Semua orang mengenal Bintang Prakasa sebagai pengusaha muda yang sukses, berwibawa, dan nyaris sempurna. Namanya terpampang di berbagai media sebagai pemimpin perusahaan besar yang terus berkembang dari tahun ke tahun. Dengan wajah tampan, kecerdasan tajam, dan kekayaan yang melimpah, ia menjadi sosok yang dikagumi banyak orang.
Namun tidak ada yang tahu kehidupan sebenarnya di balik senyum tenangnya.
Di balik dunia bisnis yang gemerlap, Bintang adalah pria yang mengendalikan salah satu organisasi paling berpengaruh di dunia bawah. Namanya dihormati sekaligus ditakuti. Satu perintah darinya mampu mengubah nasib seseorang dalam sekejap.
Meski memiliki segalanya, hidup Bintang tidak pernah benar-benar damai.
Lima belas tahun lalu, ayahnya meninggal dalam sebuah peristiwa yang dianggap sebagai kecelakaan. Semua orang menerima penjelasan itu, kecuali Bintang. Ia yakin ada tangan-tangan kotor yang terlibat dalam kematian ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Brankas Kedua
Lampu merah di atas ruang operasi masih menyala, koridor rumah sakit dipenuhi aroma obat dan langkah para perawat yang berlalu-lalang tetapi tidak ada seorang pun dari mereka yang mampu mengalihkan perhatian Bintang dari pintu yang sejak tadi tertutup rapat.
"Operasinya belum selesai?" tanya Arsen sambil menghampiri Bintang.
"Belum." Bintang menggeleng pelan.
"Dokter bilang lukanya cukup serius," ujar Rangga sambil duduk di kursi tunggu.
"Mudah-mudahan dia selamat." Rania menggenggam kedua tangannya erat.
Tidak ada lagi yang berbicara, keheningan kembali menyelimuti koridor rumah sakit sementara masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri. Bintang terus mengingat kalimat terakhir Viktor sebelum kehilangan kesadaran, kalimat itu terus berputar di kepalanya hingga membuat dadanya terasa sesak.
"Bintang..." Raka menatapnya pelan. "Jangan terlalu memikirkannya sekarang."
"Bagaimana mungkin aku tidak memikirkannya?" Bintang mengusap wajahnya kasar. "Selama ini aku hidup dengan nama yang mungkin bukan milikku."
"Kita belum tahu semuanya." Arsen menyandarkan tubuh ke dinding.
"Itu yang membuatku semakin kesal." Bintang mengepalkan tangannya.
Ponsel Rangga tiba-tiba bergetar, pria itu segera melihat layar lalu wajahnya berubah serius.
"Leonard menelepon." Rangga berdiri sambil mengangkat ponselnya.
"Angkat." Bintang menoleh cepat.
"Rumah persembunyian sudah kami periksa," ujar Leonard dari seberang telepon. "Ada sesuatu yang harus kalian lihat."
"Apa?" tanya Rangga sambil mengernyit.
"Brankas rahasia Viktor."
Semua orang langsung menoleh.
"Isinya apa?" tanya Bintang sambil mendekat.
"Kosong." Leonard mengembuskan napas panjang. "Seseorang lebih dulu mengambil semua dokumen di dalamnya."
"Brengsek!" umpat Bintang sambil memukul dinding pelan.
"Tapi..." Leonard berhenti sejenak.
"Tapi apa?" tanya Rania sambil menahan napas.
"Kami menemukan satu map yang tertinggal."
"Isinya?" tanya Bintang sambil menyipitkan mata.
"Hanya satu lembar akta kelahiran."
Suasana langsung berubah.
"Atas nama siapa?" tanya Arsen sambil melangkah mendekat.
Leonard tidak langsung menjawab, suara napasnya terdengar jelas dari seberang telepon.
"Atas nama... Bima."
Jantung Bintang langsung berdegup keras.
"Nama orang tuanya?" tanya Bintang sambil menatap lantai.
"Itu masalahnya." Leonard mengembuskan napas panjang. "Kolom ayah dan ibu sengaja dihitamkan."
"Kalau begitu tidak ada gunanya." Bintang menggeleng pelan.
"Ada satu hal yang belum sempat dihapus." Leonard kembali berbicara.
"Apa?" tanya Rania sambil mengernyit.
"Sidik jari bayi itu masih ada."
Bintang langsung mengangkat kepala.
"Maksudmu..." tanyanya pelan.
"Kalau kita bisa membandingkannya dengan sidik jarimu sekarang, kita mungkin bisa memastikan apakah kau benar-benar Bima." Leonard menjawab dengan nada serius.
"Itu bisa dilakukan?" tanya Raka sambil mengangkat alis.
"Bisa." Arsen mengangguk pelan. "Meski tidak mudah."
