Malam itu telah terjadi kecelakaan hebat yang menyebabkan Kakak ku meninggal.
Dengan pupil mata yang mulai membesar, aku menghampiri kakakku yang tergeletak di jalan.
Aku melihatnya, melihat darah keluar menyembur dari mulut kakak.
Aku berteriak dengan sangat keras,
"KAKKKK, Tolong.... Tolong.... SIAPAPUN TOLONG KAKAK KU"
Sembari memukul kepalaku dengan tangan yang berlumur darah Mobil Ambulance tiba sangat cepat.
Dengan kaki gemetar aku masuk kedalam mobil. Tetapi, saat berada didalam mobil menuju rumah sakit kakakku menghembuskan nafas terakhirnya.
Aku berharap hari itu aku tidak ada ditempat. Aku berharap ini semua tidak pernah terjadi!!
AKU MEMBENCI DIRIKU SENDIRI!
Aku pun bertunangan dengan anak laki-laki dari seorang bapak yang telah menabrak kakak ku.
Tetapi anak laki-laki itu membenciku.
Aku tak tahu kehidupan ku kedepannya seperti apa!
Apakah semuanya akan baik-baik saja atau aku akan menderita seumur hidupku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Bee Bee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 - Drama Dan Memori Nyata
Selama seminggu ini kami sibuk mempersiapkan drama yang akan ditampilkan.
Teman satu teamku memintaku untuk menuliskan sesuatu yang menggambarkan keluargaku.
Apa yang akan aku tulis?
Keluarga? Bagaimana caranya aku menggambarkan tentang keluargaku saat ini?
"Lulu, lembar kertas yang aku minta kemarin sudah selesai kamu tulis?" Tanya Cleo.
Cleo Pertiwi adalah salah satu teman sekelasku.
Aku memegang lembar kertas dilaciku, tetapi kertas itu masih kosong.
"Cleo, Gimana kalau dramanya dibuat sesuai dengan keluarga kalian saja?" ucapku.
"Kenapa Lulu?" Cleo mendekat dan duduk disampingku.
Aku mengeluarkan tanganku dari dalam laci.
"Kamu broken home ya?" tanya pelan Cleo.
Aku lansung berkata tidak dengan nada tinggi setelah mendengar pertanyaan Cleo. Cleo terkejut.
"Maaf, aku ngagetin kamu" ucapku.
"Gak kok (Cleo berdiri) kalau gitu kami akan membuat ceritanya sesuai dengan keluarga kami saja" Ucap Cleo yang sedikit merasa takut.
Aku tahu Cleo pasti merasa kalau aku aneh. Tetapi, aku juga bukan anak broken home. Hanya saja sulit untuk menggambarkan tentang keluargaku saat ini.
Aku tidur dimeja dengan mengarahkan kepalaku kesamping meja Nano. Aku tak tahu harus melakukan apa dijam istirahat ini. Anak-anak lain banyak yang pergi kekantin.
Aku membawa bekal hari ini. Tapi, perasaan ku gak enak jadi aku tidak memakan bekalku.
******
Seminggu telah berlalu, sekarang adalah waktu yang ditunggu-tunggu oleh kelas kami untuk menampilkan drama masing-masing.
Aku berperan sebagai seorang ibu di drama kali ini. Tetapi, teamku tidak tampil hari ini. Team yang akan tampil pertama adalah team Nano dan Bintang.
"Selamat pagi teman-teman. Pada pagi yang cerah dan indah ini (kami tertawa) saya dan team saya akan menampilkan sebuah drama dengan judul AZAB SEORANG ANAK DURHAKA" tutur keras Bintang sembari menatap Nano.
Kami tertawa mendengar judul yang dibacakan oleh Bintang. Mereka bersiap-siap untuk tampil.
Bintang berdiri diatas kursi kecil yang sudah mereka persiapkan sebelumnya. Peran Bintang didrama ini hanya sebagai narator drama.
"Pada zaman dahulu tinggallah seorang anak laki-laki dengan seorang nenek tua di gubuk kecil ditepi sungai (Suara sungai terdengar dari speaker) Anak laki-laki ini bernama Jaka, dulunya ia sangat rajin sekali membantu neneknya mencari kayu bakar" ucap Bintang.
Nano memperagakan ucapan Bintang. Di drama ini Nano berperan sebagai Jaka. Nano memungut beberapa kayu ditumpukan dedaunan yang sudah gugur.
