NovelToon NovelToon
Ternyata Dia Masih Ada

Ternyata Dia Masih Ada

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:178
Nilai: 5
Nama Author: Auliya Wulandari

Duan Melahirkan di usia 16 tahun, selama 7 tahun ini ia selalu percaya jika putra yang ia lahirkan dengan mempertaruhkan nyawa malah meninggal di hari kelahirannya, namun siapa yang menyangka saat dirinya kembali ke ibu kota muncul seorang bocah laki laki yang sangat menyebalkan namun Yan Fei merasa dirinya tak bisa membiarkan bocah itu jauh darinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auliya Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Balik Senyum, Ada Rasa Terhina

Di tengah taman bunga plum yang luas dan tertata rapi, suasana terasa meriah namun menyimpan nuansa yang tak terucapkan. Di satu sisi, sekelompok gadis muda berkumpul dengan wajah berseri-seri, saling bertukar sapa dan memuji satu sama lain.

Namun di sudut lain yang sedikit tersembunyi dari pandangan utama, terdapat sekelompok gadis yang berdiri bergerombol, menatap ke arah Yan Xumin dan Yanfei dengan tatapan yang sarat akan rasa jijik, iri hati, dan penghakiman.

Bagi mereka, gadis-gadis yang terlihat mendekati kedua wanita itu hanyalah orang-orang yang pandai mencari muka, berusaha mendekati mereka yang memiliki kedudukan lebih tinggi hanya demi keuntungan dan nama baik semata.

“Lihatlah sikap mereka itu, sungguh menjijikkan,” gumam salah satu gadis dengan nada rendah namun cukup jelas didengar oleh teman-temannya. “Mereka berpura-pura sangat akrab, padahal jelas-jelas hanya ingin menjilat dan mendapatkan perhatian dari orang yang dianggap lebih berkuasa.”

Salah satu gadis yang berdiri paling depan, dengan pakaian yang mewah namun tatapan matanya tajam dan penuh prasangka, menatap tajam ke arah Yan Xumin. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum sinis yang sulit disembunyikan. “Awalnya dia hanyalah putri seorang pedagang biasa yang dianggap rendah di mata kalangan bangsawan. Entah trik kotor atau jalan apa yang ia gunakan hingga Yang Mulia Kaisar bersedia mengangkatnya dan memberinya gelar Putri Qingyan yang terhormat itu.”

“Dia selalu terlihat tersenyum di mana pun ia berada, seolah ingin menunjukkan betapa baik dan ramahnya dirinya,” lanjut gadis itu lagi, suaranya penuh cemoohan. “Apakah dia benar-benar berpikir hanya karena Kaisar telah memberinya gelar, maka kenyataan asal-usulnya sebagai putri pedagang akan hilang begitu saja? Apakah ia mengira bisa mengubah identitasnya hanya dengan memakai pakaian mewah dan perhiasan mahal? Sungguh, hal itu hanyalah mimpi belaka.”

Gadis lain yang berdiri di sampingnya segera menyetujui dengan anggukan cepat, wajahnya pun memancarkan rasa tidak suka yang mendalam. “Benar sekali pendapatmu. Entah hal apa yang telah ia lakukan, atau keuntungan apa yang bisa ia berikan hingga membuat Yang Mulia Kaisar bersedia mengubah statusnya secara tiba-tiba dan membuatnya setara dengan putri-putri bangsawan yang sudah lahir dengan kedudukan tinggi.”

Memang, beberapa tahun yang lalu, dua peristiwa besar terjadi di ibu kota yang membuat seluruh penduduknya terkejut dan menjadi bahan perbincangan hangat selama berbulan-bulan lamanya. Peristiwa pertama adalah kembalinya Raja Xiao—seorang panglima perang yang sangat dihormati sekaligus ditakuti oleh seluruh kekaisaran.

Ia dikenal memiliki kemampuan bertarung yang luar biasa, telah memenangkan banyak peperangan, namun juga memiliki sifat yang sangat dingin, tertutup, dan tak pernah menunjukkan ketertarikan sedikit pun terhadap kaum wanita. Banyak wanita dari keluarga terhormat yang ingin mendekatinya, namun semuanya hanya ditolak mentah-mentah tanpa ampun.

Sedangkan peristiwa kedua yang tak kalah mengejutkan adalah pengangkatan seorang gadis yang hampir tidak dikenal siapa pun, bernama Yan Xumin, yang berasal dari keluarga pedagang, menjadi seorang Putri Daerah. Dalam waktu yang sangat singkat, kehidupan gadis itu berubah drastis. Dari seorang gadis biasa, ia langsung berubah menjadi wanita berkedudukan mulia yang harus dipanggil dengan sebutan “Yang Mulia”, dan menjadi pusat perhatian serta pembicaraan di setiap lapisan masyarakat, baik yang memujinya maupun yang membencinya.

“Dan apa kelebihan yang sebenarnya dimiliki gadis seperti itu?” tanya gadis ketiga dengan nada yang semakin meninggi, seolah sengaja ingin didengar oleh orang-orang di sekitarnya. “Lihatlah usianya sekarang. Ibu saya saja sudah memiliki dua orang putri yang seusia dengannya, namun lihatlah dirinya sendiri. Sudah berusia cukup matang, namun belum juga memiliki pasangan atau kedudukan yang jelas dalam hal pernikahan. Apakah dia masih bermimpi untuk bisa menjadi istri Putra Raja Xiao itu? Sungguh terlalu berani dan tidak tahu diri.”