Bintang belum sempat menjawab ketika pintu ruang operasi tiba-tiba terbuka, semua orang langsung berdiri dan menghampiri dokter yang keluar sambil melepas masker.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Rania sambil menatap dokter penuh harap.
"Operasinya berhasil," jawab dokter sambil mengembuskan napas lega.
Semua orang serempak menghela napas.
"Tapi..." lanjut dokter sambil menatap mereka bergantian.
Wajah Bintang kembali menegang.
"Tapi apa, Dok?" tanya Bintang sambil mengepalkan tangannya.
"Pasien kehilangan banyak darah dan belum sadar." Dokter menggeleng pelan. "Dua puluh empat jam ke depan akan menjadi masa yang sangat kritis."
Bintang memejamkan mata sesaat, setidaknya Viktor masih hidup meski kondisinya belum melewati masa berbahaya.
"Bisakah kami menemuinya?" tanya Rania sambil mengusap sudut matanya.
"Hanya satu orang untuk beberapa menit." Dokter mengangguk pelan.
"Bintang masuk dulu." Arsen menepuk bahunya singkat.
Bintang tidak membantah, ia segera memasuki ruang perawatan intensif dengan langkah pelan. Viktor terbaring lemah di atas ranjang, dipenuhi selang dan alat pemantau. Bunyi monitor jantung terdengar teratur, tetapi wajah pria itu masih sangat pucat.
"Bukankah kau bilang belum selesai menjelaskan semuanya?" gumam Bintang sambil berdiri di samping ranjang.
Viktor tidak bergerak.
"Bukalah matamu." Bintang menatap wajah pria itu lekat-lekat. "Aku masih membutuhkan jawabanmu."
Ruangan kembali sunyi, hanya suara mesin yang terus berdetak memecah keheningan. Bintang mengembuskan napas panjang sebelum berbalik menuju pintu, namun, tepat saat tangannya menyentuh gagang pintu... jari Viktor bergerak pelan. Bintang langsung membalikkan badan.
"Viktor?" panggilnya sambil melangkah cepat ke sisi ranjang.
Kelopak mata pria itu bergetar beberapa kali sebelum akhirnya terbuka sedikit. Bibirnya bergerak sangat pelan seolah berusaha mengucapkan sesuatu.
"Bintang..." bisiknya hampir tak terdengar.
"Aku di sini." Bintang membungkukkan tubuhnya.
"Jangan..." Viktor menarik napas dengan susah payah. "Jangan percaya..."
Kalimatnya terputus, monitor jantung tiba-tiba berbunyi lebih cepat. Perawat berlari masuk ke dalam ruangan, sementara dokter yang belum jauh dari pintu segera kembali.
"Semua keluar sekarang!" bentak dokter sambil mulai memeriksa kondisi Viktor.
Bintang mundur beberapa langkah, tetapi sebelum pintu ditutup, ia sempat mendengar satu kata terakhir yang keluar dari bibir Viktor.
"...Leonard."
Di luar ruangan, Rania, Raka, Arsen, dan Rangga langsung menghampirinya dengan wajah penuh tanya.
"Bagaimana keadaan Viktor?" tanya Rania sambil menggenggam lengan Bintang.
"Dia sadar sebentar." Bintang mengembuskan napas panjang.
"Apa dia mengatakan sesuatu?" tanya Arsen sambil mengernyit.
"Dia memintaku jangan percaya Leonard." Bintang menatap mereka bergantian.
Ucapan itu membuat suasana mendadak sunyi, Raka membelalakkan mata sedangkan Rangga langsung menggeleng pelan seolah tidak ingin mempercayainya.
"Itu tidak mungkin." Rangga menyilangkan tangan di dada. "Leonard sudah membantu kita sejak awal."
"Aku juga berpikir begitu." Bintang mengusap wajahnya kasar. "Tapi Viktor mengatakannya sebelum pingsan."
"Kalau begitu kita harus memastikan sendiri." Arsen menatap Bintang serius.
"Memastikan apa?" tanya Rania sambil mengernyit.
"Apakah Leonard benar-benar menyembunyikan sesuatu." Arsen menghela napas pelan.
Ponsel Bintang bergetar sebelum ada yang sempat menanggapi, nama Leonard muncul di layar. Semua orang langsung saling berpandangan.
"Angkat." Raka mengangguk pelan.
Bintang menerima panggilan itu tanpa mengaktifkan pengeras suara.
"Bagaimana keadaan Viktor?" tanya Leonard dari seberang sambil terdengar tergesa-gesa.
"Masih kritis." Bintang berjalan menjauh beberapa langkah. "Kami masih menunggu."
"Aku akan menyusul."
"Tidak usah." Bintang menghentikan langkahnya.
"Kenapa?" tanya Leonard sambil terdiam sesaat.
"Aku ingin bertanya sesuatu."
"Tanyakan."
