Nadia anak kandung yang di abaikan, keluarganya lebih memilih anak orang lain ketimbang anak kandung,,,Nadia bahkan mau di singkirkan oleh ibunya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 TARUHAN
Bab 16 TARUHAN
Televisi menayangkan berbagai kondisi terkini dari sejumlah daerah. Fokus utama pemberitaan tertuju pada beberapa sekolah STM yang para siswanya sudah berkumpul sejak malam hari. Ban-ban bekas dibakar di pinggir jalan, menciptakan suasana yang terlihat tegang. Di berbagai kampus pun situasinya tidak jauh berbeda. Para mahasiswa mulai berkumpul dan bersiap melakukan aksi untuk mengepung dinas pendidikan pada keesokan harinya.
Hampir semua kelompok mengeluarkan pernyataan yang berisi kecaman terhadap sistem pendidikan yang dianggap lebih mengutamakan kecerdasan dibanding moralitas. Namun berbeda dengan kelompok STM. Mereka tidak mengeluarkan pernyataan apa pun. Saat wartawan mencoba meminta komentar, jawaban mereka selalu sama.
“Besok mau jalan-jalan.”
Karena yang berbicara adalah anak-anak STM, banyak orang menganggap jawaban itu wajar. Menurut pandangan mereka, akan terasa aneh jika anak STM tiba-tiba mengeluarkan pernyataan panjang yang terdengar intelektual dan penuh teori.
“Lihatlah, Nadia. Ulah kamu, semua marah padamu. Besok semua akan menuntut kamu agar mundur.”
Rani menatap tajam ke arah Nadia. Nada bicaranya dipenuhi rasa kesal yang sudah lama dipendam.
“Benar, Ka Nadia. Lebih baik kakak buat pernyataan saja mengundurkan diri daripada kakak tertekan.”
Yulia berbicara dengan suara lembut seperti sedang memberi nasihat. Namun entah kenapa, kalimat itu terdengar lebih seperti dorongan agar Nadia menyerah.
“Terlambat.”
Rini menyela sambil melipat kedua tangannya di dada.
“Lebih baik kamu hadapi saja mereka besok. Aku mau tahu sampai mana sikap sombong dan keras kepala kamu itu.”
Nadia hanya mendecih pelan. Dia duduk santai di sofa sambil menonton televisi yang terus menayangkan berbagai pernyataan dari kampus-kampus yang mengecam sistem pendidikan sekaligus menghujat dirinya tanpa henti.
“Sudah mahasiswa masih saja bodoh. Sebenarnya mereka belajar apa?”
komentar Nadia santai.
“Sombong amat kamu, Nadia.”
Rini langsung menatap tajam ke arahnya.
“Sudah seperti ini bukannya bersikap baik, masih saja sombong.”
Nadia menoleh sekilas ke arah ibunya. Wajahnya tetap tenang seolah tidak merasa bersalah sedikit pun.
“Aku pantas sombong. Aneh kalau aku enggak sombong menghadapi para mahasiswa idiot, reaksioner, malas belajar, gampang tersulut amarah. Benar-benar idiot.”
“Nadia, tolong kamu mengeluarkan statement yang menyejukkan. Kamu lihat tuh berita, kampus-kampus sudah bersiap bergerak. Apalagi anak STM. Kalau mereka bergerak, kamu tahu sendiri. Mereka itu kumpulan orang bodoh yang hanya mengandalkan otot mereka dalam hidup.”
Rangga berbicara dengan nada khawatir. Meski sering kecewa dengan sikap Nadia yang keras kepala dan sering membuat masalah, tetap saja ada rasa peduli sebagai seorang ayah.
“Ucapanku sudah terlalu sopan menghadapi orang-orang bodoh yang banyak bicara, sedikit berkarya.”
jawab Nadia santai.
“Sudah sampai di sini kamu masih saja sombong. Kamu lihat tuh, dana yang terkumpul sudah mencapai lima ratus juta. Cukup untuk menggerakkan ratusan ribu orang turun ke jalan hanya untuk menuntut kamu agar tidak ikut jadi peserta olimpiade.”
Rina berkata kesal. Nadia benar-benar berbeda dengan kedua putrinya yang selama ini selalu patuh pada perkataan keluarga.
“Besok tidak akan terjadi apa-apa. Tidak akan terjadi demo besar-besaran. Besok akan jadi hari paling damai.”
ucap Nadia sambil menyandarkan tubuhnya ke sofa.
“Dasar bodoh.”
Rini mendengus kesal.
“Makanya lihat HP, jangan tidur saja. Kamu ini benar-benar bodoh, Nadia. Mungkin besok akan jadi hari terakhir kamu, Nadia.”
“Aku berani bertaruh besok enggak akan terjadi apa-apa.”
jawab Nadia santai.
“Dasar bodoh. Kalau mau bertaruh memang apa yang akan kamu taruhkan? Kamu kan enggak punya uang.”
tanya Rini tegas.
“Ya kalian mau apa dariku, asal jangan uang. Kalian kan enggak pernah ngasih uang jajan padaku.”
“Ok, aku mau kamu mengundurkan diri kalau besok ada demo.”
ucap Rini mantap.
“Ok, aku setuju. Terus apa yang akan Ka Rini berikan padaku jika aku menang?”
“Kamu menang?”
Rini menggeleng sambil tertawa meremehkan.
“Tidak mungkin. Besok sudah pasti akan demo. Mereka semua sudah bersiap.”
