Seorang ilmuan jenius yang meninggal di usia muda akibat kelelahan, karena memiliki tubuh yang lemah. Tidak disangka jiwanya merasuk pada seorang pria desa yang hidup sebagai petani miskin.
Orang tua baru saja mati dan dia mendapatkan jatah tanah warisan paling sedikit?
Dikenal orang yang pasif karena tidak pernah melawan?
Namun dia tidak mengeluh, dengan melihat tubuhnya yang kuat dan sehat saja dia sudah sangat bersyukur.
[ Selamat! Kamu telah terikat pada sistem Sugar Daddy ]
"Ha?!"
Dengan sistem yang aneh ini, Lin Chen mendadak menjadi Sugar Daddy zaman kuno.
"Suami, carilah istri lagi... Kami tidak kuat, huhuhu..." Istri pertama mengumpulkan keberanian nya dan menyuarakan suara hati para istri.
***
Kembali lagi di cerita author RAS(BY/AR)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAS( BY.AR), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
"Baiklah-baiklah! Kamu berikan uang nya dan aku siapkan surat budak nya!"
Lin Chen memberikan isyarat menggeleng kepala An Roro, dan An Roro pun mengangguk mengerti. "Berikan dulu suratnya, aku juga berikan uang nya!"
Pedagang budak itu menghela napas, perempuan ini benar-benar susah di ajak bicara. Dia pun pergi kereta bagian depan mengambil surat budak dari dalam buntalan tas nya.
Pedagang resmi memang menggunakan surat budak untuk menguasai kebebasan budak, sementara ada juga pedagang budak liar yang asal mendapatkan budak dan menjual nya.
Biasanya penjual budak liar akan datang dari desa ke desa, budak-budak itu biasanya berasal dari para bandit yg menjarah desa. Ataupun pengungsi atau tunawisma yang cukup berkualitas sehingga di lirik atau di culik.
An Roro menerima tiga surat budak milik Chi Yao dan kedua gadis lainnya, dia membaca nama mereka dan akhirnya mengangguk. Lin Chen tersenyum masih memerankan peran nya sebagai pemuda polos, dia memberikan lima belas tael kepada An Roro dengan senyum mengembang.
"Baiklah-baiklah, terimakasih atas transaksi nya. Jika ingin budak, cari lagi aku ya"
Lin Chen dan An Roro berjalan berdampingan di depan dan ketiganya mengikuti mereka. Mereka berjalan menuju sebuah gang dan akhirnya berhenti.
"Akhirnya kamu telah bebas, maafkan ucapan ku tadi yang kasar. Aku benar-benar tidak sengaja!" An Roro langsung memeluk Chi Yao dan menatap kedua gadis lainnya meminta maaf.
Chi Yao mengusap punggung An Roro sambil tersenyum, "tidak apa-apa, jangan di pikirkan. Kamu memerankan nya dengan sangat baik! Aku kagum!"
An Roro tersenyum malu-malu mendapatkan pujian nya, entah kenapa wajah nya jadi murahan sekali-- gampang memerah dan tersenyum ketika di puji.
"Baiklah, kalian senang itu bagus"
An Roro seolah baru tersadar akan suaminya, "ah suami, terimakasih banyak!" Dia memeluk suaminya dengan penuh rasa syukur.
Lin Chen tersenyum dengan sedikit tawa, mengelus-elus rambut istrinya. "Asalkan kamu senang dan mereka baik, itu cukup"
An Roro memberikan tiga surat budak itu kepada suaminya, "kamu yang putuskan"
"Eh, aku pikir kamu yang akan memutuskan nya?"
"T-tidak kok, suami... Tadi itu kan hanya bohongan!" An Roro menggeleng dengan wajah malu yang canggung.
Lin Chen menatap kertas budak itu dan membaca nama dan informasi mereka dalam hati, meskipun pemilik tubuh asli tidak bisa membaca. Namun aksara tulisan dunia ini tidak ada bedanya dengan aksara klasik, jadi dia dengan mudah dapat membacanya.
Chi Yao membungkuk dengan sopan kepada Lin Chen. "Tuan, namaku Chi Yao. Mulai sekarang, aku akan mengikuti mu dan berbakti kepadamu. Kamu mau menjadikan ku pelayan, atau selir pun. Aku terima"
"T-tuan, namaku Zhu Zhilan. Sama seperti Kak Chi Yao, aku juga akan mengikuti mu dan berbakti. Kamu mau jadikan aku pelayan ataupun selir, aku akan menurut"
Lin Chen menatap Chi Yao, dengan wajah cantik dan kepribadian tegas dan bijaksana, dia memang sungguh mempesona-- tipikal istri yang penuh kebajikan. Lalu di samping nya, gadis yang di panggil Zhu Zhilan ini berwajah cantik dengan hidup dan bibir mungil, matanya terlihat berkaca-kaca memberikan kesan lemah dan rapuh.
