Rafa dan Shila adalah dua orang yang sudah bersama sejak kecil, membuat komitmen untuk terus bersama hingga mereka dewasa tapi tanpa status. Hingga pada akhirnya suatu kejadian memisahkan mereka berdua hingga dewasa.
Dan Rafa yang saat itu sudah dewasa, di suruh oleh papa nya untuk memimpin perusahaan, hingga menjadikannya seorang CEO yang dingin dan juga tertutup.
Hingga akhirnya takdir kembali mempertemukan Keduanya tanpa memikirkan bagaimana perasaan mereka satu sama lain.
Tuhan itu adil. Dia mempertemukan yang hilang dan mengembalikan yang pergi lalu menyatukan yang dulu pernah bersama hingga takdir kembali tersenyum untuk mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EgaSri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Makan besar
Rafa mencuri-curi pandang pada Shila yang duduk di sebelahnya, membuat gadis itu heran.
“Kenapa, sih, Bang?” tanya Shila risih.
“Enggak papa, Sayang!” ujar Rafa dengan senyum lembut.
“Terus, kenapa dari tadi ngeliatin aku mulu?”
“Kamu tadi cantik banget, pakai gaunnya!” mendengar jawaban Rafa, membuat Shila terkekeh.
“Aku kirain apaan, Bang! Kan emang aku cantik dari dulu, Abang aja yang gak nyadar!” Rafa mendengus mendengar jawaban Shila yang sangat benar itu, tapi ada satu yang salah. Yaitu, dia sudah tau kecantikan Shila, bahkan dari gadis itu masih menjadi balita.
“Serah kamu lah!”
Jalanan yang padat karena jam pulang kantor itu membuat Rafa dan Shila terjebak di sana.
“Bang, aku laper!” Rafa menoleh pada Shila.
“Mau makan dulu?” tanya Rafa. Shila mengangguk.
“Di rumah makan itu aja, Bang. Mumpung belum Maghrib. Aku gak kenyang makan tadi!” Shila menunjuk pada sebuah rumah makan Padang. Rafa mengikuti arah pandang Shila, dan dia mengangguk.
Rafa membelokkan mobilnya menuju rumah makan yang tampak sedikit ramai itu, dia memarkirkan mobilnya di sana.
“Ayo!” Rafa dan Shila turun dari dalam mobil. Keduanya berjalan masuk kedalam rumah makan itu, bau harum dari masakan penuh rempah tercium di indera penciuman kedua orang itu.
“Abang mau ikut makan juga?” tanya Shila. Rafa menggelengkan kepalanya.
“Abang mau temenin kamu aja!” Shila mengangguk-angguk. “Aneh ya, Bang. Harusnya kan sekarang aku itu jaga badan, karena mau nikah, eh aku sekarang malahan lapar terus!” Shila terkekeh mendengar perkataannya sendiri.
“Enggapapa, Sayang. Aku suka kamu banyak makan kayak gini, biar gak kurus! Terus biar kamu montok!” Shila menepuk lengan Rafa saat mendengar jawaban dari laki-laki itu.
Shila berdiri di depan etalase tempat berbagai sambal. Dia berbinar melihat rendang, dendeng, gulai ada di sana.
“Uda, mau beli nasi pakai dendeng, ya?” tanya Shila pada orang yang berdiri di sana untuk melayani pembeli.
“Iyo Uni. Untuk berapo urang?” tanya laki-laki yang di ajak bicara oleh Shila itu.
“Hah?” tanya Shila seperti orang cengo. Bahasa Minang yang dia tau, hanya Uda dan Uni saja sepertinya 😂
“Untuk berapa orang, Uni?” jawab laki-laki itu tertawa. Rafa mendelik kesal melihat kedua orang itu. Sedikit cemburu. Tidak banyak, hanya sedikit! Sedikit sekali, seujung kuku!
“Untuk satu orang aja!” jawab Shila mengerti. Laki-laki itu mengangguk.
“Tunggu sabanta, Uni. Silakan duduk!” Shila hanya mengangguk saja, dia duduk di sebuah kursi yang ada di sana, diikuti oleh Rafa.
“Kamu ngerti bahasanya?” tanya Rafa. Shila menggeleng.
