NovelToon NovelToon
ISTRI YANG DISINGKIRKAN DI HARI ULANG TAHUN PERNIKAHAN

ISTRI YANG DISINGKIRKAN DI HARI ULANG TAHUN PERNIKAHAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:192k
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Di hari yang seharusnya menjadi perayaan cinta, dia justru disingkirkan dari hidup mereka.

Ketika seorang istri setia berharap mendapat kejutan di hari ulang tahun pernikahannya, yang ia terima justru pengkhianatan dari orang-orang yang paling ia percayai.

Suami yang berubah. Pelakor yang datang tanpa rasa bersalah. Serta ibu mertua dan ipar yang mendukung semuanya.

Akankah ia bertahan demi rumah tangganya?

Atau memilih pergi dan membuktikan bahwa dirinya mampu hidup tanpa mereka?

Siapkan hati kalian, karena kisah ini akan menghadirkan banyak air mata, kemarahan, penyesalan, dan tentunya balas karma yang memuaskan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3. Arini Buka Kartu

Arini membereskan sarapannya dengan santai. Setelah itu ia membawa piringnya ke dapur dan mencucinya sendiri. Tidak ada lagi kebiasaan melayani semua orang seperti yang selama ini ia lakukan. Hari itu, entah kenapa, hatinya terasa jauh lebih ringan.

Selesai mencuci piring, Arini kembali ke ruang keluarga sambil membawa sebuah buku catatan tebal berisi seluruh pemasukan dan pengeluaran rumah tangga selama dua tahun terakhir.

Ia meletakkan buku itu di atas meja. "O ya, semuanya kumpul di sini dulu deh. Biar sama-sama tahu. Aku mau serah terima keuangan."

Bu Sumarni yang sejak tadi duduk di samping Mayang langsung tersenyum lebar. "Nah, itu baru bagus. Dengan senang hati. Ayo, Mayang sini! Kamu yang nanti jadi ratunya rumah ini. Kamu yang akan mengatur uang gajinya Galang."

Mayang terlihat berbinar. Namun sebelum ia sempat menjawab, Galang lebih dulu menyela.

"Gak usah, Bu. Kalau soal itu biar Arin aja yang pegang."

Arini menoleh ke arah suaminya. Senyum sinis terukir di bibirnya. "Kok aku, Mas? Takut ketahuan ya?"

Galang langsung salah tingkah. "Maksudku bukan begitu..."

"Tapi memang begitu, kan?" Ruangan mulai terasa tidak nyaman.

Arini membuka buku catatannya. "Bu, Pak, Vera, dan Mbak Mayang. Sebelum Mbak Mayang resmi mengambil alih semuanya, ada baiknya kalian tahu kondisi keuangan yang sebenarnya."

Bu Sumarni melipat tangan di dada. "Memangnya kenapa? Gaji anakku gede kok." Katanya jumawa.

Arini tersenyum tipis. "Perlu kalian ketahui, gaji Mas Galang sebagai PNS beserta tunjangannya itu cuma enam juta tujuh ratus ribu rupiah per bulan."

Mayang yang tadinya tampak percaya diri mulai mengernyit.

Arini melanjutkan. "Tiga juta dikirim ke Ibu di kampung."

Bu Sumarni langsung mengangguk bangga. "Itu memang kewajiban anak."

"Dua juta untuk biaya kuliah Vera." Vera yang sedang bermain ponsel langsung melirik ke arah Arini.

"Delapan ratus ribu untuk listrik. Tiga ratus ribu untuk internet. Tujuh ratus ribu untuk cicilan motor Vera." Vera kembali melirik Arini, tak acuh.

"Dan dua juta untuk pegangan Mas Galang sendiri."

Arini menutup bukunya perlahan. "Nah, sekarang coba dijumlah."

Tak ada yang menjawab. "Totalnya delapan juta delapan ratus ribu rupiah."

Ruangan mendadak hening. "Padahal gajinya Mas Galang cuma enam juta tujuh ratus ribu."

Arini menatap satu per satu wajah mereka.

"Artinya setiap bulan sudah defisit dua juta seratus ribu rupiah."

Bu Sumarni yang tadi begitu percaya diri mulai kehilangan kata-kata.

"Itu gak mungkin, itu hanya akal-akalan kamu aja. Kamu takut ya uangnya Galang diambil Mayang?"

"Kenapa mesti takut Bu? Aku malah bersyukur, ada yang mau gantiin aku pegang uang itu. Soalnya tiap bulan harus nombok."

"Ah bohong banget kamu, Mana ada orang yang mau begitu."

Arini tersenyum pahit. "Nah itulah bodohnya aku, kok mau-maunya jadi tulang punggung keluarga ibu ya? Gak ada uang untuk makan. Gak ada uang untuk bayar kebutuhan rumah. Uang untuk beli beras dari mana? Bayar gas, sabun, kebutuhan sehari-hari dari mana? Emh menyala dompetku."

Tak ada yang mampu menjawab. "Semua dari uangku."

