Alya Renatha tak pernah menyangka akan diceraikan oleh Leonhart Varellion, CEO dingin dari Leonhart Corporation yang menikahinya tanpa cinta. Saat ia pergi dari hidup pria itu, Alya tidak tahu bahwa dirinya sedang mengandung anak kembar tiga.
Bertahun-tahun berlalu. Alya kembali ke kota itu bersama ketiga putranya. Tanpa sengaja, mereka bertemu dengan Leon di sebuah lobi hotel.
“Om, mau nggak jadi Papa kami?” tanya ketiga bocah itu serempak—membuat Leonhart Varellion terpaku dengan tatapan datar, karena wajah mereka mirip dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julian_06, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pernikahan Suram
Alya membawa tas kecilnya sambil menunduk. Dia sudah berpamitan dengan bos dan rekan kerjanya di resort Indraloka Tidak pernah sekalipun ia membayangkan hidupnya akan berubah secepat ini—dipaksa menikah dengan pria asing yang tidak ia cintai.
Apa yang akan neneknya pikirkan bila ia pulang ke desa sambil membawa “suami”?
“Sudah?” tanya Alfred Leonhart, kakek dari pria yang menodainya.
“Sudah, Tuan…” suara Alya pelan.
Alfred menatapnya lama. “Kamu… mirip sekali dengan seseorang yang dulu pernah kukenal.”
Alya bingung, tetapi tidak berani bertanya.
---
Setibanya di dermaga, sebuah mobil mewah sudah menunggu.
Alya dan Leonhart duduk di belakang. Mereka sama-sama membuang muka, seolah keberadaan satu sama lain adalah kutukan.
“Kakek sudah menyiapkan pesta pernikahan yang meriah untuk kalian,” ucap Alfred dari kursi depan.
Leon mendengus. “Kakek tidak perlu repot. Pernikahan ini hanya formalitas. Aku tidak ingin mengundang siapa pun.”
“Pernikahan cucu pertama keluarga Leonhart tanpa perayaan? Tidak mungkin,” jawab Alfred tegas. “Alya adalah calon cucu menantu Kakek. Dia pantas mendapat yang terbaik.”
Leon tidak menjawab. Ia tahu berdebat dengan Alfred hanya buang waktu. Kakeknya keras kepala, dan ayahnya—Rafael Leonhart—selalu memilih diam.
Sementara Leon hanya menjalankan pernikahan ini demi menutup skandal, setelah itu ia berniat menceraikan Alya… sesuai kesepakatan Rafael.
---
Setiba di bandara, mereka langsung diarahkan menuju jalur khusus. Jet pribadi keluarga Leonhart sudah siap. Alya ternganga—keluarga ini seperti bangsawan modern.
Sayangnya, pangerannya adalah pria angkuh berhati batu.
Di dalam jet, Alya berusaha terlihat sopan meski jantungnya berdebar melihat kemewahan di sekelilingnya.
“Alya,” tanya Alfred, “di Jakarta kamu punya tempat tinggal?”
Alya menggeleng. “Tidak, Tuan. Saya tidak punya rumah di Jakarta.”
“Kalau begitu kamu tinggal di rumah keluarga kami sampai pernikahan selesai.”
“Ayah! Dia bahkan belum sah menjadi istri Leon!” sela Rafael.
Alfred menatap Rafael tajam. “Dia calon menantumu. Dan jika kau masih ingin warisan dan posisi di perusahaan tetap turun ke garis keturunanmu, tutup mulut.”
Rafael yang mendengar itu langsung diam.
---
Setiba di rumah megah keluarga Leonhart, Riana, ibu Kandung Leon, berjalan menghampiri sambil memegang gaun yang baru dibelinya.
“Sayang, kenapa kalian pulang cepat? Dan siapa gadis itu?”
Rafael melewatkan Alya tanpa menatapnya. “Anakmu memperkosa seorang gadis. Gadis itu yang akan dinikahi Leon . Ayahku yang memaksa.”
Riana terhenyak. Rafael langsung masuk kamar, meninggalkan Alya berdiri sendirian di tengah ruang megah itu—dihadapkan pada keluarga baru yang bahkan tidak menginginkannya.
-----
Riana memandang Alya dengan sinis, kenapa juga harus gadis pelayan yang menikahi putra pewarisnya?
"Selamat sore, Tante. Nama saya Alya Renatha," ucap Alya.
"Kamu yang menggoda anakku?
Leon tidak mungkin terpikat dengan gadis jelek sepertimu," jawab Riana dengan ketus.
Alya terdiam, ternyata sifat Leon yang angkuh menurun dari kedua orang tuanya.
"Riana, tidak perlu memojokkannya. Ini semua salah Leon dan dia harus bertanggung jawab. Oh iya, pernikahan mereka akan diselenggarakan minggu depan dan akan diurus oleh orang kepercayaan ku sebagai penghulu. Tugasmu hanya menulis nama-nama orang yang akan kamu undang ke pernikahan anakmu," jelas Alfred.
