Menjadi sarjana diusia yang masih muda, tentu impian semua wanita, begitu pula dengan Alesya Faihanah, seorang wanita muslimah yang bersungguh-sungguh menghabiskan waktu mudanya untuk meraih impiannya.
Ketika Alesya sedang mempersiapkan baju toga entah mengapa ia harus memakai baju pengantin secara tiba-tiba. Apakah ini menjadi TAKDIR TERINDAH bagi Alesya?, yaitu menjadi seorang mahasiswi sekaligus seorang istri.
~Cerita ini hanyalah karangan penulis semata, dan berharap dapat diambil manfaat serta pelajaran yang tertuang dalam cerita ini untuk kehidupan kita agar lebih baik lagi~
"Teruntuk kalian yang sedang membaca, jadilah pembaca yang aktif ya, aktif beri bintang dan beri komentar, Percayalah jempol kalian adalah suntikan semangat bagi saya sebagai penulis pemula yang masih belajar merangkai cerita"
{Sebelum baca cerita ini jangan lupa sholat dan baca Al-Quran dulu yak🙏}
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ukhfira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meraih Impian
Gapailah impianmu setinggi langit
Jangan takut untuk gagal
Jika dirimu sungguh-sungguh
Impianmu akan berada digenggamanmu
~Takdir Terindah~
Ukhfira
~Cerita ini hanyalah karangan penulis semata, dan berharap dapat diambil manfaat serta pelajaran yang tertuang dalam cerita ini untuk kehidupan kita agar lebih baik lagi~
Sebelum baca cerita ini jangan lupa sholat dan baca Al-Quran dulu yah
Selamat membaca
Semoga suka
🌻🌻🌻
1 Bulan Kemudian
Afnan kedatangan seorang pria berperawakan asing yang didampingi oleh seorang pria juga yang berparas wajah Indonesia pada umumnya. Mereka berdua sedang duduk dihadapan Afnan dengan raut wajah yang serius begitu juga dengan Afnan yang tak kalah seriusnya. Baru kali ini butiknya kedatangan seseorang seperti mereka yang mana dari pakaian yang dikenakannya diperkiraan bukan dari golongan orang biasa.
Pria berparas bule itu membisikkan sesuatu kepada pria yang disampingnya. Kemudian beralih tersenyum kepada Afnan yang akhirnya membalas senyuman ramahnya.
"Jadi begini Pak Afnan, perkenalkan nama saya Mifzal dan ini Bapak Alex."
Afnan tersenyum ramah kepada pria bule tersebut yang bernama Alex. Kemudian kembali mendengarkan Mifzal yang melanjutkan pembicaraannya.
"Bapak Alex ini adalah pemilik bisnis baju import di Australia, dan saya adalah salah satu karyawannya, kami sudah tahu tentang butik Pak Afnan yang saat ini sedang sukses di Indonesia. Dan Kedatangan kami ke mari, kami sengaja ingin bertemu dengan Pak Afnan sebagai pemilik butik Rafisqy batik."
"Pak Alex tertarik dengan baju-baju di butik Pak Afnan ini sehingga beliau mengatakan kepada saya, bahwa Pak Alex ingin menawarkan kerja sama dengan pak Afnan."
Afnan terkejut. Seakan tidak percaya bahwa kedua pria dihadapannya itu datang jauh-jauh dari Australia untuk bertemu dengannya dan ingin menawarkan kerja sama dengannya.
Mata Afnan berbinar-binar. " I-ini serius Pak?, Bapak Alex ingin menawarkan kerja sama dengan Rafisqy batik?"
Mifzal tersenyum ramah. "Iya Pak Afnan, kami serius ingin menawarkan kerja sama dengan Rafisqy batik, dan ini surat kontrak kerjanya, mohon di baca dulu Pak, kami tidak terburu-buru kok, silahkan Bapak pertimbangkan dulu, kami siap menunggu keputusan Bapak sampai kapanpun. Karena jujur saja Bapak Alex bilang katanya sudah jatuh cinta sama baju di butik Pak Afnan ini."
"Yes, I like clothes at this boutique." Ucap Alex dengan meyakinkan Afnan.
Tidak tahu lagi Afnan harus berkata apa. Jujur dia senang sekali mendapatkan kabar baik ini. Kesempatan emas yang tidak boleh disia-siakan. Ini impian Afnan sejak dulu. Yaitu Rafisqy batik go international.
