Walaupun lima belas tahun telah berlalu, namun nyatanya Zenion masih belum mampu melupakan malam kelam yang menghancurkan seluruh hidupnya.
Kala itu, sebuah tragedi berdarah pecah di kerajaan tempat Zen tinggal, meninggalkan luka dan trauma yang membekas seumur hidup. Di kepalanya masih teringat jelas bagaimana sang ibu dihabisi dengan brutal di tengah kobaran api kastil yang melalap habis tempat tinggal mereka.
—————————
"Jangan sakiti mereka. Aku mohon!"
Suara napas yang tersengal hebat, deru langkah kaki yang memburu, dan suasana mencekam menyelimuti samar-samar kenangan pahit yang melintas tak beraturan dalam gelapnya dunia mimpi.
"Zen... Lucy... lari dari sini! Cepat lari!"
Seruan panik seorang wanita muda terdengar jelas. Tubuhnya terbelenggu dalam cengkeraman enam pria bertubuh besar, sementara suaranya terdengar serak dan penuh keputusasaan.
"Lepaskan ibuku! Lepaskan!" teriak bocah laki-laki itu dengan suara parau.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laabki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sidang parlemen
Ruang sidang utama Parlemen berdiri megah di Distrik Utama sisi kiri. Pilar-pilar marmer raksasa menjulang tinggi menopang langit-langit bangunan tersebut. Sementara lambang Castlewood berukuran besar tergantung tepat di atas pusat area sidang.
Deretan kursi para bangsawan tersusun melingkar mengelilingi area sidang. Suara riuh rendah memenuhi aula. Sebagian dari mereka saling berbisik dengan raut wajah gelisah, sementara yang lain mulai berani secara terang-terangan mengkritik cara kepemimpinan Raja Arthur yang dinilai terlalu sering bertindak sesuka hati.
Damian menambatkan pandangannya ke arah podium yang letaknya lebih tinggi dari deretan kursi tamu. Seorang pria tua yang akan memimpin jalannya sidang tampak tengah merapikan sebuah dokumen di atas mejanya. Pria beriris mata ungu itu mengabaikan berbagai nada sumbang yang menyudutkan ayahnya. Namun di balik ekspresi datarnya, rahangnya sempat mengeras mendengar berbagai tuduhan yang diarahkan kepada ayahnya. Seragam militer kebesaran sang pangeran tampak mencolok, kontras dengan jubah-jubah sutra para bangsawan di sekelilingnya.
Tak jauh dari tempatnya duduk, masih di jajaran kursi kehormatan yang sama, Lord Alaric de Silvestere tampak menyilangkan kedua tangan di atas kepala tongkat peraknya. Wajah bangsawan paruh baya itu selalu tenang seperti biasanya. Namun, ketika pandangannya berpapasan dengan Damian, ia melayangkan senyum kecil penuh hormat.
Di sisi seberang, Raja Arthur duduk di kursi kebesaran yang disediakan khusus bagi seorang raja. Tubuh tuanya masih memancarkan wibawa seorang penguasa, meski gurat kelelahan di wajahnya siang itu tampak lebih jelas dari biasanya.
TOK!
Suara palu sidang tiba-tiba menggema keras di bawah kubah aula, memutus riuh rendah percakapan para bangsawan dalam sekejap.
"Para Lord yang terhormat, sesuai dengan kesepakatan bersama, hari ini saya, Lord Dominggus le Gelard, akan memimpin jalannya sidang untuk menggantikan Lord Lucius van Will yang berhalangan hadir karena sakit."
Pria tua bertubuh kurus itu mengalihkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan sebagai bentuk penghormatan kepada para tamu. Jubah merah tua khas pemimpin parlemen yang ia kenakan berdesir pelan, menyapu permukaan podium di tengah ruang sidang.
Lord Dominggus kembali mengetukkan palunya sebanyak tiga kali. Memutus sisa-sisa bisikan yang masih terdengar di antara para bangsawan.
"Sidang Parlemen Castlewood resmi dimulai."
Ruangan langsung hening.
"Agenda pertama, telah disetujui oleh sembilan puluh persen bangsawan Castlewood," lanjut Dominggus sembari membuka gulungan dokumen panjang di tangannya. "Pengesahan Dekret Jalur Dagang St. Mardas, yang diajukan langsung oleh Pangeran Damian Charless Wood Meeraall atas langkanya ketersediaan gandum di Distrik Bawah. Dekret ini berisi usulan pembukaan jalur distribusi baru dari wilayah luar menuju distrik penggerak perekonomian utama kerajaan. Dengan dibukanya jalur St. Mardas, arus barang diperkirakan meningkat hingga tiga puluh persen dalam dua musim ke depan."
