"Begini, ya. Bukan aku tak tahu, diluar sana banyak yang membenci sikap dinginku, aku juga ketus dan galak. Jadi, menurutmu adakah wanita yang menyukai orang sepertiku? Kau saja komplain buktinya."
Liliyana berpikir. Pasti banyak yang menyukai suaminya. Meski dingin, Kalandra punya pesona. Kenapa Kalandra malah berpikiran sempit begitu sih.
"Mas Alan jangan pesimis gitu. Pasti banyak kok yang menyukai Mas Alan."
Kalandra nyaris tertawa. Liliyana tetaplah Liliyana. Tak bisa serius sedikit, sekarang malah seolah melucu lagi di depannya.
"Jadi kau ingin ada wanita lain yang menyukai ku?"
Liliyana mendengkus. "Terserah, aku tak punya hak marah, bukan?"
"Tentu punya," jawab Kalandra.
"Apa hakku?" tanya Liliyana.
"Kau kan istriku," pungkas Kalandra membuat Liliyana jadi berdebar mendengarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apple Cherry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34 - Wanita Gila Vs Istri Sah
"Kenapa? Kelihatannya kau sangat kaget, ya," ujar Michele sambil menyeringai.
Seringai Michele itu membuat Liliyana menghela napas. Apa yang harus dia katakan pada makhluk tak tahu diri di depannya, pikirnya.
"Kekasihmu?" ulang Liliyana sambil menahan diri sebisanya.
"Yup. Aku sangat kesal mengatakan ini padamu, Nona. Tapi sepertinya harus begitu. Lihatlah, apa menurutmu tuan Kalandra benar-benar tertarik padamu?"
Michele mencemooh Liliyana melalui tatapan menghinakan. "Kau lebih mirip sepupu kecilnya kurasa."
Liliyana membuang napas perlahan. Ia berharap kesabarannya diluaskan. "Kau ini kira-kira harus diapakan agar sadar?"
Michele menggemeretak kesal mendengar jawaban Liliyana. Kenapa wanita itu tidak sakit hati, atau setidaknya marah dan menangis karena tahu suaminya punya kekasih, sih. Ia mengumpat dalam hati.
"Kalau kau kekasihnya, silakan temui dan katakan sendiri kau merindukannya, menginginkannya. Lihat reaksinya, jika dia menerima dirimu maka pergilah, ambil dia!" sentak Liliyana.
Para tamu undangan langsung tersentak melihat Liliyana menantang wanita yang berdiri tegak di depannya.
"Lihatlah, dia bukannya artis terkenal Michele?" ucap samar tamu undangan.
"Kurasa dia Michele si model kelas atas yang belakangan sedang naik daun," timpal orang lain disebelahnya.
"Apa dia coba menggoda Tuan Kalandra? Kalau iya, dia benar-benar gila. Cari mati namanya."
Liliyana cukup mendengar omongan orang-orang tersebut. Semoga saja kakek Anggara dan kakeknya tidak melihat kejadian ini. Ia pun lalu menarik tangan Michele yang kelihatan kesal padanya.
"Kita bicara di tempat lain!" ucap Liliyana.
"Lepaskan tanganmu bocah!" Michele masih saja bersikap seenaknya.
"Kau lihat orang-orang merasa terganggu. Ini acaraku, jadi kalau kau punya attitude, baiknya gunakan itu!" gertak Liliyana.
Michele berdecih. "Aku sengaja ingin menghancurkan pesta mu. Kau tahu, aku bahkan sudah meminta agar suamimu menghamili ku. Bagaimana menurutmu?" bisiknya di telinga Liliyana secara sengaja untuk mengintimidasi.
Mata Liliyana membulat, tangannya mengepal kuat, ia lalu menampar Michele tanpa sadar. Setelah itu Liliyana menutup mulutnya sambil menggeleng. "Maaf aku tak sengaja."
"Kau!" Michele memegang pipinya yang barusan ditampar oleh Liliyana.
"Astaga, apa kau sudah tersadar dari mimpimu, Nona Michele?" ujar Liliyana sambil tersenyum konyol. "Sudah? Atau perlu ku tampar ulang, hem?"
Michele kelihatan emosional. Tak lama Kalandra bersama Abimanyu muncul.
"Lily, kau tak apa-apa?" tanya Kalandra langsung menghampiri.
Abimanyu melihat orang yang bersama Liliyana. Dia langsung mengenalnya. "Nona Michele, kau sedang apa di sini? jangan bilang kau menganggu Lily-ku?"
"Lily-mu!" Kalandra melotot ke arah Abimanyu.
"Maaf Alan, hanya bercanda. Maksudku, Lily. Kau mau apa dengan Liliyana, Nona?" Abimanyu menatap penuh tanya.
Kalandra lalu menatap Michele secara tajam. "Pergi dari sini," ucapnya tenang.
"Tuan tapi aku sengaja ke sini—"
"Pergi selagi aku masih sabar," kata Kalandra.