“Ka Rini ini suka bertele-tele. Padahal aku sudah siap mengundurkan diri, tapi kakak bahkan tidak mempertaruhkan apa pun. Apa kakak takut kalah atau tidak berani?”
Nadia berkata santai, tetapi kata-katanya terasa menusuk.
“Cukup, Nadia!”
bentak Rini.
“Aku akan memberi kamu uang dua ratus juta kalau besok enggak ada demo.”
Dengan gerakan cepat, Nadia mengambil selembar kertas. Dia langsung menulis sebuah perjanjian, lalu mengambil materai dan menempelkannya di bagian bawah kertas tersebut.
“Tandatangani surat pernyataan ini.”
ucap Nadia.
Rini mengambil kertas itu dan membaca isinya. Dahinya langsung berkerut melihat tulisan tangan Nadia yang berantakan.
“Peserta olimpiade tulisannya kayak ceker ayam. Apa panitia itu buta apa?”
“Yang penting bisa dibaca.”
ucap Nadia santai.
Tanpa ragu, Nadia langsung membubuhkan tanda tangannya lebih dulu sebelum menyerahkan kertas itu kembali.
“Giliran kakak.”
Rini akhirnya ikut menandatangani surat tersebut meski masih terlihat kesal.
“Tapi kalau terjadi demo, kamu masih harus menghadapi mereka selain kamu mengundurkan diri.”
tegas Rini.
“Aku enggak akan kalah. Siapkan saja uang dua ratus juta. Transfer ke rekening aku. Jangan sampai ingkar janji. Kalau ingkar janji, aku akan unggah taruhan ini ke media sosial biar semua orang tahu Direktur Operasional Wijaya Group berbuat curang pada anak kecil.”
“Cih, aku enggak akan kalah.”
ucap Rini dengan penuh keyakinan.
Nadia memfoto surat perjanjian itu, lalu melipatnya dengan hati-hati sebelum memasukkannya ke dalam saku seolah itu adalah benda yang sangat berharga. Setelah itu, dia mengambil ponselnya dan mengirim pesan singkat kepada Lusi.
"Mulai sekarang."
Hanya beberapa menit setelah pesan itu terkirim, suasana media sosial mendadak berubah. Di berbagai sekolah STM muncul spanduk-spanduk besar yang sebelumnya tidak pernah terlihat.
KamiBersamaNadia
QueenNadiaPeace
Tidak lama kemudian, sebuah film dokumenter berdurasi pendek mulai beredar dan dibagikan secara masif oleh ribuan akun.
Seorang siswi remaja cantik muncul sebagai pembuka video.
“Aku adalah Lina. Beberapa bulan lalu, berandalan mau melecehkan aku. Untung saja ada beberapa anak STM yang dipimpin Ka Nadia menyelamatkan aku. Dan video perkelahian Ka Nadia bukan tanpa sebab. Saya pastikan kalau Ka Nadia berkelahi, itu pasti ada alasan yang jelas.”
Layar kemudian berganti menampilkan seorang wanita paruh baya berjilbab dengan latar sebuah sekolah kejuruan.
“Nadia adalah kebanggaan kami. Namaku Sinta, aku Ketua Perkumpulan Kepala Sekolah SMK dan STM. Sudah banyak yang dilakukan oleh Nadia. Kalian mungkin masih sibuk bertanya kenapa anak STM selalu tawuran. Kalian sibuk menghujat. Berbeda dengan Nadia. Andai kalian melihat data, dua tahun terakhir angka tawuran sudah menurun drastis, dan itu berkat Nadia.”
Wanita itu berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan nada lebih serius.
“Dia anak yang aktif datang ke sekolah-sekolah untuk menawarkan perdamaian. Memang caranya cukup aneh. Dia menantang semua jagoan di setiap sekolah. Kalau kalah, maka harus tunduk sama dia. Dari situ lahirlah kesepakatan perdamaian untuk tidak melakukan tawuran. Memang belum sepenuhnya hilang, tapi coba bandingkan dengan dua tahun lalu. Nadia adalah aset negara ini dengan segala kompleksitas dirinya. Dia memang merokok, tapi dia sudah berbuat banyak. Dibandingkan kalian yang selalu mempermasalahkan hal sepele, Nadia sudah berkali-kali menghadapi bahaya hanya demi sebuah perdamaian.”
Video kembali berganti menampilkan berbagai foto dan rekaman kegiatan.
Terlihat Nadia bersama seorang kapolres saat meresmikan aliansi anak STM yang bertujuan menekan angka tawuran. Dalam rekaman lain, tampak berbagai kegiatan sosial yang dilakukan Nadia dan anak-anak STM . Banyak dokumentasi yang sebelumnya tidak pernah dipublikasikan ke masyarakat.
Suara seorang wanita kemudian menutup film dokumenter tersebut.
“Nadia sudah berbuat banyak. Sedangkan kalian, selain menghujat, apa yang kalian bisa?”
Film dokumenter itu berakhir.
Namun dampaknya baru saja dimulai.
Dalam hitungan menit, video tersebut menyebar ke berbagai platform media sosial. Komentar, perdebatan, dan dukungan bermunculan dari segala arah. Narasi yang selama ini menyerang Nadia mulai retak. Untuk pertama kalinya sejak kontroversi itu muncul, publik melihat sisi lain dari seorang Nadia yang selama ini hanya dikenal sebagai pembuat masalah.
Jagat maya pun langsung terguncang.
libas saja mereka si pecundang