Kalimat itu meluncur begitu tenang, tetapi menghantam keras. "Maksudmu?" tanya Pak Hardi.

Arini menatap mertuanya. "Mas Galang bukan cuma tidak pernah memberi uang belanja. Bahkan untuk kebutuhan dirinya sendiri saja sering tidak cukup."

Wajah Galang memerah. "Arin, cukup!"

"Tidak, Mas. Bukankah sekarang waktunya semua orang tahu?"

"Menantu lancang, anakku itu PNS yang gajinya gede."

"Terserah ibu kalau gak percaya." Arini mengeluarkan map berisi tumpukan struk dan tagihan.

"Karena sekarang, alhamdulillah, sudah ada yang bersedia menggantikan tugasku." Ia meletakkan satu per satu di atas meja. "Ini tagihan listrik. Ini tagihan internet. Ini cicilan motor Vera."

Lalu ia mendorong semuanya ke arah Mayang.

"Mulai bulan depan silakan dibayar!"

Mayang menelan ludah.

Wajahnya yang tadi berseri-seri perlahan pucat.

Ia baru menyadari bahwa yang selama ini ingin ia rebut bukanlah kehidupan mewah seperti yang dibayangkannya.

Arini berdiri dari duduknya. "Jadi mulai hari ini, aku pensiun dari bayar ini itu."

Bu Sumarni terbelalak. "Maksudmu apa?"

Arini tersenyum tipis. "Artinya aku berhenti menjadi ATM keluarga ini."

Kalimat itu membuat seluruh ruangan membeku.

Untuk pertama kalinya selama dua tahun pernikahan, Arini tidak lagi berbicara sebagai menantu yang selalu mengalah. Ia berbicara sebagai seseorang yang akhirnya lelah dimanfaatkan.

"Lho... kok jadi gini?" Mayang menatap tumpukan tagihan di depannya dengan wajah pucat. Ia terlihat benar-benar syok.

"Katanya Mas Galang uangnya banyak. Rumahnya bagus. Mobilnya mewah..."

Arini tersenyum tipis. Senyum yang lebih mirip sindiran. "Oh iya, hampir lupa bilang."

Semua orang menoleh ke arahnya. "Rumah ini bukan rumah Mas Galang."

Mayang mengernyit. "Terus?"

"Mobil yang ada di garasi juga bukan milik Mas Galang." Mayang semakin bingung.

"Lalu milik siapa?"

"Itu semua milikku."

Beberapa detik suasana mendadak hening. Lalu...

"Hahahaha!"

Bu Sumarni tertawa terbahak-bahak. Bahkan sampai menepuk-nepuk paha sendiri. "Kalau berbohong jangan keterlaluan, Rin!"

Pak Hardi ikut menyeringai. Sementara Vera memutar bola matanya malas.

"Dari mana anak yatim piatu seperti kamu punya uang untuk beli rumah sebesar ini?" sindir Bu Sumarni.

"Tahu diri sedikitlah. Sakit hati karena Galang nikah lagi, bukan berarti kamu harus depresi, sampai berhalusinasi." Bu Sumarni tertawa sampai mengeluarkan air mata.

Arini sama sekali tidak terlihat tersinggung. Justru ia terlihat santai. Seolah ucapan itu sudah terlalu sering ia dengar selama ini.

"Ya terserah ibu, mau percaya syukur, gak juga aku gak rugi. Atau tanyakan saja sama putra kebanggaan Ibu itu!"

Semua mata langsung beralih kepada Galang. Galang yang sejak tadi duduk diam langsung menegang.

"Mas?" tanya Mayang penasaran.

Galang mengusap tengkuknya. "Sudahlah, nggak usah bahas itu."

Jawaban itu justru membuat Mayang semakin curiga. Bu Sumarni langsung mendengus.

"Gak usah ditanya! Ibu juga nggak akan percaya sama semua omong kosongnya Arini."

"Ya terserah Ibu." Arini menjawab datar.

Tidak ada lagi usaha untuk membela diri. Tidak ada lagi kebutuhan untuk mencari pengakuan. Percuma.

Selama ini apa pun yang ia lakukan tidak pernah dianggap. Jadi untuk apa menjelaskan? Yang penting ia tahu kenyataannya. Dan Galang juga tahu.

Arini lalu merapikan buku catatannya dan memasukkannya kembali ke dalam tas. "Pokoknya mulai bulan depan semua tagihan itu bukan urusanku lagi."

Ia menunjuk tumpukan kertas di hadapan Mayang.

"Listrik, internet, cicilan motor, dan kebutuhan lain yang biasanya aku tanggung. Silakan diatur sendiri dengan uang yang ada."

Wajah Mayang langsung berubah.

"Tapi aku kan belum bekerja..."

"Itu bukan masalahku."

Jawaban Arini membuat Mayang terdiam.

Kini perempuan itu menyadari bahwa menjadi pasangan Galang tidak semudah yang dibayangkannya.

Sementara Bu Sumarni masih terlihat kesal.