"Alhamdulillah, baik Pak kalau begitu saya akan pertimbangkan terlebih dahulu, nanti saya akan kabarkan Pak Mifzal dan Pak Alex tentang keputusan saya."
"Baiklah kalau begitu kami pamit pergi dulu Pak Afnan. Semoga keputusan bapak adalah yang terbaik buat kita semua."
"Aamin."
Dengan sangat ramah Afnan menjabat tangan Mifzal dan Alex secara bergatian kemudian mempersilahkan mereka keluar dari ruangannya.
"Maa syaa Allah, terima kasih ya Allah, Engkau mengabulkan impian hamba selama ini, aku harus beritahu Alesya, pasti dia senang dengar kabar baik ini."
Tanpa banyak bicara lagi. Afnan langsung bergegas keluar dari ruangannya sekaligus keluar dari butiknya kemudian masuk ke dalam mobil untuk pulang ke rumah menemui Alesya dan memberitahu kabar baik tersebut.
∆∆∆∆∆
Kabar baik itu kini sudah sampai di telinga Alesya. Bahkan Afnan langsung yang memberitahunya. Rasa senang dan bahagia Afnan kini tertular ke Alesya. Istri mana yang tidak senang jika mendengar kabar baik bahwa bisnis suaminya akan melesat ke luar negeri. Yah begitulah Alesya saat ini. Ikut bahagia melihat suaminya bahagia.
"Alhamdulillah, Allah baik banget sama keluarga kita ya Alby, tiada hentinya aku bersyukur atas semua yang Allah berikan kepada keluarga kecil kita."
"Iya Einy, kita harus selalu bersyukur sama Allah. Akhirnya ya impian terbesar aku akan terwujud juga, ini berkat doa kamu Einy, doa istri yang sholihah."
Alesya tersenyum. "Ini rezeki anak-anak kita, Arsya dan Arsy."
Alesya mengangguk dengan senang. Allah menunjukkan kuasaNya. Dengan memperlihatkan bahwa bayi kembar yang saat ini sudah berusia satu bulan membawa rezekinya sendiri melalui butik kedua orang tuanya yang akan melebarkan sayap sampai luar negeri.
"Oh ya Alby, mana surat kontraknya, aku mau lihat."
Afnan memberikan map yang terdapat surat kontrak yang tadinya didapatkan dari Mifzal kepada Alesya. Yang nantinya akan dibubuhkan tanda tangan oleh Afnan. Sebagai bukti bahwa dia menerima tawaran kerja sama tersebut.
"Apa?!"
Alesya terkejut. Raut wajahnya berubah usai membaca surat kontrak tersebut. Dia menggelengkan kepala seakan berubah pikiran.
Afnan kebingungan. "Kenapa Einy?"
Alesya pun menyerahkan kembali surat kontrak tersebut kepada Afnan dengan ekspresi datar. Afnan bingung kemudian membaca ulang isi surat tersebut. Tidak ada yang aneh. Tetapi mengapa Alesya nampak tidak suka setelah membaca surat tersebut.
"Einy, ada yang salah ya sama surat kontraknya?." Tanya Afnan tak mengerti.
Alesya mengangguk. "Ada, dan aku gak setuju. Kamu nggak usah tanda tangan surat kontrak itu."
Afnan terkejut. "Lho kenapa Einy?, kenapa kamu berubah pikiran?"
Alesya mendengus kesal lantaran Afnan tidak mempermasalahkan isi surat kontrak tersebut. Padahal tulisannya sangat jelas dibaca.
"Kok kamu malah bertanya sih?, sudah jelas-jelas disitu tertera bahwasanya Bapak Muhammad Afnan Rafisqy akan menetap sementara di Australia, ya aku nggak setuju lah?, masa iya kamu mau meninggalkan istri dan ana-anak kamu." Oceh Alesya sangat kesal.
Alesya tidak menyetujuinya karena di surat kontrak tersebut menyatakan bahwa Afnan akan menetap sementara di Australia untuk kepentingan kerja samanya.
Afnan memegang erat kedua pundak Alesya. Menatapnya dengan lekat. Wajah Alesya masih dengan ekspresi kesal.
"Einy, dengerkan aku baik-baik ya, ini kesempatan emas yang nggak boleh disia-siakan, ini rezeki anak-anak kita. Jadi aku harus memperjuangkannya. Lagi pula hanya sebentar kan, nggak lama."
