Tak pernah aku sangka, kalau dendam yang aku miliki akan membuat aku terjerumus pada cinta laki laki yang menjadi alat balas dendamku.
Pusara dendam yang aku jalani membuatku terikat kuat oleh laki laki milik wanita yang membuat dendamku membara.
Di saat aku memutuskan pergi setelah semua dendam terbalaskan, kakiku malah terikat kuat dan tidak bisa melangkah walaupun satu langkah.
yuuk ikuti ceritanya.....!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jeny chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34.makan malam......
Saat ini Zavina dan Eduardo sedang di sebuah kedai bebek goreng terkenal, Zavina langsung semangat dan malah memilih makanan yang lain dari pada berbau gulai.
"Katanya mau gulai tadi pas di rumah. "
ucap Eduardo saat istrinya memesan berbagai macam olahan bebek hingga dirinya juga jadi tidak memesannya karena makanan pesanan Zavina sangat banyak.
"Pas lihat menu menu nya aku jadi melupakan gulai, mau bebek bakarnya sangat ngiler liat nya. "
ucap Zavina dan membuat Eduardo tersenyum menggelengkan kepalanya.
"Yasudah kita tunggu pesanan makanannya selesai di siapkan, aku ga memesan apapun karena pesanan kamu sangat banyak loh. "
ucap Eduardo yang heran dengan pesanan istrinya.
"Memang sengaja Sayang aku pesan banyak, biar kamu gak usah pesan lagi. "
sesuai tebakan Eduardo ternyata tidak meleset.
Saat asik dengan mengedarkan pandangannya, Eduardo menatap ke arah meja yang lumayan dekat dari nya, ada keluarga Sanjaya lengkap sedang makan malam, setelah mengetahui latar belakang Zavina, Eduardo mencari tahu siapa keluarga istrinya dan Eduardo tidak percaya kalau Zavina masih keturuna orang berada karena Sanjaya bukan keluarga biasa dan lumayan besar walau tak sebesar Angkasa Jaya.
"Derama apa lagi yang mereka perankan, kenapa wanita yang aku cintai harus lahir dari keluarga itu. "
gumam Eduardo dalam hatinya sambil menatap satu persatu orang yang duduk dengan keluarga Sanjaya.
"Kamu kenal dengan orang yang duduk di kursi sana?? "
tanya Zavina saat menatap suaminya yang memperhatikan meja yang tak jauh darinya.
"Mereka keluarga Sanjaya, tapi mengadakan pertemuan dan semua tahu kalau pewarisnya kan sudah menikah, tapi kenapa mereka seperti sedang berunding mengenai perjodohan. "
jawab Eduardo dan Zavina langsung terdiam menatap wajah suaminya.
"Ada apa sama kamu?? Kenapa menjadi ingin tahu urusan orang lain?? Biarkan saja karena gak penting untuk kita. "
ucap Zavina dengan nada anehnya dan Eduardo langsung tersenyum.
"Entah kenapa aku jadi seperti ini Sayang. "
elak Eduardo dan Zavina hanya menggelengkan kepalanya dengan tingkah sang suami.
Makanan yang di pesan pun akhirnya datang, Zavina langsung berbinar melihatnya dan Eduardo hanya tersenyum melihat tingkah istrinya, setelah pelayan menyelesaikan menata makanannya Zavina yang tidak sabar untuk mencicipi pun langsung memakan makanannya.
Eduardo pun ikut makan dan ternyata makanannya begitu lezat, pantas kedai nya sangat ramai dan Zavina memakan makanannya sangat lahap.
Di meja keluarga sanjaya saat ini......
"Bagaiman Alvin?? Kamu setuju menikah dengan Olivia?? "
tanya Sang ayah dan Alvin hanya mengangguk.
"Alvin percayakan sama Ayah dan Ibu karena Alvin yakin pilihan kalian terbaik untuk Alvin. "
jawab Sang putra dan membuat semua orang tua puas dengan jawabannya.
Olivia pun sama hanya bisa menuruti semua keinginan orang tuanya dan tidak bisa membantah, dia pasrah seperti Alvin karena nasib Olivia pun tak jauh dengan Alvin.
"Langsung tentukan tanggal pernikahan saja kalau begitu, lebih cepat lebih baik karena takut keduanya berubah pikiran kalau menundanya. "
ucap Orang tua Olivia dan orang tua Alvin mengiyakannya.
Tatapan Ranti tak sengaja menatap ke arah meja Zavina dan dari kejauhan dia merasakan hal berbeda saat melihat Zavina memakan makanannya, wajah Zavina sedikit mirip dengan wajah sang suami.
"Di dunia ini kan ada tujuh wajah yang hampir serupa. "
gumam Ranti dalam hatinya sambil melanjutkan kembali makannya.
