Di usianya yang masih belia, Amara dipaksa menghadapi kehilangan, penolakan, dan kenyataan pahit, bahwa terkadang dosa orang tua meninggalkan luka bagi anak-anaknya.
Menjadi anak dari seorang yang bersalah, bukan berarti ia harus menanggung hukuman yang sama. Mampukah Amara meyakinkan dunia tentang itu? ketika perempuan yang paling ia cintai, yang dipanggilnya mama telah lebih dulu menjauhinya. Dan di saat hatinya masih porak poranda, Amara dipaksa menikah dengan laki-laki yang berusia lebih dari dua kali usianya.
Yuk ikuti kisahnya, Akad Tanpa Cinta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐈𝐩𝐞𝐫'𝐒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 17
Malam kembali menyelimuti apartemen itu dengan sunyi, bahkan terasa lebih dingin dari biasanya. Di atas meja makan, hanya ada dua piring, dua gelas, dan beberapa hidangan yang tersisa masih mengepulkan uap tipis. Tak ada lagi suara tawa hangat Mama yang sibuk menambahkan lauk ke piring Amara, tak ada celoteh Papa yang selalu berhasil memancing obrolan ringan di sela-sela makan malam.
Abimanyu dan Amara duduk saling berhadapan, sesekali suara sendok yang beradu dengan piring memecah keheningan, lalu semuanya kembali tenggelam dalam diam. Keduanya sama-sama menikmati makanan dalam diam, tetapi tak benar-benar merasakan rasanya.
Keduanya bergelut dengan pikiran masing-masing, Amara pikirannya masih tertinggal pada kehangatan beberapa hari terakhir ketika meja makan dipenuhi perhatian, candaan, dan kasih sayang kedua orang tua Abimanyu. Hingga tanpa sadar ia melirik dua kursi kosong di ujung meja, kemudian menarik napas panjang.
Baru beberapa jam kedua mertuanya pulang ke Bandung, tetapi kerinduan itu telah tumbuh begitu cepat. Kehangatan yang sempat memenuhi hatinya kini seolah ikut pergi bersama mereka meninggalkan Jakarta. Apartemen itu kembali terasa terlalu luas, terlalu sunyi, dan terlalu asing.
Abimanyu pun merasakan hal yang sama. Meski terbiasa hidup sendiri, ia tak dapat memungkiri bahwa kehadiran kedua orang tuanya telah menghidupkan suasana rumah. Terlebih ketika dirinya merasakan canggung karena keberadaan Amara, namun kehadiran orang tuanya seolah menjadi penengah. Dan kini setelah mereka pulang hanya tersisa dirinya dan Amara, dua orang yang masih sama-sama belajar memahami satu sama lain di dalam pernikahan yang tidak pernah mereka rencanakan.
"Om... Aku mau nyari kerjaan, boleh?" Tanya Amara pelan, memecahkan kebekuan sambil meletakkan sendok di atas piring. "Nanti kalau aku sudah dapat pekerjaan, aku juga pengen kuliah." Lanjutnya lagi dengan hati-hati.
Abimanyu menghentikan suapannya, ia menatap Amara tanpa ekspresi. "Kamu baru lulus SMA mau kerja apa?" Ucapnya, meski pelan namun nada bicaranya terdengar meremehkan. "Kamu pernah bilang di sini nyuci baju ku dan mengurus pekerjaan lainnya juga minta di ga-ji, terus kalau kamu kerja di luar bagaimana dengan kerjaan di sini? Dan kalau kerja di luar jangan harap akan menerima uang dari ku."
Mendengar perkataan Abimanyu, Amara terdiam. Ia tak menyangka pria itu masih mengingat permintaan dirinya beberapa waktu lalu yang bahkan hampir dilupakan nya. Namun keterdiaman nya tak berlangsung lama, gadis itu kembali bersuara. "Berarti aku enggak harus kerja di luar ya om?"
"Ya pikir saja sendiri." Sahut Abimanyu datar. Pria itu beranjak dari duduknya, kemudian meninggalkan Amara yang terdiam menatap punggungnya.
Kalau aku enggak kerja keluar, pasti bosen dirumah terus tiap hari sendirian. Tapi di luar aku mau kerja apa? apa aku langsung kuliah saja, enggak perlu sambil kerja di luar ya...
Batin Amara terus meracau. Banyak hal yang kini memenuhi pikirannya, dan keinginannya saat ini dirinya harus banyak uang supaya suatu saat nanti bisa mandiri tidak terus bergantung pada Abimanyu.
Iya, sebaiknya aku kuliah saja. Dan aku harus tahu berapa om Abi akan menggajiku.
Amara bangkit kemudian menyusul Abimanyu yang sudah memasuki kamar, meski ragu tangannya tetap terangkat mengetuk pintu. "Om! boleh bicara lagi? Masih ada hal penting!" Panggil Amara sedikit mengeraskan suaranya.
Di dalam kamar, Abimanyu yang sudah bertelanjang dada berdecak pelan. Namun tak urung pria itu membuka pintu kamar, "mau bicara apalagi?" Tanya nya sedikit ketus.
Bukannya menjawab Amara malah terjengkit kaget. "Astaghfirullah..." Ucapnya sembari memegang dada. "I-itu om!" Gadis itu menunjuk dada bidang Abimanyu yang ditumbuhi rambut-rambut halus di sekelilingnya.
Abimanyu menghela napas berat. "Cepetan mau bicara apa?" Sentaknya penuh kekesalan. Membuat jantung Amara hampir keluar dari rongga nya.
"Itu om... Aku milih kerja di sini saja, jadi art nya om tapi sambil kuliah. Apa boleh?"
"Terus?"
"Terus apanya?" Tanya Amara mengerutkan kening, ia menatap pria di depannya penuh kebingungan.
Abimanyu menaikan sebelah alisnya. "Biaya kuliah, uang jajan, dan lain-lain? Kamu pikir kuliah itu murah?"
"Dari om, kan om banyak uang. Aku juga istri om, kata mama apapun kebutuhan aku sudah menjadi tanggung jawab om."
"Oke, kamu memang istriku. Tapi, apakah kamu sudah melakukan kewajibanmu sebagai istri belum?" Tohok Abimanyu telak, namun bukannya tersinggung, Amara menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Sudah... Dua hari sekali aku nyuci baju om, dan barusan aku nyiapin makan juga." Ucap Amara penuh percaya diri.
Abimanyu seketika mendengus bersamaan dengan suara bel yang berbunyi, membuat sepasang suami istri tersebut menoleh ke arah pintu secara bersamaan. Tanpa sadar keduanya melangkah beriringan menuju pintu, tangan Amara terangkat membuka pintu perlahan. Seketika ia memundurkan tubuhnya hinggak menabrak dada Abimanyu.
"Mama..." Panggilnya pelan dengan tatapan tak percaya.