“Aku taunya, cuman silahkan duduk aja!” jawab Shila tertawa kecil. Rafa hanya menggelengkan kepalanya.
Makanan pesanan Shila di antar, dengan sambal utama adalah dendeng. Diikuti oleh beberapa piring kecil sambal yang lainnya. Seperti rendang, gulai ayam, sayur, dan lainnya.
Banyaknya sambal yang ada di hadapannya membuat Shila menelan ludah kasar.
“Kenapa di hidangin, banyak banget, Shil?” tanya Rafa heran.
“Kalau rumah makan Padang yang besar, emang kayak gini, Bang, hidangannya. Coba aja Abang pergi ke rumah makan Simpang raya yang ada di bukit tinggi, pasti kayak gini juga!”
“Bukit tinggi, yang pusat grosir itu?” Shila mengangguk mengiyakan. Rafa hanya mengangguk.
“Abang beneran gak mau?” tanya Shila dengan suapan menggoda. Sungguh makanan yang ada di sana enak-enak dan juga lezat.
“Berlemak!” ujar Rafa. Sebenarnya dia sudah sedikit tergoda melihat cara makan Shila yang lahap itu, tapi Rafa menahannya.
“Idih, gayanya. Coba aja, Bang. Ini enak banget!” Shila menyuapi Rafa dengan sambal dendengnya, membuat Rafa tidak bisa mengelak, kalau makanan itu benar-benar enak.
“Uda, aku juga mau nasinya!” panggil Rafa pada orang tadi dengan bersemangat, membuat Shila geleng-geleng kepala.
“Tunggu sabanta, Uda!”
****
“Shil, liat nih, perut Abang, udah gak rata lagi!” sejak tadi Rafa terus saja mengeluh soal perutnya yang sedikit membuncit saat sudah selesai makan tadi.
“Iya, lagian Abang, sih, kalau makan gak mikir-mikir! Masa empat piring Abang habisin sendiri!” Rafa hanya mendengus. Ini memang benar salahnya, andai saja dia tidak tergoda untuk memakan hidangan makanan yang nauzubillah lezat itu, mungkin sekarang Rafa tidak akan mengeluh perutnya buncit seperti ini.
“Lagian, kenapa kamu ajak aku kesana? Terus ngajakin makan juga!” ujar Rafa ketus.
“Dih, gak ingat dia, kalau tadi dia yang teriak buat nambah terus!” Rafa memberenggut kesal.
“Kayaknya nanti Abang harus olahraga, deh!” cetus Rafa, Shila hanya mengedikkan bahu acuh.
“Shil, kamu enggapapa kalau Abang buncit?” tanya Rafa saat melihat respon Shila yang tampak B aja saat dia mengeluh perut buncit.
“Enggapapa, malahan bagus, biar Abang gak genit-genit lagi!”
“Hilih, kapan Abang genit, Dek?!” tanya Rafa malas. Mobil yang di bawa Rafa kini sudah tiba di depan pintu gerbang rumahnya. Rafa langsung memasukkan mobilnya kedalam garasi.
Shila turun dari dalam mobil Rafa, diikuti oleh Rafa setelahnya.
“Aku langsung pulang aja, Bang!” Rafa mengangguk-angguk. Shila berjalan menuju gerbang Rafa, lalu menyebrang menuju rumahnya. Rafa menatap Shila yang sudah masuk kedalam rumah, baru setelahnya dia berjalan menuju pintu utama.
“Assalamualaikum.” Rafa membuka pintu rumah yang tidak terkunci. Terlihat, Rana sedang duduk di sofa keluarga sembari memakan camilan.
“Tumben, Abang pulang telat banget?” celetuk Rana, membuat Rafa yang hendak menaiki tangga itu berhenti.
“Abang abis makan besar, dan sekarang mau olahraga besar juga! Lu jangan ganggu, ya, Bocah!”
...***...
Happy reading^_^
Maaf ya, kalau aku gak update beberapa hari ini, soalnya ada sodara yang meninggal, jadi maafkan ya^_^
~ Two world ~
Cuss bacaa jan lupa tinglkan jejaakk🤗
tkn prfil q aja yaa😍
vielen danke😘
lama bener..
penasaran nih nunggu kelanjutannya