"Kenapa Viktor memintaku tidak mempercayaimu?" Bintang menatap lantai dengan rahang mengeras.
Keheningan menyelimuti sambungan telepon selama beberapa detik, tidak ada suara selain embusan napas Leonard yang terdengar berat.
"Kau salah dengar." Leonard akhirnya menjawab pelan.
"Aku tidak salah dengar." Bintang mengepalkan tangannya.
"Viktor kehilangan banyak darah."
"Itu bukan jawaban."
"Aku akan menjelaskan saat bertemu."
"Kalau begitu datanglah sekarang." Bintang menatap lurus ke depan.
"Aku..." Leonard kembali terdiam.
"Kenapa diam?" tanya Bintang sambil menyipitkan mata.
"Aku sedang tidak bisa keluar." Leonard mengembuskan napas panjang.
"Kenapa?"
"Rumah persembunyian diserang lagi."
Kalimat itu membuat Bintang langsung membeku.
"Serangan lagi?" tanya Bintang sambil mengangkat suara.
"Ya." Leonard menjawab singkat. "Mereka datang lebih banyak dari sebelumnya."
"Siapa mereka?" tanya Bintang sambil menoleh kepada yang lain.
"Orang-orang Ezra." Leonard terdengar mengumpat pelan. "Mereka pasti mencari sesuatu."
"Sesuatu apa?" tanya Bintang sambil mengernyit.
"Brankas kedua."
Bintang langsung menoleh kepada Arsen.
"Masih ada brankas lain." Bintang mematikan panggilan sambil memasukkan ponselnya ke saku.
"Kalau begitu kita kembali." Arsen mengangguk cepat.
"Bagaimana dengan Viktor?" tanya Rania sambil menatap ruang operasi.
"Kita tinggalkan dua orang di sini." Bintang mengambil keputusan. "Rania dan Rangga tetap menjaga Viktor."
"Aku ikut kalian." Rania menggeleng pelan.
"Tidak." Bintang menatapnya serius. "Kalau Viktor sadar, kita butuh seseorang yang bisa mendengar penjelasannya."
Rania menggigit bibir bawahnya sebelum akhirnya mengangguk pelan.
"Baik." Rania mengembuskan napas panjang. "Hati-hati."
"Kami akan kembali." Bintang mengangguk singkat.
Mereka bertiga segera berlari menuju mobil, jalanan masih basah karena hujan, sementara suara sirene kendaraan polisi terdengar bersahutan di kejauhan. Bintang terus memandangi jalan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Semakin banyak rahasia yang terbuka, semakin ia merasa sedang dimainkan oleh seseorang yang selalu selangkah di depan.
"Menurutmu Leonard berbohong?" tanya Raka sambil memecah keheningan.
"Aku belum tahu." Bintang menggeleng pelan.
"Kalau Viktor benar?" tanya Arsen sambil menatap kaca depan.
"Kalau Viktor benar..." Bintang mengembuskan napas panjang. "...berarti kita tidak lagi tahu siapa kawan dan siapa lawan."
Mobil akhirnya memasuki halaman rumah persembunyian, dari kejauhan mereka langsung melihat bekas tembakan baru di pagar, beberapa kendaraan rusak dan anak buah Leonard yang masih berjaga dengan senjata terhunus.
"Kalian akhirnya datang." Leonard menurunkan pistolnya sambil berjalan menghampiri.
"Di mana brankas kedua?" tanya Bintang tanpa basa-basi.
Leonard menatapnya beberapa saat sebelum berbalik menuju ruang kerja Viktor.
"Ikut aku." Leonard membuka pintu ruangan.
Mereka masuk dengan langkah cepat, lemari besar di sudut ruangan sudah bergeser memperlihatkan pintu baja yang tersembunyi di balik dinding.
"Brankasnya ada di sana." Leonard menunjuk pintu itu.
"Kenapa belum dibuka?" tanya Arsen sambil mengernyit.
"Karena hanya Viktor yang tahu kodenya." Leonard menggeleng pelan.
"Tidak mungkin tidak ada cara lain." Bintang memperhatikan pintu baja itu.
"Ada." Leonard mengangguk pelan. "Tapi harus diledakkan."
Belum sempat Bintang menjawab, suara ledakan keras kembali mengguncang rumah.
Boom
Seluruh ruangan bergetar, debu berjatuhan dari langit-langit sementara teriakan para penjaga terdengar dari luar.
"Mereka masuk!" bentak seseorang dari lorong.
Leonard langsung mengangkat pistol.
"Bersiap!" bentaknya sambil berlari menuju pintu.
Bintang, Arsen dan Raka saling berpandangan sebelum mengokang senjata masing-masing. Mereka baru saja hendak keluar ketika suara logam berputar terdengar dari belakang.
Klik... Klik... Klik...
Keempatnya serentak menoleh, pintu brankas yang terkunci rapat itu... perlahan terbuka sendiri.