Kecantikan nya tidak jauh berbeda dengan An Roro. Hanya saja An Roro meskipun terlihat lembut, dia adalah pribadi yang pemalu dan cengeng.
Lalu gadis satu nya lagi, berwajah tirus dengan struktur sedikit tajam dan mata dingin yang seolah bisa membunuh. Namun sebenarnya itulah pesonanya, cantik, dingin, terlihat kejam namun memikat.
Namun, meskipun wajahnya terlihat dingin dan tenang menatap nya dengan berani. Sepertinya batin nya sedang bergejolak, Lin Chen juga menatap nya. Chi Yao dan Zhu Zhilan telah berjanji dan memberikan kesetiaan nya. Tinggal dirinya sendiri.
"Aku tidak akan memaksa mu, jika kamu tidak setuju. Kamu bisa pergi, anggap saja kamu berhutang budi" Lin Chen tampak tersenyum senang.
"Aku tidak suka berhutang budi, namaku Bai Xue aku juga akan mengikuti mu... Sama seperti yang lainnya"
Lin Chen tersenyum, dan mengangguk. Lalu dia menyobek surat budak itu. "Baik... Ikutlah aku"
Lin Chen berjalan lebih dulu, keempat perempuan itu pun mengangguk dan mengikuti nya.
"Roro, Bai Xue memang memiliki kepribadian yang kuat dan dingin. Jadi itu memang karakter nya" ucap Chi Yao.
An Roro mengangguk, "baiklah Chi Yao. Aku mengerti" Dia sempat khawatir dan merasa was-was takut suaminya tersinggung dengan sikap Bai Xue, namun suaminya ternyata terlihat santai-- tidak tersinggung dan ternyata itu memang karakter Bai Xue. Dia bisa merasa lega.
"Eh, kenapa kalian berjalan di belakang begini?" Lin Chen berhenti berjalan dan berbalik ke belakang menatap mereka, dia pikir setelah beberapa langkah mereka akan menyusul dan berjalan di samping nya.
Mereka saling pandang, "suami, kamu adalah suaminya. Kita mengikuti di belakang mu saja"
Lin Chen menggeleng, "Aku bukan nya menjadikan kalian pelayan, tapi istriku. Kalian berjalan lah bersampingan dengan ku, bagaimana jika ada orang yang berniat mesum dan mengira kalian ini pelayan ku? Kemarilah"
Mereka saling berpandangan ragu dan akhirnya maju mendekati Lin Chen.
Bai Xue sedikit mengerut kan keningnya, sejenak dia merasa tertegun hingga akhirnya ikut berjalan di samping Lin Chen.
Mereka berhenti di kantor kabupaten, seorang petugas segera bertanya melihat rombongan perempuan dan seorang pria ini. "Apa yang kalian butuhkan?"
"Kami ingin menulis surat pernikahan"
Petugas itu tertegun, dia menatap Lin Chen sejenak dan salah satu perempuan itu hingga akhirnya berseru. "Kamu!"
Lin Chen. "???"
All. "???"
"Bukankah pagi tadi kamu baru membuat surat pernikahan? Sekarang ingin membuat surat nikah lagi?"
Lin Chen mengangguk santai melihat keterkejutan nya. "Benar"
Petugas ini menenangkan dirinya sebentar, memang bukan hal aneh untuk seorang pria memiliki banyak wanita. Namun seorang pria dengan banyak istri itu agak jarang, karena biasanya hanya ada satu istri dan beberapa selir.
"Semuanya?" Tanya petugas itu dan Lin Chen mengangguk.
Lin Chen menyerahkan surat pernikahan miliknya dan An Roro. Lalu petugas pun mencatat nama-nama mereka bertiga di surat itu.
"K-kami, menjadi istri sah?" Tanya Chi Yao ragu-ragu dan wajah tidak menyangka, begitupula dengan Zhi Zhilan. Dan meskipun Bai Xue tetap berwajah dingin, namun jejek keterkejutan tetap tertinggal di wajah nya.
"Tentu saja, kalian akan menjadi istri-istri ku dan aku akan sepenuhnya bertanggungjawab kepada kalian." Ucap Lin Chen, tersenyum menatap mereka dengan pandangan hangat. Sekarang mereka pun sudah menjadi istrinya, dan menatap istri sendiri tidak ada salahnya.
"T-tuan... Terimakasih, kebaikan mu sangat besar!" Chi Yao hampir bersujud namun di tahan.
"Jangan pernah bersujud dan jangan panggil aku tuan lagi, mulai sekarang panggil aku suami dan kita akan menjadi pasangan yang saling menghormati."
"Y-ya... Suami!" Zhi Zhilan mengucapkan kata itu dengan pelan sedikit malu. Lin Chen menatap An Roro, Chi Yao dan Zhi Zhilan, lalu menatap wajah dingin Bai Xue yang seperti batu karang.
Lin Chen. "..." Sepertinya dia harus lebih panas untuk bisa melelahkan kutub es~