Kami ikut terbawa kedalam suasana drama mereka. Di tambah lagi sound musiknya yang sangat hidup.
"Semakin bertambah usia sang nenek jatuh sakit. Sang nenek tidak bisa membantu Jaka memungut kayu bakar lagi" Ucap Bintang.
Didalam gubuk, Nenek mamanggil Jaka cucunya.
"Jaka jakaa jakaaa" teriak nenek
Jaka yang sibuk mengeping kayu diluar gubuk tidak mendengar nenek memanggilnya.
"JAKAAAAA" Teriak keras Anya.
Kami tertawa mendengar teriakan Anya yang nyaring hingga hampir keselek.
Anya Berperan sebagai sang nenek didrama ini.
Anya Kenari adalah salah satu teman sekelasku, ia selalu bermain bersama Cleo.
Jaka berlari masuk kedalam gubuk.
"Ada apa nek? Nenek masih hidup?" ucap Jaka pada neneknya.
Kami kembali tertawa.
"Nenek meminta bantuan kepada Jaka untuk mengambil segelas air" ucap Bintang.
"Airr cucuku"
Jaka memberi sang nenek air, lalu kembali mengeping kayu diluar gubuk. Hari berganti hari, tahunpun berganti. Hingga pada suatu hari Jaka merasa bosan dengan perkerjaannya yang mencari kayu bakar. Ia melihat anak tetangganya yang berhasil kembali dari perantauan dan membawa banyak sekali uang. Jaka awalnya biasa saja, tetapi tetangga lainnya selalu membandingkan Jaka dengan tetangganya itu" ucap Bintang
"Lihatlah si Jaka kerjaannya tiap hari hanya mencari kayu Bakar. Tidak seperti anaknya si Mbok Yam itu yang sekarang sudah kaya raya" ucap Mak Itam.
Timah berperan sebagai Mak Itam, ia merupakan tetangga dekat Jaka. Setiap hari ia akan menggosipkan Jaka kemana-mana.
Jaka tak menghiraukan semua omongan Mak Itam padanya. Disaat Jaka pergi kepasar hendak membelikan obat untuk sang nenek. Jaka bertemu dengan tetangganya yang sudah kaya raya itu.
"Jaka, apakabar?" Sapa Dadang.
Bima berperan sebagai Dadang.
"Ikann ikann ikann segar" suara sound sistem.
Jaka menyalami Dadang,
"Baik, kamu apakabar? Sekarang sudah banyak uang ya" ucap Jaka sembari mengelus tangan Dadang.
"Ia begitulah Jaka, selagi manusia ingin berusaha pasti akan ada jalannya. Kamu sendiri gimana? masih cari kayu dihutan? (Jaka tertunduk malu) Kasian nenekmu Ka, sampai sekarang ia masih tinggal digubuk tua itu. Gubuknyapun hampir roboh" Dadang berbicara seperti itu sembari tertawa.
"Setelah itu, Jaka lansung bergegas pulang kerumah. Ia merasa kesal dengan omongan Dadang tadi dipasar. Sesampainya dirumah ia melempar semua barang yang berada didekatnya. Sang nenek terkejut melihat Jaka melempar barang" ucap Bintang.
"Ada apa Jaka? kenapa kamu melempar semua barang?" Tanya sang nenek yang batuk-batukan.
"Jaka merasa kesal dengan hidup Jaka saat ini!! Kenapa kita harus hidup miskin seperti ini? Kenapa Jaka tidak memiliki keluarga yang kaya sedari lahir?" Marah Jaka.
"Jaka, kamu harus bersyukur sampai saat ini kamu masih bisa bernafas" ucap sang nenek.
"Sudahlah, nenek tidak akan merasakan apa yang Jaka rasakan saat ini. Si Dadang itu baru saja menjadi kaya sudah sombong sekali" Kesal Jaka.
Sang nenek menggelengkan kepalanya melihat cucunya tersebut.
"Lebih baik kamu mencari kayu bakar sekarang. Hasilnya nanti dijual kepasar" Ucap sang nenek.
"Mendengar Sang nenek yang menyebut kayu bakar, Jaka semakin marah. Ia menendang kasur sang nenek dengan kakinya" ucap Bintang.