"Sudahlah Mayang, itu hanya omong kosong dia. Gak usah percaya!"

Arini tersenyum hambar.

"Tapi Bu..." Mayang mencoba menjawab.

"Kamu mau percaya sama ibu atau sama orang stress karena dia disingkirkan oleh Galang?" Bu Sumarni menatap Mayang.

"Ya ibu lah."

"Ya udah kalau gitu."

"Sudah ya, aku sudah menjelaskan semuanya."

Arini bangkit dari duduknya.

"Mas, mana kunci mobil? Aku mau pakai."

"Apa? Gak bisa Aku mau ngajak jalan-jalan Mayang keliling Bandung."

"Ngajak jalan-jalan kan bisa pakai motor Vera, gak usah pakai mobilku." Arini berkata sambil menyambar kunci mobil yang tergantung dekat pintu ruang keluarga."

Dia melangkah keluar, tak peduli dengan Bu Sunarni yang terlihat marah.

_________________________________

Hai Readers jangan lupa mampir ke novel aku yang lainnya ya!

Rahasia Masa Lalu Suami dan Sang Ipar (sudah tamat).

Ditalak Sesaat Setelah Akad (sudah tamat)

Benang Putus Karena Cinta Pertama. (Up)

Oh iya jangan lupa beri masukan dan kritikan yang membangun yah, biar makin semangat up novelnya. Terimakasih 🙏🏼🙏🏼🙏🏼

1
Arin
La.... urusan kelangsungan hidup keluarga ibu..... mikir sendiri lah. Masa mantan menantu yang sudah disakiti suruh nanggung dan ikut mikir juga. Aneh memang Ibu Sumarni ini....
Arin: iya gak nyambung. Mungkin nyambungnya kedengkul🤭🤭🤭
total 2 replies
Oma Gavin
jadi gembel gelandangan saja seperti sebeujgn sok kaya sekarang sudah kere
Yuni Ngsih
Authooooor ceritramu bgs banget sangat runut bgt ku baca dgn asyiknya tau " dah beres jangan lupa lanjutannya ya Thor ku menunggu ceritramu ....ok mksh.
Cicih Sophiana
wah ini kluarga rusak... mungkin si Varah jg perempuan bataran seperti si mayang jga
Cicih Sophiana
itulah klo orang salah memutar balik kan fakta... biar dia kelihatan orang baik 😅
Cicih Sophiana
ayo ah thor jodohin Arin dgn Satria...😀
Cicih Sophiana
laki laki klo udahnliat perempuan yg lebih bening sedikit aja udah klepek klepek... apa lagi klo perempuan nya yg gatel mau di garukin udah deh langsung gak mikir lagi
Cicih Sophiana
tetap semangat thor... sukses dan sehat slalu
Cicih Sophiana
semoga Arini mendapat kebahagiaan setelah penderitaan nya...
Fey mldn
si Galang otaknya loading sehingga yang dialaminya selalu menyalahkan Airin
Ma Em
Bu Sumarni karena TDK suka punya menantu yg numpang hdp pada anak nya , padahal Galang sendiri yg numpang sama istrinya Bu Sumarni tdk tau bahwa menantu yg selalu dihina malah yg sdh menyokong hdp Galang dan Bu Sumarni sendiri , Galang malah nikah lagi dgn pilihan Bu Sumarni katanya Mayang wanita yg baik ga tau nya Bu Sumarni malah memilih jalang yg akhirnya malah selingkuh dgn suami Bu Sumarni sendiri , skrg rasakan penderitaan mu Galang , Bu Sumarni .
Arin
Ikut capek kan Bu Sumarni. Anak sudah berumah tangga jangan ikut campur tangan. Udah punya istri malah sodorkan wanita lain buat anaknya. Sekarang kena masalah beruntun kan? Karena apa? Karena dirimu terlalu ikut campur dan masuk dalam urusan rumah tangga anak-anakmu. Dirimu menentu kebahagiaan anakmu dengan standar mu.... ujung-ujungnya gak ada...
Cicih Sophiana
percuma ibu baru menyesal sekarang...
Cicih Sophiana
setelah tersakiti sekarang Allah memberikan kebahagiaan... untuk kesabaran nya Arin
Cicih Sophiana
wah pak Rahman ternyata sahabat orang tua Arini... tp sayang yah orang tua Arini sdh meninggal krn kecelakaan kan yah...
Cicih Sophiana
kalian yg salah ko malah menyalahkan orang lain...
Cicih Sophiana
tadi othor bilang ngekos... apa dia ninggalin rumah serta istri nya dan orang tua nya...
Cicih Sophiana
yah emang harus sombong klo menghadapi kamu... kamu aja so yakin klo perempuan itu orang baik dan setia..
Cicih Sophiana
Satria siapa tau jodoh nya Arini... nanti yg nempatin rumah itu Arini juga 😀
Cicih Sophiana
Arini kamu cari pengawal unruk melindungi mu dari laki laki egois... dia yg salah malah orang yg di salah kan..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!