NovelToon NovelToon
Rumah Untuk Elva

Rumah Untuk Elva

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Mengubah Takdir / Bad Boy
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: elanut

Dilahirkan di keluarga kaya tidak membuat Elva Ileana bahagia. Dia diabaikan di rumah, dan menjadi korban perundungan di SMA elit tempatnya bersekolah.

Zayn Dominic, putra pemilik yayasan yang dingin, awalnya hanya menonton datar saat Elva dirundung di lorong sekolah. Namun sorenya, Zayn tidak sengaja melihat Elva di belakang gedung tua—tersenyum tulus sambil memberi makan seekor kucing liar, melupakan rasa sakitnya sendiri. Kepolosan di tengah kerapuhan itu seketika mengetuk hati dingin Zayn. Cowok paling berkuasa di sekolah itu pun membuat satu aturan mutlak: “Siapa pun yang menyentuh Elva, artinya memancing kematian dari seorang Zayn Dominic.”

Saat rumah mewahnya terasa seperti neraka, Zayn datang menjadi pelindung yang posesif. Bagi Elva, kemewahan keluarganya tidak ada artinya, karena Zayn adalah tempatnya pulang. Zayn adalah rumah yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elanut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 28

BAB 28: Jejak Wilayah Kekuasaan dan Gemuruh yang Mengintai

Christian Narendra berdiri di dekat ambang jendela kelas IPS-1 yang terbuka lebar. Pandangan mata hazel miliknya menatap lurus ke arah halaman tengah sekolah yang mulai kembali ramai oleh murid-murid setelah bel masuk jam pelajaran berikutnya berbunyi. Tangan kanannya bertumpu santai di atas kusen jendela, sementara otak cerdasnya sedang memetakan situasi yang baru saja terjadi.

Christian bukan orang bodoh. Dia sangat menyadari absennya Elva Ileana dan Zayn Dominic sepanjang jam istirahat tadi. Sebagai murid pindahan yang memiliki latar belakang keluarga diplomat, Christian terbiasa membaca situasi lewat hal-hal kecil yang tersirat. Hilangnya sang mentari kecil dari kelas tepat setelah sang penguasa sekolah menyeretnya pergi dengan wajah terbakar cemburu, sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan ke mana arah perginya dua insan tersebut.

 Tembok posesif yang dibangun Zayn begitu tinggi, tebal, dan kaku. Namun bagi Christian, semakin kokoh sebuah benteng pertahanan, semakin besar pula rasa penasaran yang memicu dirinya untuk mencari tahu di mana letak celah kerapuhannya.

Langkah kaki yang ringan terdengar memasuki kelas, memutus pusaran pikiran Christian. Dia membalikkan tubuh tegapnya dan mendapati Elva baru saja melangkah masuk bersama Zayn di belakangnya.

Seketika itu juga, tatapan mata Christian terkunci sepenuhnya pada sosok Elva. Ada sesuatu yang berbeda dari aura gadis itu siang ini. Wajah polos Elva tampak jauh lebih merona, dan tatapan matanya sedikit sayu—sisa dari sebuah intensitas emosi yang baru saja dia lalui di dalam ruang tertutup. Namun, bukan hal itu yang membuat napas Christian mendadak tertahan selama satu sekon.

Saat Elva berjalan menuju mejanya dan bergerak menyibak sedikit rambut hitam panjangnya yang halus ke belakang bahu, seberkas warna kemerahan pekat tampak sangat kontras di atas kulit lehernya yang putih bersih. Tanda merah (kiss mark) itu tercetak jelas, berada tepat di sebelah rantai kalung perak berliontin inisial mereka. Sebuah tanda mutlak, kasar, sekaligus sangat tegas yang sengaja dibuat untuk mengumumkan kepada seisi sekolah mengenai siapa pemilik sah dari tubuh mungil tersebut.

Zayn yang berjalan di belakang Elva sengaja menghentikan langkahnya tepat di samping meja Christian. Kedua tangan Zayn kembali terbenam di dalam saku jaket kulit hitamnya. Rahang tegasnya terangkat, dan sepasang mata elangnya menatap Christian dengan kilat kemenangan yang sangat dingin dan meremehkan. Zayn sengaja memamerkan jejak teritorialnya, seolah mengirimkan pesan tanpa kata bahwa Christian sudah kalah telak bahkan sebelum sempat memulai strateginya.

Christian menyipitkan mata hazel-nya sedikit, menatap tanda di leher Elva lalu beralih menatap mata tajam Zayn. Sebuah senyuman tipis yang sarat akan makna terselubung kembali terukir di sudut bibir tampan Christian. Dia mengangguk kecil, memberikan gestur hormat yang tenang, namun kilat di matanya menegaskan bahwa angin dari London ini belum sepenuhnya berhenti berembus.

...----------------...

Waktu berjalan dengan cepat hingga bel panjang tanda berakhirnya hari sekolah berbunyi nyaring. Di dalam kabin mobil sport hitam milik Zayn, atmosfer terasa jauh lebih tenang dibandingkan siang tadi. Zayn menyetir dengan santai membelah jalanan ibu kota yang mulai diguyur pendaran lampu senja, sementara tangan kirinya menggenggam jemari Elva dengan kelembutan yang penuh proteksi di atas tuas kendali.