Liliyana kemudian duduk kembali ke tempatnya semula. Ia mengambil air di sebelahnya kemudian meneguknya karena haus. Sama sekali ia tak menatap wajah Michele lagi karena sebenarnya ia kesal bukan main. Ditambah ia juga amat jijik dengan kelakuan memalukan wanita yang tidak tahu diri itu.
"Alan, kau urus dia saja dulu. Biar Lily aku yang jaga," ucap Abimanyu.
"Tak ada yang perlu aku lakukan dengannya," sahut Kalandra lalu menjentikkan jarinya. Para petugas keamanan pun datang.
"Ada apa, Tuan?"
"Antar orang ini keluar, dan jangan biarkan dia masuk lagi," titah Kalandra.
"Baik."
"Tuan Anda tak bisa mengusir ku!" rengek Michele.
"Cepat, sebelum aku memecat kalian," kata Kalandra pada dua petugas keamanan yang masih berdiri di samping Michele.
"Maaf Tuan!" Mereka lalu memegang tangan Michele kuat, agar tidak melawan lagi.
"Lepaskan!" Michele terus saja memberontak.
Kalandra kemudian tersenyum pada tamu undangan yang notabene adalah rekan bisnisnya. "Maaf sudah membuat keributan, silakan kembali nikmati pestanya."
Para tamu undangan pun kembali ke tempat mereka masing-masing. Hal yang semacam itu untungnya tidak menganggu jalannya pesta. Beruntung juga kakek Anggara dan kakek Juan sedang di ruang pertemuan karena agak kelelahan.
Abimanyu menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kejadian itu. Ia pun lalu menyusul Michele untuk memastikan sesuatu.
Kalandra lalu duduk kembali ke sebelah istrinya yang kelihatan masih syok. "Kau tak apa, Lily?"
Liliyana menatap sinis Kalandra. "Kapan pesta ini berakhir?"
Kalandra langsung mengerti suasana hati Liliyana. "Maafkan aku, Lily. Apa Michele —"
"Jangan sebut nama itu, aku mual," ujar Liliyana lalu mengambil piring kecil berisi potongan buah-buahan. Ia memakannya untuk meredakan kesal.
"Maaf." Kalandra melihat makanan yang ada di sebelah Liliyana sudah habis tak bersisa. Padahal seingatnya tadi masih utuh karena belum tersentuh.
"Kenapa Mas Alan liatnya begitu? Kaget? Baru tahu kalau aku banyak makan?" tanya Liliyana ketus.
"T-Tidak," geleng Kalandra.
"Ya sudah jangan bahas apa pun, aku lelah mau tidur di kasurku," ucap Liliyana kemudian menatap sebelahnya. "Kenapa habis sih!!"
"Mau aku minta lagi untukmu?" tawar Kalandra.
"Tidak perlu. Mas Alan pikir aku rakus?"
"Bukan begitu, Lily."
"Ah ya pasti begitu. Aku banyak makan karena aku bukan wanita seperti orang gila tadi. Tubuhnya kurus, bahkan tulangnya kelihatan. Itu tipe Mas Alan, kan?"
Kalandra terdiam kehabisan kata-kata.
"Dia pasti diet ketat agar tubuhnya tetap kurus seperti itu. Sedangkan aku, malah sibuk kekurangan makanan!"
Liliyana marah-marah. Tapi Kalandra sama sekali tidak merasa Liliyana seram, justru sebaliknya.
"Ah kesal sekali." Liliyana mengembuskan napas panjang. "Kulitnya putih apa dia suntik putih?"
Kalandra memijat pelipisnya sebentar lalu memegang tangan Liliyana. "Aku tidak peduli, Lily."
Mata Liliyana langsung melotot. "Semua pria sama saja Mas Alan."
"Aku sama seperti apa?" tanya Kalandra tak paham.
"Ya sama saja! Suka wanita cantik, seksi, kurus, putih, iya kan?" ujar Liliyana.
Kalandra terdiam.
"Biar bagaimanapun aku tetap kesal," ucap Liliyana pelan. Tapi dia sebisa mungkin tidak mau membahasnya dengan Kalandra.
"Aku tahu kau kesal, meski aku tak tahu apa yang wanita gila tadi katakan, tapi percayalah Lily, semuanya dusta," kata Kalandra.
"Gila, ya," gumam Liliyana sambil menahan amarah sekuat tenaga. Rasanya ia ingin meledak kalau ingat perkataan Michele yang sama sekali tidak bisa dia abaikan.
Aku bahkan sudah meminta agar suamimu menghamili ku.
...***...
Maaf baru bisa up dan up nya pendek, aku lagi kurang sehat. klo udh mendingan nanti aku up lagi.
lekas sembh kk biar bisa u
moga lekas sembuh
jngan" abi krja sama nnti sama micele
Podo ae Ly, akupun gak bisa kalo pak bojo sedang mood menggoda merayu kayak Mas Alan begitu.. 🤭🤣🤣