Alesya tidak habis pikir. Afnan tidak mempermasalahkan mereka yang secara tidak langsung akan tinggal berjauhan. Dan dengan santainya mengungkapkan bahwa hanya sebentar saja.
"Sebentar dari mana, 3 bulan itu bukan waktu yang sebentar, pokoknya aku nggak mau berjauhan sama kamu, Alby, jangankan 3 bulan, 3 detik saja aku nhgak mau."
Wajar jika Alesya menentang seperti itu. Afnan mengerti akan perasaan Alesya saat ini. Afnan juga sebenarnya tidak ingin berjauh-jauhan dengan Alesya. Ditambah lagi saat ini diantara mereka sudah ada anak-anak mereka yang masih bayi. Berat rasanya harus meninggalkan mereka yang sedang lucu-lucunya. Tetapi sebagai seorang kepala rumah tangga. Mencari nafkah sudah kewajiban yang harus Afnan laksanakan. Dan saat ini dia harus berjuang mengejar rezeki anak-anaknya sampai ke Australia.
Alesya beranjak dari tempat duduknya. "Pokoknya aku nggak setuju, TITIK."
Afnan hanya geleng-geleng kepala saja. Melihat kepergian Alesya dengan wajah kesalnya yang justru menurut Afnan sangat menggemaskan.
∆∆∆∆∆
"Menurut gue, lo terima saja tawaran itu Bro, kesempatan emas nggak boleh dipandang sebelah mata apa lagi ditolak."
Saat ini Shuwan sedang bertandang ke rumah Afnan. Tentunya atas panggilan dari sahabatnya. Semenjak lulus kuliah. Shuwan memang tidak bekerja di kantor manapun. Karena Afnan sudah menjanjikan kursi jabatan di bisnis butiknya, yaitu sebagai wakil Bos, atau bisa dibilang tangan kanannya Afnan. Shuwan tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dan setelah lulus kuliah dia langsung membantu Afnan mengelola butiknya yang saat ini sedang berada di atas awan.
"Ya sebenarnya gue juga berpikiran seperti itu, soalnya nggak selalu ada kesempatan kedua, tapi gue-"
"Lo mikirin apa?, butik yang di sini?, ya elah lo nggak percaya banget sama gue, in syaa Allah gue akan mengelola dengan baik kok, jadi lo nggak usah khawatir, lagi pula kapan lagi lo bisa tinggal di Australia, ya walaupin cuma 3 bulan, tapi itu maa syaa Allah banget lho Bro."
Afnan menggelengkan kepala. Shuwan berhasil membuatnya menghela napas karena asal main memotong pembicaraannya.
"Gue sudah percaya banget sama lo, gue yakin lo bisa mengelola butik gue dengan baik, tapi bukan itu yang gue pikirkan."
"Lah terus lo memikirkan apa?"
"Alesya nhgak setuju, soalnya dia nggak mau berjauhan dari gue, ya namanya juga seorang istri, pasti nhgak mau lah kalau berjauhan sama suaminya."
Shuwan mengerti. "oh memikirkan itu, ya juga sih, pasti lo juga berat meninggalkan istri dan anak lo, mana anak-anak lo masih bayi yang unyu-unyu lagi. Terus bagaimana?, lo mau tolak tawaran kerja sama itu?"
Afnan menggeleng dengan cepat. "Iya nggak mungkin gue tolak lah Bro, itu rezeki anak-anak gue, ya gue harus perjuangkan."
"Ya terus istri lo bagaimana?, anak-anak lo bagaimana?, masa iya mau dititipkan ke gue juga?" Ujar Shuwan bergurau.
Afnan bingung harus berbuat apa. Dia tidak mungkin menolak tawaran kerja sama itu. Tetapi dia juga tidak mungkin pergi ke Australia tanpa restu dari Alesya. Walau bagaimanapun doa dan restu istrinya sangat berpengaruh besar terhadapnya.
"Gue coba bujuk Alesya lagi deh, lo doakan gue semoga Alesya mengizinkan gue pergi."
"Loe tenang saja Bro, doa gue selalu untuk lo Bos."
"Kalau begitu gue langsung ke butik lagi ya, pekerjaan gue menumpuk hari ini."
Afnan mengangguk. "Yang semangat kerjanya Bro, ingat ada perempuan yang akan lo nafkahi nantinya."
"Siap Bos, Adik yang sabar ya Dik menunggu Abang, Abang masih cari nafkah buat halalkan Adik."