Elva menyandarkan kepalanya di bantalan kursi kulit, memandangi pantulan dirinya di kaca jendela yang sedikit buram. Jemari tangan kecilnya bergerak naik, menyentuh permukaan lehernya yang masih terasa sedikit hangat akibat hisapan dalam dari Zayn di ruang ketua OSIS tadi. Rasa malu yang sempat mendera hatinya saat menyadari tanda itu terlihat oleh Christian kini menguap, berganti dengan rasa aman yang luar biasa besar karena tahu seberapa ekstrem ego cowok di sebelahnya ini dalam menjaganya.

Begitu lift pribadi mereka berdenting halus dan terbuka di lantai teratas gedung penthouse, interior mewah bernuansa monokrom langsung menyambut kepulangan mereka. Namun, hal pertama yang paling mereka nantikan bukanlah kemewahan ruangan tersebut, melainkan perkembangan anggota baru yang kini menjadi detak jantung kedua di dalam apartemen mereka.

"Milo..." panggil Elva lembut begitu melangkah masuk ke dalam ruang tengah.

MIAUW!

Sebuah suara ngeongan kecil yang sangat nyaring menyahut dari arah bawah meja makan marmer. Anak kucing ras Scottish Fold berbulu putih kapas itu langsung berlari lincah dengan kaki-kaki pendeknya yang menggemaskan, melesat cepat menuju ke arah Elva. Perkembangan Milo selama beberapa hari ini sangat luar biasa; tubuh mungilnya yang dulu ringkih kini tampak lebih berisi dan padat berkat asupan makanan premium pilihan Zayn. Bulunya pun semakin halus, bersih, dan berkilau indah.

Elva menjatuhkan dirinya berlutut di atas karpet bulu tebal, langsung menyambut tubuh gembil Milo ke dalam pelukannya. Dia mengangkat anak kucing itu tinggi-tinggi, mencium hidung merah mudanya yang basah dengan tawa renyah yang sangat manis.

"Wah, Milo makin gendut ya sekarang. Pinter banget sih, makannya dihabisin terus ya tadi siang?"

Zayn melepaskan jaket kulit hitamnya, menyampirkannya di lengan sofa, lalu ikut melangkah mendekat. Cowok tegap itu berdiri menjulang di depan Elva dan Milo, memperhatikan interaksi manis di bawahnya dengan sepasang mata elang yang kini sepenuhnya dipenuhi oleh kelembutan yang tiada tara. Dinding es yang biasanya membungkus wajah tampan Zayn luluh seutuhnya setiap kali melihat senyuman murni kembali terbit di wajah gadisnya.

Zayn mendudukkan tubuh tegapnya di atas sofa beludru, lalu dengan gerakan tangan kekarnya, dia meraih tengkuk Milo dengan sangat hati-hati, mengangkat anak kucing itu dari pelukan Elva dan meletakkannya di atas dadanya sendiri yang dilapisi kaos oblong hitam polos. Milo yang tampaknya sudah sangat mengenal aroma maskulin pemiliknya langsung mendengkur halus (purring) dengan sangat keras, menggosokkan kepala kecilnya yang bertelinga melipat ke bawah di dagu tegas Zayn.

"Manja banget dia sama kamu, Zayn," goda Elva sambil ikut naik dan duduk lesehan di samping kaki Zayn, menumpu dagunya di atas lutut cowok itu.

"Dia tahu siapa yang beliin makanannya," ketus Zayn lempeng, namun jemari tangannya yang besar bergerak sangat telaten mengelus bagian bawah leher Milo, membuat anak kucing itu memejamkan mata saking nyamannya. Zayn menurunkan pandangannya, menatap lurus ke dalam manik mata bulat Elva yang berjarak sangat dekat di bawahnya.

Bias lampu kristal apartemen memantulkan kilau indah di atas leher Elva, mengekspos kembali tanda merah kemerahan pekat yang dia buat siang tadi dengan begitu jelas. Zayn mengulurkan sebelah tangannya yang bebas, membelai rahang Elva lembut lalu ibu jarinya bergerak mengusap perlahan jejak tanda miliknya di leher gadis itu.

 "Tanda di leher lo masih keliatan jelas. Besok kalau anak London itu berani natap lo lagi di kelas, gue beneran bakal bikin dia pindah sekolah akhir minggu ini."

Elva tertegun sejenak menatap rahang kaku Zayn yang kembali merengut kesal akibat sisa cemburu posesifnya yang menggemaskan. Elva meraih jemari tangan Zayn yang sedang mengusap lehernya, lalu menggenggamnya erat-erat di depan dada.

"Zayn... kan aku sudah bilang, Christian tidak ada artinya apa-apa. Tanda ini..." Elva menyentuh jejak merah tersebut dengan senyuman murni yang sangat manis,

 "...sudah membuktikan kalau aku ini seutuhnya cuma punya kamu. Jadi kamu tidak perlu memikirkan pengacau dari luar lagi, ya?"

Mendengar kalimat penenang yang begitu jernih dan tulus dari mentari kecilnya, gemuruh amarah dan rasa tidak aman di dalam dada tegap sang singa penguasa sekolah seketika reda tanpa sisa. Zayn menghela napas pendek, lalu dengan satu tarikan lembut, ditariknya tubuh mungil Elva ke dalam rengkuhan pelukan hangatnya di atas sofa beludru, mendekap gadis itu bersama dengan Milo yang meringkuk nyaman di antara mereka.

1
anggita
like👍 iklan☝, Elva... Zayn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!