"Dan meningkatkan pemasukan pajak perdagangan hampir dua kali lipat," sambung salah satu bangsawan tua dari barisan kiri dengan senyum puas.
Beberapa bangsawan di sekitarnya mengangguk setuju. Tersenyum lebar membayangkan pundi-pundi emas yang akan masuk ke kantong mereka. Sembilan puluh persen suara sudah di tangan, pengesahan ini seharusnya hanya tinggal formalitas belaka.
"Interupsi, Lord Gelard," kata Damian, menyita perhatian ruang sidang dengan suaranya yang lantang. "Dalam tiga bulan terakhir, aktivitas bandit di jalur menuju St. Mardas meningkat drastis. Jika dekret ini disahkan tanpa pengawalan tambahan, maka yang kalian buka bukanlah jalur perdagangan, melainkan jalur pembantaian massal."
Ucapan Sang Pangeran langsung membuat beberapa bangsawan saling melirik satu sama lain dengan raut tidak nyaman. Di sudut lain, Lord Silvestere hanya tersenyum tipis sembari mengelus kepala tongkat peraknya.
"Pangeran Damian memang selalu melihat dunia dari sisi terburuknya, dan dalam situasi seperti sekarang, kewaspadaan semacam itu adalah sesuatu yang patut kita contoh," ujar Silvestere santai, menarik kembali perhatian para bangsawan yang mulai ramai mempertanyakan pernyataan sang pangeran. "Kali ini, saya harus berada di pihak Sang Jenderal. Jalur perdagangan tanpa jaminan keamanan hanya akan menjadi kerugian besar bagi kas kerajaan. Gandum-gandum itu tidak akan pernah sampai ke Distrik Bawah jika habis dijarah di tengah jalan."
Dominggus mengetukkan jemarinya di atas meja podium, menimbang bobot argumen dari dua figur berpengaruh di ruangan itu. "Jadi, pihak militer meminta tambahan pasukan pengawal untuk mengamankan jalur St. Mardas?"
"Bukan tambahan," jawab Damian datar. "Melainkan pasukan khusus. Dan dalam sidang ini, saya meminta persetujuan resmi dari para dewan yang terhormat untuk membentuk pasukan tersebut."
"Dan siapa yang akan memimpin pasukan sekrusial itu?" sela seorang bangsawan tua dari barisan belakang dengan nada menyindir. "Apakah ksatria elit bentukan istana sudah dianggap tidak becus lagi, sampai pihak militer merasa perlu membentuk unit baru di bawah wewenang Anda, Pangeran?"
Damian memutar kepalanya perlahan, menjatuhkan sepasang netranya tepat pada pria yang baru saja melayangkan sindiran.
"Saya sendiri," sahutnya pendek.
Keangkuhan di wajah sang bangsawan seketika runtuh, digantikan dengan rahang yang mengeras samar. Damian tidak terlalu memedulikan reaksi tersebut walaupun ia tahu ucapannya baru saja menyinggung pria tua itu. Sang pangeran dengan tenang kembali menatap lurus ke arah Lord Dominggus di podium utama.
Suasana ruangan kembali riuh. Sembilan puluh persen bangsawan yang tadinya mengira agenda ini hanya urusan logistik dan bagi-bagi keuntungan pajak, kini mulai mencium adanya pergerakan militer yang direncanakan oleh Sang Jenderal Tertinggi. Di sisi seberang, Raja Arthur sempat melirik putranya sesaat, memberikan perhatian kecil sebelum kembali memasang wajah datar yang sulit diartikan.
Dominggus segera mengangkat tangannya ke udara, meminta seluruh tamu kembali tenang sebelum kegaduhan di aula melingkar itu semakin liar.
"Tenang, para Lord yang terhormat." Suara Dominggus kembali menggema lewat podium. "Baik. Berdasarkan dinamika yang terjadi, pengesahan Dekret Jalur Dagang St. Mardas hari ini akan ditangguhkan. Dokumen ini akan dikembalikan ke meja dewan untuk diproses ulang, diselaraskan bersama draf usulan pembentukan pasukan pengawal militer khusus."
TOK!
Palu sidang kembali diketukkan oleh Lord Dominggus. Wajah pria tua itu perlahan berubah menjadi lebih serius, garis-garis di dahinya semakin dalam saat ia menatap lembar agenda berikutnya.
"Agenda kedua."
Satu per satu sorot mata di ruangan itu bergeser, mengarah pada Raja Arthur.
"Parlemen meminta penjelasan resmi dari Yang Mulia Raja Arthur mengenai insiden percobaan penusukan terhadap Putri Cassia yang dilakukan oleh seorang anak dari Panti Asuhan Esmeralda lima hari yang lalu."
