkataan tajam yang diberikan oleh Kelvin.
"Vin, udahlah" tegur Erlan "Pah, lebih baik Papa duduk aja di sana. Biar kami aja yang nunggu di sini," lanjutnya.
Austin mengangguk dan kemudian melangkah menuju kursi tunggu dengan ragu. Sesekali pula dia melihat pada pintu ruangan yang tak kunjung terbuka itu.
"Perbuatan Papa memang tidak bisa dimaafkan, Mah. Papa mohon maaf, Papa udah salah." ucapnya tanpa menoleh pada Mega sama sekali dikarenakan rasa bersalah dan malunya begitu besar.
Mega menoleh pada Austin dengan mata menyipit dan alis menukik tajam "Bisa gak kamu berhenti ngajak aku bicara?! Aku muak, aku lelah!! Kamu gak maukan kondisi makin rumit? Makanya jangan perburuk keadaan" jengkel Mega.
"!!" Austin terhentak saat mendengar perkataan tajam dari sang istri. Baru pertama kalinya Mega memberikan tatapan yang begitu dingin padanya.
Atas kebodohan yang telah dia lakukan telah membuat Austin terancam kehilangan keluarga yang benar-benar sangat dia sayangi. Penyesalannya begitu besar, mungkin sangat terlambat baginya untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang sudah dia perbuat.
Namun dia juga memiliki banyak beban yang harus ditanggung. Mungkin prilakunya selama ini sangat tidak adil bagi keluarga kecilnya. Namun dibalik itu, Austin menyimpan semua beban dipundaknya seorang diri.
Betapa besarnya rasa bersalah dan hutang budi yang selama ini dia rasakan telah merusak mentalnya dan menekankan sebuah kewajiban bahwa dia harus menjaga sesuatu yang berharga.
Namun karena hal itu justru telah membuat Austin terancam kehilangan sesuatu yang berharga lainnya. Dia berpikir jika semua yang dia lakukan selama ini telah berada di posisinya masing-masing. Namun nyatanya hal itu malah melenceng dan hanya menjadi sebuah jeratan yang rapuh seperti sebuah kapas.
"Aku memang udah bodoh. Dari awal aku berpikir jika kasih sayang dari Mega saja sudah cukup bagi Shopia. Aku berpikir jika Shopia serakah dengan mengharapkan kasih sayang dari kami berdua, namun pikiran itu salah! Aku selalu berpaku pada Mila yang sudah kehilangan kedua orangtuanya dan hanya akulah yang menyayanginya " benak Austin sadar atas apa yang telah dia perbuat.
"Meski udah terlambat, aku akan memperbaiki semua ini walau bagaimanapun caranya!!" lanjutnya bertekat.
^^^TBC~^^^