Kehidupan dua insan manusia yang berbeda latar belakang namun saling berkaitan secara tidak langsung.
Sahabat Pena...
Mungkin itulah yang membuat mereka terhubung hingga sekarang. Diawali dengan sebuah pertemanan melalui surat semenjak kecil namun tidak pernah sekalipun bertemu.
Hingga akhirnya mereka dipertemukan dalam sebuah ikatan pekerjaan.
Akankah mereka saling mengenali satu sama lain???
Serta, apakah surat yang selama ini mereka tulis dan terima hanyalah sebuah mainan belaka atau adakah diantara mereka yang menuangkan perasaan di setiap baitnya.
Dan bagaimanakah akhir dari pencarian mereka satu sama lain???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SANG PURNAMA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
Rose masih nampak bingung dengan apa yang harus ia putuskan, namun belum juga dia mempersilakan laki-laki itu untuk duduk ternyata David memilih untuk langsung saja mendudukkan tubuhnya di seberang tempat duduk Rose. Sekarang dengan posisi yang berhadapan membuat mereka berdua sama-sama leluasa untuk saling memandangi wajah masing-masing.
"Maaf atas kelakuan saya yang lancang karena langsung menempati tempat duduk ini" ucap David memecah suasana hening diantara mereka.
"Iya tidak apa-apa, kebetulan saya juga sedang sendiri" sahut Rose seadanya.
Tidak mungkinkan Rose mengatakan jika sekarang dirinya sedang bersama seseorang hanya demi menghindari David, hal itu hanya akan mempermalukan dirinya saja.
David melihat di meja Rose hanya terhidang secangkir kopi dan sepotong kue saja tanpa ada makanan berat yang menemaniku.
"Apakah anda tidak memesan makanan utama, dari pada harus meminum kopi di malam hari seperti ini" tanya David kembali.
"Tidak. Saya sudah memesan sup tadi cuman sepertinya belum siap jadi saya memesan kue dan kopi untuk mengganjal perut terlebih dahulu". Memang benar Rose sudah sedari awal memesan makanan berat karena memang dirinya pergi tadi dalam keadaan belum sempat makan, maka dari itu Rose memutuskan untuk mampir di sebuah cafe.
Tidak berselang lama setelah pembicaraan mengenai sup tadi, ternyata makanan itu telah diantarkan oleh pelayan cafe tersebut. Sebelum pelayan yang mengantarkan sup untuk Rose itu pergi, David terlebih dahulu menahannya untuk memesan secangkir coklat panas.
Dikarenakan tadi sore sempat hujan yang lumayan deras jadilah sekarang hawa dingin ikut menemani malam ini. Membuat siapa saja menginginkan sesuatu yang hangat dan panas entah itu makanan ataupun minuman.
David melihat Rose sedari tadi belum juga memakan sup nya membuat David heran.
"Kenapa belum anda makan juga sup nya?" tanya David heran.
"Sebentar lagi akan saya makan, hanya saja sekarang saya sedang memisahkan beberapa sayuran yang tidak saya sukai tercampur disini" jawab Rose tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari mangkuk sup yang berada didepannya.
David pun makin heran melihat Rose yang membuang beberapa macam sayuran seperti daun bawang, daun seledri dan wortel yang potongan yang agak besar didalam tumpukan beberapa lembar tisu yang sudah terlebih dahulu memang sengaja Rose siapkan.
"Anda sangat aneh, tentu saja sup itu memang banyak mengandung sayuran. Kalau anda tidak menyukai sayuran mengapa anda memesan makanan itu tadi" tanya David kembali.
Rose memberikan senyumannya agar terlihat tidak terlalu memalukan dengan sifat kekanakannya ini.
"Saya merasa tergiur melihat gambar dari sup tadi dan memang saya tidak terlalu menyukai sayur sejak kecil, itulah kenapa setiap makanan yang mengandung sayuran akan saya pisahkan terlebih dahulu sebelum dimakan" jawab Rose dengan jujur.
"Dia sama seperti Veroku yang juga tidak menyukai sayuran" ucap David dalam hati.
Segera David menggelengkan kepalanya ketika sadar apa yang barusan saja ia pikirkan, bagaimana mungkin ia menyamakan wanita pujaannya dengan perempuan yang sedang duduk didepannya ini. Perempuan yang baru saja dia kenal.
