"Dikhianati istri, diperas mertua, membesarkan anak yang bukan darah dagingnya.
Raka Pratama hidup bak budak — sampai ia terlahir kembali dengan Sistem Cashback 10x. Sekarang, setiap rupiah yang ia habiskan kembali sepuluh kali lipat.
Perceraian? Ia yang memulai. Konglomerat yang mengancam? Hancur. Pejabat korup? Ditangkap hidup-hidup. Dari nol menuju jajaran orang terkaya dunia — ini bukan dongeng. Ini balas dendam.
"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galih Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 19 - Prajurit Setia
"Aku tahu. Dan aku sudah menyiapkan langkah berikutnya."
Langkah berikutnya ternyata bukan langsung bertemu polisi.
Adi tidak membiarkan Raka melompat.
"Sebelum bicara izin operasional," kata Adi di kantor sementara Garuda Shield, "kita butuh struktur personel. Minimal calon penanggung jawab lapangan, rencana pelatihan, SOP dasar, dan bukti kita tidak merekrut preman liar."
Raka duduk di meja rapat yang masih bau kayu baru. Di dinding, logo sementara PT Garuda Shield Security dicetak hitam emas: burung garuda bergaya minimalis di depan perisai.
"Jadi kita rekrut dulu."
"Kita seleksi dulu," koreksi Adi. "Kalau asal rekrut, kita hanya memindahkan masalah jalanan ke dalam seragam."
Raka mengangguk.
Tiga hari kemudian, aula kecil yang mereka sewa dipenuhi pelamar.
Ada mantan satpam mal, mantan debt collector, anak muda yang datang karena mengira pekerjaan keamanan berarti bisa bergaya sangar, dan beberapa pria diam yang tampak pernah memegang disiplin tetapi hidup tidak memberi tempat baru.
Adi menyusun meja pendaftaran seperti operasi kecil.
Dokumen identitas.
Riwayat kerja.
SKCK jika ada.
Surat keterangan pelatihan.
Tes kebugaran dasar.
Wawancara singkat.
"Bos," Adi berkata pelan, "kalau ada yang terlalu bangga pernah memukul orang, coret."
"Setuju."
Seorang pelamar pertama datang dengan tato di leher dan senyum besar.
"Saya biasa urus parkiran liar, Pak. Preman-preman sana kenal saya. Kalau masuk perusahaan Bapak, saya bisa bikin orang takut."
Mata Pemimpin memberi panel cepat.
[Kecenderungan: agresif, mencari legitimasi untuk kekerasan]
[Risiko: tinggi]
Raka menutup berkasnya.
"Tidak cocok."
Pria itu mendengus. "Belum tes saja sudah ditolak?"
Adi menatapnya datar. "Kami mencari petugas keamanan, bukan masalah berseragam."
Pria itu pergi sambil mengumpat.
Pelamar kedua punya tubuh besar, tetapi berbohong soal pengalaman. Pelamar ketiga terlalu gugup saat diminta menjelaskan prosedur mengamankan konflik pelanggan. Pelamar keempat bagus, tetapi menolak pelatihan resmi karena merasa sudah cukup pengalaman.
Satu per satu tersaring.
Menjelang siang, seorang pria masuk dengan map plastik bening.
Tubuhnya tidak paling besar. Bajunya bahkan agak kusam. Tetapi langkahnya lurus, bahu tidak dibuat-buat, dan matanya berhenti di titik-titik penting: pintu keluar, meja, posisi Adi, lalu Raka.
"Nama," kata Adi.
"Agus Setiawan."
"Pengalaman?"
"TNI AD, sudah purna tugas. Terakhir bantu keamanan gudang swasta harian. Kontrak selesai."
"Kenapa keluar dari pekerjaan sebelumnya?"
"Perusahaan mengurangi orang. Saya bukan keluarga pemilik."
Jawaban itu pendek.
Tidak mengemis.
Tidak menyalahkan terlalu banyak.
Raka menatapnya.
[Agus Setiawan]
[Potensi keamanan lapangan: 91]
[Disiplin: sangat tinggi]
[Kemampuan melatih: 83]
[Kecenderungan: loyal pada struktur yang menghormati aturan]
[Risiko: trauma terhadap atasan yang menyia-nyiakan anak buah]
[Status kepercayaan: belum terbentuk.]
Raka meletakkan jari di atas meja.
Angka tinggi lagi.
Tetapi kali ini ada hal lain di wajah Agus: lelah yang ditahan rapi. Bukan lelah malas. Lelah orang yang pernah berguna, lalu diperlakukan seperti barang bekas setelah seragamnya dilepas.
Adi memeriksa dokumennya.
"Surat purna tugas?"
Agus menyerahkan.
"Kontak referensi?"
"Ada dua, Pak. Satu mantan komandan, satu kepala gudang lama."
"Bersedia diverifikasi?"
"Siap."
Adi melirik Raka.
Raka bertanya, "Kalau ada klien meminta anak buahmu memukul orang tanpa dasar hukum?"