Malam ini bagi Ranti tidak terlalu antusias karena pilihan istri baru Alvin adalah pilihan sang suami, dia enggan memilihkan lagi takutnya di salahkan seperti memilih Mona terdahulu.
.
.
Ke esokan harinya.......
Senin pagi yang begitu sangat sibuk untuk Eduardo, pagi ini jam sembilan sudah ada jadwal meeting dan tidak bisa di wakilkan oleh asistennya, jadilah Zavina pergi ke panti hanya seorang diri dan beberapa pelayan yang mengantarnya.
"Ingat setelah semua barang sampai, kamu harus segera kembali ke rumah dan jangan pergi kemana mana. "
ucap Eduardo saat Zavina memasangkan dasi untuk nya.
"Aku bosan kamu bicara itu terus, ini sudah kesekian kalinya kamu memperingati aku. "
protes Zavina dengan memngerucutkan bibirnya dan Eduardo hanya tergelak mendengarnya.
"Iya maaf sayang karena semua kan memang ke khawatiran seorang suami pada istri, wajar dong. "
ucap Eduardo dengan tangan yang merentang saat Zavina membantu memasangkan jas nya.
"Ayo kita sarapan dulu, kamu ada meeting jam sembilan dan sekarang sudah pukul tujuh tiga puluh. "
ajak Zavina saat sang suami sudah rapih dengan pakaiannya.
Eduardo langsung mengangguk lalu menggandeng Zavina untuk segera keluar dari kamar menuju meja makan, ternyata makanan sudah tersedia.
Semenjak Zavina hamil setiap pagi makanan pasti menu nya nasi, karena nafsu makan Zavina melonjak semenjak kehamilannya, Eduardo bahagia karena istrinya tidak mengalami mual muntah di usia kandungan menginjak lima bulan ini.
"Bibi nanti siapkan dua pelayan untuk menemani istriku. "
titah Eduardo saat sampai di meja makan dan kepala pelayan sedang menyiapkan makanannya.
"Baik Tuan saya akan siapkan. "
jawab patuh kepala pelayan lalu pamit kembali ke dapur.
Zavina hanya memdengar dan tidak berkomentar karena kalau berkomentar pun percuma karena suaminya maha benar dan tidak terbantahkan.
Zavina menyajikan roti selai untuk sang suami terlebih dahulu setelahnya barulah dia menyiapkan nasi dengan sayurannya dan teman temannya.
"Mau ke kantor setelah selesai dari panti nanti?? "
tanya Eduardo saat menyuapkan roti buatan Zavina.
"Gimana nanti saja yaa, takutnya aku lelah dan ingin pulang tapi nanti aku kabarin jadi gak nya saat selesai dari panti. "
jawab Zavina dan Eduardo menganggukkan kepalanya.
Keduanya makan kembali dengan tenang setelah mengakhiri pembicaraannya, Eduardo selesai dengan makannya dan langsung pamit pada Zavina.
"Habiskan makan nya dan gak usah mengantar ke depan, hati hati yaa nanti saat di Panti dan jangan cape cape. "
ucap Eduardo setelah mencium kening Zavina.
"Iya Sayang aku akan patuh, kamu juga hati hati dan jangan nakal saat di kantor. "
ucap Zavina dan membuat Eduardo tersenyum lalu segera menuju area depan menuju mobilnya.
Eduardo akhirnya pergi dan Zavina melanjutkan kembali makannya, Kepala pelayan menghampiri dan membawa dua pelayan biasa yang selalu Zavina bawa saat keluar tanpa sang suami.
"Kalian ganti pakaian biasa jangan pakaian pelayan, kita mau ke panti bukan mau bersih bersih. "
titah Zavina saat melihat kedua pelayan yang akan ikut dengannya memakai pakaian pelayan.
Kedua pelayan menatap kepala pelayan dan setelah kepala pelayan mengangguk barulah kedua pelayan langsung pamit untuk mengganti pakaiannya.
"Bibi makanan sama cemilan sudah siapkan?? "
tanya Zavina saat kepala pelayan berdiri di sampingnya.
"Sudah nyonya dan sudah di kemas di simpan di bagasi mobil belakang, Nyonya ada yang mau siapkan lagi gak?? Bair sekalian saya siapkan. "
jawab kepala pelayan dan zavina menggelengkan kepalanya.
Kepala pelayan langsung pamit kembali untuk memeriksa barang barang yang akan di bawa sang Nyonya ke panti, Zavina sengaja datang ke panti hari ini untuk melihat semua pesanannya yang sengaja di pesan untuk pasilitas penghuni panti, tadinya akan di antar suaminya namun tiba tiba Eduardo ada meeting penting yang tidak bisa di wakilkan.
.
.
Bersambung.......
mau mau minuman yang putih kental darimu....
🤣🤣🤣🤣🤣