Raja Arthur mengepalkan tangannya perlahan di atas pahanya sendiri ketika merasakan berbagai macam tatapan dari seluruh tamu sidang. Namun ekspresinya tetap datar.
Dominggus membuka lembar dokumen di tangannya sejenak sebelum kembali menatap Arthur. "Kasus yang melibatkan keselamatan anggota inti keluarga kerajaan bukanlah masalah kecil yang bisa kita abaikan begitu saja, Yang Mulia. Namun anehnya, Parlemen tidak pernah menerima laporan resmi atau kronologi apa pun dari pihak istana hingga hari ini."
Seorang bangsawan dari barisan kiri langsung berdiri, menyela jalannya sidang dengan nada memburu penuh tuntutan. "Tidak hanya itu! Yang Mulia bahkan dengan sengaja mengirim dua ksatria elit keluar dari wilayah Castlewood selama tiga hari terakhir tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan Parlemen!"
"Menuju Thorton!" sambung bangsawan lain dari barisan yang sama. "Zona berbahaya yang bahkan seluruh kerajaan di Ergarth telah memutus hubungan diplomatik dengan wilayah itu! Anda telah melanggar batasan hukum administratif tertinggi kerajaan, Yang Mulia!"
Bisik-bisik kemarahan mulai menjalar memenuhi ruangan, menciptakan dengung tidak nyaman yang menyerang indra pendengaran Sang Raja. Di tengah kepungan emosi ketidakpercayaan itu, Raja Arthur perlahan mengangkat pandangannya. Tidak ada kepanikan, tidak ada pembelaan diri. Tatapan dingin Sang Raja lurus tertuju pada dua bangsawan yang baru saja berteriak tersebut.
"Apakah sekarang saya harus meminta izin Parlemen, hanya untuk melindungi putri saya sendiri?"
Kalimat pendek itu dijatuhkan dengan nada rendah, namun dampaknya langsung menghantam telak hingga membuat keriuhan di ruangan melingkar itu lenyap seketika. Aula parlemen mendadak dibungkus oleh keheningan yang tegang. Kendati demikian, Dominggus tidak mundur satu langkah pun. Sebagai garis depan hukum Parlemen, pria tua itu tetap berdiri tegak di balik podiumnya.
"Ini bukan sekadar tentang melindungi Putri Cassia, Yang Mulia," ujarnya tenang. "Ini tentang marwah dan keseimbangan hukum di Castlewood. Apakah Yang Mulia masih mengingat sejarah mengapa para leluhur agung kita mendirikan Parlemen? Lembaga ini diciptakan untuk menjaga timbangan kekuasaan serta memastikan setiap keputusan Raja dan Parlemen selalu berjalan selaras dengan kepentingan rakyat, termasuk kepentingan Putri Cassia sendiri."
Hantaman argumen dari sang pimpinan sidang menggema kuat, seolah mengunci langkah politik sang Raja di hadapan forum resmi. Beberapa bangsawan menegakkan punggung, menyunggingkan senyum puas karena merasa berada di atas angin.
...*******************************...
Sinar matahari yang mulai meredup menyelinap lewat celah jendela, membuat koridor istana di sore hari ini terasa jauh lebih sunyi dibandingkan saat masih pagi. Cassia baru saja menyelesaikan mandi sorenya, namun kepalanya masih dipenuhi sisa emosi yang ia bawa dari ruang kerja ayahnya pagi tadi.
"Mulai sekarang aku harus lebih anggun, Merria," gumam Cassia pelan seolah sedang menceramahi dirinya sendiri sembari sedikit menarik ke atas gaun sore sederhana yang ia kenakan. "Lebih anggun. Lebih berwibawa. Pokoknya lebih mirip putri sejati yang tidak bisa diremehkan oleh siapa pun."
"Anda memang sudah anggun, Putri. Tidak hanya anggun, tetapi juga sangat cantik." Di belakang sang Putri, Merria berjalan mengekor sambil membawa nampan berisi secangkir teh chamomile hangat dan camilan sore yang baru saja diambil dari dapur istana. Uap tipis mengepul dari cangkir tersebut, bergoyang pelan mengikuti ayunan langkah kakinya.
"Putri, Anda yakin baik-baik saja?" tanya Merria hati-hati, menatap punggung Cassia yang tampak tegang.
Cassia langsung mengangguk mantap tanpa menoleh.
"Aku hanya sedang latihan untuk mengubah citra diriku di mata semua orang."
Ia menarik napas dalam-dalam, menahannya selama beberapa detik, lalu mulai memperlambat tempo langkahnya. Kali ini, Cassia mencoba meniru habis-habisan cara berjalan para bangsawan wanita berdarah murni yng sering ia lihat di aula pesta, tenang, mengalir halus seolah melayang, dan penuh keanggunan.