"Baik, Ayah."
Rafael Juga menyuruh pembantu untuk mengantar Alya ke kamarnya, Alya berpamitan kepada calon ibu mertuanya walau tidak digubris.
***
5 hari kemudian.
Pernikahan antara Leonhart dan Alya Renatha membuat heboh karena termasuk mendadak.
Pernikahan itu diselenggarakan di sebuah gedung dengan kapasitas tamu sampai 500 orang, ini masih termasuk sedikit karena orang tua Leon memang hanya mengundang beberapa orang saja dan sisanya tamu milik Alfred.
Alya sudah memakai gaun pernikahan yang bagus serta riasan yang tidak terlalu mencolok. Sudah seminggu dia menginap di rumah besar itu dan dia bisa menyimpulkan pernikahannya saat ini hanya sebuah drama karena Leon serta orang tuanya tidak menyukai Alya.
Janji-janji pernikahan sudah dilakukan di Altar pagi ini dengan penghulu yang mengikrarkan akad kepada pengantin dan sekarang acara resepsi, status Alya juga sudah menjadi Nyonya Leonhart Varellion. Tamu-tamu berdatangan dan memberi selamat kepada mereka, sesekali Alya melirik sang suami yang berada di sebelahnya tersenyum menyambut tamu dan akan kembali datar saat tamu itu sudah pergi. Sungguh pemain sinetron yang hadal.
"Alya?"
"Nenek?"
Alya memeluk sang nenek dengan sebuah kerinduan yang mendalam, sudah berbulan-bulan dia tidak bertemu dan mereka bertemu lagi di saat Alya sudah menikah.
"Nenek datang diantar siapa?"
tanya Alya melepaskan pelukannya.
"Ada orang yang menjemput Nenek datang kemari dan mereka memberikan baju bagus ini untuk dipakai di hari pernikahanmu," jawab Nenek.
"Pasti suruhan Tuan Alfred." Gumam Alya.
Nenek tersenyum dan menangkup wajah Alya. "Kamu harus bersyukur karena mendapatkan suami yang tampan apalagi kakek mertuamu juga orang yang baik."
Alya hanya mengangguk sementara Leon masih acuh tak acuh kepada mereka.
"Nenek menginap di mana saat ini?" tanya Alya.
"Di hotel tidak jauh dari sini. Alfred yang menyiapkan semuanya dan ternyata dia masih ingat padaku," jelas Nenek.
"Maksud Nenek apa?"
"Ah! Itu hanya masa lalu dan tidak perlu dibahas. Sekarang kamu sudah bahagia dan tidak perlu bekerja lagi di Resort itu, setidaknya Nenek sudah lega karena tidak perlu mencemaskanmu di dalam Resort itu."
Alya tersenyum dan mereka kembali berpelukan, sang nenek kemudian turun dari sana dan mengobrol kembali dengan Alfred.
Tak berselang lama kemudian seorang wanita cantik datang dan membuat Leon langsung syok padahal dia tidak merasa mengundangnya.
"Leon!"
Mereka berpelukan dengan erat dan tidak mempedulikan Ayla yang sudah berada di sebelahnya.
"Miki? Siapa yang memberitahumu jika aku hari ini menikah?" tanya Leon.
"Kamu jahat! Padahal janjimu kamu ingin menikahiku, kamu menghilang beberapa saat dan malah menikah dengan gadis lain," jawab Miki.
Mereka melepaskan pelukan masing-masing, Miki terus mengeluarkan air matanya sementara Leon mengusap air mata itu.
"Sudah jangan menangis!"
Alya yang melihat Leon yang lembut bisa menyadari jika pria itu arogan hanya kepadanya saja.
"Bagaimana aku nggak nangis? Kamu menikah."
"Ssst... Aku memang menikah tapi hatiku hanya buat kamu saja," ucap Leon.
Alya menelan ludahnya kasar, apakah ini mimpi buruknya? Suaminya yang terpaksa menikahinya, kedua mertuanya yang tidak menyukainya lalu kemudian kekasih asli Leon yang muncul.
"Miki , pergilah! Ada kakekku di sini dan dia bisa mengusirmu. Aku akan menemuimu setelah pernikahan ini selesai," ucap Leon.
"Janji?"
"Janji."
Miki lekas turun dan melirik Alya dengan senyuman kemenangan, Alya hanya diam saja karena dia juga tidak ada hak melarang suaminya yang tidak menyukainya sama sekali.
"Dengar pelayan sialan! Jangan senang dulu aku menikahimu! Kamu akan merasakan penderitaan yang sebenarnya setelah ini," ancam Leon.
cuma ada oma riana jd pembantu menantunya gdang salad.
biar nyaman ada halaman nya untuk keluarga dgn anak banyak
sesalah apapun ibu jgn tega begitu membiarkan dia kerja sm menantunya.
klw nikah di grreja artinya agama kristen.
yg menikahkan penghulu,biasanya klw nikah di gereja pendeta
aga membingungkan