Agus menjawab tanpa jeda. "Saya tolak. Kalau bos memaksa, saya mundur."
Beberapa pelamar di belakang tertawa kecil.
Raka tidak.
"Kalau anak buahmu terpancing dan memukul duluan?"
"Saya tarik dari lapangan, laporkan, dan evaluasi. Seragam tidak membuat orang kebal aturan."
Adi menulis sesuatu di buku.
Raka melanjutkan, "Kalau preman mengancam klien?"
"Amankan klien, pisahkan massa, dokumentasikan, hubungi polisi jika ada tindak pidana. Kalau harus menahan, menahan secukupnya sampai aparat datang. Bukan menghukum."
Ruangan terasa berubah.
Beberapa pelamar yang tadi ingin terlihat garang mulai tidak nyaman. Mereka baru sadar perusahaan ini bukan tempat mencari lisensi untuk menakuti orang.
Raka berdiri.
"Pak Agus, ikut saya."
Mereka pindah ke ruang kecil di samping aula.
Agus tetap berdiri sampai Raka mempersilakan duduk.
"Saya ingin menjadikan Anda kepala pelatihan lapangan untuk masa percobaan tiga bulan."
Wajah Agus tidak berubah banyak, tetapi jarinya yang memegang map menegang.
"Saya belum membuktikan apa-apa, Bos."
"Benar. Karena itu masa percobaan."
"Gaji?"
Raka menyebut angka yang layak, termasuk asuransi kerja, tunjangan keluarga, dan bonus jika sistem pelatihan lolos audit internal.
Agus diam cukup lama.
"Bos tahu banyak orang seperti saya menerima apa saja asal ada kerja."
"Saya tidak mencari orang yang menerima apa saja."
"Kenapa saya?"
"Karena Anda masih tahu batas."
Agus menunduk sedikit. Ketika ia mengangkat wajah, matanya lebih jernih.
"Kalau saya terima, saya akan keras kepada anak buah."
"Saya membayar untuk itu."
"Tapi saya tidak mau diminta menutup kesalahan mereka."
"Saya juga membayar untuk itu."
Agus berdiri tegak.
"Kalau begitu, saya siap menjalankan tugas, Bos."
Seleksi hari itu berakhir dengan dua belas kandidat awal. Agus langsung mengambil alih tes kebugaran sore. Ia tidak berteriak berlebihan, tetapi setiap instruksinya membuat orang bergerak.
"Baris dua saf."
"Jarak satu lengan."
"Kalau tidak kuat, angkat tangan. Jangan pingsan demi gengsi."
Di sesi simulasi, Agus meminta dua kandidat memerankan penjaga toko dan pelanggan marah. Banyak yang otomatis maju dengan dada dibusungkan.
Agus menghentikan mereka.
"Tugas kalian bukan menang ribut. Tugas kalian membuat ribut berhenti."
Ia menunjukkan posisi tangan terbuka, jarak aman, dan cara meminta bantuan tanpa mempermalukan orang di depan umum.
Raka melihat beberapa wajah berubah. Mereka datang untuk belajar terlihat kuat. Agus mulai mengajari mereka terlihat terkendali.
Adi berdiri di samping Raka, memperhatikan.
"Dia bagus," kata Adi.
"Aku tahu."
"Tapi tetap kita verifikasi."
"Tentu."
Adi tersenyum tipis. "Bos mulai terdengar seperti orang waras."
"Itu pujian paling mahal darimu?"
"Untuk minggu pertama, iya."
Malamnya, hasil verifikasi awal masuk. Referensi Agus bersih. Mantan komandannya menyebut Agus keras tetapi adil. Kepala gudang lama menyebutnya satu-satunya orang yang berani menolak instruksi pemilik ketika sopir diminta membawa barang tanpa surat jalan.
Raka menyimpan laporan itu.
Garuda Shield mulai memiliki tulang.
Seminggu berikutnya, dokumen pelatihan, daftar calon personel, struktur organisasi, dan permohonan izin disiapkan. Adi mengurus administrasi. Agus membangun disiplin lapangan. Raka membayar biaya pelatihan Gada Pratama, perlengkapan dasar, seragam, asuransi, dan sewa tempat latihan.
Total pengeluaran tahap itu Rp 2.400.000.000.
[Transaksi tervalidasi.]
[Pengeluaran sah kepada pihak ketiga dan operasional perusahaan: Rp 2.400.000.000.]
[Cashback 10x diproses: Rp 24.000.000.000.]
Saldo: Rp 85.554.633.900.
Pada akhir minggu, Agus masuk ke ruang rapat dengan map biru.
Map biru itu punya stempel, nomor izin, dan catatan tanggung jawab yang tidak bisa dimainkan sembarangan.
"Bos," katanya singkat, "izin operasional dari Polri sudah keluar. Kita resmi legal."
mungkin sepertinya, baru kali ini aku baca cerita di platform online yang punya alur, bahasa dan kekuatan cerita kaya gini.
terimakasih untuk cerita luarbiasa nya Gan....