Satu langkah. Bagus.
Dua langkah. Sempurna.
Tiga langkah—BRAKK!
Cassia langsung tersungkur saat bagian depan kakinya secara tidak sengaja menginjak ujung kain gaunnya sendiri.
"PUTRI!" Merria refleks berteriak panik. Saking terkejutnya, nampan di genggaman pelayan itu terpelanting lepas, membuat seluruh isinya tumpah dan hancur berantakan di atas lantai.
Merria segera menjatuhkan lututnya di atas lantai tepat di samping Cassia. Dengan tangan yang gemetar karena kepanikan luar biasa, ia langsung meraih bahu kemudian memapah tubuh sang Putri untuk membantunya duduk.
"Putri, Anda tidak apa-apa?" suara Merria bergetar hebat dengan mata yang bergerak cepat memeriksa mulai dari ujung rambut sampai ujung gaun sore Cassia yang kini melintir berantakan.
Cassia tidak langsung menjawab. Ia masih terduduk di atas lantai marmer yang dingin, menatap kosong ke arah genangan teh chamomile dan pecahan cangkir porselen yang berserakan di depannya. Perlahan, Cassia mengangkat wajahnya. Alih-alih menangis atau mengaduh kesakitan, dahi gadis itu justru berkerut dalam sembari menatap lurus dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Merria," panggil Cassia rendah dengan suara yang terdengar sangat serius hingga membuat pelayan pribadinya itu menahan napas panik. "Apakah menurutmu para bangsawan itu sengaja menumpahkan minyak di lantai untuk membuatku jatuh?"
Merria berkedip sekali, lalu dua kali. Ketegangan yang sempat mencengkeram dadanya mendadak hilang begitu saja, digantikan oleh rasa tak habis pikir yang teramat sangat melihat tingkah putrinya itu.
"Putri, Anda hanya menginjak gaun Anda sendiri," sahut Merria pasrah sembari mengembuskan napas panjang dan mulai merapikan rambut cokelat keemasan Cassia yang kini mencuat acak-acakan.
"Tidak mungkin!" protes Cassia tidak terima. Ia buru-buru membetulkan posisi duduknya menjadi bersila, mengabaikan niat awalnya yang ingin menjadi putri anggun yang beberapa saat lalu ia agung-agungkan. "Aku sudah memperhitungkan setiap langkahku dengan benar. Ini pasti karena kain gaun ini terlalu berat! Mengapa para wanita bangsawan itu bisa berjalan seperti hantu yang melayang, sementara aku bergerak seperti prajurit berzirah besi yang kehilangan keseimbangan?"
"Karena mereka melatihnya sejak balita, Putri. Sedangkan Anda lebih sering menghabiskan waktu dengan kabur dari istana, dan juga sering dihukum membersihkan kandang kuda oleh Pangeran Damian."
Cassia langsung mengerucutkan bibirnya malas setelah mendengar sindiran halus itu. Ia menunduk, menatap gaun sore sederhananya yang kini menyisakan noda basah di bagian ujungnya akibat cipratan air teh. "Merria, menurutmu apa yang—,"
"ASTAGA! PUTRI, LUTUT ANDA BERDARAH!" pekik Merria tiba-tiba. Wajah pelayan itu mendadak pucat pasi dengan jari telunjuk yang gemetar terarah lurus ke balik lipatan kain gaun Cassia yang tersingkap, menampilkan lutut sang Putri yang kini mengeluarkan setitik darah.
Sang Putri sontak terperanjat syok, sembari refleks memegangi dadanya yang sedikit memburu. Bahkan hampir melompat karena saking kagetnya.
"Kau mengagetkanku, Merria!"
"L-Lutut Anda mengeluarkan darah..."
"Ini tidak sakit!" bantah Cassia cepat. Ia buru-buru menarik ujung kain gaunnya untuk menutupi lutut tersebut, berusaha menyembunyikan rasa perih yang sebenarnya mulai menggigit kulit. Gengsinya sebagai calon putri yang berwibawa menolak runtuh begitu saja.
"Sebaiknya kita harus segera memanggil tabib istana sebelum luka itu tambah parah dan berbekas, Putri!"
"Apa maksudmu? Aku kan kuat, luka kecil begini tidak sakit tahu!" Cassia mendongak, membusungkan dadanya menantang meski sudut matanya sedikit berkedut menahan perih. "Lagipula, ksatria hebat tidak akan menangis hanya karena lecet gara-gara jatuh di lantai."
Merria mengembuskan napas panjang, nyaris frustrasi menghadapi sikap di luar logika majikannya itu.
"Tapi Anda seorang Putri, bukan ksatria!"