Kata-kata tajam itu melayang bebas di udara, dan tanpa disangka-sangka, suara mereka cukup keras hingga sampai ke telinga Yan Xumin yang sedang berdiri tak jauh dari situ. Mendengar setiap kata yang diucapkan, senyum yang sedari tadi tergambar lembut di wajahnya perlahan terasa kaku. Namun, ia adalah wanita yang sudah terlatih menjaga sikap dan martabatnya. Ia tetap memaksakan senyum itu tetap terlihat alami, terus mendengarkan dan menjawab ucapan Nona Chu dengan nada yang tetap tenang dan sopan, meski di balik jubah sutra yang halus itu, tangannya sudah terkepal rapat hingga kukunya menekan kuat ke dalam telapak tangannya, menahan amarah dan rasa sakit hati yang mulai meluap dalam dadanya.

“Raja Xiao jelas-jelas memiliki hati sedingin es dan tidak menyukai wanita sama sekali,” lanjut mereka lagi tanpa rasa bersalah, seolah tidak peduli apakah ucapan mereka menyakiti hati orang lain atau tidak. “Menunggu pria sedingin dan sekeras batu itu, bukankah hanya membuang-buang waktu dan masa mudanya sendiri? Sungguh tindakan yang sangat bodoh dan tidak masuk akal.”

Seluruh ibu kota sudah mengetahui kisah ini dengan sangat jelas. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Putri Qingyan sangat mengagumi, bahkan menyimpan rasa cinta yang mendalam kepada Raja Xiao. Ia sering mengikuti acara-acara resmi yang dihadiri sang panglima, berusaha menunjukkan kelebihannya, dan berharap mendapatkan perhatiannya. Bahkan empat tahun yang lalu, Kaisar sendiri yang melihat ketulusan hati gadis itu pernah mengeluarkan perintah resmi untuk mengangkatnya menjadi selir Putra Raja Xiao. Namun sayang sekali, pria yang berhati dingin itu menolak perintah Kaisar secara terus terang, tanpa ragu sedikit pun. Penolakan itu membuat Yan Xumin terpuruk dan sejak saat itu, ia menjadi bahan tertawaan dan gosip yang tak kunjung habis di seluruh penjuru ibu kota.

Namun, tak lama kemudian, percakapan mereka perlahan berubah arah. Setelah puas meluapkan rasa tidak suka dan mencaci maki Yan Xumin, perhatian sekelompok gadis itu pun beralih ke sosok lain yang berdiri tenang dan anggun di sisi sang putri. Sosok itu adalah Yanfei, yang sejak tadi hanya berdiri diam, sesekali tersenyum mendengarkan pembicaraan, namun tidak banyak berbicara.

“Tapi lihatlah gadis yang berdiri di samping Putri Qingyan itu. Siapa dia? Sepertinya aku belum pernah melihatnya secara dekat selama beberapa tahun terakhir,” tanya salah satu gadis dengan nada yang lebih lembut, berbeda dengan nada bicara mereka sebelumnya.

“Kudengar dia adalah Nona Ketiga dari keluarga Duan. Dulu ada kabar yang beredar bahwa tubuhnya sering sakit-sakitan dan lemah, sehingga ia terpaksa meninggalkan ibu kota selama beberapa tahun untuk merawat kesehatannya di daerah pegunungan yang udaranya lebih sejuk dan bersih. Namun, seingat ku saat terakhir kali melihatnya sekitar enam atau tujuh tahun yang lalu, ia sudah terlihat sangat menawan. Dan sekarang, setelah kembali, ia masih terlihat sama persis seperti dulu—bahkan mungkin terlihat lebih cantik dan memikat hati.”

Saat itu, gadis yang berbicara masih berusia sekitar sepuluh tahun, dan ia masih ingat jelas bagaimana kehadiran Nona Ketiga keluarga Duan selalu menjadi pusat perhatian di setiap acara resmi. Kecantikan Yanfei bukanlah jenis yang menyilaukan mata secara berlebihan, melainkan keanggunan alami yang terpancar dari dalam dirinya, membuat siapa pun yang melihatnya merasa tenang sekaligus terpesona. Kecantikannya bahkan sudah diakui secara luas oleh seluruh lapisan masyarakat ibu kota, tanpa perlu dipromosikan atau dipamerkan secara berlebihan.

“Memang benar,”

 “Keluarga Duan adalah salah satu dari lima keluarga paling berpengaruh dan terhormat di seluruh kekaisaran. Mereka memiliki kekayaan yang melimpah dan posisi yang kokoh di lingkungan istana maupun pemerintahan. Jika saja keluarga Duan tidak terlalu memanjakan Nona Ketiga itu dan memberinya kebebasan penuh dalam menentukan jalan hidupnya, mungkin saja saat itu ia sudah dipersiapkan untuk menjadi istri salah satu pangeran di istana, atau bahkan disandingkan dengan keluarga bangsawan paling tinggi lainnya.”

Berbeda dengan Yan Xumin yang kedudukannya dianggap baru dan didapatkan secara tiba-tiba, sehingga mudah menjadi sasaran cemoohan, status keluarga Duan sudah mapan dan dihormati sejak beberapa generasi. Oleh karena itu, meskipun mereka juga memiliki rasa iri melihat keanggunan dan keberuntungan Yanfei, tidak ada satu pun dari mereka yang berani sembarangan meremehkan atau mencaci maki gadis itu secara terang-terangan. Mereka hanya bisa menatapnya dengan pandangan yang lebih rumit—campuran antara kekaguman, rasa hormat, dan sedikit rasa iri yang tersembunyi rapi di balik senyum mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!