"Tapi kenapa di setiap berdekatan dengan dirinya ada sesuatu yang aneh pada diriku, perasaan nyaman dan selalu ingin bersama yang hanya pernah aku rasakan dengan Veroku saja. Tidak mungkin..." David masih berbicara sendiri didalam hatinya.
David masih mencari sesuatu kejanggalan yang terjadi pada dirinya semenjak kemunculan Rose di hidupnya. Baru tadi siang mereka bertemu tapi perempuan itu telah dapat memenuhi pikirannya dengan segala macam hal.
Sementara masih dengan pikiran-pikiran yang memenuhi otaknya, David tidak merasa kalau pesanan dirinya yaitu coklat panas telah datang hingga saat Rose menegur dirinya barulah ia tersadar.
"Pak. Pak David pesanan anda sudah datang" ucap Rose membuyarkan lamunan David.
David tersentak kaget.
"Ah iya. Maaf saya sempat melamun tadi" sahut David
"Tidak apa-apa Pak" sahut Rose seadanya dengan menyelipkan senyuman manisnya yang dapat menghipnotis semua orang tidak terkecuali laki-laki yang berada didepannya saat ini.
"Wanita ini tidak seperti yang dikabarkan oleh media, meskipun berwajah dingin namun sifatnya sangat baik terhadap orang lain meskipun orang itu baru dikenalnya" David berbicara dalam hatinya sambil menyeruput sedikit coklat panas pesanannya tadi.
David masih menatap kearah Rose yang sudah mulai memakan sup nya setelah drama memisahkan semua sayurannya terlebih dahulu. Hal yang sangat merepotkan pikir David namun tidak menurut wanita didepannya ini.
Tidak terasa lama sudah mereka berdua berada di cafe tersebut hingga semua pesanan telah habis dan masuk ke perut mereka.
"Maaf Pak, ini sudah terlalu malam, saya permisi pamit lebih dulu" ucap Rose sopan sebelum dirinya beranjak dari kursi tempatnya duduk tadi.
David melihat pada arloji mewah yang melekat ditangannya. "Bukannya baru jam 10 dan ini masih tidak terlalu malam" tanya David.
Rose menggelengkan kepalanya dan kembali tersenyum. "Tidak Pak, ini sudah terlalu malam untuk saya karena saya berjalan sendirian tidak ditemani siapapun termasuk Kakak saya, seandainya kami pergi berdua atau dengan pengawal maka saya boleh pulang larut malam" sahut Rose menjelaskan.
"Ternyata memang benar, dia adalah seorang perempuan baik-baik" ucap David didalam hatinya.
Bagaimana tidak perempuan baik-baik, bahkan dia seperti seorang anak remaja yang menurut akan perintah ibunya untuk tidak pulang terlalu malam. Sungguh sangat susah mencari perempuan seperti itu di jaman modern seperti sekarang.
"Apa perlu saya antarkan??" tawar David memberi bantuan.
"Tidak perlu Pak, saya akan pulang sendiri saja kebetulan saya mau menikmati saat-saat menaiki angkutan umum" jawab Rose dengan senyuman cerianya ketika membayangkan dirinya kembali seperti dulu yang kemana-mana harus memakai angkutan umum dan berdesakan dengan para penumpang lainnya.
Rose pun memakai masker dan topinya kembali sebelum benar-benar pergi meninggalkan cafe beserta David.
"Permisi Pak, saya duluan" pamit Rose dengan sedikit membungkukkan badan memberi hormat kepada David yang baru hari ini menjadi atasan dirinya.
Belum juga David menyahut ucapan Rose tadi, namun perempuan itu sudah terlebih dahulu meninggalkan David sendiri.
David hanya bisa memandangi Rose yang sedang berjalan semakin menjauh dari dirinya, ada sedikit perasaan kehilangan ketika perempuan itu berkata akan pulang. Sebenarnya David sangat menyukai ketika mereka sedang bersama tadi.
"Ckck.. apa-apaan aku ini, mengapa sempat berpikir merasa kehilangan segala. Dasar bodoh dirimu David" David membuyarkan lamunannya sendiri dan segera beranjak meninggalkan cafe yang beberapa saat tadi telah menjadi saksi bisu pertemuan sepasang manusia yang saling merindukan.
Dan dengan bodohnya David kembali membalikkan badannya lagi kearah jalan Rose pergi tadi..
* * *
Support terus ya, terimakasih atas dukungan kalian berupa like, komen, gift ataupun votenya. semoga semakin greget sama mereka berdua wkwk.
tp itu siapa yg kirim surat nya?