Drakkkk
"Nenek ini, tahu nya hanya kayu bakar saja. Nenek tidak lihat saya sudah lelah dengan pekerjaan itu setiap hari" ucap kasar Jaka.
Sang nenek menangis. Jaka keluar dari rumah dan pergi ketepi sungai. Disungai Jaka meratapi nasibnya yang masih begitu saja sedari dulu.
Jaka berpikir kalau ia juga ingin pergi merantau seperti si Dadang.
"Mungkin saja jika aku merantau juga akan menjadi kaya" ucap Jaka.
Jaka kembali kerumah dan memutuskan untuk merantau. Sang nenek tidak memperbolehkan Jaka pergi,
"Jangan pergi Jaka (Batuk) kalau kamu pergi siapa yang akan merawat nenek? Nenek sudah tidak sanggup lagi berjalan" ucap sang nenek yang sudah sesegukan menangis.
"Aku tidak perduli lagi dengan nenek, aku ingin menjadi orang kaya. Biar tidak ada lagi yang akan meremehkanku" ucap Jaka sembari memasukkan beberapa pasang baju kedalam kresek plastik.
Disaat Nano memasukkan baju kedalam plastik, tiba-tiba plastik itu sobek. Kami tertawa melihat tangan Nano yang tembus sampai kebawah.
Suasana kelas menjadi ramai karena Nano. Nano juga ikut tertawa. Bintang kembali menenangkan kelas dengan membaca narasi,
Sang nenek hendak turun dari atas kasurnya, tetapi ia malah terjatuh.
"Jangan pergi Jakaaa, kamu cucu nenek satu-satunya" ucap sang nenek sembari merangkak kearah Jaka.
Sang nenek memegang celana Jaka, memohon untuk tidak meninggalkannya sendiri dirumah ini. Jaka semakin kesal melihat sikap sang nenek.
"Lepaskan nenek, Jaka tetap akan pergi" teriak Jaka pada neneknya.
Mak Itam yang mendengar suara bentakan keras datang mengintip kerumah Jaka. Disaat Mak Itam mengintip, ia melihat Jaka menendang sang nenek hingga darah keluar menyembur dari mulut sang nenek.
Disaat melihat adegan darah menyembur, aku merasa sesak. Aku sulit bernafas, anak-anak lain masih meyaksikan drama tersebut.
Tiba-tiba aku merasa mual. Bara melihat gerakanku yang aneh dari belakang.
"Lulu, kenapa?" tanya Bara.
Aku menggelengkan kepalaku. Aku berjalan kedepan kelas mengahampiri buk Era, meminta izin untuk permisi ketoilet.
Dengan badan yang sedikit sempoyongan aku berlari menuju toilet. Sesampainya ditoilet aku mengunci pintu.
Aku muntah diwastafel, aku memuntahkan semua cairan dalam tubuhku. Karena nafasku masih terasa sesak, aku membuka kancing kerah bajuku.
Aku terduduk lemas di samping wastafel sembari mengatur nafasku. Memejamkan mata,
"Kaakkkkk" ucapku sembari meneteskan air mata.
Aku menangis cukup lama ditoilet. Terbayang olehku kejadian malam itu darah yang menyebur keluar dari mulut kak Ray. Tanganku kembali gemetar.
Setelah sedikit baikan, aku mencuci muka lalu kembali kedalam kelas. Ternyata drama yang dimainkan oleh Nano dan Bintang sudah selesai.
Aku kembali duduk dikursi,
"Bagus sekali dramanya. Beri tepuk tangan kepada mereka" ucap buk Era.
Bintang bersorak gembira.
"Dapat nilai A kan buk" teriak Nano.
Buk Era tertawa lalu mengangguk. Kelas hari inipun berakhir dengan tepuk tangan semua siswa yang memberikan apresiasi kepada team satu.
Bara menghawatirkan aku, ia menyentuh pundakku dari belakang.
"Kenapa?" tanya pelan Bara
Aku tersenyum pada Bara sembari menggelengkan kepala.
"Gak papa kok Bar, tadi sedikit sakit perut" ucapku.
Mendengar perkataanku itu Barapun merasa tenang.
...****************...
masih setia nunggu lanjutan nya 🤭
kecewa sih kalo bara udah nikah /Speechless/
judulnya :
~ Destiny With You /Proud/
~You are My Soulmate? /Slight/