Afnan geleng-geleng kepala melihat sahabatnya yang sedang bicara sendiri. Seakan sedang berbicara kepada calon istrinya yang masih bersembunyi dan belum dia ditemukan.
Usai Shuwan pergi dari rumahnya. Afnan melangkahkan kakinya menaiki anak tangga satu persatu. Mencari keberadaan Alesya yang sepertinya sedang berada di dalam kamar mereka. Tentunya sedang bersama si kembar. Buah hati mereka.
"Sayang, Baba kalian tega ya mau meninggalkan Umma sama kalian demi mewujudkan impiannya. Umma kesel sama Baba kalian, kalian pasti juga kesel kan sama Baba."
Alesya berdiri didepan Arsya dan Arsy yang sedang terbaring di box tempat tidur si kembar. Mengajaknya mengobrol lebih tepatnya mengajak mereka untuk ikut kesal kepada Afnan akan pergi ke Australia untuk kepentingan bisnis.
Tanpa Alesya sadari, Afnan sedang berdiri di ambang pintu tepat di belakang Alesya yang sedang berdiri. Afnan mendengarkan semua ocehan Alesya yang dilontarkan kepada Arsya dan Arsy yang belum mengerti apa-apa.
Afnan bergegas menghampiri Alesya. Memeluknya dari belakang. Menopangkan dagunya di salah satu pundak Alesya.
Alesya yang menyadari kehadiran Afnan dengan tegas melepas pelukan itu. Memberikan jarak diantara mereka.
Dengan sabarnya Afnan mendekati Alesya lagi. Dan Alesya memberikan jarak lagi bahkan sangat jauh yaitu Alesya langsung keluar dari kamarnya kemudian masuk ke kamar lainnya. Mengunci pintunya dan melempar kuncinya kesembarang tempat.
Afnan mengetok pintunya dengan pelan. Tetapi Alesya terlanjur kesal dan saat ini langsung merajuk kepadanya. Alesya membaringkan tubuhnya dengan membelakangi pintu untuk meredahkan emosinya agar tidak tumpah ruah. Walau bagaimanapun dia tidak boleh marah kepada Afnan, suaminya. Jika hanya merajuk tidak apa-apa bagi Alesya. Itu haknya mau merajuk atau tidak yang terpenting tidak melebihi batas.
Alesya menghela napas lega karena suara ketokan pintu tidak terdengar lagi. Itu artinya Afnan sudah tidak ada didepan pintu. Syukurlah, memang itu yang diinginkan Alesya saat ini. Memberi jarak kepada Afnan agar Afnan mau intropeksi diri.
Katanya tadi Alesya bilang tidak bisa berjauhan dengan Afnan, meskipun hanya 3 detik. Nyatanya saat ini dia malah menjauh dari Afnan. Sudah beberapa menit bahkan. Tetapi menurut Alesya ini berbeda. Dia sedang merajuk sama Afnan. Jadi terpaksa harus menjaga jarak dulu walau sebenarnya Alesya tersiksa karena sudah merasa rindu sama suaminya yang selalu dirindukan. Namanya juga suami istri yang saling cinta. Wajarlah menurut Alesya.
Tiba-tiba kedua mata Alesya membulat dengan sempurna. Sebuah tangan kekar merengkuh tubuhnya. Memeluknya dari belakang.
Tanpa sepengetahuan Alesya. Afnan berhasil masuk ke dalam kamar itu. Menggunakan kunci cadangan yang memang Afnan simpan. Alesya merutuki dirinya yang lupa bahwa Afnan sudah lama tinggal di rumah ini, bahkan sebelum menikah dengannya. Jadi Afnan pasti memiliki kunci cadangan disetiap pintu ruangan rumahnya.
Alesya memberontak untuk melepaskan tubuhnya dari pelukan Afnan. Namun gagal bahkan Afna semakin merapatkan tubuhnya dan mempererat pelukannya.
"Diamlah sebentar Einy, biarkan seperti ini sampai kamu benar-benar tidak marah lagi sama aku."
Alesya luluh. Tubuhnya terdiam bahkan menikmati hangatnya pelukan yang bersumber pelukan suaminya. Sampai tak terasa Alesya memejamkan matanya. Terlelap dalam tidurnya usai merajuk hebat dengan suaminya. Afnan akhirnya tertidur juga mendatangi Alesya di mimpi indahnya. Romantisnya❤
💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗
Semoga ada season 2 dari karya ini
lanjut ah baca yang ke dua